
"Mister ini Intan bawain jagung rebus, kebetulan bapak baru panen jagung muda buat dijual," sore itu Intan datang ke tempat les membawa jagung rebus untuk Erick.
"Waduh kog jadi repot-repot gini, ini kan mau di jual kog malah dibawain buat Mister sih," Erick merasa tidak enak hati dengan Intan.
Sikap Intan yang sedikit berlebihan juga membuat Erick merasa tidak nyaman, anak ini kelihatan banget kalau sedang naksir sama Erick. Sedangkan Erick juga tidak mungkin menyukai anak kecil seusia Intan.
"Mister, nanti malam minggu main ke rumahkan?" tanya Intan.
"Mister belum tahu Tan, emang kenapa?"
"Ya Intan pingin tau aja, biasanya Mister suka main catur sama mas Dayat,"
"Hmm ya sudah ayo kita mulai belajarnya,"
Erick mengalihkan pembicaraan dan memulai kelasnya. Intan sangat bersemangat menyimak apa yang Erick jelaskan, matanya tak lepas dari wajah Erick.
Satu jam berlalu belajar sudah selesai, Erick mengakhiri kelasnya, para murid les berpamitan pulang satu persatu, tinggal Intan yang belum pulang.
"Intan belum di jemput," tanya Erick melihat Intan belum keluar dari kelasnya.
"Intan nunggu disini saja, nanti kalau mas Dayat datang pasti nelpon Intan. Mmm Mister Intan boleh nanya?" Intan ragu-ragu bertanya pada Erick.
"Nanya apa, ada yang Intan belum ngerti tentang pelajaran tadi?" Erick memandang wajah Intan yang terlihat malu-malu kepadanya.
"Apa Mister udah punya pacar?" pertanyaan Intan membuat Erick tersenyum.
"Pacar, kan gak boleh pacaran," Erick menjawab dengan santai.
"Kata siapa nggak boleh Mister?" Intan terlihat sangat penasaran.
"Ya kata Mister, emangnya pacaran itu untuk apa sih, Mister pingin tahu?" sekarang Erick ganti bertanya pada Intan.
"Ya untuk menikah Mister," jawab Intan sekenanya.
"Kalau mau menikah apa harus pacaran dulu ya?" Erick semakin penasaran dengan pemikiran bocah di depannya ini.
__ADS_1
"Ya iyalah Mister, kan harus cocok dulu Mister," jawab Intan dengan mimik percaya diri.
"Nah kalau gak cocok nanti ganti pacar lagi, kayak beli baju aja di cobain satu-satu," jawaban Erick membuat Intan terdiam.
"Memangnya Intan sudah punya pacar?"
Intan menggeleng perlahan, Erick tersenyum melihat muridnya yang terlihat sangat polos.
"Nikmati saja masa remajamu, jangan mikirin cinta-cintaan ingat sakit hati itu gak enak, kalau sudah berani pacaran kamu juga harus berani menerima sakit hati. Mending kamu nikmati masa remaja bersama teman-temanmu," Erick menasehati Intan, wajah Intan langsung berubah bosan mendengar nasehatnya.
"Duuh Mister jadi kayak mas Dayat lama-lama," Intan sewot dan bibirnya mulai manyun, diapun mengemasi bukunya dan berniat untuk keluar kelas.
"Semua Kakak pasti akan seperti itu pada adiknya, itu bukan kejam itu tanda dia menyayangimu Tan," ucap Erick lagi.
"Ya udah Mister Intan turun dulu kalau gitu, jangan lupa di makan jangung rebusnya ya, jangan di buang Mister itu Intan yang masak,"
Intan berlalu dari depan Erick, Erick hanya menghela nafas melihat tingkah Intan seperti itu. Di luar tempat les Dayat sudah lama menunggu Intan. Melihat kakaknya sudah menunggunya, Intan berlarian kecil mendekati Dayat.
"Lama sekali sih kamu keluarnya Tan?" tanya Dayat, wajahnya terlihat mulai kesal.
"Mas gak bawa hand phone, hp lagi di charge di rumah,"
Dayat membawa Intan pulang kerumah mereka sambil menggerutu sepanjang jalan. Intan pura-pura tidak mendengar omelan kakaknya dan menikmati pemandangan sepanjang jalan.
**************
"Rik... kamu hari ini kemana, sinilah kerumahku aja kita main catur," pesan masuk dari Dayat ke ponsel Erick.
"Di kosan, kamu gak ngapel gitu malam minggu," balas Erick.
