Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Mendekati Nina


__ADS_3

Nina bersiap-siap berangkat lagi ke Singapura, dia menelpon Ratih untuk mengabari kalau dia akan berangkat hari ini dan meminta Adit untuk mengantarkannya ke bandara.


"Ratih, aku berangkat ya bolehkan aku minta tolong Adit untuk nganterin aku, nanti biar dia bawa mobilku pulang," pamit Nina pada sahabatnya Ratih.


"Hari ini? boleh-boleh nanti aku bilang sama Adit ya," balas Ratih.


"Biar aku samperin dia ke tempat kerja aja Rat, sekalian aku berangkat," ucap Nina.


"Ok, hati-hati ya Nin. Cepet lulus ya, biar kita bisa ngumpul lagi kayak dulu," ucap Ratih.


"Tenang, Singapura Jakarta mah deket aja pulangnya," ucap Nina.


"Ok Nin, kami disini sangat menyayangimu," Ratih meneteskan air matanya, Nina lebih dari seorang sahabat buatnya, Nina baginya sudah seperti saudara yang tidak dia miliki.


Nina berpamitan pada papa dan mamanya sebelum berangkat ke bandara, mereka saling berpelukan bergantian, mama Nina merasa sedih melepas kepergian anaknya.


"Mama jangan sedih gitu, Singapura Jakarta kan deket, Mama bisa main ke Singapur kalau rindu, Nina hanya menunggu lulus saja kog Mah, doain lancar ya Mah," ucap Nina sambil mengusap air mata dipipi mamanya.


"Iya Sayang, Mama selalu doain kamu kog. Kamu mau bawa mobil sendiri ke bandara?" mama Nina melihat Nina membawa kunci mobilnya.


"Mmm Mah mobilku ku suruh Adit pakai saja ya Mah, kan di rumah juga nganggur nggak ada yang pakai. Kasihan Adit dia naik motor kalau pergi kerja," ucap Nina.


"Oh gitu, ya sudah terserah kamu saja, itukan mobilmu jadi mana yang menurut kamu baik saja," ucap mama Nina.


"Ya sudah Mah, Nina jalan dulu ya Mah, Pah, daah..."


Nina memasukkan koper ke dalam mobilnya, dia berangkat menuju restoran tempat Adit bekerja. Sesampainya di depan mall, Nina menelpon Adit dan menunggunya di dalam mobil, Aditpun langsung turun menemui Nina.


"Kamu yang bawa ya Dit," ucap Nina, dia berpindah tempat duduk, dan Adit duduk dibagian kemudi.


"Ok boss," Adit melajukan mobil Nina menuju bandara.


"Santai aja Dit, masih lama kog, aku sengaja berangkat awal. Oh ya Dit nanti mobil ini kamu pakai aja ya, jangan diantar kerumah. Selama aku di Singapur kamu bisa pakai mobil ini untuk operasional, jarak rumahmu sama restoran lumayan jauh, nanti kamu masuk angin kalau naik motor pulang pergi," ucap Nina, sambil memainkan hand phonenya.


Dia teringat dengan Ronald dan langsung mengirim kabar pada Ronald kalau dia sedang dijalan ke bandara mau berangkat ke Singapura.


"Serius Nin, mobil boleh kupakai?" tanya Adit tak percaya.


"Serius lah, kamu pakai saja aku udah bilang sama mama papahku kog," ucap Nina.


"Trimakasih ya Nin atas kepercayaanmu padaku," balas Adit, dia tersenyum sumringah sepanjang jalan.


Hand phone Nina berdering, ada panggilan masuk dari Ronald. Nina menekan tombol terima di layar hand phonenya.


"Kog mendadak sih ngabarinnya?" tanya Ronald.


"Sorry aku baru inget dan udah di jalan," balas Nina.

__ADS_1


"Penerbangan jam berapa?" tanya Ronald.


"Jam 14.00 masih lama, sengaja aku berangkat cepat biar nyantai di bandara," balas Nina.


"Tunggu aku ya, aku kesana sekarang nanti kita jumpa di bandara," ucap Ronald.


Ronald yang sedang di kantor langsung mengambil kunci mobilnya, saat itu dia sedang bersama laki-laki yang juga seusianya.


"Ron, kamu mau kemana?" tanya pria itu, melihat Ronald mau meninggalkannya begitu saja.


"Aku ada urusan penting," jawab Ronald, dia terus melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.


"Kamu tinggalin aku Ron, apa lebih penting dia dari aku. Siapa sih wanita ini?" tanya pria itu dengan wajah kesal.


Ronald tak menjawab dan terus berlalu meninggalkan pria yang masih berada di ruangannya, pria itu mendengus kesal karena merasa telah diabaikan oleh Ronald, diapun akhirnya pergi meninggalkan ruangan Ronald.


********


"Hai Nin," sapa Ronald, Nina yang sedang menikmati kopinya menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Kamu gak sibuk?" tanya Nina.


"Nggak aku lagi free kog. Mmm Nin kalau nanti aku ke Singapur kita ketemuan ya?" tanya Ronald.


"Boleh, kamu kabarin aja kalau lagi disana," jawab Nina.


Ronald tersenyum senang, dia teringat ucapan papanya bahwa dia harus mendekati Nina. Ronald tipe pria yang tidak bisa merayu cewek, karena dia memang belum pernah berhubungan dengan wanita selama ini.


