
Hari wisuda yang dinantikan oleh Nina akhirnya tiba, orang tua Nina sengaja datang ke Singapura untuk menghadiri acara penting anak semata wayangnya.
Ronald juga sudah habis masa kontrak kerjanya, dia tinggal menunggu Nina selesai wisuda baru mereka bisa kembali ke Jakarta.
Setelah acara wisuda selesai orang tua Nina memilih tidur di apartemen Nina dari pada tidur di hotel, mereka merasa lebih bebas untuk bercengkrama bersama Nina.
Ronald dan Hendra senang menikmati pemandangan Singapura sambil menikmati kopi buatan Nina dari balcony apartemen setiap malam. Mama Nina mengagumi anaknya yang sekarang sudah pintar memasak.
"Wah ternyata tinggal di Singapur dan punya suami sudah merubahmu Sayang, sepertinya kita akan bikin agenda makan malam khusus menikmati masakanmu sekarang," ucap sang mama sambil menyicipi masakan Nina, kali ini Nina memasak bebek panggang peking ala chinese food.
"Ah Mama bisa saja, habisnya nungguin Ronald pulang dari pada suntuk ya Nina masak aja, biar suami Nina gemukan dikit he he," Nina mulai menata potongan daging bebek di piring.
"Yuk makan dulu Pah, Sayang," Nina memanggil papa dan juga suaminya untuk menikmati makan malam.
"Masak apa nih, baunya wangi banget?" Ronald mendekati istrinya, Nina langsung menyuapkan potongan daging bebek ke dalam mulut suaminya.
"Gimana Sayang?" tanya Nina setelah menyuapi Ronald.
"Wow kamu memang istri pujaan, ini enak banget Sayang," Ronald mengunyah daging bebek di mulutnya.
"Ini bebek?" Hendra ragu-ragu karna dia memang tidak suka olahan daging bebek.
"Dicoba dulu ini enak loh Pah," mama Nina menyuap sepotong daging yang telah dikasih saus ke mulut suaminya.
Hendra ragu-ragu mengunyah daging bebek di mulutnya, dan ternyata rasanya lembut dan nikmat bahkan aroma apek dari daging bebek seperti yang dia bayangkan tidak terasa sama sekali.
"Hmmm ... mmm ... iya enak," Hendra kembali mengambil daging bebek di piring dan menyuap ke mulutnya.
Nina dan mamanya tertawa melihat tingkah papanya yang menggemaskan, mereka berempat menikmati makan malam sambil bercerita dan bersenda gurau.
Papa dan mama Nina berencana akan mengajak Nina bersama Ronald jalan-jalan di Singapura terlebih dahulu sebelum mereka pulang kembali ke Jakarta.
Selama seminggu di Singapura, mereka benar-benar menghabiskan waktu untuk liburan ke berbagai tempat wisata yang ada di Singapura.
*******
"Sayang kita jadi ke dokter buat cek kandungan kan, mumpung kita masih di sini?" sebelum tidur Ronald mengingatkan Nina tentang program hamilnya.
"Iya juga ya Yang, ya udah kalau gitu kita besok pergi ke rumah sakit ya," Nina bersandar di dada Ronal sampai dia tertidur.
Esok harinya setelah meminta referensi dari beberapa teman di Singapura akhirnya Ronald dan Nina memutuskan untuk mengunjungi salah satu rumah sakit milik pemerintah yang katanya pelayanannya lebih bagus dari rumah sakit swasta.
__ADS_1
Ronald dan Nina mendaftar untuk berobat di salah satu dokter kandungan yang sudah jadi langganan para artis dari Jakarta, setelah melalui beberapa proses administrasi akhirnya Nina dan Ronald tinggal menunggu antrian untuk di periksa oleh dokter Lie, dokter yang nanti akan menangani kandungan Nina.
Nina dan Ronald memasuki ruangan saat nama Nina di panggil, Nina berkonsultasi sebentar dengan dokter sebelum dia diperiksa, dokter meminta Nina untuk melakukan USG untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang hamil.
Dengan hati berdebar Nina berbaring di ruang USG, dengan sabar dokter Lie mulai mengecek kandungan Nina dengan alat USG, Nina melihat dengan seksama ke arah monitor, memperhatikan setiap ruang di rahimnya dari layar monitor, dia berharap mendapat kejutan seperti yang dia harapkan.
Dokter Lie mulai menjelaskan dengan perlahan agar Nina dan Ronald mengerti apa yang dia ucapkan, logat melayu campur bahasa inggrisnya kadang membuat orang Indonesia susah memahami apa yang dimaksud oleh dokter Lie.
"So you not pregnant, ini bukan hamil i hope this is not a polycysticovary syndrom or PCOS," ucap dokter Lie dengan pelan.
Nina dan Ronald saling pandang, mereka tidak mengerti karena baru mendengar istilah ini dalam hidup mereka.
"Apa itu berbahaya seperti kista atau cancer Dok?" tanya Ronald penasaran.
"PCOS itu adalah kondisi di mana terdapat kelainan pada hormon dan sistem metabolisme sehingga fungsi indung telur terganggu. Kondisi ini dapat menyebabkan menstruasi terlambat atau tidak menstruasi sama sekali, dan juga dapat memengaruhi kesuburan," terang dokter Lie.
