
Adit sudah mempersiapkan Reuni kecil untuk teman-teman SMA-nya, karena berbagai kesibukan dari para alumni hanya 30 orang saja yang bisa hadir diacara itu, sesuai kesepakatan akhirnya acara diadakan di restoran milik Nina yang dikelola oleh Adit.
"Nin hari minggu ini kita jadi reuni ya, gak banyak yang datang cuma 30 orang saja," ucap Adit saat bertemu dengan Nina di kantornya.
"Ok. Wah seneng banget nih aku pasti akan datang, thanks ya Dit," ucap Nina, sambil berpamitan.
Nina akan mengunjungi kantor Ronald diantar oleh pak Tomo, dia membawakan makan siang untuk suaminya dari rumah hasil masakannya sendiri.
"Pak Tomo gak usah ditungguin ya, nanti Nina pulangnya bareng suami aja, pak Tomo ke kantor mamah aja," ucap Nina sebelum turun dari mobil.
"Baik Non, pak Tomo jalan dulu ya," pamit pak Tomo supir Nina.
"Ok. Trimakasih Pak," Nina keluar dari mobil dan melenggang ke kantor Ronald.
Di dalam kantornya Ronald sedang menerima tamu yaitu Bastian, Bastian yang sudah lama tidak menemui Ronald dia memberanikan diri untuk kembali menjumpai Ronald.
"Kurasa dipertemuan kita yang terakhir sudah jelas Bastian, aku tidak ingin bertemu kamu lagi!!" ucap Ronald dengan nada tidak suka.
"Ok Ron, aku cuma mau meminta maaf kepadamu, aku khilaf kukira setelah sekian lama kita bersama kita punya rasa yang sama," Bastian memohon pada Ronald.
"Kita beda, aku normal Bas, dan sekarang aku punya istri kamu sudah tahu kan?" Ronald kembali menegaskan ucapannya.
"Apa kita tidak bisa berteman lagi?" Bastian masih mengharap.
"Berteman seperti apa, setelah semua itu pasti rasanya sangat berbeda," ucap Ronald dengan wajah sinis.
Telpon kantor di meja Ronald berdering, Ronald menghentikan pembicaraannya dan segera mengangkat telpon.
"Ya!" ucap Ronald.
"Ada ibu Pak," ucap sekretaris Ronald disambungan telpon.
"Suruh langsung masuk saja, aku tidak sibuk kog," Ronald kembali meletakkan gagang telpon.
tok ..., tok ...
Suara pintu diketok dari luar, dan Nina masuk dengan membawa rantang makanan buat Ronald, senyumnya mengembang melihat suaminya sedang bersama tamunya.
"Maaf nih kalau udah ganggu," ucap Nina sambil meletakkan rantang di meja Ronald.
"Ini istrimu? cantik sekali. Bastian sahabat Ronald," Bastian mengulurkan tangan menyalami Nina.
"Nggak ganggu, dia juga udah mau pergi kog," ucap Ronald sambil menatap tajam pada Bastian agar segera pergi.
"Hai, aku Nina ..., wah aku baru tahu kalau Ronald punya sahabat," Nina menyalami Bastian dengan senang.
"Mungkin aku sahabat yang terlupakan he he," Bastian tertawa sambil melirik Ronald.
"Jangan buru-buru pergi, aku bawa makan siang nih, makan siang bareng yuk Bas," ajak Nina.
Ronald menatap Bastian agar pergi dari kantornya, tapi Bastian malah berakrab ria dengan Nina.
"Wah ini toh rahasia yang bikin body Ronald sekarang makin berisi," Bastian mengedipkan matanya pada Ronald.
Ronald menghela nafas menahan rasa kesalnya. Nina tersenyum dan membuka rantang yang dia bawa lalu menyiapkan makan untuk Ronald dan Bastian.
"Ah bisa saja, yuk dimakan," Nina menyuapi suaminya.
Bastian mengambil bagiannya dan mulai menyuap ke mulutnya, dia pun memuji kepintaran Nina memasak.
