
Arion pamit untuk kembali ke kota. Walau Rusdi menahannya hingga pagi menjelang, tapi pria paruh baya itu menolak. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya Karen.
Berulang kali pria itu menarik rambutnya, tanda frustrasi. Dia tidak dapat membayangkan berapa besar penyesalannya jika Karen tidak dapat di tolong saat bunuh diri.
Dari gelagat Rusdi, Arion yakin pria itu tidak mengetahui tentang kejadian saat Karen mencoba bunuh diri. Buktinya dia tidak tahu mengenai Karen yang sempat dikurung di desa.
Dengan kecepatan sedang Arion mengendarai mobilnya menuju kota. Dia langsung menghubungi bawahan untuk mencari tahu keberadaan Karen.
Setelah mendapat jawaban jika putrinya itu berada di apartemen Rico, hati Arion merasa lega. Dia langsung menuju apartemen putra angkatnya itu.
Tanpa beristirahat, pria paruh baya itu langsung mengendarai mobilnya. Sampai di apartemen milik putarnya hari masih menunjukan pukul lima pagi. Arion memilih beristirahat di hotel terdekat di sana.
***
Hari begitu pagi ketika Rico duduk di sofa apartemennya dengan secangkir kopi ditangannya. Mata Rico hanya tertuju pada layar laptop yang ada di depannya.
__ADS_1
Dia sedang mengerjakan laporan yang sengaja di bawa pulang agar tidak lembur kemarin. Dengan teliti Rico membacanya. Semua itu menyangkut kerja sama yang akan dia lakukan.Rico menyesap kopinya, sementara mata pria itu melirik ke arah Karen yang masih tertidur pulas, meringkuk dengan tubuh yang berbalut selimut.
Karen tadi pagi telah terbangun dan kembali membaringkan tubuhnya di dekat Rico. Sejak kehamilannya Karen selalu ingin berada di dekat pria itu.Rico ingin segera membereskan pekerjaannya. Agar saat Karen terbangun semua telah selesai. Dia ingin mengajak wanita itu sarapan keluar, dan setelah itu jalan-jalan ke pantai.
Rico memperbaiki letak selimut yang jatuh dari tubuh Karen. Saat akan menuju dapur mengambil air putih, Rico dikagetkan dengan suara bel apartemen.
"Siapa yang bertemu sepagi ini? Biasanya tidak pernah ada tamu yang datang?" tanya Rico dengan dirinya sendiri.
Rico berjalan cepat menuju pintu, takut suara bel itu mengganggu tidur Karen. Dia membuka pintu segera.
Rico hafal benar siapa Papinya itu. Dia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan yang diinginkan.
Arion menarik napas dan memberikan senyuman terbaiknya. Dalam hati pria itu, ada rasa syukur karena Karen di jaga Rico. Dia tahu bagaimana sifat putranya itu.
"Kenapa kamu bengong begitu? Seperti melihat hantu saja. Apakah Papi tidak diizinkan masuk?" tanya Arion dengan ramahnya.
__ADS_1
Hal itu membuat Rico makin kaget. Kenapa Papi-nya jadi berubah begini. Rico takut semua ini karena Arion sedang merencanakan sesuatu hal yang buruk.
Rico masih saja diam terpaku, tanpa peduli Papi Arion yang pegal berdiri. Dia masih ragu untuk mempersilakan pria itu masuk.
"Apa Papi tidak diizinkan masuk?" tanya Arion sekali lagi. Dia paham jika putranya pasti ragu dengan kedatangan dirinya.
Rico yang tersadar dari lamunan, akhirnya memberikan senyuman. Pria itu yakin bisa menghadapi Papinya.
"Maaf, aku hanya kaget karena Papi datang sepagi ini. Apa ada hal penting yang membawa Papi hingga sampai ke sini?" tanya Rico.
Arion menepuk pundak putranya pelan. Dia tersenyum semringah.
"Kedatangan Papi ke sini, pertama karena kangen denganmu. Hal lainnya hanyalah sebagai selingan!" ucap Arion ramah.
Hal itu makin membuat Rico curiga. Tidak pernah Papi seramah ini dengannya.
__ADS_1
...****************...