
Dayat mendatangi rumah Nina dengan segera setelah mendapat kabar dari Eka, Nina perlahan sadar dari pingsannya, setelah sadar Nina bergegas ke rumah sakit bersama Dayat dan Eka, hatinya benar-benar kalut dan takut, dia takut kehilangan Erick untuk ke dua kalinya.
"Pak di mana Erick, saya sudah di rumah sakit?" Nina menghubungi nomor Karjo.
Pria itu menjemput Nina dan mengajak ke kamar Erick, sebelum Nina masuk ke ruangan petugas rumah sakit sudah menghadangnya dan memberitahukan kalau Erick harus segera di operasi malam ini juga.
Tanpa pikir panjang Nina menandatangani surat pernyataan persetujuan dilakukan tindakan operasi, setelah menandatangani surat Nina berhambur masuk ke ruangan, sementara Karjo di luar bersama Dayat dan Eka menceritakan kronologis kecelakaan yang menimpa Erick.
"Rick ..., kenapa bisa begini," tangis Nina pecah di samping tubuh Erick yang terbaring lemah.
"Rick bangun, aku nggak mau kamu pergi lagi!!" Nina menahan tangisannya.
Erick perlahan membuka matanya, bibirnya tersenyum sambil menahan sakit, wajah yang selalu dia rindukan berada di depan matanya.
"Nin, aku senang melihatmu lagi," ucap Erick lemah.
"Rick kamu harus sembuh, bukankah kamu sudah berjanji pada Ronald untuk menjagaku," Nina terisak dadanya terasa sangat sesak.
Beberapa petugas rumah sakit masuk ke ruangan dan mempersiapkan Erick untuk di pindah ke ruang operasi, Nina menatap kepergian Erick bersama perawat dengan perasaan kalut, dia takut ini pertemuannya yang terakhir.
"Nina, sabar," Eka mendekati Nina yang terlihat masih shock.
"Nin, Bapak ini yang ...," Dayat menghentikan ucapannya karna Nina sedang bersedih.
"Bu saya ijin pulang dulu, nanti saya datang lagi, ini KTP saya buat jaminan," Karjo menyerahkan KTP miliknya pada Dayat.
Mereka bertiga menunggu hasil operasi dengan perasan cemas, Nina sudah tak bisa berfikir lagi, dia hanya pasrah sambil menangis dalam pelukan Eka sahabatnya.
********
Tiga jam menunggu dalam kecemasan, perawat sudah membawa kembali tubuh Erick ke ruang perawatan, Nina memandangi wajah pria itu dengan tatapan duka, hatinya menjerit penuh sesal, selama ini dia sudah bersikap kasar pada Erick yang sudah menjaganya dengan tulus.
Dia hanya kesal pada nasib yang selalu mempermainkannya, hingga Erick menjadi tempat pelampiasan amarahnya, kini melihat pria itu tak berdaya rasa takut kehilangan begitu menyiksa perasaannya.
"Nin pulanglah, kasihan anakmu, biar aku yang menjaganya, nanti kalau Erick sadar aku akan mengabarimu," Dayat kasihan melihat saudaranya terlihat lemah.
"Tapi Yat ...," Nina tak bisa berkata-kata, di sisi lain dia sangat ingin menemani Erick, tapi anaknya juga membutuhkannya di rumah.
"Kamu tenang saja, yuk kita pulang, Erick sudah lewat masa kritisnya," bujuk Eka.
Nina mengikuti ajakan Eka, payudaranya juga sudah terasa sakit karna waktunya menyusui. Eka membonceng Nina dengan motornya, sepanjang jalan Nina hanya melamun memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, apakah Erick akan mengingatnya atau tragedi itu akan terulang lagi, air matanya luruh tersapu angin dia menahan isakannya.
Di rumah terdengar suara tangisan bayinya, mungkin dia juga merasakan kepiluan di hati ibunya. Setelah membersihkan diri Nina mengambil bayinya dan memberinya ASI.
"Kamu istirahat saja Mbak, maaf seharian aku nggak ngurus anakku," ucap Nina lirih pada Nunik.
"Nggak apa-apa Mbak, ini sudah tugas saya. Bagaimana mas Erick keadaannya?" tanya Nunik mencemaskan keadaan Erick.
"Belum sadar saat aku pulang, dia baru dioperasi, doakan dia cepat pulih ya," ucap Nina.
"Iya Mbak, mbak Nina mau makan biar saya siapin?" Seharian dia tak melihat majikannya makan. Nina hanya menggeleng pelan.
