
Pulang ke apartemen, Nina memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan frezer, dia juga memasak masakan sederhana untuk mereka berdua, selesai masak Nina menumpang mandi di apartemen Ronald.
"Aku boleh mandi di sini, badanku lengket semua?" pamit Nina.
"Boleh, sini kunci apartemenmu biar ku ambilin baju buat ganti, emang kamu gak mau ganti baju?" pinta Ronald.
"Ok ini, trimakasih ya," Nina menyerahkan kunci apartemen miliknya.
"Apa nih yang mau diambilin?" tanya Ronald.
"Ya kaos sama celana gitu, dalaman juga buat ganti," ucap Nina.
"Ok," Ronald keluar menuju ke apartemen Nina.
Dia memasuki kamar Nina dan menuju ke lemari baju, mengambil kaos dan celana, melihat ada rok Ronald tak jadi mengambil celana dan menukarnya dengan rok, dia mencari dalaman Nina, ternyata ada di laci bagian bawah, dia mengambil satu set dengan bra, matanya melihat baju tidur sexy milik Nina, Ronald tersenyum dan mengambil satu, tak lupa juga membawakan handuk buat Nina.
Saat memilih baju tiba-tiba terasa bulu kuduknya merinding, udara di kamar Nina terasa sangat berbeda, Ronald menoleh ke belakang karna merasa seperti ada yang memperhatikan gerak-geriknya.
"Aneh kamar ini, ada setannya apa ya, si*lan!!" umpat Ronald.
Brakk ...
Botol hand body Nina jatuh sendiri, membuat Ronald meloncat kaget.
"Eh set*n jam segini malah ngajak bercanda, gue gak takut," Ronald berbicara sendiri melihat kesekeliling kamar Nina.
Klontang ... klontang ...!!
Semakin menjadi, segala sesuatu di dapur berbunyi seperti ada orang sedang membanting-banting barang, Ronald cepat-cepat keluar dari apartemen Nina dan kembali ke apartemennya, dia terus mengumpat di dalam hatinya sepanjang jalan.
Sesampainya di apartemen miliknya, Ronald mengetok pintu kamar mandinya untuk menyerahkan baju dan handuk ganti buat Nina.
"Nin, ini baju gantinya," ucap Ronald.
"Taruh di washtafel aja," jawab Nina.
Ronald menaruh handuk dan baju tidur juga celana dalam kaos sama rok dan bra sengaja dia sembunyikan, dia tersenyum nakal dan menyembunyikan baju Nina.
Selesai mandi Nina mau memakai baju dia kaget melihat apa yang diambilkan oleh Ronald. Dia menggerutu melihat Ronald hanya memberinya baju tidur dan celana dalam saja.
"Mana bajunya, masa ambil baju cuma yang ini?" Nina keluar dengan memakai baju tidurnya, Ronald yang sedang membuka laptop pura-pura tidak melihat.
__ADS_1
"Ron ...!!" panggil Nina kesal karna tak di hiraukan.
"Apa, bentar ini lagi ngecek laporan kantor di Jakarta," Ronald masih serius menatap laptopnya.
"Lihat aku!" teriak Nina, Ronald menoleh ke arah Nina dan tersenyum lebar.
"Hmm cantik kog," ucap Ronald sambil kembali mengetik sesuatu di laptopnya.
"Ishh ... laki-laki ini memang gak bisa disuruh, disuruh ngambil apa dapatnya malah apa," Nina menggerutu dan menuju meja makan, menyiapkan masakan yang tadi sudah dia masak.
Ronald tertawa di dalam hatinya, diapun segera mandi agar badannya segar setelah berjalan seharian, selesai mandi dia hanya mengenakan kaus kutang dan celana pendeknya. Nina tak berani menatap tubuh Ronald dan pura-pura tak melihat.
"Baju kotormu mana, sini biar aku cuci sekalian?" tanya Ronald.
"Tuh," menunjuk kantung kresek di pojok dapur.
Ronald mengambil baju kotor milik Nina dan memasukkan ke dalam mesin cucinya, setelah menghidupkan mesin cuci dia menemui Nina yang sudah menunggunya di meja makan, mencuci tangannya dan mengambil tempat duduk di depan Nina.
Nina mengambilkan makan buat Ronald, mereka sudah seperti sepasang suami istri yang sedang bercengkrama bersama. Ronald memakan sup ayam buatan Nina, hatinya berbunga-bunga menikmati setiap suapan di mulutnya, Nina bukan hanya cantik ternyata juga bisa memasak.
"Kamu pinter masak ya, masakan kamu enak, bisa gendut kalau tiap hari dimasakin kayak gini," ucap Ronald disela-sela makan.
"Aku bisa masak sejak di Singapur, kalau lagi libur aku belajar masak sambil nonton di chanel memasak tv lokal, di sini masakannya simpel bumbunya, tinggal geprek-geprek rebus udah deh, kalau masakan yang full rempah aku belum bisa,"
"Biar nanti kalau kamu pulang ke Jakarta pak Wijaya senang lihat tubuhmu padat berisi," ucap Nina sambil melirik Ronald.
