GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 86. Syukuran


__ADS_3

Acara syukuran kehamilan Karen dan sekaligus penempatan rumah baru mereka berjalan lancar. Semua tamu undangan datang memberikan ucapan selamat dan mendoakan kelancaran kelahiran anaknya kelak.


Keesokan harinya sebelum kembali ke desa, ayah Rusdi dan Papi Arion makan bersama mereka. Karen memasak semua makanan kesukaan ayahnya itu.


Ayah Rusdi tampak bersemangat menyantap hidangan yang Karen sediakan. Karen memandangi ayahnya itu dengan mata tanpa kedip.


"Enak banget masakanmu, Nak. Ayah pasti akan merindukan ini nanti," ucap Ayah Rusdi sambil menyantap hidangan dengan lahap


"Novi dulu juga pintar memasak lauk bahkan kue," ucap Arion dengan lirih.


"Karen juga pintar buat kue. Dia sering membuat kue untukku," ucap Ayah Rusdi.


"Itu pasti karena dia anaknya Novi," ucap Arion.


"Kerinduanku akan masakan Novi bisa terobati jika telah menyantap masakan Karen. Rasa masakan mereka hampir sama," ucap Ayah Rusdi dengan suara sendu. Mungkin dia sangat merindukan istrinya itu.


"Makanya ayah tinggal bersama kami aja. Aku yakin Mas Rico tidak akan keberatan. Bukan begitu, Mas?" tanya Karen dengan suaminya itu.


"Tentu saja aku nggak keberatan. Baik ayah atau Papi, jika ingin tinggal bersama kami, rumah ini selalu terbuka untuk kalian berdua," ucap Rico.


"Ayah lebih senang tinggal di desa. Ayah tidak merasa suntuk dan bosan karena ada kegiatan. Di desa ayah masih bisa bekerja di kebun," ucap ayah Rusdi.


"Kapanpun ayah capek atau bosan, dan ingin ke sini jangan lupa kabari. Aku dan Mas Rico akan menjemput," ucap Karen dengan penuh cinta.


Arion hanya bisa memandangi interaksi keduanya dengan rasa sedikit cemburu. Walau Karen telah bisa menerima kehadirannya, tetap saja Rusdi yang menempati tempat teratas dihatinya Karen.


Setelah makan siang, Ayah Rusdi dan Papi Arion pamit pulang. Dia mengantar Rusdi hingga ke desa bersama supirnya.


...............


Dua bulan Kemudian


Tak terasa kandungan Karen sudah memasuki bulan ke tujuh. Rico semakin hari tampak makin posesif dan sayang.


Rico tak pernah mengizinkan Karen keluar rumah tanpa izinnya. Dan jika istrinya itu memang ada keperluan yang mengharus dia keluar, harus bersama dengannya.


Sore hari Karen tampak sedang asyik berenang. Dokter kandungan menganjurkan agar Karen melakukan olah raga renang.


Berenang adalah jenis olahraga yang sangat direkomendasi untuk ibu hamil, mulai memasuki trimester ketiga. Latihan ini dipercaya mampu mengurangi penyakit komplikasi selama kehamilan seperti preeklampsia. Selain itu, ibu yang sudah hamil besar harus rutin melakukan olahraga minimal dua kali dalam seminggu.


Adapun manfaat renang bagi ibu hamil yang memasuki trimester ketiga diantaranya melatih pola pernapasan, memperkuat persendian, merelaksasi tubuh dan meningkatkan sirkulasi oksigen di dalam janin.


Rico yang baru pulang kerja, mencari istrinya itu ke kamar. Ketika tidak mendapati Karen, pria itu langsung menuju dapur. Tetap tak melihat keberadaan Karen, dia bertanya dengan bibi


"Keren-nya di mana, Bi?" tanya Rico.


"Lagi berenang, Tuan," jawab Bibi.

__ADS_1


"Udah lama Karen-nya renang, Bi?" tanya Rico lagi.


"Belum lama, Tuan," jawab bibi.


Setelah mendengar jawaban dari Bibi, Rico kembali ke kamar. Pria itu melepaskan jas dan meletakkan tas-nya ke dalam kamar. Dia juga melepaskan sepatunya. Pria itu lalu berjalan menuju kolam berenang.


"Sayang ...," panggil Rico.


Karen tersenyum manis dengan suaminya itu. Rico yang telah bertel*nj*ng dada menuju ke arah kolam renang tersebut.


"Mas, udah pulang," ucap Karen sambil berjalan ke tepi kolam.


"Baru saja pulang. Aku mau temani kamu renang," ucap Rico, lalu melompat masuk ke kolam.Sampai di dekat istrinya berdiri, pria itu langsung mengecup bibir Karen begitu berhadapan dengan istrinya.


"Seksi banget sih. Jangan pernah berenang di tempat umum dengan pakaian terbuka seperti ini" ucap Rico mengusap punggung Karen yang terekspos.


