
Malam itu Erick keluar untuk mengisi minyak motornya, sekembalinya dari mengisi minyak jalanan sepi tidak ada pengendara lain saat melewati tikungan motornya seperti menabrak sesuatu yang besar tapi tak terlihat oleh mata.
Braakkkk!!!!
Motor Erik oleng dan terjatuh, badannya terseret motor hingga jauh, helmnya terlepas dari kepalanya membuat kepalanya terbentur ke aspal jalan. Erick hilang kesadaran akan dirinya, dia merasa tubuhnya melayang terbang begitu ringan.
"Dimana aku?"
Erick tersadar dan dalam kondisi di ikat di sebuah kursi bagai tawanan. Dia mengingat-ingat kejadian yang dia alami sebelumnya. Bukankah dia sedang naik motor lalu terjatuh.
"Apa aku sudah mati, apa ini di neraka?" Erick membathin sendiri.
"HUAAAA HAAA HAAAA HAAAA...!!!!"
Sebuah tawa menggelegar tanpa wujud, tawa itu memekakkan telinganya, Erick mencari kesekeliling ruangan, tidak ada siapapun disana hanya dia sendirian dan suara tawa yang menggema.
"Apa aku sudah mati? apa itu suara malaikat yang akan menanyaiku di dalam kubur?" Erick masih terus berbicara dalam hati.
"HEH... MANUSIA LEMAH!!! SUDAH KUBILANG JANGAN KAU GANGGU MILIKKU, KAMU AKAN CELAKA!!"
Suara tanpa wujud itu kembali menggema membuat sakit kepala Erick saat mendengarnya.
"Kamu siapa?!" Erick membuka suara.
"AKU...!! AKU YANG AKAN MENCABUT NYAWAMU!"
"Keluar kau, jangan jadi pengecut!!" Erick menantang suara itu.
Asap tebal bergulung-gulung di ruangan membentuk sebuah wujud sosok manusia berbadan tinggi besar. Perlahan-lahan asap itu menjelma menjadi mahluk yang mengerikan, mahluk yang pernah Erick temui dalam mimpinya beberapa hari lalu, dia ingat mahluk itu yang mencengkeram tubuh Nina di dalam mimpinya.
"Kamu, kamu ini mahluk apa?!" tanya Erick, dia memberanikan dirinya bertanya pada mahluk itu.
"KAMU TIDAK TAKUT PADAKU?!" gertak mahluk itu pada Erick.
"Apa yang ku takutkan dari mahluk sepertimu. Aku lebih takut pada penciptaku." jawab Erick.
"HAAA HA HA...!!!" mahluk itu tertawa mengeluarkan taringnya, terlihat sangat menyeramkan.
"Lepaskan aku hei mahluk sialan!!" teriak Erick.
__ADS_1
"Melepasmu, berjuanglah anak manusia tunjukkan kekuatanmu wahai mahluk lemah!!" Mahluk itu menyeringai mengejek Erick.
"Kamu bilang aku mahluk lemah, tapi kamu curang denganku dengan mengikatku seperti ini!."
Mahluk itu kembali berubah menjadi asap menggulung-gulung kemudian menghilang, suasana menjadi sunyi Erick kembali sendiri terikat dan tak bisa melepaskan diri.
"Erick... Erick bangun Erick," suara Nina tanpa wujud memanggilnya.
"Nin... Ninaaaa!!!" Erick memanggil Nina.
"Erick, aku sayang kamu jangan tinggalin aku Erck," suara Nina kembali terdengar tapi wujud Nina tidak ada.
"Ninaa... Ninaaaaaa!!! kamu dimana aku disini Ninaaa... Ninaaa!!"
Erick berteriak memanggil Nina tapi tak ada jawaban, suara Nina menghilang begitu saja. Erick menundukkan kepalanya, dia berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.
*******************
Nina baru saja datang di rumah sakit, dia baru pulang dari kampus dan langsung menuju ke rumah sakit mengunjungi Erick yang belum juga sadar dari komanya.
Di kamar Erick sudah ada seorang wanita tua menunggui Erick dan seorang laki-laki usianya lebih muda dari Erick, mungkin ini keluarga Erick pikir Nina.
"Oh ini Nina yang selalu diceritakan Erick," wanita itu menyalami Nina.
