Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Selamat tinggal kota penuh luka


__ADS_3

Nina sudah tak tahan berada di kota ini, dia ingin pergi jauh agar tidak bertemu dengan Fatih lagi. Sepertinya sangat sulit memperbaiki hubungan yang sudah terkoyak, dia memilih untuk pergi jauh dan menenangkan diri.


"Ratih, aku akan melanjutkan S2 ku tolong urus restoranku ya, kamu bisa minta bantuan Adit atau Eka, laporan bisa aku cek lewat email, aku percaya kamu pasti bisa memegang semua ini," Nina mengajak Ratih berbicara sebelum dia pergi.


"Kamu mau pergi Nin, apa kalian?" Ratih ragu-ragu menanyakan soal rumah tangga Nina.


"Aku akan menghubungimu nanti, yang jelas aku tidak di kota ini lagi," Nina tak mau membicarakan tentang rumah tangganya bahkan dimana dia akan kuliah.


Nina sudah mempersiapkan segala sesuatunya bahkan dengan orang tuanya dia juga tidak bilang akan kuliah dimana, Nina akan mengabari kalau sudah tiba di tempat barunya.


Nina berangkat naik pesawat tujuan Singapur, dia akan melanjutkan S2 nya di negara itu. Nina menarik nafas sebelum memasuki pesawatnya dia sudah berniat menutup buku kelamnya di Jakarta. Kenangan bersama Erick dan juga Fatih keduanya berakhir dengan meninggalkan luka di relung hatinya.


Nina menghirup udara Singapur, diapun menuju flat yang sudah dia pesan dari Jakarta. Besok dia akan mulai mengurus kuliahnya di negara ini.


"Mah, apa kabar?" Nina menelpon mamanya setelah berada di Singapur.


"Nin..., kamu apa kabar Sayang? kenapa tidak pulang ke rumah, Mama rindu," mama Nina yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya merasa sangat Rindu.


"Mah, maaf Nina gak bisa pulang Nina udah gak di Jakarta lagi. Nina mau ngambil S2 Mah. Tolong sampaikan sama Fatih jangan menungguku lagi semua sudah berakhir," Nina berusaha setenang mungkin, agar mamanya tidak panik.


"Apa..., jadi kamu sudah tidak disini lagi, bagaimana restoranmu?" mama Nina mulai merasa cemas mendengar anaknya tidak di kota ini lagi.


"Mah, tolong ngertiin Nina, Nina gak bisa disana lagi terlalu sakit buat Nina. Restoran di handle Ratih Mah, mama gak usah cemaskan Nina ya,"


"Ya Tuhan," mama Nina merasa lemas, dia sangat sedih mendengar ucapan Nina.


"Mah jangan sedih, nanti Nina tambah sedih disini," Nina memohon agar mamanya tegar dengan semua ini.


"Baiklah Sayang, apapun keputusanmu mama hanya bisa mendoakan. Selalu kabarin mama ya Nak," mama Nina mencoba melembutkan hatinya dia juga tak mau Nina semakin sedih disana.


Nina mengakhiri panggilan telponnya, dan beristirahat di kamarnya, besok dia harus mulai beradaptasi di negara ini yang tentunya sangat berbeda dengan negaranya, disini semua terlihat disiplin dan sagat rapi, baik dalam hal kebersihan lingkungan dan juga kendaraan umumnya. Tidak ada sampah yang berserakan, dan kendaraan umum yang bebas menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat.


*********


Hendra papanya Nina menyampaikan kepergian Nina pada Tomi mertua Nina agar dia memberitahu hal ini kepada Fatih. Tomi yang sangat menyayangi Nina juga sangat sedih melihat pernikahan anaknya harus berakhir seperti ini.


"Hend, aku sangat malu pada keluargamu. Gara-gara Fatih semua jadi seperti ini," Tomi menyempatkan diri datang ke rumah keluarga Nina.


"Tom gak usah begitu, kita tetap menjadi saudara ya urusan anak-anak anggap saja mereka tidak berjodoh. Ku harap Fatih bisa menghadapi ini dengan kepala dingin," Hendra mencoba menenangkan Tomi sahabatnya yang juga menjadi besannya.


