
Nina semakin mendekatkan dirinya pada Sang Khalik, dia mulai belajar membaca alqur'an dengan memanggil guru ngaji datang ke rumah untuk mengajarinya membaca alqur'an.
Nina juga sudah mulai menyibukkan dirinya membantu Ratih mengelola usaha restorannya, dia juga sudah mulai berhenti mengonsumsi obat penenang dari dokter.
"Aku mau mulai mengelola bisnisku lagi, lagian di rumah terus rasanya bosan," ucap Nina pada suaminya saat mereka di tempat tidur.
"Ok, yang penting kamu jangan capek, oh ya apa kita perlu berkunjung ke dokter kandungan lagi?" tanya Ronald, dia merasa sudah waktunya mereka ikut program kehamilan lagi.
"Hmm ... nanti aja dulu, kalau waktunya hamil pasti akan hamil juga, apa kamu sudah nggak sabar pingin segera punya anak?" Nina menatap suaminya.
"Apa kamu sudah benar-benar terbebas dari mahluk itu?" Ronald ingin tahu perkembangan pengobatan Nina.
"Hmm tidak separah dulu sih, dia masih sering datang dalam mimpiku," ucap Nina lirih, kalau sudah disinggung masalah Rekso Nina langsung merasa bad mood.
"Seperti apa dia itu?" Ronald yang selama ini tidak pernah bertanya tentang mahluk yang mengganggu Nina tiba-tiba menjadi penasaran.
"Dia ganteng, tapi saat aku memakai kalung dari Nabila bentuknya berubah sangat mengerikan, ah ... menceritakannya hanya membuatku bad mood," ucap Nina membalikkan tubuhnya.
"Aku hanya ingin tahu saja Sayang, kan aku tidak tahu bagaimana kalian bisa sampai terikat gitu," Ronald memeluk istrinya yang tidur membelakanginya.
Baru kali ini semenjak Nina sakit mereka kembali berbincang hangat sebelum tidur. Meski ranjang mereka sudah tak sehangat dulu lagi, Nina masih dingin saat bercinta dengan suaminya.
Ronald meraba istrinya dia mencoba membangkitkan gairah istrinya seperti dulu lagi.
"Aku belum shalat isya, nanti saja," bisik Nina sambil memegang tangan Ronald agar tidak menggerayanginya.
"Ya kan bisa gitu dulu baru shalat," ucap Ronald sambil berusaha mencumbu istrinya.
"Nanti harus mandi lagi, kramas lagi," ucap Nina.
"Kan ada air hangat, nanti ku mandiin," Ronald tak mau berhenti.
Ronald tetap melanjutkan keinginannya, Nina tak lagi bisa mengelak, dan semua terjadi hanya sebatas melayani, tak ada reaksi seperti biasanya, Ronald mengakhiri permainannya dengan rasa kecewa.
Nina masuk ke kamar mandi dan segera mandi junub, lalu mengambil wudhu dan mengerjakan shalat isya, kemudian dia berbaring di sisi Ronald yang terlihat tidak ramah padanya.
"Bersihkan dirimu," ucap Nina.
Ronald mendengus dan berlalu ke kamar mandi membersihkan dirinya, lalu kembali tidur dan memunggungi Nina, malam itu berlalu tanpa pelukan seperti biasanya.
******
Nina terbangun sejak subuh, setelah shalat dia ke dapur dan membuat lauk menyiapkan sarapan untuk suaminya, selesai menyiapkan lauk dia ke kamar dan membangunkan suaminya.
"Bangun Sayang, udah pagi," bisik Nina sambil membelai punggung suaminya.
Ronald bangun dan langsung pergi ke kamar mandi, tak ada lagi ciuman selamat pagi buat istrinya seperti biasanya.
Nina memandang suaminya dengan penuh tanda tanya, Nina menyiapkan baju untuk Ronald dan dia juga bersiap akan ke restoran. Selesai mandi Ronald memakai bajunya, dia mengambil sendiri baju dari lemari tak menghiraukan baju yang sudah Nina ambilkan.
"Sarapan yuk," ajak Nina pada Ronald.
"Aku buru-buru," Ronald berlalu pergi dan berangkat ke kantor dengan wajah yang tidak biasa.
Nina merasakan nyeri di ulu hatinya, padahal tadi dia mau menumpang mobil Ronald untuk berangkat ke restoran, tapi Ronald bahkan tidak berpamitan padanya.
Nina ke dapur mengajak Nunik dan Sri menemaninya sarapan, bulir bening jatuh di pipinya saat dia sedang makan.
"Kenapa Mbak?" tanya Nunik yang melihat Nina menangis.
Nina dengan cepat menghapus air matanya dengan tisu, dia hanya menggeleng. Sri dan Nunik saling pandang melihat majikannya bersedih, mereka ikut sedih walau tidak tahu apa masalah yang sedang di hadapi oleh majikannya.
Nina memesan taksi online dan berangkat ke restoran, dia menyembunyikan rasa sedihnya agar tidak ada yang tahu kalau dia sedang terluka.
