Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Kembalinya Erick


__ADS_3

Sementara Erick di dunia komanya. Dia masih berusaha melepaskan ikatan tangannya.


"Kemana mahluk sialan itu," Erick menggerutu sendirian.


"Hei !!! mahluk tengik kemana kau?!" panggil Erick.


"Lepaskan aku, ayo lawan aku dengan jantan!!" tantang Erick.


Tidak ada sahutan hanya suaranya sendiri menggema di ruangan itu. Ruangan persegi bercat putih tanpa pintu, Erick berfikir bagaimana caranya keluar dari ruangan itu kalau berhasil melepas ikatan tangannya.


Ruangan itu tak berpintu, tak ada celah sedikitpun untuknya keluar. Kadang Erick mendengar suara-suara seperti suara ibunya memanggilnya, namun hanya suara tanpa wujud.


"Erick bangunlah Nak," suara ibu Erick terdengar sayup-sayup.


"Ibu... Ibu!!! ibu dimana bu?!" Erick memanggil ibunya.


"Erick kembalilah pada Ibu Nak!"


"Ibuu...!!! Ibu...!!!" Erick berteriak agar ibunya mendengar suaranya.


Ruangan yang tadinya putih bersih seketika menjadi gelap, asap hitam menyeruak di dalam ruangan itu. Asap itu menggulung-gulung dan membentuk mahluk tinggi besar menyeramkan.


"HUA HA HA HA... APA KABAR MANUSIA LEMAH?!"


Suara sapaan yang menggelegar memekakkan telinga. Erick menahan sakit saat mahluk itu berbicara.


"Kamu! lepaskan aku mahluk jelek!!" Erick berteriak.


"MELEPASMU? DAN KAU AKAN MENGGANGGU MILIKKU LAGI!"


"Aku tidak pernah mengganggu milikmu," ucap Erick. Erick tidak tahu apa yang dimaksud oleh mahluk itu.


"AKU AKAN MELEPASMU DENGAN SATU SYARAT!!"


"Apa?!" tanya Erick.


"JANGAN KAU DEKATI CINTAKU, MENJAUHLAH DARI HIDUPNYA. APA KAU SANGGUP?!"


"Untuk apa aku mendekati milik mahluk sejelek kamu," ucap Erick, dia tidak tahu kalau yang dimaksud mahluk itu adalah Nina kekasihnya.


"BERARTI KAMU BERSEDIA, MELUPAKANNYA?!"


"Lepaskan aku!!"


"AKU AKAN MELEPASMU, SETELAH MEMBUANG INGATANMU!!"


Mahluk itu berubah menjadi asap tebal yang menggulung-gulung, mengelilingi kepala Erick. Erick menjerit menahan sakit yang luar biasa, kepalanya seperti dipukul dengan palu raksasa.


"HENTIKAAAANNNN!!!!" jerit Erick tak tahan lagi.


Perlahan asap hitam itu memudar dan menghilang, Erick tersungkur di lantai yang dingin, tangannya sudah tidak terikat lagi. Perlahan tubuhnya seperti tersedot angin, dia melayang dan berputar-putar di udara, dan sesuatu mendorongnya menghempaskan tubuhnya, tubuh Erick melayang jatuh dia merasa terjun puluhan mill ke bawah dan merasa kali ini akan benar-benar mati.


Erick tersentak tubuhnya terasa sakit semua dan merasa sangat dingin, perlahan dia membuka matanya, matanya mengerjap silau terkena lampu ruangan. Ehsan yang sedang menunggunya terkejut melihat kakaknya membuka mata.


"Kak... Kak Erick! Suster... Suster kakakku membuka mata!!"


Ehsan berlari keluar memberi tahu pada petugas tentang kakaknya, beberapa suster datang berlarian ke ruangan Erick.

__ADS_1


"Tunggu di luar ya Mas, kita tunggu dokter periksa dulu."


Ehsan menunggu di luar ruangan dengan cemas, dokter yang merawat Erick datang dan masuk ke dalam ruangan. Ehsan segera mengabari ibunya kalau Erick sudah sadar.


