
Nina mengingat ingat kapan tanggal dia haid terakhir kalinya, sepertinya sudah lama dia tidak mendapatkan menstruasi.
"Yang kamu inget gak sih kapan aku terakhir haid?" Nina bertanya pada Ronald.
"Hah ... kapan yah, selama di sini kayaknya baru haid dua kali deh?" Ronald pun mencoba mengingat-ingat.
"Kita udah empat bulan di sini, hah apa jangan-jangan aku ...." Nina terdiam.
"Hamil! apa kamu sedang hamil Sayang?" Ronald terkejut, dia tak percaya akan secepat ini.
"Aku gak tahu juga sih, besok kita coba beli test pack," ucap Nina.
"Ngapain nunggu besok sekarang juga aku pergi membelikan untukmu," Ronald menyambar dompetnya dan langsung pergi untuk membeli alat tes kehamilan.
Nina terduduk di sofa, dia merasa senang, bingung semua rasa campur aduk menjadi satu, benarkah dia sekarang sedang hamil, Nina sudah tak sabar menunggu kedatangan Ronald.
Beberapa saat menunggu Ronald akhirnya datang membawa tiga buah alat tes kehamilan dengan merk yang berbeda, dan menyerahkan pada Nina.
"Banyak sekali Sayang?" Nina bingung mau pakai yang mana dulu.
"Ya cobain satu-satu mana tahu nggak akurat, malam ini coba besok pagi dicoba juga, Katanya yang bagus sih air kencing di pagi hari, cepetan sana cobain dulu," Ronald mengambil salah satu dan menyerahkan pada Nina.
Nina pun masuk ke kamar mandi sementara Ronald menunggu di luar, dia sibuk mondar-mandir tak sabar menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Nina menampung air seninya dengan gelas kecil yang telah disediakan bersama alat yang dibeli Ronald, dengan hati berdebar dan tangan mulai gemetar dia memasukkan stik alat tes pada air seni yang sudah dia tampung membiarkannya selama kurang lebih tiga menit.
Dengan hati berdebar dia mengangkat alat tesnya perlahan dan memperhatikan dengan seksama, satu garis merah muncul dengan cepat dan kemudian garis kedua muncul tapi samar hampir tak terlihat.
Nina menghela nafasnya, membaca petunjuk yang ada di bungkus alat tes itu, dua garis positif satu garis negativ, Nina keluar dari kamar mandi dengan wajah murung.
"Bagaimana?" Ronald sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.
Nina memberikan alat tesnya pada Ronald, Ronald melihat dan tidak mengerti cara baca alat itu, dia pun mendekati Nina yang sudah manyun dan terduduk di sofa.
"Ini artinya apa Sayang," tanya Ronald menunjuk tanda garis di alat tes itu.
"Bacalah di bungkusnya," Nina menjawab dengan nada kesal.
__ADS_1
'Salah lagi gue,' Ronald membathin, dia pun memilih membaca petunjuk di bungkus alat tes kehamilan yang dia beli.
"Satu negativ, dua positif ini satu apa dua?" Ronald kembali bertanya pada Nina, dia ragu karna garis yang satunya terlihat samar.
"Satu lah masak gak bisa lihat sih," Nina semakin sewot.
"Ini dua Sayang," Ronald menunjukkan garis yang samar.
"Ah bodo ah, aku males lihatnya," Nina pergi ke kamarnya dia sangat sedih, tadinya dia berharap hasilnya akan positif.
Ronald terdiam melihat Nina pergi meninggalkannya, dia memahami rasa kecewa di hati Nina. Setelah beberapa saat Ronald pun menemui istrinya di kamar.
"Sayang, aku tahu kamu kecewa tapi gak harus marah gitu dong," ucap Ronald lirih.
Nina berpaling dan menyembunyikan rasa sedihnya dari Ronald, dia sadar harusnya dia tak perlu marah seperti ini, dia hanya kecewa dengan kenyataan.
"Siapa tahu alat itu gak akurat, lagian tes urin bagusnya itu pagi hari, sengaja aku beli tiga, biar besok kita bisa tes lagi yah," Ronald memegang tangan Nina.
"Aku gak mau tes lagi, biarin aja kita lihat aja bulan ini aku dapat haid atau tidak mungkin hanya telat biasa karna stres, nanti baru kita ke dokter kandungan saja," ucap Nina.
"Ok Sayang, terserah kamu lagian kamu mau ngadepin sidang kan, fokus dulu sama sidangmu ya, mana tahu habis sidang kita dapet bonus," ucap Ronald, Nina duduk dan memeluk suaminya.
"Hush ... jangan bilang gitu, nanti aku makin sedih," Nina menutup mulut Ronald agar tak bicara sembarangan.
