
Erick datang dengan membawakan segala kebutuhan Nina selama di rumah sakit, dia mengira-ngira sendiri apa yang Nina butuhkan, mau bertanya pada Nina dia pun segan, Nina terlihat kurang bersahabat dengannya.
"Nin, ini handphonemu, ini aku juga bawakan baju ganti, aku tidak tahu pokoknya asal ambil saja tadi," ucap Erick sambil meletakkan barang yang dia bawa di atas meja.
Nina berusaha meraih ponselnya, dengan cepat Erick membantu mengambilkan dan menyerahkan pada Nina, Nina mengambil ponsel di tangan Erick dengan kasar.
Erick pergi keluar kamar membiarkan Nina sendirian, ia sengaja memberinya ruang untuk menghubungi keluarganya, mungkin dengan begitu dia akan merasa sedikit lega. Erick pergi ke ruang perawatan bayi, dia memohon pada suster agar mengambilkan foto bayi Nina, agar Nina bahagia saat melihat foto atau video bayi mungilnya.
Nina tersedu menangis saat berbicara dengan mamanya melalui sambungan telponnya, dia sedih karna tidak bisa melihat Ronald untuk terakhir kalinya, dia hanya bisa meraung sambil mengutuki keadaannya sendiri.
"Sudah Nina, kamu harus iklas kita semua tahu kondisimu yang tidak mungkin hadir di sini, kamu harus kuat, harus tegar demi anakmu, Mama akan datang sore ini, pulang dari pemakaman Ronald Mama langsung berangkat ke sana ya Sayang, tunggu Mama datang," Pratiwi mengakhiri panggilan telponnya.
Nina menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya ada yang membuka, Erick masuk sambil tersenyum dan menyapanya.
"Nin ..., mau lihat video anakmu?" tanya Erick pelan.
Mata Nina berbinar senang, sesaat rasa sedihnya menghilang mendengar tentang bayinya, Erick mendekatinya dan menunjukkan dari ponselnya. Senyum Nina tiba-tiba menghilang, membuat Erick merasa bingung dengan perubahan sikap Nina yang tiba-tiba.
"Kenapa, kamu gak suka?" tanya Erick heran.
"Kirim saja videonya ke WA ku!!" jawab Nina ketus.
"Oh iya ya, bodohnya aku maaf ya," Erick menggaruk kepalanya yang tidak sedang merasa gatal.
Nina menatap tajam pada Erick yang terlihat salah tingkah di depannya, sebenarnya dia ingin tertawa melihat tingkah Erick yang seperti itu, tapi di sisi lain hatinya masih merasa kesal dengannya, dia memilih bersikap dingin dan kaku terhadap pria itu.
Setelah video dan beberapa foto anaknya masuk di ponselnya, tak bosan Nina mengamati foto dan video bayinya dia tersenyum dan menangis sendiri, sedangkan Erick hanya mematung menyaksikan sikap Nina dari kursinya.
Nina bergerak akan turun dari ranjang, Erick buru-buru bangkit dan mendekatinya, menjaganya takut kalau Nina terjatuh. Nina menatap tajam pada Erick dia enggan mendapat pertolongan dari pria itu.
"Aku bisa sendiri!!" ucap Nina kasar.
"Kamu baru dioperasi Nina, jangan memaksakan diri," Erick tak menghiraukan penolakan Nina, dengan sabar dia membantu Nina.
"Aku mau mengelap tubuhku, dan berganti baju," ucap Nina.
"Ayo ku bantuin," balas Erick.
"Mengelap tubuhku?" Mata Nina melotot.
"Oh nggak, jangan salah paham, aku bantu kamu ke kamar mandi saja," ucap Erick gugup.
Nina diam dan berjalan pelan sambil bertumpu pada pundak Erick, Erick membawa kantung infus dengan tangannya, setelah di dalam kamar mandi Nina malah kebingunan nyatanya dia tidak bisa melepaskan pakaiannya sendiri, akhirnya dia hanya membuang air kecil dan keluar lagi. Erick yang menunggu di depan pintu merasa heran.
"Kenapa?" tanya Erick.
"Aku nggak bisa," ucap Nina.
__ADS_1
Erick kembali membawa Nina ke ranjangnya, dia pun merasa bingung, mau membantu membuka baju Nina juga tidak mungkin dia lakukan, bisa-bisa Nina menamparnya kalau dia menawarkan diri untuk membuka baju.
"Tunggu Eka datang saja ya baru ganti baju, atau gini aja aku ambilkan air hangat sama handuk kecil kamu bisa mengelap wajahmu biar segar," tawar Erick, Nina mengangguk setuju.
Erick mempersiapkan baskom dan air hangat serta mengambil handuk kecil yang dia bawa dan menyerahkan pada Nina, Nina mulai mengelap wajah leher dan lengannya, Erick berpaling dan berpura-pura keluar kamar, setelah Nina selesai dia kembali masuk dan mengemasi baskom dari ranjang Nina.
"Rick ...." panggil Nina lirih.
"Iya Nin," Erick mendekati Nina.
"Aku butuh pembalut dan juga pakaian dalam, rasanya sudah nggak nyaman harus diganti," ucap Nina.
"Oh itu baik, tunggu sebentar aku akan belikan di Alf* depan rumah sakit," Tanpa bertanya Erick langsung pergi meninggalkan Nina.
Di mini market Erick berkeliling dia bingung melihat pilihan pembalut yang begitu banyak, akhirnya dia mendekati pelayan dan berbisik agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Mbak ... boleh minta tolong?" tanyanya sambil melirik kanan kiri biar tidak ada yang mendengar.
