
Nina duduk sendirian di kamarnya dia mencoba mencerna kejadian yang di alaminya beberapa hari ini, mahluk buruk rupa dan mengerikan yang selalu datang mengganggunya dalam mimpi bahkan dia hadir dunia nyata. Nina meraba kalung pemberian Nabila, sejak menggunakan kalung itu dia selalu dihantui mimpi buruk.
Nina mematung di depan kaca memperhatikan kalung pemberian Nabila, bentuknya biasa tidak ada yang istimewa dari kalung itu, hanya kalung silver berliontin batu berwarna kuning gading.
'Apa kalung ini yang membuat aku terus bermimpi buruk setiap hari, haruskah kulepaskan kalung ini,' Nina membathin sambil mengamati kalung yang menjuntai di lehernya.
'Lepaskan kalung itu Nina,' suara bisikan di telinga Nina merayunya untuk melepaskan kalung yang ada di lehernya.
Nina ragu-ragu dengan suara hatinya, Nabila sudah berpesan padanya agar kalung ini jangan dilepaskan, tapi mimpi seram itu sangat menyiksa dirinya.
Saat sedang mematung di depan kaca, bayangan mahluk mengerikan itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya memandanginya lewat pantulan kaca.
"Hah ..., pergiii jangan ganggu aku ...!!" Nina memejamkan matanya berharap itu tadi hanyalah halusinasinya saja.
Suasana berubah hening tak terdengar suara apa-apa, Nina memberanikan diri memicingkan matanya mengintip dari celah matanya, dan mahluk itu masih berdiri tegak di belakangnya tak bergeming.
Bulu kuduk Nina seketika langsung meremang, jantungnya berdetak kencang, Nina kembali memejamkan matanya dan tak berani membuka kedua matanya.
"Nina, pejamkan matamu jika kamu takut melihat wujud asliku," ucap sosok itu.
Suara itu adalah suara Rekso, pria yang selalu hadir di malam-malam Nina saat sedang kesepian, saat terluka, saat dia sedang kecewa.
"Kamu ...?" Nina tak bisa melanjutkan ucapannya lidahnya terasa kelu.
"Aku Er mu Nina," sosok itu perlahan menggenggam tangan Nina.
Nina semakin menggigil ketakutan, sekujur tubuhnya membeku sedingin es. Dia merasakan mahluk itu mulai mendekapnya dari belakang dan memeluk tubuhnya.
"Ka-kamu adalah Er ...," Nina memberanikan dirinya berbicara tapi dengan mata tetap terpejam.
"Aku Rekso yang selalu menjaga dan mencintaimu sepenuh hati," suara Rekso terdengar pilu.
"Kamu ..., jadi selama ini kamu ...," Nina tak tahu harus berkata apa lagi pada mahluk itu, dia kembali mengingat apa saja yang sudah dia lalui bersama mahluk ini selama ini.
"Sudah sekian lama kita bersama Nina, apa kamu begitu saja melupakanku," ucap Rekso lirih.
"Kenapa kau lakukan itu, kamu menipuku!!" Nina mencoba melepaskan pelukan Rekso pada tubuhnya, dia bergidik ngeri mengingat mahluk seram itu sering menidurinya.
Nina mulai menangis mengingat semua yang sudah dia alami, dia kembali teringat ucapan Nabila kalau mahluk itu tidak pernah rela orang yang disukainya dimiliki oleh orang lain.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Nina terisak di pelukan Rekso.
"Aku hanya mahluk yang mencintaimu Nina, aku seperti kaummu yang juga punya rasa cemburu," ucap Rekso sambil menghapus air mata di pipi Nina.
"Kenapa ..., apa salahku padamu hingga kau hancurkan hidupku ...?" Nina tergugu menangisi nasibnya.
"Apa cintaku salah, bukankah selama ini kamu baik-baik saja bersamaku?, apa kamu lupa semua yang kita lalui," Rekso mengusap wajah Nina.
__ADS_1
Rekso membuat Nina melihat kembali kenangan saat bersama Rekso yang dulu, Nina seperti sedang menonton film dan pemainnya adalah dia sendiri bersama Rekso.