"Iya Tom, kita mau bagaimana lagi sebagai orang tua kita hanya bisa menasehati saja, mereka yang jalanin hidup mereka. Yah kita doain saja semoga mereka baik-baik saja," mama Nina ikut menenangkan Tomi.


Tomi memberitahukan tentang Nina pada Fatih, Fatih shock dan tidak percaya kalau Nina sudah pergi meninggalkannya. Harapannya untuk merajut kembali cinta mereka sudah hancur berkeping-keping.


"Jadi Nina benar-benar tidak mau lagi membuka hatinya untukku Pah?" tanya Fatih, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

__ADS_1


"Fatih, Papa harap kamu bisa menerima semua ini. Ini konseuensi atas perbuatan kelammu, papa harap kamu bisa memperbaikinya dan tidak menghancurkan hidupmu lagi. Kamu anak papa satu-satunya, papa bisa mati kalau kamu berbuat gila lagi seperti dulu. Tolong disisa umur papa buatlah papamu ini bangga kepadamu Nak,"


Tomi menangis di depan Fatih, melihat papanya rapuh Fatih merasa sangat bersalah atas segala perbuatannya selama ini.


"Pah, Fatih janji akan memperbaiki semua. Kalau Nina sudah tidak mau bertemu Fatih lagi Fatih akan pergi Pa, ijinkan Fatih ke Australi Fatih butuh menenangkan diri dan memulai semuanya dari awal lagi."


"Bagaimana tentang Fatan anakmu?" Tomi teringat soal anak Fatih yang menjadi sumber keretakan pernikahan anaknya.


"Fatih akan test ulang lagi Pah, jika hasilnya sama ya mau gimana lagi Fatih harus bertanggung jawab pada anak itu,"


Tomi memeluk anaknya mencoba memberi kekuatan agar Fatih tidak terpuruk sepeninggal Nina dari sisinya, Fatih mencoba mengiklaskan Nina dia yakin Nina juga sangat menderita karnanya.


**********


Fatih masih penasaran dan berusaha menemukan Marcel, dia masih merasa dendam dengan kejadian kemarin. Dia yakin kepergian Nina pasti ada hubungannya dengan kejadian malam itu


Dua minggu pencarian Fatih akhirnya mereka bertemu secara tidak sengaja, Fatih melihat Marcel akan memasuki mobilnya di parkiran sebuah pertokoan dengan cepat dia mendekati Marcel dan tanpa basa-basi langsung menyerangnya.


Bukk bukk!!!


Tanpa bicara Fatih meninju Marcel yang tidak menyadari kedatangannya, Marcel meringis kesakitan dan saat akan melawan kembali Fatih melayangkan tinjunya mengenai mulut Marcel hingga membuat bibir Marcel pecah dan berdarah.


Fatih mencengkeram kerah baju Marcel dan mendaratkan dengkulnya di perut Marcel berkali-kali membuat Marcel limbung dan jatuh terduduk di samping mobilnya.


"Sorry Fat, eh... aku hanya menuruti perintah Maya untuk membawamu ke apartemennya," Marcel meringis menahan sakit di tubuhnya.


"Marcel apa kamu tahu Fatan itu anak siapa sebenarnya?" Fatih mulai melunak, tangannya juga terasa sakit sehabis memukuli Marcel.


"Mmm soal itu aku juga tidak tahu pasti, kamu tahu sendiri dulu Maya bagaimana. Aku bekerja sama dia Fat dan waktu dia hamil aku yang jadi suami palsunya," Marcel menceritakan bagaimana hubungan dia dengan Maya selama ini.


"Pernikahanku hancur sejak dia muncul," Fatih mendesah penuh sesal, matanya menerawang jauh mengingat wajah Nina wanita yang dia sayang.


"Jadi kamu sudah menikah Fat?" Marcel juga menyesal atas apa yang Fatih alami.


"Istriku pergi sekarang, dia benar-benar tidak memaafkanku sepertinya Maya malam itu mengirim sesuatu pada istriku," Fatih menceritakan bagaimana dia dan Nina berpisah gara-gara Maya.


