
Hendra menceritakan kedatangan Wijaya Kesuma ke kantornya pada istrinya saat sedang berdua di rumah.
"Mah, kita bakalan mantu lagi nih," ucap Hendra saat berduaan di kamar.
"Hah, mantu ... maksud Papa apa nih?" mama Nina masih bingung, selama ini anaknya tidak menceritakan sedang dekat dengan seseorang dengannya.
"Mama inget pak Wijaya yang datang di pembukaan resto barunya Nina nggak, terus ketemu sama anaknya Ronald itu lo Mah," Hendra mengingatkan tentang Ronald.
"Iya inget, sama dia?" mama Nina heran.
"Ya begitulah," papa Nina tersenyum senang.
"Kog bisa Pah, kan mereka baru kenalnya?" mama Nina semakin penasaran.
"Pak Wijaya suka sama Nina, jadi sengaja kita atur mereka biar ketemu di Singapur, rupanya Ronald gerak cepat dan Ninanya mau Mah, asal kita setuju," ucap Hendra sangat bersemangat.
"Papa yakin?" mama Nina masih ragu setelah apa yang dialami anaknya dengan pernikahannya yang dulu.
"Kalau ku lihat sih anaknya baik, ya Papa pun asal Nina mau Mah. Papa kasihan lihat dia sendirian terus,"
"Iya sih Pah, nah kalau gitu kita telpon Ninanya sekarang Pah,"
Mama Nina bangkit dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Nina menggunakan video call. Dia mulai melakukan panggilan video call pada Nina, beberapa kali sambungan panggilan Nina baru menjawab.
"Hai Mah ...!!" sapa Nina, dia sedang sibuk di dapur apartemen milik Ronald.
"Kamu lagin ngapain, kamu masak ya?" mama Nina heran melihat anaknya sedang memasak.
"Malam Tante," Ronald tiba-tiba menyapa dan terlihat ikut membantu Nina.
"Ronald ..., apa kalian sudah tinggal berdua?" mama Nina terkejut ada Ronald bersama Nina.
"Kami lagi masak aja Tante di apartemen Ronald," Ronald jadi salah tingkah.
"Ronald ..., Nina ...!! Mamah gak mau tahu pokoknya kalian harus pulang ke Jakarta dan cepat menikah, Mama gak suka ya kalian udah tidur bareng-bareng tanpa ikatan kayak gitu. Nina ... kamu dengar apa kata Mamah kan!!" mama Nina merasa kesal melihat Nina sudah berani tinggal berdua dengan Ronald.
"Mama salah paham nih, Nina gak tinggal di sini kog Mah," Nina mencoba menjelaskan pada mamanya.
"Pokoknya Mama mau kalian nikah secepatnya. Titik!!" mama Nina terlihat marah.
"Ah sudah ... sudah ... Mama ini apa sih, Nina Ronald kalian bisa pulang dulu kan buat meresmikan hubungan kalian, kalau sudah menikah kalian bebas mau ngapa-ngapain, biar papa yang urus surat-suratnya di sini, nanti saat kalian datang tinggal nikahnya saja," Hendra mencoba menengahi.
"Iya Pah, minggu depan Nina pulang Pah, Mah jangan marah gitu dong Mah," Nina merayu mamanya agar tidak marah lagi kepadanya.
"Pulanglah Nin, dan cepatlah kalian menikah. Mama merestui kalian berdua," mama Nina mulai mencair, matanya berkaca-kaca melihat senyum dibibir Nina.
"Trimakasih Tante, Om ..." Ronald ikut menyahut.
"Ingat Ronald, kalian belum menikah ya!!" mama Nina kembali mengingatkan Ronald.
"Iya Tante, Ronald janji akan jagain Nina," Ronald tersenyum bahagia mendapat restu dari orang tua Nina.
Papa dan mama Nina juga tersenyum lega, akhirnya Nina sudah menemukan pelabuhan hatinya.
__ADS_1
********
Hendra dan Wijaya Kesuma langsung menyiapkan berkas-berkas untuk mendaftrakan pernikahan anak mereka, yang akan berlangsung hari jum'at minggu ini.
