Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Nikah siri


__ADS_3

Nina terbangun dari tidurnya dia terkejut melihat Fatih sedang duduk di sampingnya menatap lekat wajahnya.


"Selamat pagi Sayang," Fatih mendaratkan ciuman di kening Nina.


"Hmm kamu gak tidur ya?" Nina bangun dari tidurnya, ada rasa perih di bawah sana, membuatnya meringis menahan perih.


"Kenapa Sayang, masih sakit ya?" tanya Fatih, dia memeluk Nina.


"Maaf kalau aku membuatmu sakit, baringlah lagi kita pulang kalau kamu benar-benar sudah siap." ucap Fatih sambil membelai lembut kepala Nina.


"Aku mau mandi saja biar terasa segar."


Fatih membantu Nina bangun dari ranjang dan menuntunnya masuk ke kamar mandi, Fatih menungguinya takut Nina kenapa-kenapa.


"Keluarlah, aku butuh sendirian," Nina mengusir Fatih yang masih di dalam kamar mandi menungguinya.


"Oh... ok maaf ya, aku takut kamu pusing atau apa."


"Cepetan, perutku sakit gak tahan!"


Nina mendorong Fatih keluar dan mengunci pintunya, dia segera duduk di toilet karena perutnya sudah sangat mules. Nina teringat lagi kejadian bersama Fatih tadi malam, masih terasa perih ketika kena air dan di pakai berjalan.


Pikiran Nina berkecamuk bagaimana kalau dia hamil sebelum lulus, dia semakin resah. Tapi dia juga tidak bisa marah pada Fatih, tadi malam itu terjadi begitu saja.


"Nina... Nina... Sayang...!!"


Paggilan Fatih membuyarkan lamunan Nina.


"Apa..."


"Kamu tidak apa-apakan Sayang, kog gak ada suara?" Fatih di luar pintu merasa cemas.


Beberapa saat terdengar bunyi air, lalu Nina membuka pintu kamar mandi.


"Duh kamu bawel banget sih, orang lagi buang hajat juga," Nina merengut kesal terganggu acara buang hajatnya.


"Maaf aku takut kamu pingsan Sayang." Fatih masih terlihat sangat cemas.


"Yuk mandi aja kalau gitu!" ajak Nina pada Fatih.


"Apa, mandi bareng maksudnya?" Fatih ragu-ragu dengan ajakan Nina.


"Iya, kamu mandiin aku cepat!"


Fatih masuk ke kamar mandi, Nina memandang Fatih degan tatapan aneh.


"Kamu mau mandi dengan pakai baju gitu?" tanya Nina.


"Jadi?" Fatih bingung.


"Ya buka bajumu lah, masak mandi pakai baju,"


Nina melepas handuk yang melilit tubuhnya dan menghidupkan shower menikmati guyuran air hangat di kepalanya. Fatih menelan ludah melihat tubuh Nina yang polos dari atas sampai bawah.


"Tadi malam kamu belun puas lihat tubuhku sampai bengong kayak gitu."


Fatih tersadar lalu membuka bajunya ikut mandi bersama Nina. Walaupun tadi malam sudah terjadi tapi Fatih masih takut Nina marah kepadanya, Fatih tak berani menyentuh tubuh Nina lagi.


"Aku mau kita besok menikah, jangan tunggu sampai lulus keburu aku hamil duluan."


"Beneran kamu mau kita cepat menikah?" Fatih tak percaya Nina mengajaknya menikah secepat ini.


"Iya, aku mau kita menikah secepatnya Sayang," Nina mencium Fatih dengan mesra, dia sudah tak malu-malu lagi.

__ADS_1


"Ya sudah yuk kita sarapan terus pulang, aku akan bicarakan soal ini dengan papaku dan kedua orang tuamu."


Fatih dan Nina pergi sarapan sebelum mereka pulang ke rumah. Nina sudah bertekad menutup buku tentang Erick, dia tak mau lagi sakit hati berkepanjangan. Di depannya ada Fatih yang siap melindungi dan membuatnya bahagia, sikap Fatih kemarin membuat Nina yakin melabuhkan pilihannya pada Fatih.


