
Mobil yang di tumpangi Nina bersama Pratiwi memasuki komplek perumahan orang tua Nina, tiba-tiba Nina berubah pikiran dan tak ingin pulang ke rumah orang tuanya.
"Mah antar Nina ke bandara sekarang Mah," ucap Nina tiba-tiba.
Ciiiiittt!!!
Pratiwi mengerem mendadak mobilnya sampai rodanya berdecit, dia menghentikan mobilnya dan memandangi wajah anaknya.
"Kamu mau kabur kemana, kondisi kayak gini?" Pratiwi mencemaskan keadaan Nina.
"Kalau Nina pulang ke rumah Mama, Ronald pasti akan menjemput Nina lagi, Nina belum siap bertemu dia Mah, mungkin saat ini kami butuh saling berjauhan agar bisa intropeksi diri," ucap Nina lirih.
"Kamu yakin gak akan apa-apa?" tanya Pratiwi pada anaknya.
"Nina pernah mengalami yang lebih sakit dari ini Mah, Mama tenang saja jangan cemas ya, Nina mau ke Semarang untuk beberapa waktu, sepertinya di sana Nina akan lebih tenang," ucap Nina memohon.
"Ok kalau kamu mau ke Semarang, Mama ijinin kamu pergi asal kamu benar-benar pergi ke sana," ucap Pratiwi, sambil memutar kembali mobilnya mengantar Nina ke bandara.
Dengan hanya membawa baju yang melekat di badannya Nina berangkat ke bandara, di dalam tasnya hanya berisi dompet dan charger juga beberapa alat make up buat ke kantor, dia langsung memesan tiket lewat aplikasi tra*el*k* di ponselnya.
Sesampainya di bandara Nina langsung ke toilet untuk merapikan wajahnya dan rambutnya, memakai bedak tipis dan memulas bibirnya dengan lipglos, serta memakai parfum. Dia berpamitan pada mamanya, sebelum check in dan masuk ke dalam bandara.
"Kamu makan dulu ya di dalam, belilah baju di atas buat ganti," pesan Pratiwi.
"Tenang aja Ma, ini juga gak buruk nanti aku belanja baju di semarang," ucap Nina sambil tersenyum pada mamanya.
"Kabari Mama ya Sayang," Pratiwi memeluk anaknya untuk beberapa saat, matanya kembali berkaca-kaca melepas kepergian Nina.
"Love you Mam," ucap Nina sambil melangkah pergi masuk ke dalam bandara.
Pratiwi mengusap matanya dan kembali ke mobilnya dia langsung menuju ke kantornya, sementara Ronald yang sudah tiba di rumah orang tua Nina tidak mendapati istrinya berada di sana.
"Di mana Nina Bik?" tanya Ronald pada asisten rumah tangga keluarga Nina.
"Lo ..., nggak ada ke sini kog Mas, ibu sama bapak ke kantor, la emangnya mbak Nina kenapa?" bibik ikutan cemas.
Muka Ronald terlihat kusut dia mendesah rasanya kepalanya seakan mau pecah.
"Nina pergi sama mama Bik, dari rumah ke sini makanya Ronald nyari ke sini," ucap Ronald.
"La Bibik dari tadi di depan lo Mas, gak ada yang datang, ibu memang pergi dari pagi, saya pikir ibu tadi ngantor," ucap bibi dengan polosnya.
"Ya sudah Bik, aku coba cari ke kantor mama kalau gitu," Ronald pamit dan meninggalkan rumah mertuanya.
Bibik memandangnya dengan tatapan heran melihat kelakuan Ronald, dia pun kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan halaman.
*********
Dengan pikiran yang kalut Ronald memacu mobilnya ke kantor Pratiwi, rasa sesal yang mendalam baru dia rasakan.
'Nina maafkan aku Sayang,' rintihnya di dalam hati, bayangan kehilangan Nina membuatnya sangat frustasi.
Setibanya di kantor mertuanya Ronald langsung menemui Pratiwi di ruangannya, melihat menantunya datang dengan wajah yang acak-acakan tadinya dia ingin marah tapi akhirnya dia pun merasa iba.
"Mah, Nina mana Mah?" tanya Ronald memohon pada mertuanya.
"Suami apa yang tidak tahu keberadaan istrinya," jawab Pratiwi ketus.
"Ronald mau bicara dengan Nina," Ronald kembali memohon.
__ADS_1
"Nina tidak ada di sini, tadinya dia mau kuajak ke rumah tapi Nina tidak mau, Nina sudah dewasa mama tidak punya kuasa melarang keinginannya," ucap Pratiwi sambil memeriksa berkas.
