
Nina dan Fatih berkeliling tempat wisata di Singapura bersama Maya. Tak lupa mereka mengabadikan momen mereka dengan berfoto. Fatih merasa tidak nyaman dengan adanya Maya bersama mereka, tapi Fatih tidak berani mengutarakan pada Nina dari pada nanti salah sangka dia memilih untuk diam.
Maya juga berusaha mencari kesempatan untuk berbicara berdua dengan Fatih, namun Fatih terlalu nempel sama Nina, tak ada sedikitpun ruang untuk dia berbicara dengan Fatih.
Setelah puas berkeliling mereka kembali ke Hotel, Nina mengajak suaminya berenang di hotel sambil menikmati sunset. Melihat Nina pergi berenang Maya juga ikutan, dia mengenakan baju renangnya yang super sexy sengaja berjalan di depan Fatih agar Fatih ingat bagaimana dulu dia pernah menyukai tubuhnya.
Fatih memilih bersantai di kursi setelah berenang sebentar, sementara Nina berendam dia air hangat menghilangkan pegal di kakinya yang capek sehabis berjalan seharian.
"Nin aku mau bersantai disana ya," pamit Maya pada Nina.
"Ok."
Nina memejamkan matanya bersandar di pinggiran kolam air hangat menikmati sensasi refleksi air panas di tubuhnya, dan duduk membelakangi Fatih menghadap arah terbenamnya matahari.
Fatih yang berbaring santai di kursi sambil memejamkan mata terkejut saat merasa ada yang menaiki tubuhnya, dia pikir itu Nina saat membuka mata ternyata Maya, dengan kesal dia mendorong tubuh Maya agar turun dari tubuhnya.
"Apa-apaan kamu, jangan kurang ajar!"
Maya tersenyum dan berbaring di kursi sebelah Fatih dengan cuek. Fatih kesal dan meninggalkan Maya dia mendekati istrinya untuk berpamitan.
"Yang kamu masih lama, aku ke kamar dulu ya perutku sakit," pamit Fatih, dia malas harus bersama dengan Maya disana.
"Pergilah, aku mau menikmati ini dulu. Satu jam lagi aku naik."
Fatih mengecup kening istrinya dan melangkah pergi tanpa melihat ke arah Maya. Maya mengikuti Fatih dari belakang saat masuk ke lift dia juga ikut masuk, kebetulan hanya mereka berdua di dalam lift.
"Kamu jangan merusak liburanku dengan istriku. Nina sudah baik sama kamu, maumu apa sih May?"
Fatih bersungut-sungut kalau saja dia laki-laki sudah dihajar si Maya ini, tapi dia wanita tak mungkin Fatih mau mengasarinya. Maya tak menjawab dia mendekati Fatih dan mencoba menciumnya, namun Fatih mendorongnya hingga Maya menabrak dinding lift.
"Fatan itu anak kamu Fatih, aku sudah mencarimu kemana-mana, dan baru ketemu setelah kamu menikahi Nina. Fatan butuh kamu sebagai ayahnya!" Maya setengah berteriak.
"Heh kamu jangan sembarangan nuduh aku sebagai ayah Fatan, sementara waktu itu kamu tidak hanya tidur denganku saja. Kamu lupa bagaimana binalnya kelakuanmu waktu itu!"
"Tapi Fatan anak kamu Fatih, aku tahu dia anak kamu. Kalau tak percaya lakukan test DNA kalau dia bukan anakmu aku akan menjauh darimu dan juga Nina!"
"Ngapain aku capek-capek ngurus hal tidak penting ini, aku yakin dia bukan anakku. Kamu datangi saja Bobi atau Rio bisa jadi itu anak Herman atau Marcel. Kamu lupa dulu kamu suka ngeseks rame-rame."
Maya menangis hatinya pedih mendengar ucapan Fatih mengungkit masa lalunya, memang benar apa yang Fatih ucapkan dulu saat dalam pengaruh Narkoba mereka suka melakukan hubungan rame-rame, tapi yang paling lama bersamanya adalah Fatih, Fatih sanggup seharian bersamanya sementara yang lain sudah terkapar. Maya yakin Fatan anak Fatih karena saat terakhir dia bersama dengan Fatih.
Fatih langsung meninggalkan Maya saat pintu lift terbuka, Maya terus berjalan di belakangnya. Merasa kesal Fatih berhenti dan berbalik dia mencengkeram leher Maya dengan tangan kanannya.
"Kamu jangan coba-coba merusak hidupku bersama Nina!!"
Maya hampir tidak bisa bernafas dicekik oleh Fatih, Fatih melepaskan tangannya saat ada orang lain lewat di lorong hotel dan memperhatikan mereka. Maya menarik tangan Fatih.
"Aku akan bilang sama Nina soal ini!" Maya juga tak mau kalah.
"KAU!!"
Fatih mengangkat dan mengepalkan tangannya hendak meninju wajah Maya, Maya memejamkan mata bersiap menerima pukulan Fatih, namun Fatih berbalik dan meninggalkan dia dan segera masuk ke kamar hotelnya.