"Bu, Kak Erick bangun Bu!!" ucap Ehsan di telpon.


"Hah beneran Erick bangun, Alhamdulillah ibu akan kesana sebentar lagi."


Ibu Erick bergegas ke rumah sakit menemui anaknya. Suster memanggil Ehsan agar masuk ke dalam ruangan lagi. Ehsan melihat Erick masih tertidur seperti sebelumnya.


"Bagaimana Dok, apa Kakakku sudah sadar?" tanya Ehsan.


"Kakak anda tadi sudah sadar, tapi demi kesehatannya kami berikan dia penenang dulu, karna kepalanya masih terasa sakit. Nanti kita observasi ulang ya, apakah harus operasi atau cukup perawatan trauma saja." terang dokter pada Ehsan.


"Jadi apa kakakku sudah tidak koma lagi Dok?"


"Saudara Erick sudah sadar, tapi sepertinya mengalami amnesia butuh waktu untuk membuatnya ingat kembali, tapi kita belum pastikan apakah dia lupa semuanya atau hanya sebagian saja. Kita tunggu sampai benar-benar dia siap untuk berbicara,"


"Trimakasih Dok,"


"Baiklah saya akan datang lagi nanti ya, selamat siang." dokter meninggalkan Ehsan bersama Erick.


Ehsan memandang kakaknya yang masih tertidur, dia senang Erick sudah sadar dari komanya. Sesaat kemudian ibu Erick sudah masuk ke ruangan dan melihat Erick masih tertidur seperti biasanya.


"Bagaimana Kakakmu?" tanya ibu Erick.


"Kak Erick sudah sadar dari komanya Bu, tapi masih belum pulih, masih harus menjalani beberapa perawatan."


"Alhamdulillah ya Allah anakku sudah kembali, kamu kabarin Nina dulu San!"


"Jangan dulu Buk, biar Kakak benar-benar sehat baru kita kabarin. Dokter bilang Kakak mengalami amnesia."


"Ehsan juga belum tahu Bu, dokter suruh tunggu katanya."


"Ya sudah kamu pulang saja, gantian ibu yang jagain kakakmu sekarang."


"Baik Bu, Ehsan pulang dulu ya."


Ehsan meninggalkan ibu dan Erick untuk pulang, setiap hari mereka selalu bergantian menjaga Erick di rumah sakit.


Ibu Erick mendekati anaknya yang terbaring, dia merasa lega anaknya sudah sadar dari koma. Dua bulan ini sungguh perjuangan yang sangat berat menunggu Erick sadar dari komanya.


"Ibu senang kamu sudah kembali Nak," bisik ibu Erick sambil memegang tangan Erick.


Erick menggerakkan tangannya, perlahan dia membuka matanya dan melihat wajah sendu ibunya.


"Ibu..." sapa Erick lirih.


"Rick.. kamu ingat ibu Nak?"


"Erick kenapa Bu?" tanya Erick.


"Sudah kamu jangan banyak bicara dulu ya, kamu habis jatuh dan koma Nak."


Erick mencoba mengingat tapi tak ada satupun yang bisa membuatnya ingat akan kecelakaan yang menimpanya.


"Erick tidak ingat Bu,"

__ADS_1


"Nggak usah kamu ingat-ingat lagi, yang penting kamu sudah sadar ibu sangat senang, kamu cepat sehat ya biar kita bisa pulang ke rumah."


Erick mengangguk dia benar-benar tidak ingat apa yang sudah dia alami, ibu Erick membelai lembut kepala anaknya.


Erick kembali memejamkan matanya, terlalu banyak hal yang tidak dia mengerti saat ini. Dia cuma ingin cepat sehat dan segera pulang ke rumahnya berkumpul dengan keluarganya lagi.


***************


Setelah melalui beberapa pemeriksaan dokter mengijinkan Erick untuk pulang dan menjalani rawat jalan serta teraphi untuk mengembalikan sebagian memorinya yang hilang.


