Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Dia datang lagi


__ADS_3

Ronald menyiapkan sarapan untuk istrinya walaupun yang memasak tetap asistennya, dia ingin membuat istrinya senang, Nina sudah berubah tidak seperti dulu lagi, dia seperti kehilangan semangat dalam hidupnya, namun Ronald mencoba untuk mengembalikan semangat hidup istrinya.


"Sayang, udah mandi? kita sarapan bareng yuk," Ronald menghampiri istrinya yang masih berada di kamar.


"Hmm ..., belum berangkat kerja?" tanya Nina lirih.


"Kita sarapan dulu, baru setelah itu aku berangkat kerja," Ronald menggandeng tangan istrinya ke ruang makan.


Nina menemani suaminya makan sebelum berangkat bekerja, Ronald menatap wajah istrinya yang tak lagi ceria seperti dulu.


"Yang kata Nabila, kita perlu mendatangi orang yang bisa mengusir mahluk yang menganggumu," Ronald mengajak Nina membahas pengobatan dirinya.


"Hmm ..., apa kamu sudah menemukannya?" tanya Nina tanpa semangat.


"Aku masih cari informasi sih, kemarin aku dapat informasi dari kolegaku, tapi kog aku gak yakin ya modelnya kayak dukun gitu jadi aku ragu-ragu mau bawa kamu ke sana," terang Ronald.


"Jadi kita harus berobat pada siapa?" Nina juga merasa bingung.


"Seperti ustad atau apa gitulah kata Nabila," Ronald juga mulai pusing memikirkan ini, untungnya selama Nina di rumah dia tidak lagi histeris seperti sebelumnya.


"Ustad," Nina berfikir sejenak, dia mencoba mengingat-ingat sepertinya dia pernah mengenal seorang ustad.


"Hmm mungkin pak Tomo bisa membantu kita," ucap Nina lirih.


"Pak Tomo supirnya mamah?" tanya Ronald.


"Ya, waktu kita pindahan pak Tomo yang nyarikan kita ustad buat doa selamat di sini, mungkin dia paham begituan," terang Nina.


"Ok, aku akan telpon mama biar pak Tomo datang ke sini ya," ucap Ronald.


Ronald bersiap berangkat ke kantor, Nina mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu rumahnya, sebelum berangkat Ronald mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Istirahat ya Sayang, kalau ada apa-apa telpon aku," pesan Ronald pada istrinya sebelum pergi, Nina mengangguk dia memandang kepergian suaminya lalu kembali ke kamarnya.


Ronald sudah menghubungi mama mertuanya agar mengirim pak Tomo datang ke rumahnya untuk bertemu dengan Nina karna ada hal penting yang akan Nina tanyakan pada pak Tomo.


Setelah meminum obatnya Nina mulai mengantuk dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang, matanya mulai terasa berat, tiap kali meminum obat dari dokter dia selalu ingin tidur, obat itu juga membuatnya lemas tak bergairah.


Saat terlelap antara sadar dan tidak Nina merasakan ada yang membelai kepalanya, dia pikir Ronald sudah pulang dan membelainya seperti biasanya.


"Kamu udah pulang, jam berapa ini?" Nina menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.


Wajah itu tersenyum manis kepadanya, wajah Rekso yang tampan kembali datang menyapanya dengan mesra seperti biasa, Nina merasa tubuhnya sangat lemas dan tak bisa bergerak efek obat penenang masih terasa di tubuhnya.


Kali ini Rekso tidak membuatnya histeris seperti biasanya, karena dia hadir dengan tampangnya yang ganteng, Nina sudah tidak memakai kalung pemberian Nabila sehingga Rekso bisa mengelabui mata Nina.


"Kamu datang lagi?" suara Nina lemas.


"Kamu tidak takut padaku lagi kan Nina?" Rekso menatap wanitanya dengan penuh cinta.


"Kenapa kamu tidak pergi dariku, aku sudah tidak menginginkanmu berada di sisiku, pergilah Err ...," Nina mengusir Rekso dengan suara yang lemah.


"Aku cuma ingin bersamamu Nina, menemanimu sampai akhir hayatmu," Rekso menggenggam tangan Nina.


Nina memalingkan tubuhnya, dia tak mau melihat Rekso lagi. Rekso membaringkan tubuhnya di sisi Nina yang membelakanginya dan memeluk tubuh Nina dari belakang, membuat Nina tak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Apa aku harus mati agar kamu pergi meninggalkanku," ucap Nina lirih.


