
Nina sedang membantu neneknya di dapur, terdengar deru suara motor memasuki halaman rumah neneknya, mbah Darmi menyuruhnya untuk melihat siapa yang bertandang ke rumahnya.
"Hai Nin, Dayat ada?" Erick datang mencari Dayat, meskipun sebenarnya dia ingin melihat wajah Nina.
"Belum pulang, tunggu aja dulu sebentar lagi dia pulang," ucap Nina sambil berlalu meninggalkan Erick yang masih di depan rumah.
Erick memilih duduk di teras menunggu Dayat pulang, sementara Nina kembali ke dapur membantu neneknya memasak, Nina malas harus berlama-lama dengan Erick.
"Siapa Nduk?" tanya mbah Darmi, saat Nina kembali ke dapur.
"Temen Dayat Mbah," jawab Nina.
"Nak Erick? buatkan minum dan temani dia dulu sana," mbah Darmi memerintahkan Nina agar menemani Erick.
"Nina gak biasa ngobrol sama laki-laki Mbah, apa lagi Nina gak kenal," Nina menolak untuk menemani Erick.
"Ya sudah antarin aja minum buat dia," ucap Neneknya.
Dengan hati dongkol Nina membuatkan teh panas dan mengantarkan ke depan, Nina meletakkan teh di atas meja dan menawari Erick, dia cepat-cepat mau meninggalkan Erick.
"Nin ..., berapa hari kamu di sini?" tanya Erick.
Nina yang mau pergi menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan Erick.
"Mungkin seminggu atau bisa lebih," ucap Nina datar.
"Hmm ..., kamu suka traveling ya?" tanya Erick.
"Nggak juga itu dulu jaman masih anak-anak, sekarang aku lebih suka berada di rumah," ucap Nina agak acuh.
"Apa kamu tidak nyaman berbicara denganku?" tanya Erick, dia merasa Nina selalu menghindarinya.
"Ya aku tidak mau menimbulkan fitnah kalau cuma berduaan, apa lagi aku juga tidak mengenal kamu," ucap Nina tanpa melihat wajah Erick.
"Ya kalau gak kenal emang nggak sayang," ucap Erick pelan.
"Maksudmu?" ternyata Nina mendengar ucapan Erick walau sudah dengan nada pelan.
"Nggak apa-apa, cuma pingin berteman sama kamu saja kog," ucap Erick lagi.
"Aku masuk dulu ya, nenekku masak di dapur sendirian," pamit Nina, dia sudah terlalu lama bicara dengan Erick.
Erick memandang kepergian Nina, wanita yang sangat misterius, Erick membathin dia semakin ingin mengenal siapa sebenarnya wanita ini.
Suara motor memasuki halaman rumah mbah Darmi, tampak Dayat tersenyum dari balik helmnya melihat Erick sudah berada di teras rumahnya.
Dayat meletakkan motornya di samping rumah dan menguncinya, dia pun mendekati Erick yang sudah menunggu kedatangannya.
"Hai Rick, udah lama nunggu aku?" tanya Dayat.
"Belum, ni buktinya tehnya masih panas belum kuminum," Erick tertawa lepas.
__ADS_1
"Siapa yang bikinin teh?" tanya Dayat penasaran.
"Kakakmu yang super cuek," ucap Erick sambil menahan tawa.
"Mbak Nina, kamu suka ya sama dia," goda Dayat.
"Hmm kira-kira gimana menurutmu?" Erick balik bertanya.
"Ya nggak apa-apa sih kalau kamu sanggup ngedeketin dia," ucap Dayat sambil tersenyum geli.
"Ya kamu bantuin dong, kesukaan dia apa gitu, biar aku bisa kasih dia sesuatu," Erick berharap Dayat membantunya untuk mendekati Nina.
"Jujur aku nggak tahu, saat ini dia lagi sedih banyak masalah, aku juga gak berani bertanya, bu dheku cuma bilang agar aku menghibur dia selama di sini, tapi dia orangnya sangat tertutup gak seperti dulu lagi," Dayat menghela nafasnya.
Erick terdiam dia bertanya-tanya dalam hatinya, luka apa sebenarnya yang membuat Nina yang katanya dulu sangat ceria menjadi seperti ini, apa dia sedang putus cinta.
Dayat masuk ke dalam rumah, dia ingin mengajak Nina jalan-jalan mumpung berada di sini, Dayat mendapati Nina sedang memasak di dapur bersama mbah Darmi.
"Mbak jalan yuk," ajak Dayat.
"Hmm jalan kemana, sama temenmu juga?" tanya Nina penuh selidik.
"Iya, kan dia yang bisa bawa mobil, aku nggak bisa," ucap Dayat.
"Aku bisa bawa mobil, ngapain harus dia yang nyupirin," kata Nina sewot.
"Ya kan mbak Nina gak tahu jalan, dia udah lama tinggal di sini," ucap Dayat.
"Kenapa? kalau dia macam-macam biar Dayat yang ketok kepalanya, pakai martil kalau perlu," Dayat terkekeh.
"Ya nggak nyaman saja sih," ucap Nina tak mau menjelaskan masalahnya.
"Jalan sana Nduk dari pada ngurung di kamar, siapa tahu kalau keluar dapat inspirasi apa gitu, syukur-syukur kamu bisa dapat jodoh," ucap mbah Darmi.
"Nina udah punya jodoh Mbah," ucap Nina sewot.
"Lo sudah punya toh, kog gak dikenalin sama si Mbah," ucap mbah Darmi menatap wajah cucunya yang sendu.
"Kami lagi bermasalah, makanya Nina tinggal ke sini," ucap Nina.