Maya yang bersiap menerima pukulan dari Fatih membuka matanya perlahan, dan melihat Fatih sudah pergi diapun berjalan menuju kamarnya sendiri. Hatinya pilu dia tidak tahu akankah dia terus memperjuangkan Fatih untuk Fatan setelah melihat Fatih begitu sangat membencinya seperti ini.
__ADS_1
Maya tidak mau merebut Fatih dari Nina, dia cuma ingin Fatih mau mengakui anaknya, dia rela Fatih bahagia bersama Nina asal dia mau mengakui Fatan. Maya menangis di kamar mandi agar tak terlihat oleh asistennya yang sedang menjaga Fatan.
Sementara Fatih di kamarnya kesal dan memukul tembok meluapkan amarahnya. Maya benar-benar mimpi buruk buatnya. Bagaimana mungkin Fatan itu anaknya, Fatih tetap tidak percaya akan ucapan Maya.
"Dia bukan anakku, itu pasti anak Herman atau Bobi. Arrgggghh kepar**t kamu Maya!!"
Fatih duduk di balkon kamar hotelnya dia menyesali kebodohan dimasa lalunya, kalau saja dulu dia tidak seperti itu mungkin hidupnya bersama Nina akan tenang hingga tua. Dia baru saja menikmati bahagia bersama Nina, tiba-tiba Maya datang mengobrak-abrik hidupnya.
Bagaimana kalau Maya benar-benar bilang sama Nina. Fatih tak sanggup membayangkan bagaimana istrinya akan terluka dan rapuh. Fatih tak sanggup melihat Nina bersedih.
Pintu kamar hotel terbuka, Nina sudah kembali dari kolam renang. Melihat suaminya termenung di balkon diapun mendekati dan memeluknya dari belakang. Fatih mencium lembut tangan Nina, hatinya berkecamuk antara takut kehilangan Nina dan takut membuat istrinya terluka. Fatih menarik Nina duduk di pangkuannya.
Nina memandang wajah suaminya yang terlihat sangat murung, dia mencoba mengecup bibir suaminya agar moodnya berubah, menyentuh dan meraba lembut bulu-bulu di dada suaminya. Fatihpun tak tahan dan mengangkat Nina ke ranjang dan menuntaskan hasratnya mencoba melupakan rasa kesalnya.
"Kita pulang besok sore ya Sayang," ajak Fatih dia tak mau berlama-lama bersama Maya di tempat yang sama.
"Baru dua hari, belum belanja oleh-oleh," rengek Nina.
"Besok siang kita belanja oleh-oleh terus pulang, kantor tadi nelpon ada keperluan mendadak yang harus ku handle. Aku janji habis ini kita ke Bali." Fatih menciumi telinga dan leher Nina membuat Nina mendesah geli.
"Mmm ya sudah kalau gitu, terserah kamu aja."
Nina memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Fatih yang tak memberinya kesempatan untuk berhenti walau cuma sebentar. Hand phone Nina berdering namun dia tak menghiraukannya, Fatih sudah membuatnya di awang-awang. Beberapa kali hand phonenya berdering dan akhirnya berhenti karena tidak mendapat respon dari Nina.
Maya di kamarnya memandangi hand phonenya sendiri, dahinya mengkerut sedang berfikir bagaimana cara bicara dengan Nina soal Fatan, dia yakin Nina akan bisa mengambil jalan tengah tapi hand phone Nina tak bisa dihubungi, dia tak mengangkat panggilannya berkali-kali.
"Nin aku mau bicara penting. Aku butuh bantuanmu," Maya menulis pesan untuk Nina.
Nina terkapar setelah berkali-kali Fatih menuntaskan hasratnya. Fatih bangun dan mengecek hand phone Nina matanya melotot saat tau Maya yang menghubunginya, dia juga menghapus pesan dari Maya.
Fatih membersihkan dirinya dan memakai baju dia mengambil hand phone dan dompetnya lalu keluar dari kamar. Di dalam lift dia menghubungi Maya.
"Temui aku di restoran sekarang!" Fatih langsung mematikan hand phonenya dan menuju restoran yang ada di hotel.
Dia sengaja duduk ditempat yang tak mudah dilihat orang yang baru datang, berjaga-jaga kalau Nina tiba-tiba mencarinya dan menemukannya bersama Maya.
Maya yang tak melihat ada Fatih, dia celingukan di restoran mencari Fatih. Fatih langsung mendekati Maya dan mencengkeram tangannya dengan kasar membawanya ke tempat duduknya. Maya meringis menahan sakit ditangannya.
"Apa maksudmu menghubungi Nina?" tanya Fatih matanya memerah menahan amarah.
"Seperti yang kubilang Nina harus tahu soal Fatan." Maya tak gentar sedikitpun menghadapi Fatih.
"Kamu mau uang, berapa sebutkan dan enyahlah dari hidupku dan Nina." Fatih mengepalkan tangannya menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.
"Berapa harga ayahmu kau jual. Jika kau pikir aku butuh uangmu aku juga punya uang, kamu tahu bagaimana keluargaku. Aku mau kamu mengakui Fatan sebagai anakmu."