"Jangan gitu Mbak, mbak Nina menyusui, nanti malah sakit kan repot," bujuk Nunik.
"Bikinkan roti bakar dan susu saja ya," ucap Nina.
Nunik berlalu dan menyiapkan roti bakar dan susu untuk Nina, setelah menyusui anaknya Nina mencoba memakan roti bakar yang sudah Nunik siapkan, walau rasanya sangat sulit untuk ditelan.
********
__ADS_1
Pagi hari Erick terbangun, Dayat masih tertidur sambil duduk di samping ranjang Erick, mendengar suara rintihan Erick, Dayat pun terbangun.
"Rick, kamu sudah sadar," tanya Dayat.
"Nina mana?" tanya Erick lemah.
"Nina, Nina dia di rumah nungguin anaknya, udah ah cepetan sembuh jangan bikin Mbak ku nangis terus!!" ucap Dayat sewot.
"Yat, aku nggak berniat membuat Nina sedih," ucap Erick lirih.
"Apa yang kamu ingat?" tanya Dayat penasaran.
"Aku mengingat semuanya Yat," sambung Erick.
"Jadi kepalamu sudah nggak konslet lagi?" ucap Dayat sambil menatap sebal pada sahabatnya yang berbaring lemah.
Erick tersenyum melihat sikap Dayat yang kesal kepadanya. Pintu kamar terbuka Nina memasuki ruangan dia melihat Erick sudah bangun dan berbincang dengan Dayat.
"Loh Mbak, aku baru mau nelpon, mbak Nina udah datang duluan," Dayat terkejut melihat kedatangan Nina.
"Aku mau ke pasar jadi mampir dulu," Nina menatap Erick, dia tak tahu harus berkata apa pada pria itu.
"Apa Ronald rewel semalam?" tanya Erick pada Nina.
"Tentu saja dia rewel, karna kamu tidak ada bersamanya," ucap Nina.
"Pulanglah kasihan dia sendirian," ucap Erick.
"Cepatlah sembuh dan tunaikan janjimu," ucap Nina.
Dayat pura-pura pergi ke kamar mandi agar Nina dan Erick bisa berbicara berdua.
"Apa sehabis operasi kamu lupa semua janjimu," ucap Nina ketus.
"Aku mengingat semuanya Nin, maafkan aku," ucap Erick lirih.
"Cepatlah sembuh dan jadilah ayah buat Ronald, jangan buat aku menangis lagi," Nina berdiri dan meninggalkan Erick.
Saat Nina membuka pintu ternyata Dayat ada di depan pintu dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan Nina dengan Erick.
"Mbak Nina pulang?" tanya Dayat.
Nina hanya mengangguk dan melangkah pergi, Dayat kembali masuk menemani Erick, dia menatap Erick dengan tatapan mata curiga, Erick pura-pura tidur agar Dayat tidak banyak bertanya.
*******
Nina sama sekali tak mengunjungi Erick sejak Erick sadar, dia malu dan tak tahu harus berbicara apa kalau bertemu dengan Erick, dia memilih meminta kabar tentang Erick dari Eka dan Dayat yang setia mengunjunginya.
Sepuluh hari dirawat Erick sudah diijinkan pulang, dia pulang bersama Dayat. Nina sedang bermain bersama anaknya di ruang keluarga saat Erick datang.
"Assalamualaikum," sapa Erick.
Dayat langsung nyelonong ke belakang untuk menemui Eka, sedangkan Erick langsung mendekati anak Nina yang berada di stroler di samping Nina.
"Waalaikumsalam, ganti bajumu Rick, kamu baru dari rumah sakit," ucap Nina melarang Erick menyentuh anaknya.
Erick tersenyum dan pergi ke kamar, setelah mandi dan berganti pakaian dia kembali mendekati Nina bersama anaknya. Dia pun menggendong Ronald Junior dan menimangnya.
"Papa rindu sekali sama kamu, sudah pinter apa sekarang?" Erick menimang Ronald Junior.
__ADS_1
"Kamu sama Papa yah, Mama mau mandi dulu," Nina bergegas meninggalkan Erick bersama anaknya.
Rasa canggung menyeruak di hati Nina, tidak seperti biasanya dia juga malu kalau berlama-lama di depan Erick.
Malam hari Erick menikmati udara malam dengan duduk di teras, menikmati indahnya kerlipan bintang yang seolah bercerita tentang betapa besar kuasaNya.