Dayat memandang wajah Nina yang berubah murung, dia tak berani bertanya macam-macam lagi pada Nina.
Setelah masakan siap mbah Darmi menyuruh Dayat dan Nina makan, tak lupa mengajak serta Erick, suasana di meja makan sangat hening masing-masing menikmati makanannya dengan pikirannya sendiri.
Selesai makan Nina membantu mengemas dapur dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamarnya, Erick dan Dayat berbincang di teras, sesekali terdengar gelak tawa dari kedua pria itu.
*********
Malam semakin larut setelah shalat isya Nina duduk di teras sendirian menikmati udara malam, kalau begini hidup terasa sangat damai Nina benar-benar merasa tenang lupa akan masalah rumah tangganya.
Dayat datang dengan menaiki motornya memasuki halaman rumah, setelah memasukkan motornya dia pun duduk di samping Nina, sudah berhari-hari di sini namun Dayat belum tahu apa masalah yang sedang Nina hadapi.
__ADS_1
"Mbak ..., Mbak kenapa sih? mbok ya cerita gitu sama Dayat," Dayat memandang wajah Nina yang berubah saat dia menyinggung masalahnya.
"Hmm ..., ya baiklah mungkin saatnya aku cerita sama kamu Yat," Nina menghela nafasnya sebelum mulai bercerita.
"Aku bermasalah dengan suamiku, jadi aku pergi ke sini untuk menghibur diriku," ucap Nina lirih.
"Apaa!! mbak Nina sudah menikah?" Dayat bengong tak percaya dengan ucapan Nina.
"Aku sudah menikah dua kali, yang pertama gagal, dan yang ini aku harap tidak terulang lagi," ucap Nina, matanya menerawang jauh.
"Apaa!! dua kali!!" lagi-lagi Dayat tercengang tak percaya.
"Dan temanmu itu si Erick, dia mantanku dia adalah cinta pertamaku," ucap Nina lirih, matanya terlihat sangat sedih.
"Hah ..., Er-- Erick itu, mantan …, lah kog bisa?!" Dayat menggaruk kepalanya, dia bingung dan tak bisa mencerna semua ucapan Nina.
"Ceritanya panjang Yat, waktu kuliah aku mengenal Erick dan kami berpacaran, terus dia kecelakaan dan lupa siapa aku, dia tidak ingat sama sekali tentang masa kuliahnya, lalu aku ketemu Fatih kami nikah siri, sebelum kami resmikan kami sudah berpisah karna sesuatu hal, lalu aku mengenal Ronald dia menyembuhkan luka hatiku tapi semakin kesini ah …," Nina meneteskan air matanya, lidahnya tiba-tiba terasa kelu.
Dayat memandang Nina dengan rasa iba, pantas saja setiap melihat Erick wajah Nina berubah menjadi murung, rupanya Erick adalah bagian dari masa lalunya.
"Apa perlu kubilang sama Erick, kalau perlu ku getok kepalanya pakai palu biar dia inget sama Mbak Nina?" Dayat bersungut-sungut kesal.
"Tidak usah, biarkan dia dengan kisahnya sendiri, aku sudah punya suami dan aku sangat mencintai Ronald, di hatiku sudah tidak ada rasa lagi dengan Erick, aku hanya tidak nyaman saat berdekatan dengannya," kata Nina, dia meninggalkan Dayat dan memasuki kamarnya.
'Ya ampun Mbak, kog gini amat hidupmu,' desah Dayat dalam hatinya.
Dayat masuk ke kamarnya, dia ingin memberitahu Erick kalau Nina ternyata sudah bersuami, hanya saja hari sudah larut malam Dayat menunggu waktu yang tepat untuk bicara tentang semua ini pada Erick, Dayat hanya ingin Erick tahu kalau Nina sudah ada yang punya, tentang masa lalu mereka Dayat tetap akan menyimpannya rapat-rapat seperti permintaan Nina padanya.
Di kamarnya Nina teringat pada Ronald, dia membuka blokiran telponnya pada nomor Ronald, begitu banyak pesan masuk setelah blokiran dibuka, Nina membaca satu persatu air matanya menetes saat membaca banyak permintaan maaf dari Ronald melalui pesan yang dia kirim.
Ponsel Nina berdering, Ronald langsung menghubunginya saat tahu pesan yang dia kirim sudah terbaca oleh Nina.
"Sayang kamu di mana?" suara Ronald di ujung sana saat Nina menerima panggilannya.
"Aku sedang di rumah nenekku," balas Nina pelan.
"Di mana itu, aku jemput ya? pulanglah Sayang maafkan aku, kita mulai lagi semua dari awal, aku tak bisa hidup tanpamu," ucap Ronald.
"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?" tanya Nina pelan.
"Aku tahu, aku salah telah mengasarimu, maafkan aku Sayang, pulanglah atau aku jemput kamu," Ronald senang mendengar suara Nina.
"Aku ada di Semarang," balas Nina.
"Semarang, ok aku ke sana besok, tunggu aku ya Sayang, aku jemput kamu," Ronald sangat bahagia, dia sudah tak sabar menunggu datangnya pagi dan segera menjemput kekasih hatinya.
"Kabarin aja kamu pesawat jam berapa, biar nanti aku jemput di bandara," ucap Nina, hatinya langsung berubah senang, bagaimanapun dia masih merindukan Ronald.
Nina membaringkan tubuhnya di ranjang, senyumnya mengembang membayangkan akan bertemu dengan Ronald, dia berharap Ronald benar-benar berubah dan menepati semua ucapan janjinya.
*********
__ADS_1