Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Menikmati waktu berdua


__ADS_3

Bangun tidur Nina langsung mengecek hand phone miliknya ada sebuah pesan masuk dari Ronald, dia ingin mengajaknya jalan-jalan keliling Singapura. Nina segera mandi dan bersiap-siap, setelah selesai mandi Nina langsung pergi ke apartemen Ronald.


Ting ... tong ... ting ... tong ...


Nina menekan bel pintu apartemen Ronald, beberapa saat menunggu pintu apartemen terbuka, Ronald yang masih ngantuk kaget saat melihat di depan pintunya sudah ada Nina.


"Hai ..., katanya mau jalan-jalan?" Nina nyelonong masuk tanpa di suruh.


Ronald masih belum terkumpul kesadarannya karna baru bangun tidur, tadi malam dia tidur terlalu larut karna memikirkan tentang Nina.


"Duh aku masih ngantuk, boleh nambah bentar lagi nggak," Ronald langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Ya elah kata ngajak jalan tapi masih molor, hmmm dasar pemalas,"


Nina membuka jendela agar udara masuk, dia menuju dapur mencari apa yang bisa dimakan, hanya ada mie Nina menghidupkan kompor dan membuat mie kuah untuk sarapan juga membuat kopi.


Aroma mie dan kopi tercium oleh hidung Ronald, dia mengangkat kepalanya mencari arah aroma sedap di apartemennya. Nina datang mendekatinya.


"Bangun cuci muka baru sarapan, kamu tidur jam berapa sih tadi malam?" Nina menepuk punggung Ronald.


"Hmm gara-gara malam minum kopi aku jadinya susah tidur," Ronald berbohong, padahal tadi malam lagi mikirin Nina.


"Ayo keburu nggak enak mie nya," Nina menarik tangan Ronald agar bangun.


Ronald pun bangun dan mencuci muka juga gosok gigi, Nina sudah menunggunya di meja makan. Ronald datang ngantuknya sudah mulai hilang.


"Minum kopinya biar hilang ngantuknya," tawar Nina.


Ronald menyeruput kopi buatan Nina, dan mulai memakan mie yang terhidang untukya. Dia begitu lahap walau cuma makan mie kuah karena ini spesial buatan Nina.


"Wah kalau begitu nanti pulangnya belanja ah buat isi kulkas, kan ada yang masakin," Ronald mengedipkan matanya pada Nina.

__ADS_1


"Yee ... digaji berapa kalau aku masakin tiap hari?" balas Nina.


"Ku gaji dengan cintaku padamu," tiba-tiba Ronald bisa menggombal.


"Ogah ah mana kenyang makan cinta saja," balas Nina sambil tertawa.


"Jadi mau digaji berapa?" tanya Ronald lagi.


"Udah sana habis makan mandi, lalu kita jalan," Nina mengambil mangkok milik Ronald yang sudah kosong, dan langsung mencucinya.


Ronald melihat Nina mencuci langsung mendekat dan memeluk Nina dari belakang, Nina yang kaget hampir saja melempar mangkok di tangannya.


"Sudah gak usah di cuci nanti kamu capek," bisik Ronald di telinga Nina.


"Sana mandi cepat, ini malah peluk-peluk orang," ucap Nina sambil mencoba melepas pelukan Ronald.


"Bentar, ijinkan aku merasakan harum rambutmu sebentar saja," Ronald tetap tak melepaskan pelukannya.


Nina diam detak jantungnya tak beraturan, Ronald benar-benar mencium rambutnya membuatnya merasa geli dan merinding.


"Ok Sayangku," Ronald melepas pelukannya dan pergi ke kamar mandi.


Nina menata hatinya yang tadi bergetar hebat saat dalam pelukan Ronald, dia pergi ke balcony menyembunyikan perasaannya. Selesai mandi Ronald memakai kaos dan celana jeans, dia menyisir rambutnya dan memakai minyak wangi.


"Yuk ...!" ajak Ronald dia sudah rapi dan bersiap untuk pergi.