Turun dari mobil Nina menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dia mencoba menghilangkan kesedihan di wajahnya, ia melangkah menuju restoran dan memasuki kantornya.
"Pagii menjelang siang...," sapa Nina pada karyawan yang sedang membersihkan restoran sebelum mereka mulai beroperasional.
"Pagi Bu!!" balas beberapa karyawan bersamaan.
Nina masuk ke ruangan kantor, Ratih dan Eka belum datang, dia pergi ke dapur untuk membuat kopi.
"Ibu mau kopi, biar saya buatin Bu?" tanya Dedi salah satu pegawai restoran.
"Mmm saya bikin sendiri saja, gampang kog ini," Nina membuat kopi dengan mesin espreso, setelah selesai dia membawa kopinya ke ruangan.
Nina mengecek hpnya dan ingin menghubungi suaminya, namun hanya menimang-nimang ponselnya tak jadi menghubungi Ronald.
"Weh si Bos udah datang duluan," sapa Eka yang memasuki ruangan.
"Hai ..., ya tadi di rumah juga cuma bengong, makanya sengaja cepet ke sini," jawab Nina sembari tersenyum.
__ADS_1
"Makan dulu ye, aku laper banget," Eka mengeluarkan nasi yang tadi dia beli sambil berangkat ke kantor.
"Aku udah makan, tinggal ngopinya yang belum," ucap Nina sambil membuka komputernya.
"Morning ...!!" Ratih juga datang.
Mereka bertiga ngobrol sambil bercanda, Nina akhirnya lupa dengan kesedihan yang dia bawa.
"Ratih by the way kapan kalian mau merid?" tanya Nina pada Ratih.
"Mmm sebentar lagi, habis pindahan rumah, kami rencananya mau bikin kayak kamu aja Nin, gak bikin pesta gede-gede," Ratih bersemangat menceritakan rencana pernikahannya.
"Wah alhamdulillah akhirnya, aku nyumbang cateringnya ya, nanti klaim aja dari gajiku," ucap Nina.
"Beneran, waaawww ... trimakasih Sayangku," Ratih berhambur memeluk Nina.
"Hmm gue kapan ya, pingin disumbang juga," ucap Eka cemburu.
"Lah udah ada pasangannya belum?" tanya Nina.
"Nah itulah sedihnya, gue baru putus, kasihan kan gue," Eka merengut.
"Putus lagi?" tanya Ratih.
"Hmm ya begitulah, ah udah ah gue nunggu ada cowok ngajak gue merid langsung aja kalau pacaran udah bosen, umur gue udah gak cocok buat pacaran," ucap Eka sambil mulai bekerja.
"Semoga kamu cepat menemukan jodohmu Ka, kalau udah jodoh pasti dateng juga kog," ucap Nina.
"Yup ... semangat Ka, Dian juga masih jomblo tuh, jadi lo masih ada kawannya," saut Ratih.
"Eh panggil Dian kesini makan siang bareng, kantor dia deket sini kog, kan sekarang dia kerja di tempat om Tomi," ucap Nina.
"Oh ya, ok udah lama kita gak kongkow bareng," Ratih langsung menghubungi Dian mengajaknya untuk makan siang bersama.
"Gimana?" tanya Nina penasaran.
"Ok dia ke sini nanti siang," ucap Ratih, sambil menutup telponnya.
*******
Dian bersiap akan menemui teman-temannya, dia keluar dari kantor dan akan memesan taksi melalui aplikasi di ponselnya, Fatih yang juga akan keluar melihat Dian sedang memainkan ponselnya di depan kantor.
"Jalan!" balas Dian ketus.
"Yuk ku antar," tawar Fatih.
"Ogah, gue naik taksi aja!!" Dian masih memainkan ponselnya.
Fatih merampas ponsel Dian dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, Dian berlarian mengejar Fatih meminta ponselnya yang dibawa oleh Fatih.
"Fatih kembalikan ponselku!!" Dian meneriaki Fatih.
"Masuk!!" Fatih yang sudah berada di dalam mobil balik membentak Dian.
"Dasar breng*ek kamu!!" Dian terpaksa masuk ke dalam mobil Fatih.
Fatih menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya.
"Kemana?" tanya Fatih datar.
"Ke tempat Nina?" jawab Dian sambil membuang muka.
"Ke rumahnya?" tanya Fatih lagi.
"Bukan, ke restorannya dia ada di sana sekarang," balas Dian masih dengan nada jutek.
Fatih mengantar Dian ke mall tempat restoran Nina berada, mereka tak saling bicara sepanjang jalan. Fatih memarkirkan mobilnya setelah tiba di mall yang mereka tuju.
"Mana ponsel gue!!" pinta Dian dengan suara ketus.
"Tunggu dulu, aku mau bicara?" Fatih mencoba melembutkan suaranya.
"Bicara apa, nggak ada yang perlu dibahas Fatih, cepetan sini kembalikan hp gue," ucap Dian sambil mencoba mengambil hp dari saku celana Fatih.
"Dian diem dulu," Fatih memegang kedua tangan Dian dan menatap mata Dian dengan tajam.
