GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 60. Periksa Kandungan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak Karen dan Rico menemui Ayah Rusdi. Saat ini Karen dan Rico tinggal di apartemen yang sama. Itu dia lakukan agar bisa menjaga wanita yang dia cintai dari perbuatan orang yang tidak menyukai mereka, terutama Arion.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Rico saat masuk ke dalam kamar. Dia melihat kalau Karen masih duduk di kursi rias.


"Tunggu, sedikit lagi," jawab Karen sambil mengoleskan lipstik dengan terburu-buru.


Rico sendiri hanya bisa tersenyum melihat hal itu, pemuda itu senang karena Karen terlihat lebih bersemangat hari ini. Dia juga sudah mulai berdandan yang membuat dia terlihat lebih cantik.


"Jangan terlalu berlebihan dandannya, aku nggak suka kamu jadi pusat perhatian nanti," protes Rico sambil berjalan mendekat pada Karen. Pemuda itu menatap Karen dari pantulan cermin, lalu menyentuh bahu wanita itu dengan lembut. "Aku nanti akan cemburu jika ada laki-laki lain yang terpanah dengan kecantikan kamu."


Karen yang mendengar hal itu tersipu malu. "Jangan begitu, dandananku biasa saja, kok. Ini berlebihan, kamu terlalu berlebihan."


Rico menggeleng. "Tidak. Aku tidak berlebihan, aku mengatakan apa adanya. Hari ini kamu memang terlihat sangat cantik, aku sampai tidak bisa mengenalimu tadi," puji Rico dengan tulus.


"Ah, sudahlah. Jangan diteruskan aku malu mendengarnya." Kemudian Karen langsung berdiri dari kursinya. Sontak hal itu langsung membuat Rico sedikit terkejut, biasanya Karen berdiri dengan hati-hati karena kakinya masih lemah tapi sekarang dia lebih gesit.


Rico masih belum mengatakan apa pun, dia hanya menatap penuh keheranan. Sedangkan Karena tersenyum-senyum sendiri melihat ekspresi Rico.


"Apa kakimu tidak sakit?" tanya Rico.


"Tidak. Sepertinya sekarang kakinya sudah baik-baik saja, aku juga sempat terkejut dengan ini semua saat bagun tidur tadi. Tapi aku merasa senang," jawab Karen sangat antusias.


Detik itu juga Rico menghamburkan pelukannya kepada Karen, dia merasa sangat bahagia melihat kondisi kaki Karen yang sudah membaik. Pagi ini benar-benar dibuka dengan berita yang sangat menggembirakan, Rico tidak menyangka kalau kaki Karen bisa sembuh dengan cepat.


"Aku sangat senang melihatnya," ucap Rico dengan semangat. Dia memeluk Karen sangat erat, karena sangat bahagia.


Karen juga merasa sangat senang karena kakinya sudah berfungsi dengan baik. "Ini semua juga karena kamu. Selama ini kamu yang selalu membantuku untuk berlatih berjalan, itu sebabnya lumpuhku menjadi cepat sembuh." Karen mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Rico.


Pemuda itu mengurai pelukannya, dia menangkup kedua pipi Karen. "Aku tidak tahu harus berkata apa, ini membuatku sangat senang. Ini semua juga ada usaha dari kamu untuk bisa sembuh dan bisa berjalan dengan normal lagi, ini hasilnya sekarang," tutur Rico denga mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Karen hanya bisa menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil.


"Kita sudahi ini dulu, bukankah kita harus segera ke rumah sakit?" Karen mengingatkan. Wanita itu tersenyum tulus kepada Rico.


"Ah, iya, aku sampai lupa. Aku ke sini tadi 'kan memang ingin memanggilmu untuk cepat, karena terlalu senang aku sampai melupakan itu." Rico menepuk dahinya sendiri. "Kalau begitu kita berangkat sekarang?"


"Ayo."


Mereka pun keluar dari kamar dan berangkat ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal Karen untuk memeriksakan kandungannya, sebenarnya dia juga melewatkan jadwal sebelumnya jadi ini sudah lama bagai Karen tidak memeriksakan kandungannya. Karen berharap kalau bayi yang dikandungnya baik-baik saja, karena selama ini dirinya merasa terlalu banyak pikiran. Mungkin saja itu bisa mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungannya.