"Hend apa nggak kecepatan, nanti pestanya gimana, mana ada WO yang mau ngurus acara secepat ini?" Wijaya Kesuma mendadak pusing mikirin pesta untuk anaknya.
"Kita akad sederhana saja Pak, anak-anak udah tinggal bareng di sana, nanti takut keburu hamil duluan," ucap Hendra.
"Hah ..., ha ha bagus dong kita bakalan cepet punya cucu," Wijaya malah senang mendengar Ronald dan Nina sudah tinggal bersama.
"Karena itu makanya mamanya Nina minta agar pernikahannya dicepetin, biar gak kepikiran lagi," balas Hendra serius.
"Ya sudahlah kamu atur saja, biar aku siapin mas kawinnya,"
Keluarga Nina dan keluarga Ronald sudah mengatur acara perninakahan anak mereka, untuk bagian konsumsi sudah diurus oleh Adit dan Ratih, mereka ikut senang mengetahui sahabat mereka akan menikah lagi.
Dua hari sebelum hari akad Nina dan Ronald pulang ke Jakarta bersama. Adit juga sudah bersiap menjemput kedatangan mereka berdua.
"Kamu siap Sayang, dua hari lagi kamu sudah menjadi Nyonya Ronald?" tanya Ronald saat mereka di dalam pesawat menuju Jakarta.
"Aku siap menjadi istrimu sampai akhir hayatku," Nina tersenyum dan menatap yakin pada calon suaminya.
Ronald mengecup tangan Nina dengan penuh kasih sayang, dan menggenggamnya sampai pesawat mereka tiba di Jakarta.
Sesampainya di Jakarta Adit sudah menunggu mereka berdua, Adit langsung mengantar Nina dan Ronald untuk fiting baju pengantin karna waktu mereka hanya tinggal dua hari lagi.
Ronald sangat kagum melihat Nina dalam balutan kebaya pengantin mewah berwarna gold, dia begitu anggun dan sangat rupawan, membuat matanya tak mau berpaling pada wanita lain.
"Kamu sangat cantik menggunakan kebaya itu, walau tanpa riasan aku semakin menyukaimu," Ronald mencubit pipi Nina pelan, Nina tersenyum memandang Ronald.
******
"Anak Mama sudah datang," sapa mama Nina, menyambut Nina yang baru datang.
Di rumah Nina sudah berkumpul papa dan mamanya, ada Ratih, Dian dan juga mamanya, juga ada Tomi papanya Fatih. Nina sedikit canggung saat menyalami mantan mertuanya.
"Selamat ya Sayang, oh ya Fatih titip salam, dia senang kamu sudah menemukan pendamping lagi," ucap Tomi sambil membelai kepala Nina.
"Trimakasih Om, apa kabar Fatih di Australi?" tanya Nina pada Tomi.
"Bulan depan dia pulang menghadiri acara Om," Tomi terlihat malu-malu.
"Om mau bikin acara apa?" Nina malah penasaran.
"Bentar lagi om Tomi jadi bapakku Nin," Dian nyeletuk, di ikuti tawa semua orang yang di ruangan itu.
"Wah beneran Om?" Nina menatap tak percaya. Tomi mengangguk dan tersenyum terlihat binar bahagia dimatanya.
"Nina ikut senang ya Om, Nina usahain akan datang kalau Om menikah," ucap Nina sambil memeluk Tomi.
"Kamu harus datang dong, Om marah kalau kamu gak pulang untuk acara penting Om!!"
Mereka benar-benar berbahagia sekarang, Nina akan menikah denga Ronald, Tomi juga sudah menemukan pendamping hidupnya, sedangkan Fatih juga sedang bahagia menikmati pekerjaannya di Australia.
__ADS_1
**********
Nina sedang di make up di kamarnya, di bawah para pekerja menyusun makanan dan juga kursi untuk persiapan akad nikah pagi ini. Mama Nina dan papanya juga sudah bersiap-siap di kamarnya.
"Mah cek dulu Nina, sudah sarapan apa belum nanti kelaparan pas acara kan gak lucu, Papa mau ngecek ke bawah sebentar lagi keluarga Wijaya akan datang," Hendra mulai turun dan memgecek persiapan acara.