"Kamu punya saudara wanita gak Nin?" tanya Bastian.
"Aku ..., aku gak punya saudara kebetulan aku anak tunggal. Ada apa?" tanya Nina heran.
"Ya buat aku, mana tahu ada stok satu lagi seperti kamu," ucap Bastian sambil tertawa.
"Uhuk ...!!" Ronald tersedak mendengar ucapan Bastian. Nina dengan cepat mengambilkan minum buat suaminya.
"Kamu belum merid?" tanya Nina.
"Belum, pacar aja belum punya. Kagak laku gue he he," Bastian kembali terkekeh.
__ADS_1
"Masa orang ganteng gak punya pacar?" ucap Nina sambil tersenyum.
"Hmm dia itu gak doyan sama perempuan Sayang," Ronald sudah tak tahan lagi dengan basa-basi Bastian.
"Hah ...!!" Nina bingung dan juga tak percaya ucapan Ronald.
"Ah kata siapa, kalau ketemu yang cantik dan pinter kayak istrimu aku juga pasti tertarik kog," goda Bastian.
"Jadi karna lihat Nina kamu auto lakik ya," Ronald menatap Bastian dengan tajam.
"Ah kamu sensian gitu aja cemburu, Nin aku senang sekali ketemu kamu, bisa menikmati masakanmu, kapan-kapan undang aku ke rumahmu ya. Ok Ron aku cabut dulu ya thanks for your time Dude!" Bastian berpamitan, dia menyalami Nina sebelum pergi dari ruangan Ronald dan melirik nakal pada Ronald.
Nina kembali mengemas rantang makanannya dan bergayut manja duduk di pangkuan Ronald.
"Kog gak nelpon kalau mau ke sini Sayang?" tanya Ronald sambil memeluk mesra istrinya.
"Ya kupikir sekali-sekali ngasih kamu kejutan, habisnya suntuk di rumah terus. Tadi aku ngecek restoran di tempat Adit, oh ya minggu ini ada reuni temen SMA, aku boleh datang kan?" Nina meminta ijin pada Ronald.
"Hmm ... pasti ada mantan juga yang datang kan?" Ronald merengut.
"Pacar apaan, aku SMA nggak pacaran, dulu mah gila KPop sama drakor, lagian mama juga nggak ngijinin aku pacaran," Nina gemas melihat suaminya yang mulai cemburu.
"Bener gak ada mantan?" Ronald masih tak percaya.
"Tanya aja sama Adit, dia yang kenal aku dari SMA," terang Nina.
"Ok Sayang, boleh tapi aku nggak bisa nemenin ya, papa ngajakin main golf hari minggu, sudah lama kami gak main bareng," ucap Ronald.
"Trimakasih, aku nungguin kamu ya soalnya pak Tomo langsung ku suruh balik," Nina pindah duduk di sofa agar suaminya bisa bekerja.
"Ok, bentar lagi aku meeting, habis itu kita bisa pergi dari sini," ucap Ronald, dia mempersiapkan berkas-berkas untuk meetingnya.
Nina menunggu di ruangan Ronald sambil chatingan di grup bersama Ratih dan kawan-kawan sambil menunggu suaminya selesai meeting.
*******
Nina sudah bersiap menghadiri Reuni di restorannya, sementara Ronald sudah berangkat dari pagi bersama papanya untuk bermain golf, Nina masih menunggu pak Tomo datang menjemputnya.
Acara sudah dimulai Nina agak terlambat datang keacara, sehingga tidak ikut acara sambutan. Nina disambut oleh Adit dan mulai berkeliling menemui temannya satu persatu.
"Nin ..., kamu masih inget sama aku nggak?" sapa seorang wanita yang juga salah satu alumni sekolah SMA Nina.
"Hmmm, duh siapa ya aku kog lupa, maaf," Nina menyalami dan mencoba mengingat-ingat siapa yang menyapanya.
"Aku Nabila, yang dulu duduk paling belakang. Inget nggak?" wanita yang bernama Nabila itu mencoba mengingatkan Nina.