"Kalau kamu mati mungkin kita akan bersatu," jawaban Rekso membuat Nina bergidik ngeri, membayangkan mereka bersatu.

__ADS_1


Tok ... tok ...


Pintu kamar Nina ada yang mengetuk, seketika Rekso menghilang dari kamar Nina, tubuh Nina terasa ringan tanpa beban.


"Ya ...?" saut Nina.


"Mbak, ada pak Tomo nyari mbak Nina," suara Nunik dari luar kamarnya.


"Sebentar Mbak," Nina bangun dan menemui pak Tomo di ruang tamu.


"Pak Tomo," sapa Nina.


"Iya Mbak, maaf tadi bapak ngantar orang dulu sebelum ke sini, ada apa ya Mbak?" tanya pak Tomo pada Nina.


"Pak Tomo, bapak tau ustad yang bisa mengusir mahluk astral?" tanya Nina pada pak Tomo.


"Maksudnya apa ya Mbak, hantu gitu?" pak Tomo menebak-nebak ucapan Nina.


"Bisa di bilang begitu," jawab Nina.


"Yang pernah bapak bawa kesini itu juga bisa Mbak, apa perlu bapak panggil lagi?" pak Tomo teringat pada ustad Solihin.


"Ustad pemilik yayasan anak yatim?" tanya Nina.


"Iya Mbak," pak Tomo mengangguk.


"Bawa saja aku ke sana Pak," Nina teringat ucapan ustad Solihin terakhir kali sesaat sebelum pulang.


"Mbak Nina mau ke sana?" pak Tomo heran.


"Iya Pak," ucap Nina.


"Ya sudah ayo Bapak antarin sekarang," pak Tomo bersiap-siap.


Dia menghubungi Ronald untuk meminta ijin kalau dia akan menemui ustad bersama pak Tomo.


"Apa nggak bareng aku aja sih Yang perginya," Ronald agak ragu melepaskan Nina sendirian.


"Kan sama pak Tomo, nanti kalau aku sudah tahu alamatnya kita pergi bersama ya," Nina memang tak ingin pergi bersama dengan Ronald, dia takut Ronald tahu apa saja yang sudah mahluk itu lakukan dengan Nina.


Ronald hanya tahu Nina di ikuti mahluk astral, dia tidak tahu apa saja yang sudah Nina lakukan dengan mahluk itu karna Nina tidak pernah menceritakan pada siapapun soal itu.


"Ya sudah Sayang, kalau gitu hati-hati ya Sayang," ucap Ronald.


"Aku jalan dulu ya," pamit Nina.


"Ok. Love you Darl ...," Ronald mengakhiri panggilan telpon dari Nina.


Nina menemui pak Tomo yang sudah menunggunya di dalam mobil, mereka pun berangkat ke rumah ustad Solihin untuk meminta pertolongan.


Nina juga tidak bercerita pada pak Tomo tentang mahluk yang sudah mengganggunya dia sangat malu kalau sampai orang lain tahu tentang hubungannya dengan Rekso.


*******


"Arrrgggghh .... sakit ... sakit ... hentikaaannn!!!" suara teriakan terdengar dari dalam rumah ustad Solihin.


Di rumah ustad Solihin ternyata sedang melakukan pengobatan, terdegar suara jeritan seorang wanita dari dalam rumah, Nina merinding dan takut mendengarnya, pengobatan seperti apa yang ustad itu lakukan hingga wanita itu menjerit-jerit kesakitan, Nina tiba-tiba merasa ciut nyalinya dan ingin kembali pulang.


"Nina takut Pak, itu diapain wanita itu sampai teriak-teriak kayak gitu," bisik Nina pada pak Tomo.

__ADS_1


"Itu namanya di ruqiah Mbak, ya memang begitu itu Jinnya mau lepas dari tubuhnya jadi dia kayak kesakitan gitu," terang pak Tomo.


"Tapi Nina takut Pak," ucap Nina sembari memegang lengan pak Tomo.


"Tenang Mbak, ini nanti yang mau berobat siapa?" pak Tomo belum tahu kalau sebenarnya Nina yang mau berobat.


"Mmm Nina Pak," balas Nina lirih.


"Lah Mbak Nina kenapa emangnya?" pak Tomo penasaran.


"Entahlah aku cuma mau konsultasi dulu sama ustad Solihin Pak, tapi aku takut kalau harus seperti itu," Nina kembali mendengar suara jeritan dan erangan kesakitan dari dalam rumah ustad Solihin.


