
Hari ini Tomi papanya Fatih melangsungkan pernikahannya, Nina di rumahnya belum juga bersiap, dia berencana tidak datang karena menjaga hati Ronald yang cemburu, dari pada ribut lebih baik dia tidak datang pikirnya.
"Gak jadi pergi?" tanya Ronald, saat melihat Nina masih bersantai di depan tv.
"Kemana?" tanya Nina pura-pura lupa.
"Katanya ke acara om Tomi," ucap Ronald datar.
"Nggak usah nanti ada yang ngambek," Nina meninggalkan Ronald dan masuk ke dalam kamar.
Ronald mengejar Nina ke dalam kamarnya dan menyuruh Nina segera bersiap-siap. Dia akan mengantarkan Nina ke akad nikah Tomi.
"Ayo kuantarin, tapi aku gak ikut ya nanti ku jemput di rumah mama aja, aku ada meeting di luar," ucap Ronald, sebenarnya dia malas ketemu sama yang namanya Fatih, dia memilih menghabiskan waktu di luar.
"Beneran nanti gak marah," Nina ingin memastikan suaminya tidak cemburu kalau nanti dia bertemu dengan Fatih.
"Yang penting jangan berduaan sama Fatih saat aku tidak ada," Ronald mewanti-wanti Nina agar tidak berdekatan dengan Fatih.
"Ikut aja sebentar, kalau ada kamu kan Fatih juga gak bakalan deketin aku," ucap Nina sambil memilah-milah baju yang akan di pakai ke kondangan.
Ronald terdiam dan berfikir ada benarnya juga ucapan Nina, kalau dia tidak ada pasti Fatih punya kesempatan mendekati Nina. Enak aja jangan harap kamu bisa dekati istriku bathin Ronald.
"Ya udah aku ikut datang," ucap Ronald meralat ucapannya yang tadi.
"Katanya ada meeting?" dengan polosnya Nina bertanya.
"Batal," jawab Ronald ketus.
Nina menghela nafasnya, melihat tingkah suaminya yang semakin aneh. Nina kemudian memilihkan baju untuk dipakai Ronald dengan warna yang senada dengan warna gaun yang dia kenakan.
"Pakai ini aja Yang," Nina memberikan baju Ronald, dan Ronald segera bersiap, dia mematung lama di depan kaca.
"Udah belum, ayo keburu siang mama udah mau jalan," ajak Nina mengingatkan suaminya.
"Aku ganteng nggak?" tanya Ronald.
"Ganteng," jawab Nina datar.
"Ganteng mana sama Fatih?" tanya Ronald dengan nada yang terdengar aneh di telinga Nina.
"Mau berangkat atau mau berantem?" Nina balik bertanya, dia sudah mulai kesal dengan tingkah suaminya.
Nina menghempaskan tubuhnya di ranjang, moodnya untuk berangkat ke kondangan tiba-tiba saja hilang.
"Kog malah tidur?" Ronald menghampiri istrinya yang malah berbaring di ranjang.
"Males ah, aku mau tidur aja," Nina memasang selimutya dan memejamkan matanya.
Ronald jadi merasa bersalah karna sikapnya membuat Nina menjadi kesal kepadanya. Ponsel Nina berdering berkali-kali Nina tak menghiraukan. Ronald mengambil dan mengangkat panggilan yang ternyata dari mertuanya.
"Nina kalian udah sampai mana?" tanya mama Nina.
"Ngg ... Nina masih di kamar mandi Mah, sebentar lagi kami jalan," ucap Ronald.
"Ya sudah langsung ke rumah om Tomi ya, mama berangkat duluan," ucap mama Nina mengakhiri sambungan telponnya.
Ronald merayu Nina agar mau berangkat, dia tak enak hati kalau Nina sampai tidak datang di acara itu, pasti nanti mertuanya curiga kalau mereka tidak datang.
"Ok kita berangkat tapi kamu jangan kaya anak kecil gitu, aku malas ribut kayak gini. Fatih udah masa lalu dan kamu itu suamiku sekarang," ucap Nina sambil menatap mata suaminya dengan tajam.
__ADS_1
"Iya Sayang, maafkan aku cemburu. Aku janji akan menahan diriku untuk bersikap baik di sana. Ayo jalan Sayang mama udah jalan duluan," ajak Ronald menarik tubuh istrinya dari ranjang.
Mereka akhirnya berangkat ke rumah Tomi, Tomi hanya mengadakan acara di rumah dengan hanya mengundang teman dekat dan keluarga saja, tidak membuat pesta besar-besaran.
