Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Home sweet home


__ADS_3

Nina akhirnya mengikuti serangkaian tes sesuai saran dari dokter Lie, Ronald dengan sabar menemani istrinya, setelah hasil tes keluar Nina juga harus melakukan perawatan rutin dan juga harus menjaga pola makan.


Beberapa kali perawatan Nina dan Ronald berencana kembali ke Jakarta, dan akan melanjutkan perawatan di Jakarta. Ronald mengemasi barang-barang sebelum kembali ke Jakarta.


"Jadi besok kita langsung ke apartemenku saja ya Sayang," ajak Ronald, sambil mengepak pakaiannya ke dalam koper.


"Aku pingin ke rumah mama dulu, boleh nggak?" Nina berharap Ronald mengijinkannya pulang ke rumah orang tuanya.


"Ok, terserah kamu saja," Ronald mengusap pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.


Nina sudah lebih tenang, dia tidak lagi stres memikirkan kapan akan mempunyai anak. Ronald juga tidak menuntutnya untuk segera memiliki anak, bahkan Ronald juga sudah mewanti-wanti papanya agar saat nanti bertemu dengan Nina tidak membahas tentang cucu seperti biasanya.


Malam terakhir di Singapura, setelah selesai mengemas barang Nina membuatkan suaminya kopi dan mengajaknya bercengkrama di balcony, tempat favorit untuk bersantai menikmati indahnya malam.


"Kita pasti akan merindukan suasana seperti ini saat di Jakarta nanti," Ronald memeluk tubuh Nina dari belakang, Nina sedang berdiri memandangi jalananan kota Tampines dari apartemen.


"Yang pasti rindu lancarnya jalan, gak pakai macet, suara klakson mobil sembarangan, dan yang paling kurindukan adalah berjalan kaki kemana-mana," Nina menyandarkan kepalanya pada dada suaminya.


"Kita kan masih bisa jalan-jalan ke sini sekali-sekali, kalau aku survei alat berat kesini kamu ikutan juga ya," ucap Ronald.


Nina membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Ronald, badan Ronald yang tinggi membuat Nina harus menjinjitkan kakinya agar bisa mencium suaminya.


"Trimakasih untuk semuanya Sayang," bisik Nina.


"Untuk apa, kan memang sudah tugasku untuk membuatmu bahagia, walaupun masih banyak kekuranganku dan mungkin kamu tidak sepenuhnya bahagia bersamaku," ucap Ronal lirih.


"Aku mencintaimu Sayang," bisik Nina sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Ronald.


Malam semakin merayap Ronald dan Nina melanjutkan romansa mereka di dalam kamar, menikmati malam terakhir mereka di kamar apartemen yang sudah tujuh bulan mereka tempati.


*******


Ronald bangun pagi dan segera menyiapkan roti bakar untuk Nina yang masih terlelap dalam tidurnya. Sudah menjadi kebiasaan Ronald kalau malamnya membuat Nina capek, pagi harinya dia yang akan menyiapkan sarapan untuk istrinya.


Ronald membawakan segelas susu hangat dan roti bakar ke dalam kamar, dia membangunkan Nina dengan memberi ciuman bertubi-tubi.


"Bangun Sayang, sarapan yuk," bisik Ronald sambil mengendus leher istrinya.


Nina menggeliat dan mengerjapkan matanya. "Udah jam berapa?" tanya Nina, sambil mencoba mengusir rasa kantuknya.


"Jam delapan, nih minum susunya sebelum dingin," Ronald menyodorkan susu hangat buatannya.


"Hmm trimakasih sudah nyiapin semuanya untukku Sayang," Nina meminum susu buatan Ronald sebelum beranjak ke kamar mandi.


Ronald sudah menunggu di sofa sambil mengabari orang tuanya tentang kepulangannya hari ini, dan kembali mengingatkan agar papanya tidak mengungkit soal anak pada Nina.