"Iya Pak ada yang bisa di bantu?" jawab sang pelayan ramah.
"Mbak pembalut buat wanita yang baru melahirkan yang mana ya?" ucap Erick malu-malu.
"Oh baik, mari saya ambilkan," Pelayan itu berjalan menunju tempat di mana produk pembalut tersusun rapi.
"Yang ini bisa Pak," Pelayan itu mengambil satu dan menyerahkan pada Erick.
"Istri Bapak gemuk apa kurus?" tanya pelayan itu.
"Kurang lebih seperti Mbak juga badannya," ucap Erick.
Wanita itupun melangkah dan mengambilkan kotak berisi celana dalam, Erick tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih, setelah melakukan pembayaran dia bergegas kembali menemui Nina.
Nina sudah bersama Eka di dalam kamarnya, Erick tersenyum lega setidaknya Eka bisa membantu Nina mengganti bajunya.
"Ini Nin," Erick menyerahkan kantung belanjaan.
Wajah Nina bersemu merah melihat Erick benar-benar membelikannya pembalut dan celana dalam, dia tak bisa membayangkan bagaimana dia bisa membelikannya peralatan perempuan, pasti penuh perjuangan menahan rasa malu.
"Rick pulanglah istirahat, biar aku yang jagain Nina," ucap Eka.
"Kamu nggak apa-apa sendirian Ka?" tanya Erick.
"Nanti ada Dayat yang datang menemaniku," ucap Eka.
"Baiklah kalau gitu, aku pulang dulu," Erick memandang Nina sesaat sebelum pergi dari tempat itu.
*********
__ADS_1
Di Jakarta keluarga Ronald sedang berduka atas kepergian Ronald, mama Ronald tak henti-hentinya meraung meratapi anaknya, Wijaya Kesuma juga terlihat lemah tak berdaya.
Hendra dan Pratiwi berusaha menghibur besannya agar tidak berlarut dalam kesedihan dan merelakan kepergian anaknya.
"Hend, bagaimana keadaan Nina dan cucuku?" tanya Wijaya Kesuma lirih.
"Cucu kita sehat tapi harus di inkubator sampai dia benar-benar sehat, Nina masih harus di rawat luka tembak dan bekas operasinya belum pulih," ucap Hendra.
"Siapa wanita brengsek yang sudah menghancurkan hidup anakku?" Wijaya Kesuma terlihat gusar.
"Aku sudah menyidiki, namun sayangnya ada yang mengambil jasad wanita itu sebelum tahu siapa dia, hanya Nina yang tahu siapa wanita itu tapi untuk saat ini gak mungkin aku tanyakan padanya," ucap Hendra lirih.
"Entahlah Hend, aku tidak pernah melihat anakku punya wanita lain selain Nina," Mata Wijaya Kesuma menerawang jauh.
"Sudahlah saat ini kita harus merelakan kepergian Ronald agar dia tenang di sana," hibur Hendra pada besannya.
Wijaya Kesuma mendekati istrinya yang masih tergugu di samping Pratiwi, dia memeluk istrinya agar tenang dan menghentikan tangisannya.
Pratiwi dan Hendra memohon diri dari rumah duka keluarga Wijaya Kesuma. Pratiwi langsung menuju bandara menuju Semarang menemui putri dan juga cucunya, rasanya sudah tak sabar ingin memeluk dan memberikan perlindungan pada putrinya.
Pratiwi tak bisa membayangkan bagaimana putri kesayangannya harus berkali-kali menelan pil pahit kesedihan, sebagai seorang ibu dia sangat merasakan bagaimana pedihnya menghadapi semua ini.
Pratiwi melangkahkan kakinya dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang terasa sangat panjang dan mencekam, tiba di depan pintu kamar Nina dirawat dia mengetuk pelan sebelum memasuki ruangan.
Mata Nina berbinar saat menangkap bayangan mamanya memasuki ruangannya, ingin rasanya berlari memeluk dan mengadukan laranya, namun kondisinya tak memungkinkan.
"Mah ...." Nina kembali terisak dalam pelukan mamanya, ke dua wanita itu menangis pilu.
Eka yang berada di ruangan juga tak tahan menyaksikan kepiluan sahabatnya, dia menahan isaknya hingga dadanya terasa sakit dan sesak.
Beberapa saat mereka terlarut dalam kesedihan hingga suara pintu di ketuk dan wajah Erick muncul dengan senyuman hangat, menghentikan kesedihan yang bergelung di dalam ruangan.
"Maaf," ucap Erick.
Dia menenteng kantung kresek berisi makanan dan buah-buahan, ke tiga wanita itu mengusap air matanya. Pratiwi tersenyum melihat Erick dia ingin berterimakasih karna sudah menjaga Nina selama ini.
"Trimakasih ya Nak Erick, sudah bantuin Nina selama ini," ucap Pratiwi tulus.
"Saya sudah berjanji pada Ronald untuk menjaga Nina Tante," ucap Erick.
"Kenapa kamu ke sini Rick?" tanya Nina.
"Aku ..., aku di rumah bingung jadi ya sudah lebih baik aku di sini menemani kalian," ucap Erick.
Mereka bertiga bermalam di rumah sakit menemani dan menghibur Nina agar tak terlarut dalam duka, Erick akan memenuhi janjinya pada Erick untuk menjaga Niba, suka atau tidak Nina kepadanya dia akan tetap menjaga dan melindungi Nina membesarkan anaknya.
*********
__ADS_1