Ronald melihat badannya sendiri, yang memang kurus lalu menertawakan dirinya sendiri. Nina ikut-ikutan tertawa melihat tingkah Ronald yang lucu.
"Tapi aku gantengkan, banyak yang bilang aku kayak artis korea lo Nin," Ronald memuji dirinya sendiri, Nina hanya tersenyum tak menanggapi, dia memuji ketampanan pria di depannya dalam hati.
Selesai makan, Ronald mengemasi piring dan membantu Nina mencuci piring dan peralatan dapur, setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Nina yang masih mengelap meja terkejut saat Ronald sudah berdiri di belakang tubuhnya hendak memakaikan sesuatu padanya.
"Apa ini?" tanya Nina melihat Ronald memasangkan kalung ke lehernya.
"Tadi aku lihat kalung lucu ini, jadi aku sengaja beli buat kamu," Ronald menarik Nina ke kamarnya dan mengajak berkaca.
Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati dan permata putih berkilau saat terkena pantulan cahaya, Nina yakin itu berlian dari kilatan permatanya saat terkena cahaya lampu.
"Ini kan mahal, aku kurang suka memakai perhiasan, takut kena jambret," ucap Nina sambil meraba liontin didadanya.
__ADS_1
"Ah ini kan kecil gak terlalu mencolok kalau di pakai juga ketutup sama baju," ucap Ronald yang masih berdiri di belakang Nina dan memegang pundaknya.
Ronald memperhatikan tubuh Nina di pantulan kaca, wajah yang cantik tanpa polesan make up semakin manis dengan kalung kecil dileher jenjangnya. Menyadari tubuhnya dipandangi oleh Ronald, Nina langsung melepaskan diri dan berjalan keluar menuju sofa.
"Trimakasih ya hadiahnya," ucap Nina sambil berlalu.
Ronald tersenyum melihat Nina meninggalkannya, dia lalu pergi mengecek mesin cuci yang sudah berhenti beroprasi, Ronald memindahkan baju ke mesin pengering, lalu menemui Nina yang sedang duduk menonton tv.
"Nin, kamu gak serem ya tinggal di apartemenmu itu?" Ronald teringat pengalamannya saat masuk ke apartemen Nina.
"Nggak tuh biasa saja, kenapa memangnya?" tanya Nina heran.
"Auranya gak enak banget tadi, kenapa kita nggak tinggal bareng saja, di sini kamar ada tiga kamu bisa pilih yang kamu suka," ucap Ronald.
"Ah itu maunya kamu aja Ron, biar aku tinggal di sini sama kamu kan?" Nina tertawa geli.
"Nggak suer deh, ngapain sih aku mau begitu. Walaupun aku suka sama kamu aku juga tidak akan melakukan hal yang belum boleh dilakukan sebelum kita menikah," ucap Ronald.
"Emang kamu mau menikahiku?" tanya Nina.
"Apa kurang jelas signal dariku, hanya tinggal menunggu kamu bilang iya saja," Ronald memandang Nina dengan tatapan penuh arti.
"Aku minder karna aku ..., kamu tahu kan?" Nina terdiam.
"Janda? apaan sih emang janda itu sesuatu yang buruk, Nin ... menikahlah denganku," Ronald mendekati Nina dan menggenggam tangannya.
Nina menatap mata Ronald yang begitu serius dengan ucapannya, Nina juga sudah bosan hidup sendirian hanya berteman dengan Rekso pria yang hanya hadir di dalam imajinasinya.
"Bisa beri aku waktu untuk berfikir," ucap Nona lirih.
"Aku akan menunggumu walau seribu tahun lagi," Ronald membelai rambut Nina dengan senyuman hangat.
"Gombalan garing seribu tahun, gak nyampe dua bulan paling kamu udah kawin sama orang," Nina tertawa demikian juga Ronald.
Malam ini Nina tidur di apartemen Ronald, dia menempati salah satu kamar yang kosong di apartemen milik Ronald, Nina berangkat tidur lebih dulu karna sudah mengantuk, Ronald masih bekerja dengan laptopnya, mengurus kantor dari jauh lumayan menyita waktu malamnya.
Pukul 24.00 Ronald baru menyelesaikan pekerjaannya, diapun ingin beristirahat dan membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya, dia gelisah membolak-balikkan tubuhnya karna tak bisa tidur, laki-laki kalau ada perempuan serumah pasti nggak bakalan bisa tidur.
Ronald mengambil selimut dari lemari dan menuju ke kamar Nina, Nina sudah terlelap dalam tidurnya. Ronald pelan-pelan berbaring disisi Nina dan memasang selimut, pungungnya menyentuh punggung Nina terasa begitu hangat hingga membuatnya merasa nyaman dan mulai mengantuk.
Ternyata punya pasangan itu sangat menyenangkan Ronald membathin, diapun terlelap dan terbuai dalam mimpi, mimpi indah menjadi sepasang suami istri yang bahagia, menua hidup bersama dengan Nina.
__ADS_1
********