"Bila, yang dulu pakai kaca mata kan?" Nina mulai mengingat.
"Yup, betul," ucap Nabila girang, dia menarik Nina agar duduk bersamanya.
"Wah kamu berubah ya, makanya aku sampai gak kenal," ucap Nina, dia pun bergabung duduk dengan Nabila.
Mereka berdua tertawa dan bercerita mengenang masa-masa memakai seragam putih abu-abu, di mana dulu keduanya sama-sama culun dan kutu buku. Nabila dulu juga kurang bergaul, dia lebih banyak menyendiri hanya Nina yang sering mengajaknya berbicara.
Setelah selesai makan, Nabila mengagumi kesuksesan bisnis Nina, Adit sudah banyak bercerita tentang Nina pada Nabila, saat tahu reuni akan diadakan di restoran milik Nina, Nabila yang tadinya tidak akan datang jadi tertarik untuk hadir.
"Nin, aku senang melihat kamu sudah jadi wanita sukses," ucap Nabila memuji Nina.
"Ah ini karna usaha Adit sama calon istrinya, mereka yang bikin usahaku tambah maju," Nina memuji Adit dan Ratih yang sudah berjasa mengurus bisnisnya.
"Mmm maaf nih Nin, kalau urusan rumah tanggamu bagaimana, kamu baik-baik saja kan?" tiba-tiba Nabila menyinggung kehidupan pribadi Nina.
"Hah ..., itu ... aku baik-baik saja kog, kalau kamu sendiri bagaimana Bila?" Nina balik bertanya.
Mata Nabila memandangi ke kursi di sebelah Nina, membuat Nina menoleh ke arah sampingnya, tidak ada siapa-siapa di sana, seolah Nabila sedang melihat sesuatu.
"Kalau aku ngomong sesuatu kamu tersinggung gak kira-kira, aku takut kamu tersinggung dan menganggapku gila," ucap Nabila sambil melirik di samping Nina.
"Soal apa Bila?" Nina heran dengan sikap Nabila padanya.
"Kamu sadar nggak kalau kamu sedang bersama mahluk lain?" tanya Nabila hati-hati, Nina semakin tidak mengerti apa maksud Nabila.
__ADS_1
"Mahluk lain apa Bil, kamu jangan bikin gue penasaran deh?" Nina mengernyitkan keningnya.
"Ya dia selalu bersamamu, sekarang dia duduk di sampingmu?" Nabila memandang ke kursi di sebelah Nina.
Nina kembali melihat ke sampingnya dan tidak ada siapa-siapa di sana. Nina semakin penasaran dengan ucapan Nabila.
"Maksudmu hantu gitu?" Nina mencoba menerka.
"Dia sebangsa jin laki-laki, kamu pernah nggak mimpi ketemu laki-laki gitu Nin?" Nabila kembali bertanya.
Nina terdiam, apa yang di maksud oleh Nabila itu Rekso? Nabila bisa melihat mahluk lain. Nina berbicara dalam hatinya.
"Kamu bisa lihat sesuatu yang tidak bisa di lihat manusia biasa Bil?" tanya Nina.
"Ya, bisa dibilang aku indigo, makanya dulu jaman sekolah aku suka menyendiri, ya karna itu," Nabila menjelaskan kelebihannya bisa melihat mahluk astral.
"Dia seperti apa?" tanya Nina penasaran.
"Aku melihat bentuk aslinya Nina, tentunya manusia biasa akan takut kalau melihatnya, tapi karna aku sudah terbiasa ketemu dengan yang lebih horor dari ini, buatku dia biasa saja," terang Nabila sambil memperhatikan bentuk Rekso dalam wujud aslinya.
"Kamu bisa bicara dengannya?" Nina semakin ingin tahu akan sosok yang berada di sampingnya.
"Bisa, aku sedang berbicara dengannya, dia menyukaimu sepertinya sudah lama kalian berhubungan. Makanya aku bertanya bagaimana rumah tanggamu, karna biasanya mahluk ini tidak membiarkan orang yang disukainya dimiliki orang lain," Nabila mencoba menjelaskan agar Nina mengerti.
