Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Akhirnya mereka tahu


__ADS_3

Fatih berbulan madu bersama Dian ke pulau Bali selama satu minggu, mereka merencanakan untuk segera memiliki momongan.


Adit dan Ratih juga mulai mempersiapkan pernikahan sederhananya, satu persatu sahabat Nina sudah mendapatkan kebahagiaan.


Nina sendiri dia masih menyembunyikan prahara rumah tangganya yang terasa seperti api di dalam sekam, Ronald lebih sering mendiamkannya tanpa sebab musabab yang jelas.


Nina msih rutin mengikuti teraphi ruqiah dan mengikuti kajian, dia mencurahkan keadaan rumah tangganya pada ustad Solihin yang selalu memberinya nasehat membuatnya terus bertahan.


"Ini ujian rumah tangga mbak Nina, serahkan semua pada Allah, doakan suami Mbak agar hatinya di lembutkan, " ucap ustad Solihin.


"Iya Ustad saya yakin suatu hari nanti suami saya akan berubah baik lagi kepada saya," ucap Nina, hatinya terasa lega kalau sudah berbicara dengan ustad Solihin.


********


Ronald sedang sibuk dengan laptopnya di ruang kerja, Nina datang mengantarkan kopi buat suaminya sebelum dia beranjak tidur.


"Aku buatin kopi, apa kamu mau lembur?" tanya Nina sambil melihat jam yang sudah pukul 22.00 WIB.


"Hmmm trimakasih," ucap Ronald tanpa melihat ke arah Nina.


"Aku tidur duluan ya," pamit Nina sembari berlalu.


Ronald tak menjawab Nina ke kamarnya dia mengambil wudhu lebihh dulu tak lupa dia membaca ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Fathihah sebelum tidur agar Rekso tidak lagi mendatanginya.


Hampir saja Nina terlelap saat Ronald datang dan berbaring di sampingnya, tidak ada pelukan dan ciuman seperti biasanya, Ronald langsung memejamkan matanya.


"Jika kamu sudah tidak nyaman denganku menikahlah, mungkin dengan begitu kamu bisa bahagia," entah kekuatan dari mana tiba-tiba Nina bicara seperti itu.


Ronald yang tadinya memejamkan matanya langsung membuka matanya dan memandang Nina.


"Apa maksudmu?" tanya Ronald.


"Untuk apa kita seperti ini, aku ijinkan kamu menikah dengan wanita lain," ucap Nina lagi.


"Kamu minta cerai? aku tidak akan menceraikanmu!" ucap Ronald tegas.


"Jadi maumu apa, menyakitiku sampai aku mati?" Nina menatap tajam mata Ronald.


"Aku ingin kita punya anak!!" Ronald mendengus kesal.


"Kamu kira aku tidak menginginkan hal itu," balas Nina.


Ronald terdiam dan memalingkan tubuhnya dia membelakangi Nina. Nina juga membalikkan tubuhnya, kini mereka saling memunggungi.


"Aku lelah bersandiwara," ucap Nina lirih.


"Aku juga!!" balas Ronald.


"Tapi tak ada niatmu merubah keadaan, yang ada kamu selalu menyakitiku, kau menyentuhku kalau kamu butuh dan perlakuanmu padaku tak ubahnya aku ini bagai budakmu saja," air mata Nina mengalir, dia menahan suaranya agar Ronald tidak mendengar tangisannya.


Impian untuk hidup bahagia sudah musnah dari harapan Nina, dia tetap saja wanita lemah yang pura-pura tegar saat berada di depan orang, saat ini hatinya terlalu rapuh.

__ADS_1


Nina memejamkan matanya dia berharap cepat tidur dan melupakan semua masalah di hidupnya.


**********


Setelah bangun dan shalat subuh, Nina sengaja berlari berkeliling komplek rumahnya, suasana rumah terasa sangat panas buatnya, menikmati embun pagi dan menyapa sang mentari mungkin bisa menenangkan resah di hatinya.


Ronald terbangun dan tak mendapati Nina di rumahnya, dia pun menanyakan pada kedua asistennya namun keduanya tidak mengetahui kepergian Nina.


Ronald mencoba menghubungi ponsel Nina ternyata Nina meninggalkan ponsel miliknya di kamar, terbersit rasa cemas di hati Ronald dia termangu duduk di dalam kamar.


'Apa aku sudah keterlaluan kepadanya,' Ronald membathin sendiri, dia tidak berniat menyakiti hati Nina.


Lama tak pulang-pulang Ronald mencoba menghubungi mama mertuanya, berharap Nina sedang berada di sana, dengan hati ragu dia menghubungi mertuanya.


"Ada apa Ron?" tanya Pratiwi pada Ronald.


"Mah Nina ada di sana?" tanya Ronald dengan perasaan gugup.


"Nina? nggak ada, emang ada apa?" Pratiwi mulai curiga.


"Nggak ada apa-apa Mah, ya sudah kalau gitu, maaf mengganggu Ma," ucap Ronald perasaannya semakin kacau.


"Kalian sedang ada masalah?!" Pratiwi semakin curiga.


"Eng ... enggak Ma," jawab Ronald gugup.


Tut ..., tut ..., tut ...


Ponsel Nina berdering, Ronald semakin panik saat mengetahui mertuanya menghubungi Nina, berkali-kali Pratiwi menghubungi nomor Nina tapi tak mendapat jawaban.


"Ada apa Ma?" Hendra melihat istrinya uring-uringan jadi penasaran.