Penghulu yang akan menikahkan Nina juga sudah datang, Adit dan Ratih mengatur tamu undangan yang hanya di hadiri keluarga dan hanya teman dekat saja.
Mobil rombongan keluarga Ronald juga sudah tiba, disambut oleh Adit dan juga Hendra, mereka menempati tempat khusus keluarga pengantin, barang seserahan juga langsung disusun di tempat yang sudah disediakan. Ronald terlihat sangat gagah dan semakin ganteng dengan baju pengantinnya, matanya tak sabar ingin segera melihat wajah calon istrinya.
"Nin, tadi kamu udah sarapan kan Nak?" tanya mama Nina saat sudah di kamar Nina.
"Udah Mah," jawab Nina, dia terlihat gugup.
"Ini sudah siap ya Mbak?" tanya mama Nina pada sang perias.
"Sudah Bu, Mbak Nina sudah siap untuk acara," ucap perias sambil merapikan sanggul di kepala Nina.
"Ayok kita turun Sayang, sebentar lagi acara dimulai, kamu sudah siap kan Nak?" mama Nina membimbing anaknya.
"Mah ..., doain Nina semoga ini yang terakhir ya," mata Nina berkaca-kaca.
"Doa mama selalu untukmu Sayang, jangan nangis nanti luntur bedaknya,"
Mama Nina memeluk anaknya agar Nina merasa tenang, mereka berdua turun dan bersiap melakukan ijab kabul. Ronald sudah duduk di depan penghulu, Nina di antar mamanya untuk duduk di sebelah Ronald. Ronald tersenyum bahagia melihat pengantin wanitanya semakin cantik dengan riasan di wajahnya.
"Baik, apa sudah bisa dimulai acaranya Bapak, Ibu?" tanya penghulu pada keluarga Nina dan Ronald.
"Langsung saja Pak," jawab Hendra mempersilahkan.
Acarapun segera dimulai, semua yang hadir terlihat sangat khidmat mengikuti prosesi ijab kabul pernikahan Nina dan Ronald.
"Saudara Ronald Kesuma bin Wijaya Kesuma, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Karenina Aludya binti Hendra sudrajat dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat, TUNAI," ucap sang penghulu sambil menyalami tangan Ronald.
"Saya terima nikahnya Karenina Aludya binti Hendra sudrajat dengan mas kawin satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Ronald lancar dengan hanya satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, apakah sah?" tanya penghulu.
"SAH!!" para undangan dan keluarga yang menyaksikan menyahut bersamaan, ketegangan mereka pun langsung berganti dengan tawa lega.
Penghulu melanjutkan acara dengan pemakaian cincin dan seserahan, dilanjutkan dengan penandatanganan surat nikah dan penyerahan surat nikah pada mempelai, serta nasehat pernikahan dan doa. Terakhir acara sungkeman dan foto bersama keluarga lalu makan-makan.
Ronald dan Nina terlihat sangat bahagia, demikian juga kedua keluarga mempelai. Papa Ronald yang paling bersemangat melihat anak lelakinya sudah resmi beristri.
"Kasih Papa cucu yang banyak ya Nin, jangan pakai KB- KBan," bisik Wijaya Kesuma pada Nina sambil tertawa.
"Papa sudah request cucu duluan," Nina terlihat malu-malu pada mertuanya.
"Ya soalnya keluarga kita ini kecil, Ronald cuma berdua kamu juga anak tunggal, pokoknya Papa pingin rumah Papa penuh sama cucu-cucu dari kalian," tegas Wijaya Kesuma pada mantunya.
"Papah mulai deh, gak tahu tempat ngomongnya," Ronald tak ingin papanya terus mengganggu istrinya.
Semua berbahagia saat itu, kecuali sesosok mahluk yang sedari tadi memperhatikan Nina dengan pandangan cemburu, matanya menatap tajam kearah Nina dia kesal tapi tak berdaya merebut Nina dari Ronald suaminya.
__ADS_1
Siapa dia, kalian pasti tahu kan siapa dia?
***************