"Tapi aku hanya bertemu dengannya lewat mimpi Bila, dan setelah aku menikah dengan Ronald dia tidak pernah datang lagi," ucap Nina sambil mengingat pertemuan terakhir dengan Rekso.
"Kamu yakin, dia bisa menipu matamu Nina, dia hadir dengan bentuk yang pasti membuatmu sangat menyukainya, dia bahkan bisa meniru rupa seseorang," ucap Nabila.
Nina mencoba mencerna ucapan Nabila, dia mencoba mengingat-ingat, kalau memang benar ucapan Nabila seperti itu apa benar kegagalan rumah tangganya juga akibat ulah Rekso.
"Apa aku bisa melihat wujud aslinya Bila, aku penasaran seperti apa dia itu?"Nina memohon agar bisa melihat wujud asli Rekso.
"Kamu yakin gak takut kalau melihat bentuk aslinya?" Nabila takut Nina tidak kuat melihat tampang asli dari mahluk yang sudah mengikutinya.
Rekso menatap tajam pada Nabila, dia merasa Nabila sudah mulai ikut campur dengan urusannya, perang bathin antara Rekso dan Nabila pun di mulai.
"Hei ... anak manusia, kamu jangan mengganggu urusanku, aku tidak pernah mengganggumu!!" Rekso melotot dengan matanya yang merah menyala seperti kobaran api.
"Kamu mengganggu bangsaku, dia kawan baikku, kenapa kamu tidak mencari wanita dari kaummu saja hah ...!!" Nabila membentak Rekso, tentu saja tanpa sepengetahuan Nina karna Nabila berbicara lewat mata bathin.
"Dia menyukaiku, aku menyukainya, kami saling menyukai," Rekso membusungkan dadanya.
"Kamu menipunya," ucap Nabila.
"KAMU MAU MENGUSIRKU ? HA ... HA ... HA ...!!!!" suara tawa Rekso menggelegar.
"Sudah waktunya kamu meninggalkannya dan kembali ke alammu!!" ucap Nabila dengan sorot mata tajam.
"COBA SAJA KALAU KAMU SANGGUP!!" Rekso mengancam Nabila.
Nabila tersenyum sinis dan kembali memandang Nina yang sedang bengong menunggu dia berbicara kepadanya.
"Aku akan membuka matamu Nina, kamu harus mengusirnya sendiri, karna hanya kamu yang bisa mengusirnya, selama kamu masih membiarkan dia bersamamu, hidupmu akan terus di ganggu oleh dia," Nabila melepaskan kalung dari lehernya dan menyerahkan pada Nina.
"Ini apa?" Nina mengamati kalung pemberian Nabila.
"Pakailah, saat dia mendatangimu kamu akan melihat wujud aslinya, ku harap kamu tidak takut saat melihatnya," Nabila memakaikan kalung di leher Nina.
"Apa dia masih di sini?" tanya Nina sembari melihat ke sampingnya.
"Masih," balas Nabila.
"Kog aku tidak bisa melihatnya," Nina masih bingung dengan semua ini.
"Karna dia sedang tidak ingin kamu lihat. Jangan kau lepaskan kalung itu," Nabila mewanti-wanti Nina untuk tetap menjaga kalung itu terpasang di lehernya.
Hari semakin sore, satu persatu teman-teman Nina berpamitan, termasuk Nabila mereka saling bertukar nomor telepon dan juga membuat grup WA untuk para alumni.
Hari ini sungguh menyenangkan buat Nina, Adit mengantarkan Nina pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya Nina langsung memasuki kamarnya, Ronald masih belum pulang dari bermain golf bersama papanya
Selesai mandi Nina pergi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk suaminya di bantu oleh ke dua asistennya, walaupun sudah mempunyai asisten Nina tetap menyiapkan lauk buat Ronald seperti saat mereka masih di Singapura.
__ADS_1
***********