Nina dan Ronald kembali saling pandang, mereka masih belum bisa mencerna apa yang dokter lie ucapkan.
"Apa bisa diobati Dok, apa nanti saya bisa hamil Dok?" Nina mulai cemas, Ronald menggenggam tangan Nina agar istrinya tenang.
Dokter Lie menyuruh Nina melakukan serangkaian test agar dapat dipastikan pengobatan dan penanganan yang tepat. Kaki Nina langsung lemas mendengar serangkaian tes yang harus dia lakukan, bayangan suram tiba-tiba membayang di pelupuk matanya.
Ronald melihat kecemasan di raut wajah istrinya, dia menggenggam tangan Nina agar Nina tegar dengan semua yang sudah dia dengar. Selesai konsultasi Ronald mengajak Nina berbicara di luar ruangan dokter.
"Kita pulang dulu, aku mau bicara sama mama dulu," ucap Nina pelan.
"Ok, kita pulang dulu nanti kita bicarakan soal ini dengan mama," Ronald menggamit lengan Nina dan mengajak istrinya pulang ke apartemen.
Sepanjang jalan Nina hanya terdiam, ternyata kebahagiaan belum berpihak padanya. Ronald memeluk istrinya sepanjang jalan agar Nina tenang.
Di apartemen mama dan papanya sudah menunggu kedatangan anaknya, mereka tak sabar ingin mendengar kabar bahagia dari Nina dan Ronald.
Nina memasuki apartemen degan wajah murung membuat mama dan papanya bertanya-tanya, namun Nina langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun pada orang tuanya.
"Ada apa Ron?" mama Nina akhirnya memilih bertanya pada menantunya.
"Tadi waktu kontrol ternyata Nina terlambat bukan karna hamil Tante, ya dokternya sih curiga itu gejala PCOS gitulah kalau gak salah dengar, tapi Nina harus melakukan serangkaian tes dulu biar pasti apa masalahnya," terang Ronald pada mertuanya.
"Dan hasilnya bagaimana, apa tadi sekalian Nina ikut tes?" mama Nina penasaran.
"Nina belum siap Tante, jadi ya belum melakukan tes," ucap Ronald.
__ADS_1
"Berarti baru dugaan kan belum positif?" tanya mama Nina.
"Iya Tan," balas Ronald lirih.
"Bilangin Nina jangan terlalu dibawa stres hidup ini harus happy, kalau kita stres penyakit malah datang, aku yakin Nina baik-baik saja, dia selama ini juga menjalani pola hidup sehat," mama Nina menasehati mantunya.
"Iya Tan, nanti pelan-pelan Ronald akan bujuk Nina," Ronald pamit untuk masuk ke dalam kamar menemui Nina.
Mama Nina menemui suaminya yang duduk di balcony sedang memeriksa pekerjaannya di Jakarta dari laptopnya.
Nina sedang berbaring di ranjang saat Ronald memasuki kamarnya, perlahan Ronald duduk di tepi ranjang dan membelai lembut kepala istrinya. Dia tak tega melihat Nina sedang bersedih seperti ini, hatinya terasa sangat nyeri.
"Sayang kita makan yuk," bisik Ronald.
"Nggak lapar," jawab Nina dengan suara serak.
"Aku lapar loh Yang, dari tadi belum makan," bujuk Ronald.
"Ya makan aja sana, kan tinggal makan juga," jawab Nina ketus.
"Mana bisa aku makan sendirian kalau istriku gak makan, ya sudahlah aku gak makan juga kalau gitu," Ronald membaringkan tubuhnya di samping Nina.
Keduanya terdiam Ronald merapatkan tubuhnya dan memeluk tubuh Nina. Nina merasa sangat nyaman saat Ronald memeluknya seperti itu.
Krucukk ...
Perut Ronald berbunyi tanda dia benar-benar sedang lapar, mendengar itu Nina langsung bangun dan menepuk lengan Ronald.
"Ayo makan," ajak Nina.
Ronald menatap wajah istrinya, Nina tersenyum kepada Ronald dia tak tega melihat suaminya kelaparan.
"Nggak ah, kalau kamu gak makan aku juga gak makan," Ronald pura-pura ngambek.
"Iya-iya aku temanin makan, jangan ngambek dong," Nina mengecup pipi suaminya, Ronald tersenyum dan bangkit dari tidurnya.
Mereka berdua keluar dari kamar untuk makan, Nina menghampiri mama dan papanya agar makan bersama-sama dengannya. Melihat anaknya sudah bisa tersenyum, mama dan papa Nina merasa lega.
Sambil makan mama Nina menasehati anaknya agar tidak terlalu memikirkan masalah ini, semua pasti akan baik-baik saja. Nina pun kembali bersemangat dan akan mencoba mengikuti serangkaian tes yang disarankan oleh dokter untuk memastikan masalah di kandungannya.
Dia akan kembali ke Jakarta setelah hasil tesnya keluar dan memikirkan langkah selanjutnya. Sedangkan orang tua Nina akan pulang lebih dulu karna mereka sudah menghabiskan waktu selama satu minggu di Singapura, sudah saatnya mereka kembali ke Jakarta kembali pada aktifitas dan kesibukan kantornya.
__ADS_1
**********