Nina menoleh dan memandang wajah Ronald yang terlihat sangat mempesona, cepat-cepat dia mengalihkan tatapan matanya agar Ronald tak menyadari rasa kagumnya.


"Kita naik MRT aja ya, lebih murah kamu mau kemana dulu?" tanya Nina sambil berjalan keluar dari apartemen di ikuti Ronald di belakangnya.


"Terserah kamu, aku kan lama di sini enam bulan, jadi tiap week end kita jalan-jalan aja satu tempat wisata, biar gak capek," ucap Ronald.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu kita ke Sentosa saja hari ini ya," ucap Nina.


"Ok Sayang," Ronald menggandeng tangan Nina bak sepasang kekasih sedang dimabuk cinta.


Ronald senang sekali berjalan berdua dengan Nina, mereka bercanda tawa menceritakan pengalaman mereka saat pertama datang di negara ini, sering kesasar karena belum hafal jalan, tak lupa mereka mengabadikan momen perjalanan dengan berfoto bersama.


Sorenya Nina mengajak Ronald belanja ke perluan dapur, dia benar-benar ingin memasak buat Ronald, walau tidak setiap hari akan melakukan itu.


"Kamu beneran mau masak?" tanya Ronald melihat Nina berbelanja untuk dapur.


"Ya buat nyetok aja, kalau lagi pingin masak bahannya ada tinggal masak," ucap Nina.


Ronald semangat diapun langsung memborong daging dan juga frozen food untuk stok di apartemennya, berharap Nina akan datang setiap hari ke apartemennya.


Ronald melihat toko perhiasan dan tertarik untuk memberikan hadiah buat Nina, dia berpamitan untuk ke toilet saat Nina masih asik belanja keperluan dapur.


Ronald memasuki toko perhiasan dan memilih sebuah kalung dengan liontin mungil berbentuk hati dengan mata berlian, mau beli cincin takut ukurannya gak pas, jadi dia lebih memilih membeli kalung buat Nina, setelah membayar kalung dan menyimpan di kantung celana dia kembali menemui Nina yang masih berkeliling.


"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Nina.


"Ya sudah sekalian aja belanja bulanan, kayaknya deterjenku juga habis, kamu juga mau beli apa sini sekalian," ucap Ronald.


Selesai berbelanja mereka mengantri di kasir untuk membayar belanjaan, setelah itu Nina dan Ronald mencari makanan ringan di sepanjang food street center sebelum pulang ke apartemen. Menikmati pemandangan sore Singapura dengan hiruk pikuk baik dari pendatang atau warga asli negara ini.


Orang yang berlalu lalang tanpa henti, geliat ekonomi Singapura benar-benar tidak pernah mati, sudut-sudut kota yang tertata rapi dan bersih tidak satu puntung rokokpun terlihat di jalan, masyarakat yang sadar akan kebersihan dan juga hukum negara yang memang ketat.


Bagaimanapun indahnya di negri orang tetaplah nyaman di negri sendiri, Ronald lebih senang hidup di Jakarta dengan hiruk pikuknya, kadang dia rindu suasana macet di jalan raya, makanan khas Indonesia dengan nasi padangnya, di Singapura juga ada tapi rasanya tak senikmat makan di Indonesia.


Nina juga sama Jakarta tetaplah tempat ternyaman untuknya, di sana dia lahir dan di besarkan, rindu ke hangatan keluarga dan teman-temannya, di sini walaupun punya teman tapi Nina tak sedekat dengan Ratih dan Dian, terasa sangat berbeda hanya sekedar say hallo dan basa basi semata.


Sejak ada Ronald dian merasa kerinduannya akan Jakarta sedikit terobati, Ronald membuat harinya berwarna, cerita-ceritanya yang lucu dan juga candaannya membuatnya tidak merasa kesepian lagi.

__ADS_1


Ronald memandang Nina yang senyum-senyum sendirian karna sedang memikirkan sesuatu, melihat senyum wanita di depannya membuat hatinya terasa hangat, benar kata papanya Nina wanita yang cocok untuk di jadikan pasangan hidupnya, Ronald semakin mantap untuk mempersunting Nina.


**********


__ADS_2