"Iya Papa ngerti, ya sudah nanti kita ketemu di kantor ya aku mau ngasih kunci rumah yang kamu pesan," ucap Wijaya Kesuma di ujung sana.


"Trimakasih Pa, Nina pasti senang dengan kejutan ini," ucap Ronald.

__ADS_1


Tanpa sengaja Nina mendengar pembicaraan Ronald dengan papanya.


"Kejutan apa?" Nina mendekati suaminya karna penasaran.


"Nggak ada lah, kejutan apa?" Ronald pura-pura tidak mengerti.


"Aku dengar dengan sangat jelas tadi, kamu mau ngasih aku kejutan, apa Yang ...?" Nina mengguncang tubuh suaminya.


"Nggak ada, aku bilang kamu pasti senang pulang ke rumah, itu aja kog. Udah cepetan pakai bajunya," Ronald mendorong istrinya dengan lembut agar cepat memakai baju dan bersiap.


"Yaaang ...?" Nina menatap pada Ronald dia masih tak percaya dengan ucapan Ronald padanya.


"Ayo, pakai bajumu kita berangkat ke bandara biar gak buru-buru waktunya, sebentar lagi pemilik apartemen datang mau ambil kuncinya," ucap Ronald.


Akhirnya Nina menyerah dan menuruti apa yang Ronald bilang, dia pun bersiap dan berdandan, Ronald sudah menyiapkan barang-barangnya di depan pintu, agar mudah kalau mau berangkat.


ting ..., tong ...


Suara bel pintu berbunyi, Ronald bergegas membukakan pintu, ternyata pemilik apartemen datang untuk mengambil kunci. Mereka berbincang sambil menunggu waktu keberangkatan Ronald. Setelah semua siap Ronald dan Nina berangkat ke bandara menggunakan taksi.


Waktu terbang pesawat mereka masih lama, Ronald mengajak Nina untuk sarapan karna tadi di apartemen mereka cuma sarapan roti bakar dan susu. Sambil menunggu waktu mereka menikmati makan terakhir di Singapura.


********


Pesawat yang di tumpangi Nina dan Ronald sudah mendarat di Jakarta, Adit sudah menunggu ke datangan mereka di bandara, karena bagasi yang banyak Ronald dan Nina masih mengantri mengambil barang-barang mereka.


Adit menyongsong ke datangan Nina bersama Ronald, dia membantu memasukkan koper milik Nina dan Ronald ke dalam mobilnya.


"Iya nih, udah kangen ngumpul-ngumpul sama kalian," ucap Nina sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Ronald.


"Apa kabar Ratih Dit?" tanya Nina.


"Baik, lagi sibuk-sibuknya sekarang, oh ya Eka sekarang kerja bantuin Ratih Nin," ucap Adit.


"Oh ya, wah senengnya bisa ngumpul lagi. Besok aku ke resto ya, hari ini aku masih capek," ucap Nina.


"Mobilmu nanti sore ku antar ya Nin," ucap Adit, dia berniat mengembalikan mobil Nina.


"Buat apa pakai ajalah Dit, Nina gak boleh bawa mobil sendiri, kamu pakai aja Dit kamu lebih butuh dari pada Nina," Ronald angkat suara.


"Iya pakai aja Dit itu hadiah dariku buat kamu dan Ratih, anggap aja reward atas usaha kalian mengelola restoranku," sambung Nina.


"Beneran Nin, wah aku gak nyangka mobil ini jadu milikku," Adit senang sekali dengan pemberian Nina, dia semakin bersemangat untuk memajukan restoran mereka.


"Dit, nanti habis antar Nina antar aku ke apartemenku ya, aku mau ambil mobil," ucap Ronald.


"Siap Bos!!" Adit tersenyum senang dan memacu mobilnya ke arah rumah orang tua Nina.


Nina dan Ronald turun dari mobil, Ronald di bantu Adit mengeluarkan koper mereka setelah memasukkan koper ke dalam kamar Nina, Ronald langsung pergi bersama Adit ke apartemennya untuk mengambil mobilnya.

