Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Teman lama


__ADS_3

"Pah ada Fatih di depan, katanya papa mau kenalan." Nina memberi tahu papanya saat Fatih datang kerumahnya di malam minggu.


"Oh ya bentar Papa keluar,"


"Jangan di kerjain ya Pah," Nina memohon agar papanya bersikap baik pada Fatih.


"Emang Papamu sejahat itu apa, kamu tenang aja selama dia baik sama kamu Papa tidak masalah. Asal kamu bahagia papa nggak masalah Sayang," papa Nina membelai anaknya dan pergi ke ruang tamu menemui Fatih.


Di ruang tamu Fatih terlihat gusar mau bertemu dengan orang tua Nina. Perasaannya campur aduk bersiap-siap menghadapi segala pertanyaan yang akan papa Nina tanyakan padanya.


"Malam Om..., om Hendra!!" Fatih ternyata mengenal papanya Nina.


"Lah kamu Fatih anaknya Tomi kan?" papa Nina juga tak kalah kaget.


"Iya Om, saya tidak tahu kalau Nina anaknya Om." ketegangan Fatih akhirnya hilang setelah tahu Nina anaknya om Hendra sahabat papanya masa kuliah.


"Kamu tinggal di komplek ini juga?" tanya papa Nina.


"Iya Om, sejak mama meninggal kami pindah rumah jadi pindah kesini, nanti saya bilangin papa Om biar main kesini,"


"Wah bagus tuh biar ada temen Om main catur."


"Loh kalian?" Nina yang datang membawa minuman heran melihat Fatih sudah akrab sama papanya.


"Papa kenal sama Fatih, papanya Fatih ini teman papa jaman kuliah Nin. Panggil mamamu suruh kesini." papa Nina terlihat sangat senang.


Nina masih tidak percaya dengan semua kebetulan ini, diapun masuk ke dalam memanggil mamanya agar menemui Fatih dan papanya di ruang tamu.


"Loh ini Fatih?" mama Nina juga ikut kaget setelah berjumpa dengan Fatih.


"Iya Mah, ini anaknya Tomi mama inget kan, kita pernah ketemu di rumah sakit waktu besuk mamanya Fatih." terang papa Nina pada istrinya.


"Iya ingat, jadi kalian tinggal di komplek ini juga. Wah Fatih besok ajak papamu kesini ya kita makan malam bareng."


"Baik Tante, tapi papa juga belum tahu soal Nina Tante, besok Fatih mau bikin kejutan buat papa."


Nina hanya bengong melihat ke tiga orang itu sedang reunian, mereka asik bercerita sampai lupa kalau ada Nina disana.


"Ehem...!!" Nina mendehem, membuat mama dan papanya menyadari kalau dia dari tadi didiamkan.


"Eh ya sudah kalau gitu, kalian ngobrol aja yuk Pah ke dalam. Fatih jangan lupa besok malam ya." mama Nina mengajak suaminya masuk ke dalam agar Nina bisa berduaan dengan Fatih.


"Baik Tante, besok malam saya ajak papa kesini."


Mama Nina dan papanya meninggalkan mereka berdua. Nina jadi canggung setelah tinggal berduaan dengan Fatih.


"Hmm jadi kalian udah saling kenal?" Nina membuka perbincangan.


"Aku kenal papamu udah lama, tapi nggak tahu kalau om Hendra punya anak secantik kamu." goda Fatih.


"Ish gombal," Nina tersipu malu.


"Mungkin ini takdir kita Nina, kita memang ditakdirkan untuk bersama."


Nina semakin bersemu merah wajahnya, hatinya campur aduk antara bahagia dan tidak percaya kalau hubungannya dengan Fatih bisa selancar ini.


"Maafkan aku Erick, aku juga ingin bahagia. Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu disana," Nina membathin saat tiba-tiba kepikiran tentang Erick.


Nina dan Fatih bercanda di ruang tamu hingga malam semakin merayap. Fatihpun berpamitan untuk pulang.


"Besok aku mau minta papaku untuk segera melamarmu," ucap Fatih sebelum dia pulang.