"Jadi Nina sekarang ada di mana Ma, Ronald mau menjemputnya tolong Ma," Ronald terus memohon pada mertuanya.
"Ronald Nina anakku satu-satunya keserahkan padamu untuk kau cintai dan kau jaga, hati mama sakit melihat anak mama sehancur itu, Nina sedang melalui masa-masa yang sulit sebagai suami harusnya kamu membantunya keluar dari masalah, bukan menambah beban bathinnya, kamu mau membuat Nina gila!!" suara Pratiwi mulai meninggi.
"Maafkan Ronald Ma," Ronald menunduk penuh sesal.
"Sakit hati Mama melihat anak mama seperti itu hiks ...," Pratiwi mulai menangis pilu.
Ronald semakin menyesali perbuatannya, dia merasa menjadi laki-laki paling bodoh di dunia.
"Biarkan Nina menenangkan dirinya, kamu intropeksi dirimu sendiri, Nina butuh menenangkan dirinya jangan kau buat anakku semakin stres," Pratiwi mengusap air matanya.
Ronald menelan ludahnya, dia tidak mendapatkan jawaban di mana keberadaan istrinya, Pratiwi tetap berdiam diri tak mau memberitahu di mana anaknya sekarang berada.
Ronald kembali ke kantornya, dia tak tahu lagi mencari Nina ke mana, dia hanya termenung dan duduk tanpa bisa bekerja.
Nina sudah bersiap akan berangkat, dia mengirim pesan pada mamanya, nomor Ronald sengaja Nina blokir agar pria itu tidak bisa menghubunginya.
Nina juga memberi kabar pada Dayat agar menjemputnya di bandara, Dayat yang sedang bekerja medapat pesan dari Nina juga dari bu dhenya langsung terkejut, dia tidak bisa membawa mobil sementara bapaknya sedang ada urusan.
"Rick ..., kamu bisa bawa mobil?" Dayat langsung menelpon Erick.
"Bisa, ada apa?" tanya Erick.
"Syukurlah, mbakku mau datang, ini ngabarinnya juga mendadak, minta jemput di bandara aku nggak bisa bawa mobil je, yang bisa mobil bapak la bapakku lagi pergi, kamu bantuin aku ya Rick," Dayat memohon.
"Ok aman itu, jam berapa sih?" tanya Erick.
"Jam dua," ucap Dayat, dia merasa lega akhirnya masalahnya selesai.
Dayat memohon ijin pada pimpinannya kalau dia mau menjemput saudaranya di bandara jam dua.
Pukul 13.00 WIB Erick sudah berada di rumah Dayat dan memanasi mobilnya, karena sering bersama dengan Dayat, keluarga Dayat sudah menganggap Erick seperti keluarga sendiri.
"Arep nang ndi cah bagus?" tanya mbah Darmi. (mau kemana nak?)
"Ini Mbah, si Dayat minta anter ke bandara katanya mau jemput mbaknya siapa gitu yang dari Jakarta Mbah," ucap Erick.
"Nina, Nina mau kesini? bocah kog sluntar sluntur meneng-meneng," ucap mbah Darmi. (anak ini kog datang diam-diam).
"Nah itu Mbah mungkin Nina, saya kurang paham sih," ucap Erick sambil menunggu Dayat pulang.
"Iya Nina, dia cucuku dari anakku yang paling besar, yo wes le Mbah mau nyiapin makanan dulu, kamu nanti ke sini lagi lo ya," ucap mbah Darmi sambil berlalu. (yo wes le \= ya sudah nak)
Dayat datang dan langsung mengajak Erick berangkat ke bandara untuk menjemput Nina, Erick langsung mempercepat laju mobilnya karna waktunya sudah sangat mepet.
Pesawat Nina sudah mendarat dan satu persatu penumpang pun turun, Nina sudah menunggu ke datangan Dayat yang menjemputnya.
"Bentar ya Mbak sabar, bentar lagi udah nyampe," Dayat menghubungi Nina.
"Santai aja Dayat, nggak usah ngebut," ucap Nina.
"Kamu sini aja, palingan cuma bawa koper satu," ucap Dayat sambil turun dari mobil.
"Ok Bos!!" balas Erick.
Dia berkaca di spion, entah kenapa dia pingin terlihat ganteng di depan saudara Dayat, kesan pertama menentukan langkah selanjutnya, dia nyegir sendiri sambil berkaca.