Nina tiba di rumah Tomi, acara ijab kabul sudah selesai tinggal sesi foto. Dian menyambut kedatangan Nina dan Ronald dan langsung mengajak Nina untuk berfoto bersama.
"Om selamat ya, maaf Nina datang terlambat, tadi malam salah makan jadi perutnya bermasalah," Nina menyalami Tomi.
"Tidak apa-apa Sayang, yang penting kamu datang Om sudah sangat senang," kata Tomi sambil memeluk Nina.
"Tante selamat ya ...," Nina memeluk mamanya Dian.
"Trimakasih udah datang ya Nina," ucap mamanya Dian.
Mereka berfoto bersama beberapa kali, tiba-tiba suara yang sudah lama tidak Nina dengar menegur Nina.
"Nin ...," suara lembut itu adalah suara Fatih.
Nina membalikkan tubuhnya, dan Fatih sudah berada di depannya dengan senyum penuh kerinduan, Fatih seolah tak peduli kalau Nina sudah bersuami dia langsung memeluk Nina, membuat Ronald melotot tak rela istrinya di peluk-peluk sama mantannya.
"Ehem ..., saya Ronald suaminya Nina," Ronald mencoba menahan rasa cemburunya dengan mengulurkan tangan pada Fatih.
Seketika Fatih melepaskan pelukannya, dan menyalami Ronald, mereka bersalaman seperti orang mau berduel.
"Fatih !!" ucap Fatih menyalami Ronald, sambil meremas tangan Ronald, dan Ronald membalas dengan meremas tangan Fatih.
Nina yang menyadari ketegangan diantara dua pria itu langsung melepaskan keduanya dengan mengajak Ronald menikmati hidangan, tentu saja banyak mata menyaksikan tingkah mereka apa lagi yang tau masa lalu Nina.
"Ayo kuambilkan makan Sayang, Fatih kami makan dulu ya kamu udah makan?" Nina berusaha menjaga suasana tetap kondusif.
"Ayo, aku juga belum makan sengaja aku nungguin kamu datang," ucap Fatih dengan santainya, dia seperti sengaja membuat Ronald emosi.
"Duduk sini Sayang, aku ambilin makan ya," Nina menyuruh Ronald duduk di meja undangan, dan dia berlalu mengambilkan makan.
Nina membawa dua piring nasi, dan menyerahkan salah satu pada Ronald, Fatih langsung duduk bersama mereka dan mengambil piring satu lagi yang di bawa oleh Nina dengan santai.
"Trimakasih, kamu masih inget aja makanan kesukaanku Nin," dengan santai Fatih menyuap makanan yang Nina ambil ke dalam mulutnya.
Ronald yang geram dengan sikap Fatih, langsung menarik istrinya agar duduk di sampingnya.
"Makan ini Sayang," Ronald menyuapi Nina, mereka pun makan sepiring berdua.
Dian yang menyaksikan ketegangan itu segera menghampiri dengan membawakan minum dan mengambilkan buah buat sahabat-sahabatnya.
"Duh kalian ini romantis banget deh, bikin gue iri," Dian langsung duduk di samping Fatih sambil mencubit paha Fatih karna geram melihat tingkahnya terus mengganggu Nina dan Ronald.
Fatih nyengir kesakitan mengelus pahanya bekas cubitan tangan Dian, dia melengos kesal karena Dian ikut campur dengan segala urusannya.
Ketegangan pun mencair setelah Dian bergabung dan juga Ratih ikut berbaur bersama mereka, Fatih akhirnya menghentikan sikap usilnya pada Ronald setelah teman-teman Nina datang diantara mereka.
Ronald memilih bergabung dengan mertuanya dan bersama dengan Adit setelah selesai makan, sementara Nina masih bersama Dian dan juga Ratih.
"Duh ... si Fatih nyari masalah aja, udah Ronald cemburuan lagi," bisik Nina pada kedua temannya.
"Tenang ada kami, kalau Fatih macam-macam biar ku pites hidungnya," ucap Ratih.
"Heran gue, nekat amat anak itu bukannya dia udah punya pacar kata om Tomi?" imbuh Dian.
"Entah," jawab Nina sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Nin, kamu belum pernah masuk rumah om Tomi ya, foto pernikahan kalian masih di pajang di ruang tamu lo," ucap Dian.
"Hah ... serius?" Nina terkejut, karna memang sejak berpisah dengan Fatih Nina tidak pernah masuk ke dalam rumah Tomi lagi.
"Masih, nggak percaya kamu lihat saja ke dalam," ucap Dian sambil melirik ke arah Ronald yang sedang asik ngobrol bersama mertuanya.