"Dia bukan anakku, kamu jangan menghayal!"
"Silahkan cek DNA kalau kamu yakin dia bukan anakmu!"
Maya meninggalkan Fatih yang menahan amarahnya dia kembali ke kamarnya. Fatih yang kesal masih berdiam diri di restoran, dia mau menenangkan dirinya sebelum kembali ke kamarnya.
************
__ADS_1
Nina yang tertidur di kamarnya merasakan ada yang membelai tubuhnya, semakin lama semakin liar dia berfikir Fatih sudah menggumulinya lagi, matanya terasa berat dan terpejam dia membiarkan Fatih terus menyetubuhinya diapun mendesah menikmati setiap perlakuan Fatih, tapi lama-lama Nina merasakan kalau itu bukan Fatih, aroma parfumnya sangat berbeda dan suara desahannya juga berbeda. Nina perlahan membuka matanya.
"Errr...!!" Nina terkejut bukan Fatih yang sedang mencumbunya.
Nina tak bisa berfikir apakah ini nyata atau cuma mimpi, Rekso tersenyum di atas tubuhnya sambil terus menggoyang tubuhnya.
"Aku rindu Sayang, sudah lama sekali tidak menyentuh tubuhmu. Aku tidak tahan melihatmu tidur telanjang sendirian."
"Ahh... bagaimana bisa kamu. Ahh.. apa ini mimpi?" Nina terengah.
"Diamlah Sayang biarkan aku menuntaskan kerinduanku."
Rekso terus menggaulinya membuat Nina ikut larut dalam nikmatnya cumbuan Rekso. Rekso memeluk erat tubuh Nina saat hasratnya sudah tuntas.
Nina menyadari kalau dia berada di kamar hotelnya, rekso berbaring di sampingnya dengan santai. Nina mulai panik dia takut Fatih tiba-tiba datang dan melihat ada rekso bersamanya.
"Pergilah, nanti Fatih datang," Nina mengusir Rekso.
"Dia sedang bersama Maya." ucap Rekso santai.
"Apa maksudmu?" Nina tidak percaya.
"Apa kamu belum mendapatkan benang merah antara Maya dan Fatih. Jangan terlalu polos Nina." ucapan Rekso selalu membuat Nina bingung.
"Benang merah, Fatih, Maya apa sih maksud kamu." Nina mulai kesal.
Rekso mendekati Nina dan mengusap wajah Nina. Seketika Nina berada di sebuah ruangan banyak minuman keras bertebaran dan beberapa laki-laki telanjang. Ada Fatih disana sedang bercumbu dengan wanita, Nina mendekati mereka dan dia tercekat saat melihat itu adalah Maya. Nina menjerit seketika dia sudah berada dikamarnya, dan Fatih yang baru saja datang berlari mendengar teriakannya.
"Kamu kenapa Sayang?" Fatih memegang bahu Nina.
Nina menutup mulutnya dia tak percaya apa yang baru saja dilihatnya tentang masa lalu Fatih bersama Maya.
"Nin... Sayang kamu kenapa, kamu mimpi buruk." Fatih cemas melihat Nina yang tak berbicara.
Nina menepis tangan Fatih dia bangun dan memakai kimononya masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya, dia memandang wajahnya dikaca, bayangan Fatan melintas di matanya.
Fatih cemas dengan sikap Nina yang tak biasa, dia mondar-mandir menunggu Nina keluar dari kamar mandi. Dia cemas jangan-jangan Maya sudah memberi tahunya soal Fatan.
Nina keluar dari kamar mandi matanya nanar memandang Fatih, yang menunggunya dengan cemas.
"Jadi Fatan anak kamu?" Nina menatap Fatih dengan tajam.
"Siapa yang bilang, kamu jangan percaya ucapan wanita jal*ng itu," Fatih membela diri.
"Bukannya dulu kamu begitu menikmati bercinta dengan wanita itu." Nina mendengus kesal.
"Sayang dengarkan aku. Kamu tidak tahu bagaimana dia dulunya. Dia hanya ingin menghancurkan kebahagiaan kita. Please jangan seperti ini."
Nina duduk di ranjang, Fatih mendekati dan memeluknya namun Nina menolak dia merasa jijik pada Fatih setelah melihat bagaimana dia bercinta denga Maya.
Malam itu mereka tidur berjauhan, Nina benar-benar tak mau disentuh oleh Fatih, mereka juga tak keluar sarapan pada pagi harinya.
Berkali-kali Maya menghubungi Nina namun Nina tak menghiraukannya. Maya berfikir pasti Nina dan Fatih sedang ribut, dan dia tak mau mengganggu lagi kedua pasangan itu.
__ADS_1
Nina dan Fatih kembali ke Jakarta tanpa memberitahu Maya, sepanjang jalan Nina juga memilih diam tidak berbicara sedikitpun dengan Fatih. Nina pulang ke rumah mamanya dan mengunci diri di dalam kamar, sementara Fatih kembali ke kantornya dengan perasaan tak karuan.
*****************