************


"Om Tante, kami akan menikah secepatnya," Fatih mengutarakan niat mereka untuk segera menikah pada orang tua Nina.


"Hah, bukannya nunggu Nina lulus dulu baru kalian nikah?"


Mama Nina memandang Nina butuh kepastian dari anaknya soal ini, dan memandang suaminya agar memberi keputusan.


"Kamu gak sedang hamil kan Nin?" tanya mama Nina curiga.


"Apa sih Mamah, ya kami mau cepat nikah toh sama saja nanti atau sekarang!"


"Ya tapi kenapa musti buru-buru kayak gini?"


"Untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa kami tahan Tante," Fatih mencoba memberi alasan.


"Ya sudah Mah orang anaknya mau cepat-cepat nikah ya sudah kita resmiin aja." papa Nina akhirnya angkat bicara.


"Bukan begitu Pah, kesannya kayak buru-buru, nanti orang pikir Nina hamil duluan makanya cepat-cepat dinikahin," mama Nina kekeh tidak ingin Nina menikah sebelum anaknya lulus.


"Mama ini kayak nggak pernah muda saja, ya biarin orang hamil ada suaminya ini." jawab Nina.


"Nina kamu jujur sama Mamah, kamu lagi hamil atau tidak?"


"Kalau nggak percaya ayok kita ke dokter," tantang Nina.


"Sudah-sudah, gini aja besok kalian nikah siri dulu aja kalau memang kalian udah kebelet banget, tapi tolong dijaga hamilnya nunggu kamu lulus," papa Nina mencoba memberi solusi.


"Pah..!!!" mama Nina tak terima.


"Sudah mama diem aja, biar papa yang atur masalah ini."


Nina dan Fatih berpandangan mereka menyesal membuat mama Nina marah atas keputusan yang mereka ambil.


"Sudah biar Papa yang membujuk mama kalian ya. Kalian siap-siap saja,"


"Saya pulang dulu ya Om, maaf sudah bikin Tante marah."


Fatih meninggalkan rumah Nina, Nina masuk ke kamarnya dia bingung dengan sikap mamanya yang tiba-tiba kesal dengan rencana mereka menikah lebih cepat.


Papa Nina masuk ke dalam kamarnya, di dapatinya istrinya menangis sesenggukan di tepi ranjangnya, dia mendekati istrinya dan memeluknya.


"Mama kenapa sih, anak kita sudah menemukan kebahagiaannya kog mama malah sedih beginj,"


"Aku..., mama gak rela Nina cepat menikah Pa, kayaknya baru kemarin dia ku gendong ku ganti pempersnya, sekarang dia mau menikah mau lepas dari kita Pah." mama Nina menangis sedih di dada suaminya.


"Mah Nina sudah dewasa, dia tidak akan bersama kita terus-terusan, lagian dia juga tinggal disini dengan kita. Kasihan lo lihat anakmu tadi jadi bimbang gitu."


"Jadi bagaimana Pah?"


"Ya sudah kita nikahkan mereka dulu secara agama, nanti dia lulus baru kita resmikan sekalian buat pesta."


"Ya sudah terserah Papa deh."


Mama Nina akhirnya setuju dan menyerah pada keputusan suaminya. Dia beranjak keluar dan menuju kamar Nina mau meminta maaf sudah membuatnya cemas. Namun saat di kamar Nina anak itu sudah tertidur pulas. Di pandanginya wajah anaknya yang terlelap terbuai mimpi, tak terasa air matanya kembali mengalir.


"Mama bahagia kalau kamu bahagia Sayang," bisik mama Nina di telinga anaknya.


Dia menyelimuti tubuh Nina sebelum kembali ke kamarnya lagi. Sesampainya di kamar mama Nina memeluk suaminya, sedih senang haru berbaur jadi satu.

__ADS_1


"Tidak ku sangka kita akan punya mantu Pah, sebentar lagi ada cucu di rumah kita. Aku harap Nina memberi kita cucu yang banyak agar rumah kita rame."


"Ngomong-ngomong soal cucu, bagaimana kalau kita bikin juga Mah," goda papa Nina.