"Sorry Fat, Maya memang sudah sangat keterlaluan aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah dan dia sudah berbuat sejauh ini kepadamu. Aku menyukai dia tapi kamu tahu aku hanya bawahannya saja dia menganggapku tak lebih seperti budak yang harus siap melayani semua keinginannya,"


"Aku hanya ingin tahu pasti Fatan itu anak siapa, apa benar dia anakku atau anak orang lain. Aku ragu kalau dia itu anakku," Fatih mendesah hatinya tiba-tiba pilu.


"Aku akan cari informasi soal ini Fatih, sebagai tanda maafku kepadamu. Nanti aku akan hubungi kamu kalau sudah tau jawabannya. Ini nomorku aku harus kembali ke kantor," Marcel menyerahkan kartu nama sebelum dia pergi meninggalkan Fatih.


Fatih termangu memandang kepergian Marcel, diapun kembali ke kantornya setelah menguasai perasaannya yang tadi sempat bergejolak.


*********

__ADS_1


Braakkk!!!


Marcel masuk ke ruangan Maya dan membanting pintunya, Maya membelalakkan matanya melihat Marcel masuk dengan wajah babak belur.


"Kamu habis ngapain?" tanya Maya pada Marcel.


"Ini akibat ulah kamu, aku harus menjadi samsak di hajar orang!!" Marcel bersungut-sungut di depan Maya.


"Apa hubungannya sama aku," Maya yang tidak mengerti maksud Marcel berusaha membela diri.


"Maya aku lelah, aku lelah kau jadikan umpan setiap saat. Mentang-mentang kamu menggajiku kamu jadikan aku tumbal ke egoisanmu, bahkan Fatan juga kau korbankan," Marcel menggebrak meja Maya.


"Kamu sudah gila ya!!" Maya mulai emosi.


"Heh May, Fatan itu anakku kan?"


"Apa maksudmu, ngapain kamu bawa-bawa Fatan sekarang," Maya kesal melihat Marcel sudah berani melawannya.


"Aku tau Fatan itu anakku, makanya aku bertahan kau jadikan aku jongos seperti ini,"


"Marcel jaga bicaramu,"


Maya berdiri dan melayangkan tangannya ke wajah Marcel, dengan cepat Marcel menahan dan mendorongnya hingga terduduk di kursi.


Selama bersamanya Marcel tidak pernah sekasar ini, hati Maya menciut saat Marcel mendekatinya dan mencengkeram pundaknya.


"Heh Maya, jangan kau kira uangmu bisa membeli apapun yang kau inginkan. Dulu aku sangat menganggumimu tapi sekarang kau sangat menjijikkan buatku." Marcel mendekatkan wajahnya ke wajah Maya, Maya merinding ketakutan.


"Jawab Fatan itu anak siapa?!" Marcel kembali membentak Maya.


"JAWAB!!!"


"Lepaskan aku," Maya mulai menangis ketakutan.


Marcel menatap tajam pada Maya menunggu jawaban, Maya menangis terisak dia sendiri bingung siapa Ayah Fatan yang sebenarnya.


"Yang jelas Fatan bukan anak Fatih, karna test DNA mereka negatif. Aku tidak tahu Fatan anak siapa, aku berharap Fatan anak Fatih tapi hah...," Maya menutup wajahnya dia merasa kecewa dan tiba-tiba hatinya rapuh.


Marcel menjadi lemah hatinya melihat Maya menangis seperti itu, selama bersamanya baru kali ini dia melihat Maya menangis seperti ini.


"Aku pergi May, kamu sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku lelah bersabar menghadapimu, aku akan bekerja pada manusia yang lebih menghargaiku," Marcel memutar badannya dan keluar dari ruangan Maya.


Maya tercekat memandang kepergian Marcel, dia ingin mencegah kepergiannya tapi hatinya terlalu gengsi. Diapun menangis sendiri di ruangannya menangisi dirinya sendiri.


**********

__ADS_1


__ADS_2