"Saya adiknya Erick, Ehsan dan ini ibuku dan juga Erick. Kami baru datang tadi pagi trimakasih sudah mengurus kakakku disini."
Pria yang bernama Ehsan mengulurkan tangan pada Nina, Nina lalu menyalaminya.
"Maaf kalau kita harus berkenalan dalam kondisi seperti ini," kata Nina.
Nina mendekati tubuh Erick, dia masih seperti kemarin tak berubah.
"Erick... ini aku Nina, bangunlah Erick ada ibu dan adikmu disini. Tidakkah kau ingin mengenalkanku pada mereka. Erick... Erick... cepatlah bangun Erick..." Nina berbisik pada Erick.
Ehsan dan ibu Erick menatap Nina dengan iba, Ibu Erick juga sedih sekali tapi dia harus tegar dia yakin anaknya akan segera bangun dari tidurnya.
"Nak... doakan Erick ya disetiap shalat, Ibu yakin dia akan kembali pada kita lagi," Ibu Erick membelai punggung Nina.
Nina memeluk ibu Erick, dia merasa sangat sedih dan tak tahu harus bagaimana. Nina baru merasakan arti kehadiran Erick dalam hidupnya saat kondisi Erick seperti ini. Nina sangat takut tidak bisa melihat Erick seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Ibu sama Ehsan tinggal dimana selama disini?" Nina baru menyadari hal ini.
"Ibu tidur di rumah sakit, Ehsan bisa tidur di mushola Nak, kami gak ada siapa-siapa disini. Kalau harus tidur di hotel juga percuma bolak-balik ongkosnya juga, belum lagi nanti biaya perawatan Erick, ibu juga belum tahu akan habis berapa." ibu Erick memandang wajah anaknya yang terbaring tak berdaya.
"Kalau soal Erick, papa Nina yang tanggung biayanya Bu, jangan ibu pusingkan hal ini. Sekarang bagaimana dengan ibu, ibu juga harus istirahat nanti ibu malah sakit."
"Tidak apa-apa Nak, yang penting ibu bisa menjaga Erick sewaktu-waktu dia bangun ibu ada disini."
"Hmm gini aja Bu, Nina akan carikan tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit ini, mungkin kamar kos jadi nanti ibu sama Ehsan bisa gantian nungguin Erick."
"Tapi Nak, nggak usah nanti malah ngrepotin nak Nina," ibu Erick jadi merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bu, kita tidak tahu kapan Erick akan sadar. Nggak mungkin ibu akan terus-terusan tidur disini kan. Yuk Bu kita makan ke kantin, Ehsan biar jagain Erick dulu nanti kita gantian makannya."
Nina mengajak ibu Erick untuk makan, dia yakin ibu Erick belum makan dari tadi. Ibu Erick mengikuti ajakan Nina, mereka pergi ke kantin rumah sakit untuk makan.
Ibu Erick sangat kagum dengan Nina, sungguh anak yang baik dan sopan padahal dia anak orang kaya dan Erick hanya anak petani biasa. Pantas saja tiap kali Erick nelpon dia selalu menceritakan tentang Nina.
"Mmm Nin apa orang tuamu juga menerima Erick?" tanya ibu Erick ragu-ragu.
"Kenapa Bu?"
"Ibu cuma ingin tahu saja?"
"Tentu saja orang tua saya menerima Erick Bu,"
"Ibu senang mendengarnya, walau sekarang keadaan Erick seperti ini." ibu Erick menunduk air matanya jatuh menetes di pipinya.
"Jangan sedih Bu, kita harus saling menguatkan. Setelah ini Nina akan carikan ibu kos di dekat sini biar ibu bisa istirahat."
"Trimakasih Nak, ibu tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu dan keluargamu."
Nina dan ibu Erick kembali ke ruangan agar Ehsan bisa pergi makan, Nina duduk di sisi Erick dan menggenggam tangannya berharap Erick bisa merasakan kehadirannya.
"Erick aku pergi dulu ya, nanti aku akan kesini lagi menjengukmu." bisik Nina pada Erick.
"Bu Nina harus pergi dulu, kalau ada apa-apa kabarin Nina ya Bu, Nina mau cari tempat kos untuk Ibu dan Ehsan, nanti Nina kesini lagi."
Nina berpamitan pada ibunya Erick, setelah bersalaman Nina pun pergi mencarikan tempat kos buat keluarga Erick selama disini.
__ADS_1
**************