
Nina menggerakkan netranya dengan perlahan, senyum wanita tua yang sangat dia kenal menyambutnya saat kesadarannya sudah kembali pulih.
"Mbah ...," panggil Nina lirih.
"Kamu kenapa Nduk?" tanya mbah Darmi.
"Tadi Nina pusing terus tiba-tiba gelap, Nina nggak inget apa-apa lagi, Dayat mana?" Nina berusaha bangun.
"Dayat kembali ke kantornya, tadi ijin sebentar jemput kamu," jawab mbah Darmi.
"Tadi Dayat jemput aku sama siapa Mbah?" Nina penasaran.
"Oh itu nak Erick, temennya Dayat," ucap mbah Darmi.
Nina tercekat tadi itu benar-benar Erick, kenapa dunia begitu sempit buat Nina, niat menghindari Ronald malah bertemu dengan Erick, bukannya tenang malah mengorek luka lama.
'Nina kuat Nina, kamu harus kuat, Erick tidak mengingatmu, anggap saja dia orang lain yang baru kamu kenal,' Nina perang bathin.
"Pindah ke kamar sana Nduk istirahat, kamu udah makan?" tanya mbah Darmi melihat Nina masih lemas.
"Belum mbah," ucap Nina, dia memang belum makan dari pagi hanya minum air mineral.
"Pantesan, makan dulu baru istirahat," mbah Darmi masuk ke dalam mengambil makan buat Nina.
"Nina shalat dulu Mbah," Nina mengikuti mbah Darmi untuk mengambil wudhu di belakang, setelah itu dia shalat dengan meminjam mukena milik mbah Darmi.
"Ya Allah rahasia apa ini sebenarnya, kenapa aku harus bertemu dia di sini, berikanlah aku jalan terbaik dari setiap masalah hidupku dan berikan aku ketegaran menghadapi semua ini, Aamiin," Nina berdoa, tidak ada lagi tempat buatnya mengadu selain pada Rab-nya.
"Hai Rick tunggu sebentar ya, Mbah mentognya udah mateng?" terdengar suara Dayat di luar.
'Rick!!! Dayat bawa Erick lagi, ya Tuhan aki bisa kena serangan jantung kalau kaya gini,' Nina membathin di dalam kamarnya.
Tok ... tok ...
"Mbak makan yuk," suara Dayat sudah di depan pintu kamar Nina.
"Mmm ... aku belum lapar," Nina berbohong.
"Orang belum makan kog belum lapar ini lo, Mbak lagi puasa apa gimana, udah batal tuh kan tadi habis pingsan," Dayat masih menunggu di depan pintu.
'Oh pinging ku acak-acak kepala anak ini, dia nggak tahu aku lagi menghindari Erick,' Nina menggerutu di dalam hati.
Klek!!!
Pintu kamar terbuka dan wajah Nina keluar dengan senyum yang sangat terpaksa, Dayat menyambutnya dengan senyum senang.
"Yuk ...!!" Dayat menggandeng tangan Nina ke ruang tamu.
Kaki Nina terasa berat untuk melangkah, Nina tahu pasti Dayat mau ngenalin dia sama Erick, kalau bisa lari rasanya Nina ingin lari menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Nah Rick tadi kalian kan belum kenalan, keburu Mbak ku pingsan, jadi sekarang ku kenalin," ucap Dayat saat di ruang tamu.
Erick terpana melihat wajah Nina, Nina tidak mau memandang wajah Erick dia hanya memandang sekilas dengan senyuman sangat terpaksa.
"Mbak ini temanku Erick, tadi yang jemput di bandara," ucap Dayat tanpa mengerti bagaimana isi hati Nina yang sebenarnya.
"Hai ..., trimakasih udah jemput aku mmm ...," Nina ragu mau menyebut nama Erick.
"Erick!!" Erick sudah berdiri di depan Nina dan mengulurkan tangan.
Nina memandang tangan Erick, dan tak menyambut jabatan tangannya.
"Maaf aku ada wudhu nanti batal. Aku kebelakang ya," Nina langsung melangkah ke ruang makan.
Dayat dan Erick saling pandang dan berjalan mengikuti di belakang Nina, Nina yang merasa di ikuti langsung berhenti dan berbalik badan.
"Kalian mau kemana?" tanya Nina heran.
"Makan!!!" keduanya menjawab bersamaan.
"Kita kan emang mau makan bareng, habis makan kita pergi antar mbak Nina beli baju, mumpung ada sopir nganggur he he ...," Dayat dengan santai mendahului Nina ke meja makan.
Nina terhenyak memikirkan akan makan bersama dengan Erick, Erick tetap menunggu Nina yang tak bergerak, setelah sekian detik dia sadar kalau Erick menunggunya berjalan.
'Ah si*l ... si*l ..., apa lagi ini,' Nina melangkah sambil mengumpat dalam hati, sementara Erick berjalan di belakangnya.
Nina mengambil tempat duduk di ikuti Erick yang sengaja duduk di depannya, Erick seperti magnet yang selalu mendekati Nina, sedangkan Dayat sudah mulai mengambil makan di piringnya.
'Kamu pasti bisa Nina,' kata bathin Nina.