Bahkan saat Rekso merubah dirinya menjadi Ronald di hari pernikahannya dan berkali-kali bercinta dengannya, semua begitu jelas bak rekaman sebuah film.
"Hentikaaannnn ...!!!" Nina tak tahan menyaksikan bayangan dirinya sendiri.
"Kamu menipuku, kamu mahluk jahat ..., tinggalkan aku ... pergi ... pergi ... tidaaakkk ...!!!" Nina berteriak kesetanan, dia menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Nina ..., Nina ... kamu kenapa lagi Sayang ...?!" Ronald masuk ke kamar dan mendapati Nina sedang menjerit histeris sambil menutupi wajahnya.
"Pergiii ..., jangan sentuh aku ..., pergi ...!!!" Nina meronta, dia tak sadar kalau yang memeluknya adalah Ronald suaminya.
"Nina ..., buka matamu Sayang, ini aku!!" Ronald terus mencoba menyadarkan Nina.
"Tidaaakkk ..., kamu penipu, pergi ... pergi ...!!!" Nina terus menjerit tak mau disentuh oleh Ronald.
Nina meringkuk dilantai mendekap kedua kakinya, badannya menggigil ketakutan, dia tak berani membuka matanya, dia takut melihat wujud Rekso yang asli kalau dia membuka matanya.
Ronald terduduk di depan istrinya, dia tidak pernah melihat Nina seperti ini sebelumnya. Bulir bening mengalir di mata pria itu, dia menahan tangisnya.
Nina terdiam dia hanya memeluk lututnya sendiri, ketika suasana terdengar sepi Nina mencoba membuka matanya perlahan, dia melihat Ronald suaminya sedang di depannya ikut duduk di lantai dengan wajah sedih memandanginya.
Nina mengerjapkan matanya berharap wajah itu tidak berubah menjadi mahluk yang mengerikan tadi, berkali dia kedipkan matanya wajah Ronald masih terpampang jelas di depannya.
Ronald mencoba menyentuh Nina, tapi Nina beringsut menghindar, dia masih tak percaya itu Ronald yang asli, dia takut itu adalah wujud Rekso yang menyamar dan menipu matanya seperti biasanya.
Nina menatap tajam mata Ronald, dia masih tak percaya kalau itu adalah suaminya. Ronald tak tahan melihat sikap Nina dia menangis di depan Nina.
"Kamu kenapa bisa seperti ini," Ronald tersedu.
Melihat pria di depannya menangis, kepala Nina seperti berputar dan terasa sangat berat, dia pun terjatuh tak sadarkan diri.
Dengan cepat Ronald merengkuh tubuh istrinya yang lunglai tak sadarkan diri di depannya. Ronald membopong tubuh Nina dan membaringkan ke atas ranjang.
Dipandanginya wajah istrinya yang terlihat sangat lelah dan tertekan, Ronald mengusap air matanya dia mencoba mencari tahu apa yang membuat istrinya bisa berubah seperti ini.
Dia melihat ponsel Nina yang tergeletak di nakas, Ronald mencoba membuka isi ponsel istrinya, tidak ada apa-apa di sana tidak ada yang bisa membuat Nina berubah seperti ini.
Ronald memutuskan untuk mengabari mama mertuanya tentang kondisi Nina yang seperti ini, dia juga memanggil dokter keluarga agar datang memeriksa istrinya. Pratiwi langsung menuju ke rumah Nina saat mendengar anaknya sakit.
"Ada apa Ronald, Nina kenapa?" mama Nina langsung memberondong Ronald dengan berbagai pertanyaan saat sudah sampai di rumah anaknya.
"Ronald juga gak tahu Mah, pulang kerja Nina sudah histeris di kamar dan tidak mau Ronald dekatin, tadi dia pingsan Ronald udah panggilkan dokter dan Nina dikasih penenang agar tenang," ucap Ronald sambil membawa mertuanya ke kamar untuk melihat kondisi Nina.
Nina tertidur dengan tenang di atas ranjang seperti tidak terjadi apa-apa, Pratiwi menatap anaknya tak percaya kalau Nina sedang sakit melihat kondisinya yang seperti ini.
"Jadi apa kata dokter Ron?" tanya Pratiwi penasaran.