"Aku belum lulus Fatih, kamu mau main lamar aja,"

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus jadi istriku, aku gak mau kamu kabur dariku."


"Apaan sih pakai kabur-kaburan segala. Jangan buru-buru kita ini masih muda." Nina masih ragu untuk melangkah kejenjang yang lebih serius.


"Aku mencintaimu Nina, menikahlah denganku. Keluarga kita sudah saling mengenal, kamu juga sudah tahu siapa aku kan," Fatih ingin membuat Nina percaya kepadanya.


"Aku pikir-pikir dulu ya,"


Fatihpun pulang dia tidak sabar mau mengabarkan keinginannya untuk menikahi Nina pada papanya saat nanti sampai di rumah.


Nina masuk ke kamarnya hatinya begitu berbunga-bunga Fatih mau melamarnya, meskipun masih ada secuil ragu di benaknya.


****************


Papa Fatih sedang di depan laptopnya saat Fatih baru pulang dari rumah Nina, dia melihat anaknya pulang dengan wajah ceria tidak seperti biasanya. Akhir-akhir ini Fatih memang semangat berangkat kuliah dan pulang ke rumah lebih cepat, tidak seperti dulu hampir susah ditemui oleh papanya walaupun mereka tinggal satu atap.


"Dari mana Fatih?" tegur papanya.


"Dari rumah Nina Pah," jawab Fatih yang langsung duduk di dekat papanya.


"Nina?" papa Fatih belum tahu soal Nina. Bahkan Fatih juga jarang bicara dengannya kalau dia tidak memulai duluan.


"Nina pacar Fatih Pa, maukah papa melamar Nina untukku?"


"Apa melamar, kamu masih kuliah dan siapa Nina itu?" papa Fatih semakin heran.


"Pokoknya Fatih udah cinta sama dia Pah, orang tuanya sudah setuju kog. Mereka ingin papa datang besok ke rumahnya."


"Lah kog ada orang tua mau anaknya menikah sama kamu,"


"Emang kenapa Pah, Fatih sudah dewasa papa mau Fatih hanya pesta main cewek sana-sini kayak dulu," Fatih memasang wajah kesal pada papanya.


"Bukan begitu Fatih, kamu baru semester satu, belum kerja mau kamu kasih makan apa anak orang nanti."


Fatih meninggalkan papanya yang masih tercekat tak percaya dengan apa yang baru di bicarakan anaknya. Dia mengelus dadanya mencoba untuk bersabar menghadapi Fatih, seandainya mamanya masih ada mungkin Fatih tidak akan sekasar ini kepadanya.


************


Malam itu di rumah Nina, mereka sudah memasak untuk menyambut kedatangan Tomi papanya Fatih. Nina sudah berdandan mengenakan dres selutut berwarna salmon, wajahnya terlihat cantik tanpa polesan make up.


Fatih sudah berdandan rapi, dia bahkan sudah membeli cincin untuk Nina, namun papanya belum juga pulang membuat Fatih gusar dan merasa kesal.


"Pah sudah jam berapa papa belum pulang, Papa lupa dengan permintaan Fatih kemarin." Fatih menelpon papanya dengan perasaan kesal.


"Papa ada meeting ini masih di jalan Fatih."


"Cepetan ngebut, kita udah telat ini!"


"Ok tunggu sebentar."


Fatih mondar-mandir menunggu papanya datang dengan tidak sabar, dia sudah bersungut-sungut kesal. Selalu begini kalau janji tidak pernah tepat, makanya Fatih paling malas kalau berhubungan dengan papanya, tidak seperti mamanya yang selalu ingat dengan yang Fatih bicarakan.


Mobil papa Fatih memasuki halaman rumahnya, Fatih langsung mendatangi mobil papanya sebelum papanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam mobil papanya.


"Ayo kita jalan, udah telat papa jangan bikin rencana Fatih berantakan."


"Papa belum mandi."


"Udah gak usah mandi, yang mau ketemu calon istri Fatih bukan papa."


Dengan agak kesal Tomi menuruti permintaan anaknya, dan kembali menghidupkan mesin mobilnya.