Nina juga belum tidur, dia berniat membuat susu coklat, saat keluar dia melihat pintu masih terbuka dan melihat bayangan Erick sedang duduk dari pantulan kaca.
Nina membuat dua gelas coklat hangat dan menemui Erick, pria itu terkejut saat Nina datang dan duduk di kursi, dia menyodorkan segelas coklat hangat pada Erick.
"Soal yang di rumah sakit itu, apa kamu serius?" tanya Erick hati-hati.
"Bukankah itu permintaan Ronald padamu?" Nina menatap mata Erick.
"Iya, tapi jika kamu tidak mau aku tidak memaksa, aku bisa menjagamu tanpa menikahimu," ucap Erick lirih.
"Sudah sejauh ini jalan yang kita lalui, aku mengenalmu dan kamulah pria pertama dalam hidupku, meski begitu banyak yang harus kulalui untuk kembali kepadamu, mungkin rasaku tidak seperti yang dulu tapi aku butuh kamu di sisiku membesarkan anakku," Nina menyesap coklat di tangannya.
"Apa kamu bersedia menjadi istriku, aku pria yang tidak punya apa-apa, yang ku punya hanya cinta dan kesetiaan," sambung Erick.
"Bagaimana kamu mengenalku dulu seperti itulah aku sekarang, aku tidak pernah berubah Rick," Nina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
*******
Siang hari Erick memberanikan diri menghubungi Pratiwi dan mengutarakan niatnya untuk mempersunting Nina, Pratiwi terharu tidak ada yang dia inginkan kecuali kebahagiaan anaknya.
Setelah mendapat persetujuan dari Pratiwi, Erick mengabari orang tuanya kalau dia akan menikah dengan Nina, keluarga Erick tak menyangka kalau Erick bertemu dengan Nina lagi.
"Minggu depan kita menikah," Erick memberitahu Nina sebelum berangkat bekerja.
"Hah, kog mendadak?" Nina bingung dan belum siap.
"Kan yang penting sah, ada orang tuaku orang tuamu, apa kamu mau pesta?" tanya Erick.
Nina menggeleng bukan masalah pestanya, dia hanya tak menyangka akan secepat ini. Mendengar rencana pernikahan Nina dan Erick, mbah Darmi meminta agar akad nikah di langsungkan di rumahnya saja.
Seminggu marathon mengurus berkas untuk pernikahan akhirnya hari besar itu tiba, hari yang sudah bertahun-tahun Erick tunggu, dua keluarga kembali bertemu dalam suasana yang berbeda, dahulu keluarga Erick bertemu saat Erick di rumah sakit tapi kini mereka bertemu sebagai keluarga besan.
"Saya terima nikahnya Karenina Aludya binti Hendra Sudrajat dengan mas kawin perhiasan dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Erick mantab.
"Sah?" tanya penghulu pada para saksi yang menghadiri ijab kabul.
"Sah ..., sah!!!" saut semua yang hadir serempak.
Nina dibimbing untuk mendekati Erick, walaupun ini pernikahan ke tiganya tetap saja ada debaran dihatinya.
Erick terpana melihat Nina mengenakan kebaya berwarna putih dengan hijab dikepalanya, wajah ayu dengan polesan make up tipis khas Nina yang tidak menyukai riasan tebal. Hati Erick berdebar saat menyematkan cincin dijari Nina, Nina mencium punggung tangan Erick, dan Erick mencium kening Nina.
Suasana haru semakin terasa saat orang tua Ronald datang dan menyalami Nina dan Erick, ada doa dan harapan yang mereka ucapkan untuk kebahagiaan keluarga Nina.
Bukan cuma Nina yang berbahagia, hari itu sekaligus acara pertunangan Eka dan Dayat, Dayat sengaja memberi kejutan pada Eka di akhir acara, bahkan orang tua Eka juga hadir meskipun mereka muncul di akhir acara sebagai surprise untuk Eka dari Dayat.
Erick sudah menemukan pelabuhan terakhirnya hidup bahagia bersama Nina, wanita yang selalu hadir di hatinya, jika sudah jodohmu sesulit apapun jalan yang ditempuh kalian akan tetap bersatu.
🌼🌼🌼🌼🌼
'**Biasanya kita mencari sebuah kebahagiaan kemana-mana, padahal kebahagiaan itu sangat dekat dengan kita. Sebagaimana kita suka mencari kacamata, padahal kacamata itu terpasang di mata kita.'
🌺🌺🌺TAMAT🌺🌺🌺**
__ADS_1