
Erick baru saja menerima gaji pertamanya dia ingin mengajak Nina jalan-jalan, hari itu kebetulan hari libur kuliah.
"Nin jalan yuk, gue habis gajian nih," Erick menelpon Nina.
"Mmm boleh tapi kamu ke rumahku ya, ada mama papaku di rumah, kamu berani minta ijin nggak hi hi," jawab Nina.
"Ya berani dong, mama papamu masih makan nasi kan?"
"Maksudnya?" Nina nggak ngerti maksud pertanyaan Erick.
"Ya kalau masih sama-sama makan nasi gue berani, kecuali kalau makannya beling gue mundur ha ha."
"Eh lo kira orang tua gue kuda lumping apa yak. Gak sopan sama calon mertua." Nina pura-pura marah.
"Sorry sorry bercanda aja gak boleh. Eh tapi mama papamu udah tahu belum soal kita?"
"Mama udah, papaku belum ya siap-siap aja nanti di tanyain macem-macem sama papaku anggap aja lagi sidang skripsi."
"Hmm bismillah sajalah. Kalau nggak boleh anaknya bakalan ku culik ha ha."
"Ok aku mandi dulu ya." pamit Nina.
"Ok bye."
Erick menutup telponnya, dia kemudian menelpon Adit sahabatnya agar ikut bersamanya ke rumah Nina.
"Yee lu yang pacaran ngapain gue ikut. Ogah mending gue ngapelin Ratih." kata Adit.
"Ya sama Ratih lah, jadi kita jalan berempat gue juga gak mau dua-duaan sama Nina takut khilaf ha ha." balas Erick.
"Oh gitu, ok kalau gitu aku telpon Ratih ya nanti kita jumpa di jalan aja Rick."
"Ok. Thanks ya Sob." ucap Erick mengakhiri telponnya.
Nina mendatangi mamanya yang sedang di ruang keluarga bersama papanya, sebelum Erick datang dia akan memberitahu orang tuanya lebih dulu.
"Mah Nina mau jalan-jalan boleh?"
"Boleh. Sama siapa?" tanya mama Nina.
"Mmm sama Erick Mah," jawab Nina malu-malu.
"Siapa tuh Erick?" papa Nina baru mendengar nama Erick, selama ini cuma mendengar nama-nama teman perempuan Nina.
"Pacarnya Nina lah Pah." mama Nina yang menjawab.
"Hah pacar?" papa Nina mulai berubah wajahnya.
"Anakmu sudah besar, Papa pikir Nina masih anak kecil, bentar lagi kita bakalan punya mantu."
Mama Nina berusaha membuat suaminya agar mengerti, Nina menunduk takut papanya marah padanya.
__ADS_1
"Ya Papa tahu, Papa kaget aja sih tiba-tiba dia punya pacar. Suruh ketemu Papa dulu nanti anaknya."
"Yah Papa, pasti mau di kerjain deh nanti kabur anaknya," Nina takut papanya ngerjain Erick.
"Ya Papa harus tes dulu dong, layak tidak dia jadi pacar kamu. Kalau gak layak ya Papa nggak setuju." papa Nina membela diri.
"Ah udah-udah Nina yang jalanin, kita orang tua nggak usah terlalu ngatur, yang penting Nina tahu mana yang baik dan yang buruk buat dia." mama Nina membela anaknya.
"Yah Mama, Papa mau balas juga dong dulu jaman Papa mau bawa Mama juga disidang dulu sama papamu."
"Itu tahun berapa Pah, sekarang mau model kayak gitu gak kawin-kawin anakmu nanti."
"Hmmm udahlah Nina mandi dulu, kalian kalau mau berantem, berantem aja situ."
Ucapan Nina membuat ke dua orang tuanya berhenti saling serang akhirnya mereka bertiga tertawa. Nina beranjak ke kamar untuk menyiapkan dirinya.
**********************
ting... tong...
Suara bel rumah Nina berbunyi, bibik datang membukakan pintu pagar setelah mengintip siapa tamu yang datang.
"Temen mbak Nina ya?" tanya bibik.
"Iya Bik, Ninanya ada?" jawab Ratih basa-basi.