__ADS_1
Dayat langsung mencari Nina, sedangkan Erick tetap menunggu di dalam mobil. Melihat Dayat, Nina langsung melambaikan tangan dan berjalan mendekati Dayat.
"Lo mana kopernya?" tanya Dayat heran, Nina jalan melenggang hanya membawa tas kecil di tangannya.
"Aku nggak bawa apa-apa, nanti antarin aku beli baju ya," ucap Nina.
"Oh aman Bos, oh ya mobilnya ada di parkiran Mbak, yuk kita kesana," ajak Dayat, dia heran melihat penampilan Nina yang hanya memakai baju santai.
Dayat mengajak Nina ke tempat parkir, Nina melangkah di belakang Dayat, hatinya terasa begitu damai dan tentram di kota ini, setidaknya dia tidak perlu melihat wajah Ronald yang membuatnya merasa serba salah.
"Yuk Mbak masuk, Rick ini Mbakku yang ku ceritain," ucap Dayat sambil membuka pintu belakang.
Erick tersenyum pada Nina, senyuman yang membuat jantung Nina serasa di tusuk dengan seribu duri.
'Tidak, tidak mungkin oh Tuhan drama apa lagi ini!!!,' Bathin Nina langsung menjerit.
Nina tidak bisa bergerak dia tetap termangu di pintu memandang Erick yang tersenyum kepadanya, lidahnya tiba-tiba kelu dia tidak bisa berkata-kata. Seketika kepalanya berputar dan semua berubah menjadi gelap.
Brukk!!!
"Lo Mbak ... Mbak Nina kenapa, Rick bantuin ini mbak Nina pingsan!!" Dayat kesusahan mengangkat tubuh Nina yang tidak sadarkan diri.
Erick langsung keluar dari mobil dan membantu Dayat mengangkat tubuh Nina, beberapa orang Datang melihat dengan mata curiga, mungkin mereka berpikir Dayat dan Erick mau menculik Nina.
"Ada apa ini Mas?" tanya salah satu orang yang ikut melihat kejadian itu.
"Ini mbak Saya barusan saya jemput, la mau masuk mobil malah pingsan," Dayat sangat gugup.
"Ayo kita masukkan ke mobil terus bawa ke dokter Yat," ajak Erick, Dayat mengangguk dan membawa Nina masuk ke dalam mobil di bantu oleh Erick.
Satu persatu orang yang melihat kejadian itu pergi, Erick dengan cepat menghidupkan mobil dan membawa Nina keluar dari bandara.
Dayat duduk di belakang memangku kepala Nina, dia cemas dengan keadaan Nina yang tiba-tiba seperti ini.
"Jadi ke mana ini Yat?" tanya Erick dia juga bingung.
"Langsung ke rumah saja, nanti baru aku panggilkan bidan tetangga sebelah," ucap Dayat gugup.
"Bidan emangnya mau priksa hamil, ya ke dokterlah Yat," ucap Erick.
"Haduuuh ... pokoknya ke rumah dulu Rick," ucap Dayat.
Erick tancap gas membawa Nina pulang ke rumah neneknya, Erick juga merasa sangat cemas, hatinya berdebaran saat menatap wajah polos milik Nina.
'Benar juga kata Dayat kalau Nina itu cantik, duh apaan sih ini, Erick sadar deh!!' hati Erick berbicara sendiri.
Sesampainya di rumah neneknya, Nina masih belum sadar, Dayat dan Erick mengangkat Nina dan membaringkan di sofa panjang di ruang tamu.
"Ada apa ini kog sampai kayak gini?" mbah Darmi membelai cucunya.
"Ra ngerti Mbah la moro-moro semaput je," ucap Dayat. (nggak tahu Nek tiba-tiba saja langsung pingsan).
"Mmm Yat, aku balik dulu ya ada kelas soalnya," Erick berpamitan pada Dayat.
"Ok, trimakasih ya Rick, nanti malam ke sini lo ya, Mbah masak mentog enak lo," ucap Dayat sambil mengantar Erick ke depan.
Erick meninggalkan rumah neneknya Nina, hatinya berbunga-bunga, dia tidak pernah merasa bahagia seperti ini, entah ini rasa apa padahal tadi cuma melihat Nina sekilas dan wanita itu malah langsung jatuh pingsan.
'Apa aku semempesona itu hingga kamu langsung pingsan saat melihatku," Erick tertawa sendiri di dalam hatinya sambil berandai-andai menghayal tentang Nina.
__ADS_1
*********