GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 27. Di mana Karen?


__ADS_3

“Ini makan siangmu, Non ...," ucap Pria yang mengantar makanan itu.


Belum sempat kalimat itu rampung, Karen sudah membuang bungkusan nasi itu dan berteriak serak dengan tangisannya. “Aku tidak butuh makan! Aku hanya ingin ke luar dari sini. Kenapa kalian tidak membiarkan aku pergi!” teriak Karen.


Kalimat protes dari Karen membuat pengawal itu menyerngitkan dahi, kemudian mendorong pundak Karen yang ingin pergi dari sana. Mendorong pundak wanita itu hingga terjengkang masuk kembali ke dalam kamar


“Kalau anda tidak mau makan, itu terserah anda. Tapi jangan sampai membuang makanan seperti itu.”


Setelahnya pintu kembali tertutup dan membuat Karen buru-buru berdiri dari jatuhnya. Menggedor-gedor pintu dengan brutal. “Buka pintunya! Buka! Aku ingin pergi dari sini," teriak Karen.


Karen berhenti berteriak ketika kepalanya terasa pusing, membuat langkahnya menjadi gontai dan dia memutuskan untuk kembali keranjangnya. Duduk di sana dengan kedua tangan yang memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Ini mungkin dari efek dari dia yang belum makan, membuat perutnya kosong dan hanya terisi air putih yang sama sekali tidak membantu.

__ADS_1


"Tuhan bolehkah aku bertanya, kenapa Engkau tumbuhkan rasa cinta ini di antara aku dan dia, jika semuanya itu harus terlarang? Bukankah yang terlarang harus dijauhi, tapi kenapa engkau dekatkan kami? Dan di saat cinta terlarang itu tumbuh, kenapa kami dipisahkan?" tanya Karen pada dirinya sendiri.


Dia kembali menangis, tangisannya begitu lirih. Karen menoleh kearah jendela yang tertutup dengan gorden mahal. Selama dua hari ini dia tidak berani membuka gorden itu, karena jika dia bisa menerawang di balik gorden itu pasti langsung menunjukkan seberapa banyak laki-laki yang mengelilingi rumah ini, dan Karen takut.


Tanpa Karen sadari, wanita itu perlahan membaringkan dirinya di atas ranjang, masih dengan tangisannya yang lirih. Karen menutup matanya dan perlahan hilang di bawa arus mimpi yang beberapa hari ini tidak ia nikmati.


Terkurung di dalam rumah yang tidak berisi apa-apa membuat wanita itu tertekan dan berakhir dengan stress sedang. Seperti tadi, Karen tiba-tiba menangis dan tiba-tiba berhenti sendiri. Dia tidak sanggup, dia hanya ingin kembali bersama dengan Rico, walaupun semuanya terkesan mustahil.


Di apartemennya, Rico selalu saja teringat Karen. Dia merasa telah ingkar janji. Teringat dengan janjinya pada Ayah Karen.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak menepati janji untuk menjaga Karen dari Papi," gumam Rico pada diri sendiri.

__ADS_1


Rico berjalan menuju balkon. Duduk sambil menatap bintang. Memikirkan nasib cintanya.


"Aku menangis bukan karena bersedih, tapi bangga karena dapat mengenalmu dan akhirnya mencintaimu. Meski cinta kita tak diakui, tapi aku selalu berdoa pada Tuhan semoga kita selalu bersama meski harus menyandang kata cinta terlarang."


Rico menarik rambutnya frustrasi. Dia harus secepatnya menemukan Karen sebelum Papinya nekat melakukan sesuatu.


"Ada apa sebenarnya antara ayah Karen dan Papi? Sepertinya Papi sangat membenci Karen, terutama ayahnya. Dari obrolanku dengan ayah Karen kemarin, aku tahu dia dipersulit Papi. Sepertinya Papi sengaja memberi hutang hanya untuk menjerat pria itu," gumam Rico dengan diri sendiri.


Rico masuk kembali ke kamarnya dan menghubungi orang suruhannya. Rico akhirnya mendapat kabar jika malam itu Karen dibawa Papi ke luar kota. Namun, tidak bisa dilacak lagi karena sepertinya jauh dari jangkauan sinyal ponsel apapun.


"Tidak ada pilihan lain, aku memang harus menemui Papi. Apapun risikonya, aku harus bertanya dengan Papi," ucap Rico pada dirinya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2