Erick beristirahat di kamarnya dia sudah rindu dengan suasana kamarnya, karna sudah terlalu lama dia berada di rumah sakit. Erick membuka jendela kamarnya membiarkan udara masuk, dia termangu di jendela ada sesuatu yang hilang dari hatinya, tapi dia tidak tahu tentang apa, hatinya begitu kosong dan sepi, saat di rumah sakit dia berfikir itu perasaan rindu akan rumahnya, tapi setelah di rumah perasaan itu ternyata masih ada.


"Kak...!" Ehsan masuk ke kamar kakaknya.


Erick membalikkan badannya melihat Ehsan yang datang menemuinya.


"Ini hp Kakak, selama Kakak sakit Ehsan yang pegang, mungkin Kakak ingin menghubungi seseorang," Ehsan menyodorkan hand phone Erick.


Erick menerima dan memperhatikan hand phonenya, dia ingin menghubungi seseorang tapi tak tahu mau menghubungi siapa. Erick termangu memandang benda pipih itu.


"Kakak sama sekali tidak ingat apapun?" tanya Ehsan.


Erick menggeleng dia hanya ingat dengan keluarganya lain dari itu dia tidak ingat, Erick hanya mengingat masa sebelum dia kuliah sedangkan memori masa kuliah dan kecelakaan sama sekali dia tidak ingat.


"Ceritakanlah tentang Kakak sebelum musibah itu," pinta Erick pada Ehsan.


"Mmm bagaimana ya Kak, tentunya Ehsan juga kurang tahu soal itu, yang Ehsan tahu setelah lulus SMA kakak kuliah dan kehidupan kakak disana Ehsan tidak tahu. Yang Ehsan tahu kakak punya pacar cantik namanya Nina."


Ehsan mulai bercerita tentang Nina sebatas yang dia tahu selama menunggui kakaknya di Jakarta.


"Nina, aku punya pacar?" tanya Erick tak percaya.


"Iya Kakak punya pacar namanya Nina, dia sangat sedih waktu Kakak kami bawa pulang. Cobalah bicara dengannya Kak, ada nomornya disitu," Ehsan menyuruh Erick menghubungi Nina.


Erick memeriksa contack nomor di hand phonenya, nama Nina tersimpan disana. Dia mengecek foto profil Nina di aplikasi hijau. Wajah ayu yang tidak dia kenal sama sekali.


"Nina..., inikah Nina pacarku?" bathin Erick bertanya-tanya.


Dia tak percaya mempunyai pacar secantik Nina. Apa yang harus dia lakukan, menghubunginya tapi mau bicara apa dengan gadis itu. Sedikitpun wajah ayu itu tak terekam di memori ingatannya.


"Ini Nina?" tanya Erick sambil menunjukkan foto profil Nina pada Ehsan.


"Iya, itu Kak Nina. Kakak tidak ingat?" tanya Ehsan.


Erick menggeleng seandainya ada setitik saja dia mengingat wajah itu, tapi sama sekali dia tidak mengenali Nina. Nina bagai orang asing yang tidak pernah berjumpa dengannya sekalipun.


"Kakak sabar aja nanti juga bakalan inget lama-lama," Ehsan berusaha menghibur kakaknya.


"Hmm mungkin saja," Erick mendesah.


"Ehsan belum mengabari kak Nina tentang kesembuhan Kakak, apa perlu Ehsan kabarin kak Nina Kak?"


"Jangan, jangan dulu aku belum siap bertemu dengannya. Aku... aku tidak tahu harus bagaimana semua terasa asing bagiku."


"Baiklah Kak, terserah Kakak saja. Kak Erick baiknya istirahat saja jangan dipaksakan untuk mengingat masa lalu."


Erick mengangguk dan membaringkan tubuhnya di ranjang, matanya menerawang kosong, sungguh tidak nyaman saat terbangung dari tidur dan tidak mengingat apa yang terjadi hari kemarin. Erick merasa hidupnya sangat hampa dan kosong.

__ADS_1


******************


__ADS_2