Hati Dian berdesir tidak karuan di tatap oleh Fatih seperti itu, dia menundukkan wajahnya menghindari tatapan mata Fatih.
"Please kita bicara dulu sebentar," ucap Fatih, Dian akhirnya menurut dan duduk dengan tenang.
"Apa aku kemarin mengasarimu, maksudnya malam itu, apa aku memperkosamu maaf kalau aku harus mengungkit ini," Fatih menatap Dian.
__ADS_1
Dian menarik nafasnya dan mulai bercerita tentang malam itu, malam saat Fatih menyentuh tubuhnya.
"Aku terbangun saat mobil taksi berhenti di depan rumah, kulihat kamu keluar dengan sempoyongan, lalu aku membukakan pintu agar kamu tidak membangunkan yang lain, aku membantumu ke kamarmu, dan terjadilah hal itu, bodohnya aku tidak menolakmu walau di bibirmu yang kau sebut hanya nama Nina selama melakukan itu denganku," Dian terdiam mengingat malam itu.
"Kenapa kamu tidak memukulku Dian?" sambung Fatih.
"Aku tidak tahu, Fatih itu pertama buatku dan aku ...," Dian kembali terdiam.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Fatih.
"Aku gak tahu Fat, sini hp ku cepetan," Dian kembali meminta ponselnya.
"Ini, apa kamu membenciku Dian?" Fatih menyerahkan ponsel milik Dian.
Dian menggeleng, dan mengambil ponsel dari tangan Fatih, dan bersiap keluar dari mobil.
"Dian, nanti kalau mau balik ke kantor telpon aku ya, aku masih di sekitar sini, kita pulang sama-sama," ucap Fatih lirih.
Dian tersenyum dan mengangguk, entah kenapa hatinya sangat berbunga-bunga, apakah dia menyukai Fatih, Dian berlalu dengan wajah bersemu merah.
******
"Ini dia yang ditunggu-tunggu," sapa Eka saat melihat Dian datang, mereka sudah lama menunggunya.
"Ciyeeee seneng banget neng, habis dapat undian apa ketemu brondong?" tanya Ratih melihat wajah Dian yang berseri-seri.
"Ah kalian ini ada aja, aku udah laper nih mana makanannya?" ucap Dian, dia menyembunyikan segala rasa di hatinya.
"Sabar, bentar lagi di anter kog," ucap Eka.
"Kamu naik apa Dian?" tanya Nina.
"Mmm itu, tadi aku bareng sama Fatih," ucap Dian malu-malu.
"Kog gak di ajak ke sini sekalian?" kata Nina.
"Mmm dia tadi lagi ada perlu di tempat lain," ucap Dian menyembunyikan perasaannya.
Makanan yang mereka tunggu pun Datang, mereka makan sambil bercanda setelah sekian lama mereka tidak duduk bersama.
"Gimana rasanya jadi adik tirinya Fatih?" tanya Eka.
"Uhuuk ..., mmm ya biasa saja," Dian tersedak dan dengan cepat mengambil minuman.
"Resek nggak sih orangnya?" tanya Ratih penasaran.
"Tanya Nina dong, yang pernah hidup sama dia lebih lama," balas Dian sewot.
"Uhuukk, diihh please deh kalian, jangan ngungkit masa lalu," ucap Nina wajahnya memerah karna tersedak.
"sorry ... Nin, lupa kalau dia mantan yang menyakitkan," ucap Ratih.
"Aku sih gak dendam sama dia bagaimana pun dia pernah mengisi hari-hari gue, saat ini sih kami seperti adik kakak saja gak ada rasa apa-apa," terang Nina.
"Dia masih mengingatmu Nin," ucap Dian lirih.
"Coba kau buat Fatih melupakan Nina gitu Dian," seloroh Eka.
"Gimana caranya?" tanya Dian penasaran.
"Ya nggak tahu, coba aja lu deketin dia," saut Ratih.
Nina tersenyum mendengar perbincangan ketiga sahabatnya, mereka memang selalu menyenangkan dari dulu.
"Eh udah waktunya balik kantor nih, aku balik dulu ya, oh ya berapa ini?" tanya Dian sebelum pergi.
"Udeh pergi sono, kali ini gue yang traktir," ucap Nina sambil tersenyum.
"Asekk bye semua," Dian menyalami ketiga sahabatnya dan menghubungi Fatih, rupanya Fatih sudah menunggunya di dalam mobil.
"Maaf lama, suka lupa kalau ngumpul sama mereka," ucap Dian setelah masuk ke dalam mobil Fatih.
Fatih membawa Dian kembali ke kantornya, mereka berdua masih tetap canggung walaupun Dian sudah tidak lagi terlihat kesal pada Fatih.
"Thanks ya Fat udah nganterin aku," ucap Dian.
"Nanti pulang bareng ya," balas Fatih.
Dian masuk lebih dulu ke dalam kantornya, di ikuti Fatih yang berjalan di belakangnya. Sorenya mereka juga pulang bersama meskipun mereka masih saling diam selama di perjalanan.
*********
__ADS_1