"Kita kemana ini Fatih, kamu ini masak mau melamar anak orang kayak gini, papa kan malu," gerutu Tomi mengomeli Fatih sambil melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Belok kanan Pah!"


"Papa tahu jalan keluar dari komplek kita gak usah kamu pandu." Tomi semakin kesal dengan tingkah Fatih yang menurutnya sangat aneh.


"Nah lurus aja Pah, tuh depan yang ada mobil parkir depannya lagi!"


"Apa-apaan sih anak ini, bikin papamu stres aja. Ngapain kita kesini?" Tomi heran karna mereka hanya jalan ke blok B di komplek yang sama dengan rumah mereka.


"Udah jangan bawel ayok turun!"


"Duh gua jitak juga lama-lama ini anak, dosa apa gue punya anak kayak kamu!" Tomi turun dari mobil dengan menggerutu kesal.


Pintu pagar terbuka setelah Fatih dua kali memencet bel, pembantu Nina membukakan pintu pagar dan mempersilahkan Fatih dan papanya masuk.


Tomi masih mengomeli Fatih sambil berjalan masuk ke rumah Nina, dan berhenti saat sudah di depan pintu. Nina menyambut Fatih dan papanya yang datang.


"Masuk Om, Fatih." Nina mempersilahkan Fatih dan papanya duduk.


Melihat Nina yang cantik dan anggun, membuat Tomi tertegun, saat Nina masuk ke dalam untuk memanggil orang tuanya dengan cepat Tomi menempeleng kepala anaknya karna kesal.


Plakk


"Duh sakit Pah, ini di rumah orang papa main pukul."


"Kamu ngerjain papa ya, pinter juga kamu nyari pacar."


Fatih mengelus kepalanya yang sakit akibat tempelengan papanya. Orang tua Nina keluar menemui Fatih dan Tomi.


"Tomii..., akhirnya kamu datang ke rumahku!" papa Nina langsung menyambut Tomi.


"Hen..., Hendra...!! ini rumah kamu, dan itu tadi apa anakmu?" Tomi langsung memeluk sahabat lamanya.


"Ha... ha... ha... Fatih nggak bilang kalau dia dengan anakku," papa Nina terkekeh.


"Memang anak kurang ajar dia ini, suka bikin papanya jantungan. Coba lihat aku sampai belum mandi langsung diseretnya kesini."


Fatih hanya nyengir melihat papanya kesal dan campur senang bertemu sahabat lama merekapun tertawa bahagia, mama Nina langsung mengajak mereka untuk makan malam bersama.


Setelah makan malam orang tua Nina dan Tomi ngobrol di ruang keluarga mengingat masa lalu dan bercerita tentang kehidupan mereka, sementara Nina dan Fatih berduaan di ruang tamu.


"Nin..., aku serius dengan hubungan ini. Maukah kamu menerimaku?"


Fatih mengeluarkan cincin dari kantung celananya. Nina terbelalak tak percaya Fatih akan secepat ini melamarnya.


"Apa tidak terlalu cepat Fatih?"


"Aku tidak mau menunggu lagi, aku ingin memilikimu seutuhnya."


Nina mengulurkan tangannya Fatih kemudian menyematkan cincin di jari manis Nina, wajah Nina memerah malu dan juga bahagia. Fatih mencium tangan Nina dengan mesra. Nina berlari ke ruang keluarga.


"Mah..." Nina menunjukkan jarinya yang sudah tersemat cincin dari Fatih.


"Wah... kalian?" mama Nina terkejut.


Nina mengangguk Tomi dan papa Nina tersenyum bahagia melihat anak-anak mereka saling mencintai.


"Tapi tunggu Nina lulus ya menikahnya, kan sebentar lagi dia lulus." papa Nina angkat bicara.


"Mulai besok kamu kerja di tempat papa!" Tomi ikut menyela.


"Iya Pah."


Fatih mengajak Nina kembali ke ruang tamu agar bisa berduaan, membiarkan para orang tua mereka bercengkrama mengenang masa lalunya.

__ADS_1


**************


__ADS_2