Nina penasaran dia pun menyelinap masuk ke dalam rumah Tomi tanpa sepengetahuan Ronald, matanya tercengang menyaksikan foto pernikahannya masih terpasang di ruang tamu seperti dulu, Nina buru-buru akan keluar dari Rumah sebelum Ronald sadar dia menghilang, tiba-tiba Fatih sudah datang menghadangnya.
"Fatih ...," Nina terkejut, dia menyembunyikan perasaannya yang sedang kalut.
"Kamu heran kenapa foto kita masih terpasang di sana kan, bahkan di hatiku masih ada kamu hingga sekarang Nin," Fatih berusaha memeluk Nina, namun Nina langsung menghindar.
"Fatih, aku sudah menikah!!" Nina membentak Fatih.
"Fatan bukan anakku Nin, andai kamu mau memberiku kesempatan saat itu, kita masih saling mencintai," ucap Fatih lirih, mata Fatih masih seteduh dahulu, mata penuh rasa cinta pada Nina.
Mata Nina memerah bulir bening memenuhi pelupuk matanya, dia cepat-cepat keluar meninggalkan Fatih yang memandangi punggungnya. Nina mendekati Ronald dan mengajak suaminya pulang.
"Pulang Yuk aku udah capek," ajak Nina pada Ronald.
"Ayuk, mau mampir rumah mamah gak?" tawar Ronald.
"Boleh, kita ke rumah mama dulu aja. Yuk kita pamitan dulu sama Om Tomi," Nina mengajak Ronald berpamitan dengan Tomi sebelum mereka pulang.
Nina dan Ronald bersalaman dengan Tomi dan yang lainnya, mereka keluar menuju mobil hendak pulang ke rumah orang tua Nina, Fatih menyaksikan kepergian Nina dari balkon lantai dua rumahnya, Nina juga memandang ke arah Fatih, hatinya kembali tersayat mengingat kenangan masa lalu.
Ronald melihat wajah Nina yang murung langsung merasa curiga, pasti sudah terjadi apa-apa tanpa sepengatahuannya.
"Apa dia mengganggumu?" Ronald belum menghidupkan mesin mobilnya, matanya juga menatap di mana Fatih berada.
"Kalau dia menyakitimu biar ku hajar dia sekarang!!" Ronald emosi dan akan keluar dari mobilnya.
Nina menahan Ronald agar tidak berbuat yang memalukan, Ronald mendengus kesal dan menghidupkan mobilnya meninggalkan rumah Fatih menuju rumah mertuanya yang masih satu komplek dengan rumah Fatih.
Untung saja Nina udah kubawa pindah, kalau masih di sini pasti si br*ngsek itu akan mendatangi Nina saat aku pergi. Ronald membathin.
Nina langsung ke kamarnya saat sudah sampai di rumah mamanya, dia masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam, lalu menghidupkan air agar suara tangisnya tak terdengar keluar.
Bayangan masa lalu kembali berputar di kepala Nina, membuat dadanya terasa sangat sesak, dia tidak tahu apakah ini sesal atau rasa apa yang jelas hatinya terasa sangat sakit dan pilu.
Puas menangis Nina mencuci wajahnya menyembunyikan bekas tangisannya, dia keluar menemui Ronald yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil membaca koran.
"Kenapa Sayang?" tanya Ronald saat istrinya sudah duduk di sampingnya.
"Mules nih, kayaknya salah makan," Nina berbohong menyembunyikan perasaannya.
"Parah nggak, kita ke dokter aja yuk," ajak Ronald, dia mencemaskan kesehatan istrinya.
"Pulang aja Yuk, mama pasti lama pulangnya, aku mau istirahat di rumah aja," Nina mengajak pulang suaminya.
Sepanjang jalan Nina hanya diam, ucapan Fatih tadi benar-benar sudah mengganggunya, dia merasa sangat bersalah dulu bersikap seperti itu pada Fatih, dia bahkan tak memberi Fatih kesempatan membela dirinya waktu itu, dia terlalu angkuh karna dikuasai oleh kemarahannya.
Ronald menggenggam tangan Nina, membuat Nina tersadar kalau sekarang dia sudah menjadi milik Ronald, pria yang sudah menyembuhkan luka hatinya.
Fatih masa lalumu Nina, masa depanmu adalah Ronald, dia pria yang menyayangimu sepenuh hati, hati Nina berbicara sendiri.
Nina menyandarkan kepalanya di pundak Ronald melupakan tentang Fatih dan semua tentang masa lalunya, dia juga tak mau membuat hati Ronald terluka.
*********
__ADS_1