__ADS_1
"Dokter bilang Nina harus dihindarkan dulu dari sesuatu yang membuatnya cemas," ucap Ronald lirih, sambil memandang sedih wajah istrinya.
"Jadi bagaimana, apa yang membuatnya cemas, kalian tidak sedang ribut kan Ronald?" Pratiwi menatap Ronald penuh selidik.
"Kami baik-baik saja Mah, tidak pernah bertengkar, kami juga tidak sedang punya masalah," Ronald membela dirinya.
"Tapi bagaimana bisa dia takut melihat kamu kalau kalian tidak ada masalah, kamu jangan bohong sama mama ya Ron!!" Pratiwi masih curiga.
"Sumpah Mah, kami baik-baik saja kog," Ronald mengusap wajahnya, hatinya semakin pedih saat mertuanya menganggapnya membuat Nina seperti ini.
"Ya sudah, nanti biar Nina di rumah mama saja kalau gitu," Pratiwi berencana membawa Nina pulang ke rumahnya.
"Tapi Mah, bagaimana denganku?" Ronald tak rela istrinya dibawa pulang.
"Kalau di sini dia akan terus-terusan histeris melihat kamu, bagaimana dia bisa sembuh? biarkan dia di rawat di rumah mamah, nanti kalau dia sudah bisa kamu temui datanglah menemuinya" ucap Pratiwi.
Ronald tak bisa berbuat apa-apa, dia tidak menyangka akan jadi begini, bagaimana dia bisa hidup tanpa melihat Nina di sisinya.
Nina menggerakkan tubuhnya, dia mulai tersadar dari pengaruh obat penenang di tubuhnya. Matanya terasa silau saat terkena sinar lampu di kamarnya, perlahan dia melihat wajah mamanya yang berada di sampingnya.
"Mamah ..., Nina kenapa Mah?" Nina bingung dengan keadaannya sendiri.
"Kamu sudah bangun Sayang," Pawitri mengusap kepala Nina.
Nina memandang ke kakinya di sana Ronald sedang tertegun memandangnya, Nina memeluk mamanya dan menyembunyikan wajahnya dari Ronald, melihat itu Pratiwi memberi kode agar Ronald menyingkir dari kamar itu. Ronald tak berdaya dengan langkah lunglai dia meninggalkan Nina bersama mamanya.
"Kita pulang Nak, kamu di rumah mama saja ya," Pratiwi membujuk Nina, dan Nina pun mengangguk setuju.
Tanpa menunggu lama lagi, Pratiwi mengajak Nina pulang ke rumahnya. Melihat istrinya berjalan keluar bersama mertuanya Ronald langsung mengejar Nina.
"Nin, tunggu Nin ...," Ronald memanggil Nina.
Mendengar Ronald memanggilnya Nina semakin mempercepat langkah kakinya, dia tak mau melihat Ronald Nina menganggap itu pasti Rekso yang sedang menyamar menjadi suaminya, Nina berlari masuk ke dalam mobil mamanya dan menutupi wajahnya.
"Ninaa ...!!!" Ronald benar-benar terpukul melihat Nina yang tak mau melihat dirinya.
"Ron, biarkan Nina sembuh dulu ya. Kita cari solusi dulu dengan masalah ini, kamu sabar ya," Pratiwi menenangkan mantunya sebelum pergi.
"Tapi Mah...," Ronald menelan ludahnya.
"Mama pulang dulu ya," Pratiwi meninggalkan Ronald dan membawa anaknya pulang ke rumahnya.
Mobil pratiwi perlahan melaju pergi meninggalkan rumah Ronald, air mata Ronald luruh menangisi kepergian istrinya, dia merasa gagal menjadi seorang suami. Ronald berlari ke kamar dan mengunci dirinya, menangisi rumah tangganya yang tiba-tiba berubah seperti ini.
Ronald meraba bekas Nina tidur, hatinya serasa hancur berkeping-keping. Tuhan apa salahku hingga istriku harus mengalami derita seperti ini, kenapa dia kau ambil dariku disaat seperti ini. Hati Ronald menjerit dia mengutuki dan meratapi dirinya sendiri.
********
__ADS_1