Beberapa saat menunggu akhirnya tamu ustad Solihin keluar, Nina memandangi wajah tamu itu satu persatu seperti tidak terjadi apa-apa.


"Eh ada pak Tomo rupanya, sudah dari tadi Pak?" ustad Solihin menyapa pak Tomo yang sedang menunggu di kursi teras bersama Nina.


"Lumayan Pak Ustad, ayo Mbak Nina silahkan, saya ke sini mau mengantar mbak Nina Ustad," pak Tomo menyuruh Nina masuk ke dalam bersama ustad Solihin.


"Oh ini bukannya yang kita pergi selamatan rumah itu ya?" tanya ustad Solihin.


"Iya Ustad," jawab Nina.


"Mari ke dalam, saya sudah menunggu kedatangan mbak Nina sejak lama," ucap ustad Solihin.


Nina mengikuti ustad Solihin masuk ke dalam rumahnya, sementara pak Tomo menunggu di luar, dia tidak berani mendengarkan pembicaraan majikannya.


"Apa ustad bisa melihatnya juga?" tanya Nina setelah berdua di ruang tamu.


"Saya tidak bisa melihat Mbak, tapi dari aura mbak Nina terlihat beda dari orang biasa," ucap ustad Solihin.


Nina mendesah dia bingung mau memulai ceritanya dari mana tentang mahluk yang bernama Rekso.


"Saya pikir dia hanyalah mahluk halusinasi saya Ustad, dia hadir dalam mimpi saya orangnya sangat ganteng dan kami bahkan sampai melakukan hubungan intim ...," Nina terdiam tak mampu lagi bercerita.


"Astagfirullah ...," ustad Solihin mengucap.


"Saya pikir itu hanyalah mimpi basah seperti biasanya, layaknya orang-orang dewasa alami. Tapi saya juga tidak sadar apa dia hadir di dunia nyata atau hanya dalam mimpi saja, dia benar-benar membuat saya terlena," Nina kembali menahan ceritanya, ustad Solihin masih menunggu kelanjutan cerita Nina.


"Hingga kemarin saya bertemu teman saya yang bisa melihat mahluk seperti itu, dia membuat mata saya melihat wujud aslinya yang sangat mengerikan ustad, saya takut saya depresi dan ini menyiksa hidup saya," Nina mulai terisak.


Ustad Solihin memberikan tisu untuk Nina mengusap air matanya, Nina menghentikan tangisannya, rasanya begitu lega bisa berbagi beban hidupnya dengan orang lain.


"Mbak Nina, kenapa jin dan mahluk sejenisnya bisa datang mengganggu kita, itu karna jiwa kita kosong, kenapa jiwa kita kosong karena maaf nih ya mungkin tidak pernah ibadah, kita jauh dari sang Khalik, kalau kita rajin ibadah rajin dzikir hati kita tidak pernah kosong setan dan sejenisnya susah mendekati kita," ustad Solihin menasehati Nina, Nina mendengarkan dengan seksama.


"Jadi saya harus bagaimana ustad?" Nina masih bingung.


"Shalat lima waktu jangan di tinggal, menjaga wudhu, ikut ruqiah dan juga melakukan ruqiah mandiri, sering ikut kajian dan jangan lupa dzikir pagi dan petang," sambung ustad Solihin.


"Saya shalat bisa tapi nggak tahu cara ruqiah mandiri," ucap Nina lirih, dia tertunduk malu.


"Nanti sambil belajar ya, mbak Nina udah siap mau di ruqiah?" tanya ustad Solihin.


"Apa nanti saya akan menjerit kayak wanita tadi Ustad?" Nina ragu-ragu.


"Tidak semuanya begitu Mbak, reaksi orang beda-beda, jangan takut," ucap ustad Solihin.


"Saya boleh pikir-pikir dulu Ustad?" tanya Nina.


"Boleh, nanti kalau mbak Nina siap datanglah ke sini atau saya bisa datang ke rumah mbak Nina, bagaimana?" ustad Solihin memberikan Nina pilihan.

__ADS_1


Nina masih ragu-ragu, dia ingin membicarakan tentang ini bersama Ronald suaminya, akhirnya Nina berpamitan pulang dulu, sebelum pulang ustad Solihin meminta Nina untuk menjaga shalat dan wudhunya agar mahluk itu tidak datang menemuinya lagi.


*********


__ADS_2