"Mmm Nin, apa kamu tidak mau menikah lagi?" Ronald bingung mau memulai dari mana, pertanyaan Ronald membuat Nina mengernyitkan alisnya.


"Maksudmu?" tanya Nina.


"Mmm ya memulai hidup baru, membuka lembaran baru. Apa kamu masih mengingat mantanmu?" tanya Ronald hati-hati.


"Hmm aku sudah berdamai meskipun belum berbicara langsung dengan dia, tapi masa itu sudah kulupakan. Kalau untuk memulai lagi, I don't know how I can falling in love again," jawab Nina sambil menerawang jauh.


Ronald terdiam, mungkin dia harus membuat Nina jatuh cinta kepadanya, tapi bagaimana dia saja tidak tahu bagaimana cara mendekati wanita, apa lagi membuat Nina jatuh cinta kepadanya.


"Kenapa kita tidak menikah saja, biarkan cinta itu datang belakangan?" Ronald spontan berkata begitu, dia sendiri heran kenapa mulutnya bisa bicara begitu pada Nina.


Nina tertawa memandang Ronald, dia tak menyangka Ronald akan mengajaknya menikah, padahal mereka baru kenal selama dua minggu.


"Bagaimana bisa, kita saja baru kenal dua minggu," jawab Nina.


"Papaku menyukaimu dan ingin aku menikahimu," ucap Ronald pelan, dia takut Nina tersinggung dengan ucapannya.


"Apa kamu tidak punya pacar, kenapa harus aku?" tanya Nina.

__ADS_1


"Yah begitulah, aku belum pernah dekat dengan wanita manapun, ketika papa tahu aku kenal kamu papaku jadi bersemangat tentang hubungan kita, ku pikir tidak ada salahnya aku dekat denganmu," ucap Ronald.


"Masa pria sekeren kamu belum pernah pacaran?" Nina jadi penasaran.


Ronald mengangguk, membuat Nina semakin merasa heran dengan pria di depannya. Ganteng punya karier bagus tapi belum pernah punya pacar, apa dia ini termasuk pria langka di dunia, Nina membathin dan tersenyum geli sendiri.


"Pria seperti kamu pasti banyak wanita yang mengejar," pancing Nina.


"Kenyataannya aku gak punya cewek sampai sekarang," balas Ronald.


"Mungkin ada yang salah sama kamu," ucap Nina.


"Bantulah aku Nin," Ronald memohon pada Nina, dia memegang tangan Nina.


"Membantu bagaimana?" tanya Nina.


"Ya biar aku punya pacar," jawab Ronald.


"Gue aja gagal berumah tangga, kog kamu mau minta tolong gue, yang ada hidupmu makin kacau," Nina melihat jam di tangannya, dan sudah waktunya untuk check in.


"Ron, gue jalan dulu ya. Udah gak usah dipikirin nanti juga lo bakalan ketemu sama jodoh lo Ron," ucap Nina, dia berdiri dan menarik kopernya.


Ronald melepas Nina dengan rasa kecewa, dia mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mendekati wanita. Mungkin dia terlalu membosankan hingga Nina sedikitpun tak tertarik dengannya.


Ronald kembali kekantornya, sedangkan Nina sudah bersiap menunggu pesawatnya untuk berangkat ke Singapura, dia tersenyum sendiri mengingat perkataan Ronald tadi, masa iya pria seusia dia belum pernah pacaran sekalipun, Nina masih belum percaya dengan apa yang Ronald ucapkan.


***********


Wijaya Kesuma mendatangi Kantor anaknya, sore itu dia ingin berbincang tentang perkembangan hubungan anaknya dengan Nina, orang tua ini ingin anaknya cepat-cepat menikah.


"Bagaimana Ron, kamu udah jadian sama Nina?" tanya Wijaya saat masuk ke ruangan kantor Ronald.


"Ah Papa bikin Ronald kaget saja," Ronald tidak menyangka papanya datang ke kantornya sore begini.


"Kamu nunggu apa lagi, gerak cepat gitu lo jangan nunggu lama-lama!" Wijaya Kesuma tak sabar menunggu kabar Ronald jadian sama Nina.


"Nina udah ke Singapur Pa, dia masih kuliah menikah kan butuh proses, nggak secepat itu," jawab Ronald sambil menghela nafasnya, dia butuh kesabaran ekstra kalau berhadapan dengan orang tua ini.


"Ya kalau kelamaan nanti disamber orang, kamu gigit jari gak dapat dia," jawab papanya tak mau kalah.


"Papa ini kenapa sih, kog maksa-maksa Ronald cepat menikah, emang Papa mau mati cepat," ucap Ronald kesal.


"Hei jaga mulutmu, kamu mau Papa cepat mati," Wijaya Kesuma mulai emosi menghadapi Ronald.


"Ya Papa sih aneh, Ronald udah deketin Nina tapi dia nggak ada reaksi apapun, jadi harus gimana dong. Mending Papa suruh Ronald nyari tender dari pada nyari cewek," dengus Ronald kesal.


"Masa kayak gini aja aku yang maju sih, sudah biar Papa yang ngatur hubungan kalian,"

__ADS_1


Wijaya Kesuma keluar dari kantor anaknya dengan wajah kesal, Ronald memandang kepergian papanya dengan hati yang masih dongkol. Di kira mudah apa deketin wanita bathin Ronald mengumpat, diapun mengemas barangnya dan bersiap pulang ke apartemennya.


**********


__ADS_2