Ronald dan Nina membuat kesepakatan kalau tidak akan membahas soal kehamilan lebih dulu, Ronald ingin Nina fokus dulu pada sidang tesisnya.
Setelah urusan kuliah selesai mereka akan mengunjungi dokter kandungan untuk mulai melakukan program hamil, mumpung mereka sedang di Singapura, di sini sudah terkenal dokternya sangat bagus untuk urusan program kehamilan. Bahkan para artis juga banyak yang melakukan perawatan program hamil di Singapura.
********
Hari sidang tesis pun akhirnya tiba Nina sudah mempersiapkan dirinya, Ronald bahkan sengaja meminta ijin dari kantornya untuk menemani istrinya sidang tesis.
"Aku yakin istriku pasti bisa," Ronald menyemangati istrinya sebelum mereka pergi ke kampus.
"Trimakasih Sayang, kamu selalu ada buat mendukungku," Nina bergayut manja pada suaminya.
Nina melangkahkan kakinya ke ruang sidang dengan tenang, Ronald tidak ikut ke dalam kampus dan memilih menunggu di luar kampus, karna selain mahasiswa tidak di perbolehkan ada di lingkungan kampus.
__ADS_1
Ponsel Ronald berdering Nina sudah selesai dengan sidangnya, Ronald dengan cepat menemui istrinya. Setelah bertemu Ronald mengajak Nina makan di restoran, hari ini Ronald akan mengajak Nina jalan-jalan sebagai penghilang stres setelah menghadapi sidang tesisnya tadi.
Nina benar-benar menikmati hari itu, dia bahkan tidak merasa khawatir dengan hasil sidangnya, lulus atau tidak dia sudah punya Ronald, sesuatu yang lebih berharga dari apapun di dunia ini.
"Loh kita gak pulang ke apartemen Yang," Nina heran karna Ronald membawanya pulang ke hotel.
"Aku mau tidur di hotel malam ini Sayang, anggap aja ini bulan madu kedua kita," Ronald mengedipkan matanya.
"Ah kamu selalu membuatku terpesona setiap saat," Nina sangat senang.
Malam ini Ronald ingin memanjakan istrinya di hotel, dia juga memesan spa buat Nina, biar ketegangan Nina hilang. Setelah rangkaian spa selesai mereka menikmati makan malam di kamar hotel.
Nina memandang lekat wajah Ronald membuat Ronald merasa tidak nyaman dia pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ada apa Sayang, kenapa menatapku seperti itu?" Ronald penasaran.
"Kenapa kita terlambat bertemu ya, padahal kita sama-sama di Jakarta, harusnya aku tidak perlu melalui berbagai luka sebelum ini," ucap Nina.
"Ini namanya takdir Sayang, kita ini hanyalah pemain dan sudah ada yang menulis bagaimana kisah kita," Ronald tersenyum bahagia.
"Sayang, tolong jangan tinggalin aku bagaimana pun keadaanku nanti," ucap Nina lirih.
"Bukankah aku sudah berjanji akan selalu menjagamu, apapun keadaanmu," Ronald mencium tangan Nina dengan mesra.
Malam ini mereka menikmati malam bak pengantin baru, walau pun Nina merasakan Ronald tidak segarang biasanya, Nina pikir mungkin suaminya sedang capek jadi tidak begitu bergairah saat bercinta.
Pagi hari Ronald membangunkan istrinya yang masih tertidur, dia sudah rapi dan bersiap berangkat ke kantor untuk bekerja.
"Sayang aku kerja dulu ya, kamu kalau mau sarapan pesan aja sarapan di kamar, Aku udah booking kamar ini selama dua hari, besok kita baru pulang ke apartemen," Ronald mengecup lembut kening istrinya.
Nina menggeliat, dia masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya, setelah memberi kecupan pada suaminya dia pun kembali tidur, dan Ronald berangkat ke kantor.
Nina bermimpi dia sedang berdiri di depan kaca memperhatikan perutnya yang membesar karna sedang hamil, dia tersenyum bahagia ternyata dia benar-benar hamil.
Seseorang memeluknya dari belakang dan meraba perut buncitnya, Nina membelai tangan pria itu dia pikir itu tangan Ronald namun saat matanya menatap ke pantulan kaca, bukan Ronald yang memeluknya tapi Rekso, pria itu tersenyum bahagia seolah itu adalah anaknya.
Nina tersentak dan terbangun dari tidurnya, dia merenungi mimpinya kenapa harus wajah Rekso yang muncul, padahal sudah sekian lama pria itu menghilang tak menemuinya. Nina mencoba melupakan mimpinya dia yakin ini hanyalah bunga tidur, atau mungkin ini rasa rindu setelah lama tidak bertemu dengan Rekso.
__ADS_1
********