"Gak usah ngledek sesama jomblo akut mah, kita gak usah mikirin itu ntar juga dateng sendiri kalau udah waktunya ha ha," balas Dayat.
"Ok aku kesana sekarang, jangan lupa kopi ya biar betah melek," balas Erick.
"rebesss!"
__ADS_1
Erick memakai jaketnya lalu mengambil motor di parkiran menuju rumah Dayat. Dayat menyuruh Intan menyiapkan kopi buat Erick, mendengar Erick mau datang Intan langsung bersemangat untuk menyambutnya.
Suara motor Erick terdengar memasuki halaman rumah Dayat, Intan langsung ke depan membukakan pintu untuk Erick, menyambutnya dengan senyum sumringah, Erick tersenyum melihat Intan.
"Halo Mister," sapa Intan dengan senyum yang terlihat bahagia.
"Halo Tan, Kakakmu ada? tanya Erick sambil melangkahkan kakinya mendekati Intan yang menungunya di depan pintu.
"Ehem..., sana kebelakang kebiasaan kamu ini kalau ada tamu ikutan nimbrung, gak sopan!" Dayat sudah di belakang Intan, membuat Intan yang tadinya sumringah langsung cemberut.
"Ish... tadi nyuruh bikinin kopi, sekarang ngusir. Awas ya!" Intan pergi ke ruang keluarga dengan hati dongkol.
Erick tersenyum melihat dua kakak beradik saling melotot. Dayat mempersilahkan Erick masuk ke dalam rumahnya.
"Kalian selalu begitu ya Yat?" tanya Erick pada Dayat.
"Sama dia aja, bandel sih suka ngelawan, kalau yang nomor dua pemalu anaknya Dan nurut beda banget sama Intan. Eh kamu gak punya adik ya Rick?" Dayat balik bertanya selama ini dia belum begitu tahu tentang Erick.
"Ada adikku cowok, kami sih akur-akur saja dari kecil gak pernah berantem," jawab Erick sambil membuka jaketnya dan meletakkan di kursi.
"Duh kalau punya adik cewek pusing Rick jagainnya, takut dia aneh-aneh kamu tahulah anak jaman sekarang ini kayak apa. Kakaknya anteng adiknya gak boleh lihat jidat licin dikit, aku tahu Intan suka sama kamu, makanya sengaja ku kerasin dia," sambung Dayat.
"Halah kamu ini, aku juga bukan fedopil masa suka sama anak kecil, aku anggap Intan sebagai murid dan adikku saja kog tenang saja," jawab Erick, diapun menyeruput kopi yang sudah tersaji di meja untuknya.
Intan yang mendengar pembicaraan kakaknya dan Erick langsung berlari pulang dan menangis di kamarnya, dia kesal Erick menganggapnya hanya anak kecil. Apa salahnya kalau dia suka sama orang seumuran dia emangnya salah, Intan membathin di dalam hati sambil menangis.
Erick dan Adit bermain catur sambil bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing, saat ini Adit hanya bekerja sebagai honorer di kantor kecamatan, gajinya yang tak seberapa membuat dia minder kalau mau mendekati perempuan. Sedangkan Erick dia lebih memilih fokus dengan kuliahnya Belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita.
Malam semakin larut Erick berpamitan pulang dan meninggalkan rumah Dayat, dia kembali ke kosannya dan beristirahat setelah terlebih dulu membersihkan dirinya.
Seorang wanita dengan rambut sebahu duduk membelakangi Erick, Erick seperti mengenali tubuh itu tapi lupa siapa dia, perlahan Erick mendekat dan memegang pundak wanita itu namun saat tangannya belum sempat meraih pundaknya, wanita itu sudah menghilang, Erick menoleh kesekitarnya dia hanya sendirian di ruangan yang sepi.
Erick tersadar dari tidurnya dan langsung terduduk, mimpi yang kerap hadir dalam tidurnya selalu seperti itu, siapakah wanita yang selalu hadir dalam mimpinya itu, dia seperti begitu dekat tapi dia tak sanggup untuk mengingat, apakah wanita itu bagian dari memorinya yang hilang.
Erick bangun dan mengambil wudhu langsung melakukan sholat malam, dia berdoa agar ingatannya kembali pulih seperti dulu lagi, apapun yang akan dia ingat nanti dia akan iklas menerimanya entah itu menyakitkan atau sesuatu yang menyenangkan. Erick kembali membaringkan tubuhnya dan kembali tertidur dengan tenang.
__ADS_1
***********