"Ada Non, masuk aja ke rumah nanti Bibik panggilin."
Erick, Adit dan Ratih masuk ke dalam rumah Nina dan menunggu di ruang tamu. Mama Nina datang menemui mereka.
"Saya Adit Tante. Kog Tante malah kenal sama Erick sih? padahal saya teman Nina dari SMA lo Tante," Adit angkat bicara.
"Oh ya, kamu gak pernah main kesini sih. Kalau Erick Tante pernah lihat di hpnya Nina,"
Mama Nina tertawa ramah, Erick jadi tersipu malu mendengar mama Nina bicara seperti itu.
"Mmm Tante, Erick mau ngajak Nina jalan ya." pamit Erick.
"Boleh, kalian mau jalan kemana?" tanya mama Nina.
"Palingan kita nonton tante." sambung Ratih.
"Boleh, mmm kalian naik motor?" mama Nina lagi melihat ada motor di halaman rumahnya.
"Iya Tante bolehkan Nina saya ajak naik motor?" sambung Erick.
"Boleh-boleh saja asal jangan ngebut-ngebut, hati-hati di jalan ya." ucap mama Nina.
Erick lega ternyata orang tua Nina tidak segarang seperti yang dia pikirkan. Nina sudah turun dan menemui teman-temannya.
"Yuk jalan!" ajak Nina.
__ADS_1
"Nin pamit Papa sana!" ucap mama Nina.
"Ok mah." Nina kembali ke ruang keluarga menemui papanya.
"Pah Nina jalan dulu ya." sambil tangannya menengadah minta uang.
"Ok hati-hati. Apa itu?" tanya papa Nina.
"Duit lah, masak nggak dikasih duit sih."
"Ye mana ada jalan sama pacar bawa duit sendiri." jawab papanya.
"Papaaaa!!!"
"Hmm rugi dah kalau begini Papa."
Papa Nina akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkan pada Nina. Nina langsung mencium pipi papanya dan berlari ke ruang tamu.
"Yuk jalan. Bye Mah." pamit Nina.
"Hati-hati ya." ucap mama Nina.
Nina dan Erick berboncengan, sementara Adit bersama dengan Ratih. Mereka berempat jalan ke mall untuk menonton film.
Mereka memilih menonton film horor, Erick yang membeli tiket dia sengaja mengambil tempat duduk paling belakang selain nyaman nonton juga lebih enak, sedangkan Nina membeli popcorn dan minuman untuk cemilan sambil nonton.
Selama menonton Erick merasa ada yang lain bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, seperti ada sesuatu di antara dia dan Nina. Erick melirik pada Nina yang begitu fokus pada layar bioskop.
Erick menahan nafas dan membaca ayat qursi setelah selesai dia meniup ke dua tangannya dan mengusap ke seluruh badannya. Perlahan hawa aneh itupun menghilang.
"Kamu kenapa?" Nina ternyata memperhatikan sikap Erick.
"Hah..., gue gak biasa pake AC kedingjnan, biasa pake kipas angin he he," Erick berbohong pada Nina.
Nina tertawa mendengar alasan Erick, ternyata pacarnya ini lucu juga bathin Nina.
"Jangan-jangan ini pertama kalinya lu nonton film lagi?" tanya Nina dijawab anggukan sama Erick.
"Tau gitu gak usah nonton tadi."
"Ya kalau gak nonton mau ngapain, muterin mall?" tanya Erick.
"Ya kan bisa kita nongkrong dimana gitu," balas Nina.
"Ok next time kita gak usah nonton ya."
Selesai nonton mereka berempat makan dulu sebelum pulang, kali ini Adit yang bagian membayar makanannya.
"Trimakasih ya Rick udah bawa gue jalan," ucap Nina saat mereka jalan pulang.
"Gue yang trimakasih, karna kamu mau jalan biarpun naik motor."
__ADS_1
Nina memeluk dan menyandarkan kepalanya di punggung Erick, Erick menjadi salah tingkah sementara Nina dia asik menikmati padatnya jalan raya sambil di bonceng Erick. Enak juga ternyata dibonceng naik motor bathin Nina.
*****************