"Ini Ronald nanyain Nina ada di sini apa nggak, Mama curiga orang ini bermasalah, mana Ninanya gak bisa di hubungi lagi, duh kesel Mama," dengus Pratiwi kesal.


"Mungkin lagi mandi atau apa Ninanya," Hendra berusaha menenangkan istrinya.


"Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa sama anakku!!" Pratiwi terlihat sangat kesal.


Pratiwi mengganti pakaian dan bersiap mendatangi rumah Nina, dia ingin mengetahui kebenaran tentang anaknya.


Ronald bersiap-siap pergi ke kantor dia juga berpesan pada asistennya kalau Nina pulang mereka harus segera mengabarinya.


Sedangkan Nina dia duduk di taman, menikmati sengatan matahari di kulitnya, rasanya begitu nyaman dan damai sendirian melihat orang berlalu lalang di depannya.


Setelah Ronald pergi tak berapa lama Pratiwi datang ke rumah Nina, dan di sambut oleh Nunik, Nunik menyalami Pratiwi dan mempersilahkan Pratiwi masuk.


"Nunik kamu yang setiap hari di sini, apa yang terjadi dengan anakku sebenarnya, tolong kamu ceritakan pada Ibu ya," Pratiwi mulai menanyai Nunik.


"Mmm anu Bu, Mbak Nina sepertinya sedang berantem dengan suaminya, udah lama sih mereka diem-dieman," Nunik merasa takut menceritakan keadaan rumah tangga Nina.


"Sudah ku duga, jadi Ninanya kemana sekarang?" tanya Pratiwi dengan suara sedikit membentak.

__ADS_1


"Ma- maaf Bu kami tidak tahu, pak Ronald juga kebingungan nyari mbak Nina dari pagi," ucap Nunik sambil gemetar.


"Duh kemana anak itu," Pratiwi mulai berkaca-kaca, hatinya terasa tercabik mendengar anaknya kembali mengalami masalah rumah tangga.


Hampir saja Pratiwi meninggalkan rumahnya, Nina datang dengan berjalan gontai memasuki rumahnya.


"Nina, kamu dari mana saja, mama mencemaskanmu?" Pratiwi lega anaknya sudah pulang.


"Mama ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Nina, dia heran melihat mamanya sudah berada di rumahnya.


"Nina kamu kenapa, ada apa lagi sama kalian?" Pratiwi langsung memberondong Nina dengan pertanyaan.


Nunik langsung meninggalkan kedua ibu dan anak itu berbincang berdua, dia kembali ke dapur dan mengabari Ronald kalau Nina sudah pulang dan ada ibu mertuanya di rumahnya.


Ronald semakin kalut setelah membaca pesan singkat dari Nunik, mertuanya pasti sudah curiga dan marah kepadanya.


"Nina jawab Mama, kamu masih menganggapku orang tuamu kan?" Pratiwi makin tidak sabar.


"Tidak ada apa-apa Ma, Nina baik-baik saja," Nina menunduk menyembunyikan perasaannya.


"Nina aku yang mengandungmu, kamu pikir Mama percaya begitu saja dengan ucapanmu," Pratiwi menatap tajam pada Nina.


"Mah ...," Nina tak mampu lagi membendung air matanya.


Pratiwi memeluk Nina, dia tahu saat ini Nina membutuhkan dukungannya, Nina menangis menumpahkan kesedihannya yang selama ini dia pendam sendirian.


"Kenapa kamu tidak cerita sama Mama Nak, kenapa kamu pendam sendiri penderitaanmu," Pratiwi ikut menangis hatinya pilu melihat anak semata wayangnya bersedih seperti ini.


"Kenapa nasib Nina seperti ini Mah hiks ...," Nina semakin terisak, dadanya terasa sesak.


"Ayo ikut Mama pulang, aku nggak mau kamu frustasi kayak kemarin, kamu masih punya mama dan papa," Pratiwi mengajak Nina pulang ke rumahnya.


"Tapi Mah bagaimana nanti dengan Ronald?" Nina takut meninggalkan rumah, dia takut Ronald semakin marah kepadanya.


"Kenapa? biar dia datang menemui Mama, biar ku cuci kepala anak itu, enak aja bikin anakku terluka," Pratiwi bersungut-sungut.


"Jangan Mah, jangan begitu," ucap Nina lirih, dia mulai menghentikan tangisnya.


"Ayo cepat ambil barangmu, kita pulang!!" Pratiwi sudah tidak tahan berada di rumah itu.


"Nina bawa mobil sendiri saja Mah," ucap Nina sambil berlalu ke kamar untuk mengambil ponsel dan tasnya.


"Biar nanti pak Tomo yang ambil mobil kamu, bawa saja kuncinya," Pratiwi menggandeng Nina ke mobilnya.


Nina hanya pasrah mengikuti perintah mamanya, dia hanya diam sambil memandangi mobil sepanjang jalan, pikirannya jauh menerawang.


Ronald yang mendapat kabar kalau istrinya dibawa oleh mertuanya terlihat gusar, dia duduk sambil meremas rambutnya, kepalanya terasa berat dan pusing, akhirnya keluarga Nina tahu mereka sedang bermasalah, sebentar lagi pasti orang tuanya juga akan tahu soal ini.


Ronald tak bisa konsentrasi, dia mengambil kunci mobil dan menuju rumah mertuanya hendak menjemput istrinya. Apapun yang terjadi dia harus membawa Nina pulang kembali ke rumahnya.


**********

__ADS_1


__ADS_2