__ADS_1


Ronald langsung turun dan Adit kembali ke kantornya, Ronald mengecek sebentar ke dalam apartemennya, setelah itu diapun langsung pergi menuju kantor papanya untuk menemui papanya.


"Hei ..., sudah datang kamu rupanya. Wah anakku semakin gagah dan gemuk, Nina rupanya merawatmu dengan baik, apa Papa bilang gak ada ruginya kalian menikah kan?" Wijaya Kesuma sangat senang melihat perubahan pada tubuh anaknya.


"Ah Papa ini mah kerjaan Nina praktek masak tiap hari, jadi tukang ngabisin makanan jadinya ya begini," Ronald memeluk papanya.


"Jadi kapan kalian mau pindah ke rumah baru?" tanya Wiajaya Kesuma.


"Secepatnya Pa, sore ini aku mau nunjukin sama Nina dulu buat ngasih dia kejutan," Ronald sudah tak sabar mau membawa Nina ke rumah barunya.


"Mamamu yang ngisi dalemannya ya selera mamamu semua, nanti kalau Nina gak cocok ya suruh dia rubah atau gimana gitu," ucap Wijaya Kesuma.


"Ah Nina orangnya biasa aja tuh Pa, kami tinggal di Singapur juga seadanya apa yang ada di apartemen ya itu yang kita pakai," ucap Ronald lagi.


"Ya udah Pah, Ronald mau ke kantor sebentar terus pulang, nanti sore baru aku bawa Nina kerumah baru," Ronald berlalu meninggalkan kantor papanya sambil membawa kunci rumah barunya.


*******


Sore hari setelah mandi dan bercengkrama sebentar dengan keluarga Nina, Ronald mengajak Nina keluar untuk melihat rumah baru yang akan mereka tempati, Ronald berbohong dengan mengajak Nina ke rumah temannya.


Sampailah mereka di perumahan elit di sudut kota Jakarta, Ronald langsung membawa mobilnya masuk ke dalam rumah, membuat Nina heran, biasanya kalau orang bertamu cukup parkir di luar tidak sampai masuk ke dalam.


"Rumah siapa ini Yang?" tanya Nina heran.


"Ayo turun Sayang, kamu suka nggak rumah ini?" tanya Ronald pada Nina.


Ronald membawa Nina masuk ke dalam rumah barunya, dan mengecek ke dalam rumah.


"Ini rumah kita?" tanya Nina curiga.


"Iya Sayang, aku beli rumah buat kita berdua, ya ini sebagian disumbang papa sih he he,"


Nina tersenyum bahagia, ternyata ini yang Ronald sembunyikan darinya. Nina langsung memeluk dan mencium suaminya.


"Trimakasih kejutannya Sayang," Nina mengecek semua ruangan, perabotan juga sudah komplit mereka tinggal masuk membawa baju saja.


"Ini semua mama yang beli, jadi ya seleranya orang tua kalau kamu gak cocok tinggal tukar aja nanti," ucap Ronald.


"Ah sudah bagus dibeliin, aku cocok-cocok saja, wah kayaknya kita harus bikin syukuran buat rumah ini Yang," ucap Nina sambil berjalan ke kamar.


"Ini kamar kita, sudah rapi bisa kita pakai buat bikin anak malam ini," goda Ronald pada istrinya.


"Ha ha kamu ini, ya sudah ayok kalau gitu," tantang Nina.


"Ayok apanya?" Ronald bingung.


"Katanya mau bikin anak, gas keun sekarang juga Sayang hi hi," Nina langsung mendorong suaminya ke ranjang.


Malam ini mereka menghabiskan malam di rumah baru mereka, malam terasa sangat panjang dan indah, seolah hanya milik mereka berdua. Rumah baru dan suasana baru bikin nafsu juga menggebu. Di rumah ini akan terukir kebahagiaan buat Ronald dan Nina dalam membina keluarga kecil mereka.

__ADS_1


********


__ADS_2