Ketiganya makan dengan tenang, Nina tidak berani mengangkat wajahnya dia hanya menunduk menatap piringnya, sedangkan Erick sesekali mencuri pandang pada Nina, Dayat hanya senyum-senyum memperhatikan tingkah Erick yang terpesona pada Nina.
Setelah makan Dayat mengajak Nina belanja baju ke mall, dengan berat hati Nina berangkat diantar oleh Erick.
"Mmm memangnya mas Erick gak sibuk ya?" tanya Nina basa-basi.
"Tenang aja Mbak, kalau dulu dia kerja sama orang sekarang sudah milik sendiri jadi ya suka-suka Bos dong, ya nggak Erick?" Dayat yang duduk di depan menyenggol lengan Erick yang sedang menyetir.
"Ah kamu bisa aja Dayat," Erick terlihat malu-malu.
"Usaha apa?" tanya Nina penasaran.
"Bimbel," ucap Erick.
Nina melihat wajah Erick dari pantulan kaca spion, tiba-tiba Erick juga memandang ke arah yang sama, dengan cepat Nina membuang wajahnya ke samping melihat ke arah lain. Erick tersenyum dia tahu Nina tadi sedang memperhatikan wajahnya.
'Galak sih tapi cakep, nggak tahu kenapa wajahnya enak banget di pandang walaupun jutek orangnya,' Erick membathin.
Erick memarkir mobil di parkiran mall, setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mall, Nina mulai memilih beberapa baju dan membeli mukena serta alqur'an.
__ADS_1
Erick memperhatikan setiap gerak-gerik Nina selama di mall, saat mereka melewati toko gamis Erick mengajak Nina masuk ke toko itu.
"Kenapa kamu gak nyoba pakai gamis, pasti kamu terlihat lebih anggun," ucap Erick.
"Gamis? aku belum pernah pakai yang kayak gitu, nanti ke pijak-pijak aku jatuh," ucap Nina sambil melihat beberapa gamis di patung manekin.
"Belum dicoba ya mana tahu, coba yang ini cakep deh," Erick mengambil satu dan menyuruh Nina mencobanya.
Nina memandang gamis di tangan Erick, Dayat juga mendukung pendapat Erick agar Nina mencoba dulu. Nina akhirnya menurut dan masuk ke ruang ganti.
"Subhanallah ...," ucap Erick saat Nina keluar dengan mengenakan gamis.
"Gimana Yat?" tanya Nina pada Dayat.
"Udah kayak ughtie Mbak, uayuu pooll," ucap Dayat sambil ngacungin dua jempolnya.
"Nah sama ini cocok," Erick memberi jilbab panjang dengan warna senada dengan gamis.
"Aku pakai jilbab, mmm ... nanti dulu deh Rick," Nina ragu-ragu untuk memakai jilbab dengan model panjang begitu, biasanya dia hanya memakai pashmina buat dicantolin di kepalanya
"Beli aja dulu, makenya kapan-kapan," ucap Erick.
Nina menyambar jilbab di tangan Erick dan langsung pergi ke kasir, dia tak mau berlama-lama di tempat itu.
Suara adzan maghrib berkumandang, Erick mengajak Nina dan Dayat ke mushala untuk shalat, Nina teringat akan masa lalu bagaimana Erick selalu mengingatkannya untuk shalat.
Nina shalat sambil meneteskan air mata, seandainya Ronald mau bersama-sama melakukan ibadah seperti ini pasti mereka akan damai dalam rumah tangganya, sayangnya Ronald tidak mau melakukan shalat.
Nina menghapus air matanya sebelum keluar menemui dua pria yang sudah mengantarnya, Erick dan Dayat sudah menunggunya di luar mushala.
"Ayo pulang," ajak Nina.
"Masih sore Mbak, mbok ya jalan-jalan dulu," ucap Dayat.
"Aku capek Yat, pingin istirahat," ucap Nina.
"Iya mending hari ini istirahat dulu, besok kan kita bisa jalan lagi," sambung Erick membela Nina.
Erick mengantar pulang Nina dan Dayat, sesampainya di rumah Nina langsung memasuki kamarnya, tak lupa dia mengucapkan trimakasih pada Erick sebelum masuk ke kamar.
"Yat kayaknya Mbakmu gak suk sama aku, dia jutek banget ya, apa memang dia seperti itu?" tanya Erick pada Dayat.
"Dia itu ramah banget biasanya, cuma kata bu dhe lagi punya masalah berat dan mau menenangkan diri di sini, bu dhe nyuruh aku bikin hati mbak Nina seneng gak bolh sedih," ucap Dayat.
"Oh gitu ...," Erick manggut-manggut.
"Kamu naksir ya ..., hayoo ngaku!!" Dayat menggoda Erick yang terlihat tersipu.
"A --, aku pulang dulu ya," Erick berpamitan pada Dayat, dia tak mau Dayat terus-terusan menggodanya.
__ADS_1
Erick tak tahu apakah dia naksir pada Nina, yang jelas dia ingin mengenal Nina lebih dekat. Sedangkan Nina dia merasa tersiksa kalau terus-terusan berdekatan dengan Erick. Nina berharap Erick tidak datang lagi ke rumah itu agar dia tidak mengingat masa lalunya.
********