"Rasanya sudah lama aku tidak ke rumah sakit, aku sedikit gugup," ucap Karen saat mobil yang disupiri oleh Rico sudah menyatu dengan jalanan.


Rico menoleh sekilas pada Karen, kemudian pemuda itu tersenyum. "Jangan terlalu dipikirkan, semuanya akan baik-baik saja. Jika kamu tegang, bayi kita juga akan ikut tegang nanti," sahut Rico dengan satu tangannya yang tiba-tiba mengusap lembut perut Karen.


Hal itu sedikit mengagetkan Karen, wanita itu tersipu malu, tapi dia juga menyukai sentuhan yang diberikan oleh Rico. Karena merasa lebih nyaman karena sentuhan lembut itu.


Tak lama setelah itu, mereka akhirya sampai juga di rumah sakit. Karen dan Rico langsung mengantri di ruang tunggu sebelum masuk gilirannya, sepanjang menunggu giliran Rico selalu memegangi tangan Karen. Dia masih tidak percaya kalau wanita itu sudah bisa berjalan dengan normal lagi, Rico sangat senang akan hal itu.


Sampai akhirnya giliran mereka pun tiba, Rico langsung mengajak Karen untuk masuk ke ruangan. Di dalam sana, mereka susah disambut dengan ramah oleh dokter.


"Selamat pagi," sapa dokter itu.


Rico dan Karen juga membalasnya tidak kalah ramah. "Selamat pagi, Dok."


Dokter itu menyiapkan brankar untuk Karen, setelah siap dia menyuruh wanita itu untuk berbaring karena akan melakukan USG untuk melihat perkembangan janin.


"Silahkan berbaring dulu."


Karen mengangguk, kemudian dia naik ke brankar dengan dibantu oleh Rico. Karen terlihat sedikit gugup, tapi Rico memberikan tatapan yang mengisyaratkan kalau dia tidak perlu tegang.

__ADS_1


"Permisi, ya, saya buka sedikit bajunya," izin dokter itu. Kemudian dia membuka sedikit kemeja Karen, setelah itu dia juga mengoleskan sesuatu di perut Karen. Sebelum akhirnya alat USG mulai digerakkan di atas perut wanita itu.


Karen awalanya merasa sedikit geli, tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dengan rasa itu. Dokter melihat dengan teliti pergerakan janin dalam perut Karen, dia melihat kalau semuanya baik-baik saja.


Rico sendiri juga terlihat fokus melihat layar monitor, dia bisa melihat kalau ada sesuatu di sana. "Apa itu bayinya?" tanya Rico dengan polosnya.


"Iya, benar. Itu adalah bayi kalian, sekarang usinya sudah memasuki 3 bulan. Perkembangannya juga sangat bagus," jawab dokter itu.


Mendengar hal itu membuat Karen tersenyum, dia akhirnya bisa merasa lega. Ternyata bayinya sangat kuat, padahal selama ini dirinya terlalu banyak pikiran.


"Dijaga lagi kesehatan ibu, jangan terlalu banyak pikiran. Saya nanti juga akan memberikan vitamin untuk menjaga kesehatan janin, jangan sampai lupa makan yang teratur, dan yang terpeting gizinya juga diperhatikan. Oke?"


"Iya, Dok."


"Suaminya juga harus ikut menjaga tentunya."


Mendengar itu membuat Rico dan Karen sedikit canggung, saat ini mereka bahkan belum sah menjadi suami istri.


"Siap, Dok. Saya akan selalu memperhatikan ibu dan bayinya, hehe." Hanya itu yang bisa Rico katakan pada akhirnya.


Setelah itu, dokter menyudahi pemeriksaannya. Karen turun dari brankar, lalu dia harus menunggu dokter memberikan vitamin untuknya. Pemeriksaan hari ini berjalan dengan lancar, Karen juga senang karena dia bisa melihat janinnya yang tumbuh dengan baik. Tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ibu, Karen tidak sabar menanti hari itu tiba.


Setelah semunya selesai, Rico dan Karen pun meninggalkan ruangan. Mereka bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Rico mengatakan sesuatu, "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat nanti malam."


"Ke mana?"


"Kamu akan tahu nanti."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2