"Maksud Papa mama suruh hamil lagi. Ogah udah nenek-nenek mau hamil lagi!" jawab mama Nina ketus.


"Yang suruh mama hamil siapa, kita cuma bikin aja gak di jadiin," papa Nina mencubit mesra pipi istrinya.


Keduanya menghabiskan malam dengan bercinta, mereka juga tak kalah dengan yang muda, masih tetap hangat di ranjang meski usia mereka tak lagi muda.


***********


Papa Nina sudah menghubungi temannya yang ustad untuk membimbingnya menikahkan Nina secara siri, demikian juga Tomi yang tak kalah terkejut ketika Fatih mengatakan mau menikah siri dengan Nina, berhubung keluarga Nina setuju Tomi juga ikut setuju.


Hari ijab qabulpun tiba, teman Nina hadir ikut menyaksikan pernikahan Nina dengan Fatih yang dilakukan dengan sederhana. Semua sudah berkumpul di ruangan dan acara segera di mulai.


Nina begitu cantik mengenakan kebaya putih dan kerudung, wajahnya di poles make up tipis terlihat begitu segar. Fatih juga sudah bersiap untuk mengucapkan ijab qabul.


"Saya terima nikahnya Karenina Aludya binti Hendra sudrajat dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAHH...!!!"


"Alhamdulillah..."


Semua yang di ruangan senang acara berjalan lancar, Nina mencium tangan Fatih yang sudah resmi menjadi suaminya walau belum diakui oleh negara pernikahan mereka tapi sudah sah secara agama.


Keluarga dan teman-teman Nina makan bersama setelah acara ijab qabul selesai. Mereka bersuka ria, demikian juga Nina dan Fatih mereka berdua bahagia.


"Ma Nina ganti baju dulu ya, gatel pakai kebaya,"


Nina pamit untuk mengganti baju di kamarnya, Fatih mengikutinya dari belakang dia tak mau istrinya itu terlepas dari pandangan matanya sedetikpun.


"Sini ku bantuin buka kebayanya,"


Fatih membuka kebaya istrinya, matanya nanar memandang tubuh Nina. Kini mereka sudah resmi menjadi suami Istri, Fatih tak mau menunggu lagi segera dia ajak Nina untuk bercinta di kamarnya.


tok, tok


Pintu kamar Nina di ketok membuat Fatih dan Nina menghentikan kegiatannya.


"Nin temenmu di bawah nunggu cepat turun," mama Nina memanggil dari luar kamar.


"Iya Mah,"


Nina dan Fatih cepat-cepat memakai baju dan membetulkan riasan dan rambutnya yang acak-acakan, mereka berdua tertawa cekikikan sebelum turun. Fatih turun lebih dulu berbaur bersama yang lain, Nina menyusul belakangan.


"Cieee lama amat turunnya nyicil berapa ronde sih?" goda Ratih pada Nina, membuat wajah Nina bersemu merah menahan malu.


"Aku gak ikut-ikut ya belum ngerti begituan, masih bau kencur," Eka ikutan bicara.


"Aku nanti tidur sini ya Nin, bolehkan?" Dian sengaja menggoda Nina.


"Lu ngapain mau tidur disini, mau ngebokep gratis yak," Ratih menjewer telinga Dian.


"Ya kan mau belajar dulu, biar nanti pas aku merid aku gak canggung lagi he he," balas Dian.


"Ah nanti juga lu Pinter sendiri, itu udah bakat alami tau." Eka menyahut.


Nina hanya terkekeh mendengar celotehan teman-temannya. Mereka bercanda sampai malam makin merayap, satu persatu tamu Nina berpamitan pulang.


Setelah semua pulang Nina dan Fatih tak membuang waktu lagi. Mereka mengunci rapat pintu kamar dan mematikan ponsel mereka agar tak ada lagi gangguan saat mereka sedang bercinta.

__ADS_1


Mereka menikmati surganya dunia, mendaki mencapai puncak nikmat bersama-sama. Nina tersenyum bahagia dalam pelukan Fatih suaminya.


*************


__ADS_2