"Mana mungkin aku berpakaian begini di tempat umum. Malu, Mas. Udah nggak pantas. Perutku sudah makin membuncit," ucap Karen.


"Siapa bilang nggak pantas. Justru kamu tambah seksi dengan perut membuncit begitu," ujar Rico. Suaminya itu lalu memeluk pinggang Karen dan mengusap perut buncit istrinya.


"Sayang, nggak lama lagi kita bertemu. Kamu pasti secantik bunda," ucap Rico sambil mengusap perut Karen.


"Mas, temani aku renang hingga ke tepi sana," tunjuk Karen ke arah kanan kolam renang.


"Oke, tapi kamu jangan paksakan. Jika capek, udahan renangnya," ucap Rico.


Rico lalu berenang bersama Karen menuju tepi kolam renang sebelah kanan. Karen bersandar di dinding sambil mengatur pernapasannya.


Rico berdiri dihadapan Karen dan tiba-tiba ******* bibir istrinya dengan rakus. Merasa napasnya sesak, Karen memukul dada suaminya, lalu Rico melepaskan pagutan mereka


"Mas, membuat napasku sesak saja," ujar Karen.


"Mas hanya ingin membantu pernapasanmu agar nggak sesak," ujar Rico dengan menahan semyumnya.


"Itu bukan membantu pernapasan, Mas. Itu bisa membunuhku, karena aku jadi sesak kekurangan oksigen," ujar Karen cemberut.


Rico tersenyum dan mengangkat tubuh Karen agar duduk ditepi kolam. Dia lalu berdiri diantara p*h* wanita itu. Sambil mengusap pah* istrinya itu dia mengecup perut Karen.


"Sayang, udahan ya renangnya," ucap Rico.


"Kenapa, Mas? Aku masih mau renang!"


"Mas sudah nggak tahan lagi," ucap Rico.


"Mas kebelet?" tanya Karen.


"Bukan, Sayang."

__ADS_1


"Terus kenapa?" tanya Karen lagi.


"Adik kecilku yang sudah nggak tahan mau masuk kesarangnya. Dia mau menjenguk baby kita," ucap Rico dengan tersenyum.


"Mas, mesum banget. Makanya jangan ikut renang tadi," protes Karen.


"Apa kamu lupa jika dokter menganjurkan si adik kecil sering menjenguk baby agar persalinan nanti lancar?"


"Tapi aku masih tujuh bulan. Itu kalau udah sembilan bulan, Mas."


"Sama aja, Sayang. Sudah sama-sama gede pun kandungannya!"


Rico menurunkan tubuh Karen dari duduknya dan membawa keluar dari kolam. Dia mengambil handuk dan membantu mengeringkan tubuh istrinya.


Rico memeluk Karen menuju kamar dan langsung menguncinya.Rico mengangkat tubuh Karen dan membaringkan di tempat tidur dengan pelan. Dia membuka dan melemparkan handuk yang melilit tubuh istrinya itu ke sembarang arah. Pria itu juga melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Sayang, kamu tuh membuat adik kecil mas selalu meronta," ucap Rico sambil mengecup bagian wajah Karen.


"Mas aja pikirannya yang selalu mesum."


"Mesum dengan istri nggak apalah, daripada mesum sama wanita lain," jawab Rico.


"Coba aja mesum dengan wanita lain. Aku tak akan pernah memaafkan Mas," ucap Karen dengan cemberut.


"Jangan begitu, Sayang. Aku nggak mungkin menduakan kamu. Tak ada wanita yang secantik kamu. Di mata aku hanya ada wajahmu," ucap Rico merayu.


"Gombal banget ...."


"Biar kamunya mau diajak olah raga dua ronde!"


"Nggak ada dua kali, satu aja. Atau nggak sama sekali!"


"Jangan kejam, Sayang. Nanti adik kecil mas kasihanlah. Satu ronde nggak apa dari pada nggak sama sekali," ucap Rico sambil tersenyum.


Rico lalu mulai bermain ditubuh Karen, yang di mulai dari wajah hingga perut. Dia mengecupnya untuk pemanasan.


Setelah Rico melihat Karen yang telah siap, barulah dia mulai melakukan penyatuan. Dia melakukan dengan pelan.Takut menghimpit perut Karen.


Semenjak perut Karen makin membesar, Rico lebih sering meminta dia yang memimpin permainan. Akhirnya mereka sama-sama mencapai klimaksnya. Rico lalu membaringkan tubuhnya di samping Karen dengan posisi miring sambil memeluk perut istrinya.


"Sebentar lagi mandinya, Sayang. Biar aku memelukmu dulu" ucap Rico mengecup dahi istrinya.


"Jangan lama lama mengecupnya, Mas. Aku mau siapkan makan malam," protes Karen.


"Iya, Sayang," ucap Rico sambil memejamkan matanya.


Karen yang melihat Rico terlelap langsung bangun dari tidurnya dan membasuh tubuhnya di kamar mandi. Setelah berpakaian Karen keluar dari kamar menuju dapur untuk masak makan malam mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2