
Ronald sedang membaca berita melalui ponselnya di dalam kamar sambil duduk di kursi roda menghadap ke jendela, menikmati semilir angin yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya.
Nina sedang berada di dapur bersama mbah Darmi, rumah mbah Darmi menjadi rame sejak kedatangan anak dan juga cucunya, Pratiwi juga sudah datang bersama Hendra, mereka sedang berkeliling kampung untuk menikmati suasana desa, sambil berkunjung ke rumah beberapa sanak saudaranya yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
Pulang dari jalan-jalan Pratiwi duduk di teras melepaskan lelah, sedangkan Hendra pergi ke belakang untuk mandi, deru suara motor memasuki halaman rumah mbah Darmi, Pratiwi melihat ke arah motor yang memasuki halaman rumah milik ibunya.
"Er -- rick!!" Pratiwi hampir saja menjerit saat melihat seorang pria yang datang ke rumah itu.
"Sore Tante," sapa Erick pada Pratiwi dengan ramah, tanpa menyadari keterkejutan di wajah Pratiwi melihat kehadirannya.
Pratiwii masih shock melihat sosok Erick yang berdiri di depannya, dia tak menjawab sapaan Erick padanya. Nina muncul dan menyapa Erick dengan biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Pratiwi menatap Nina dan Erick yang berbincang akrab bak seorang sahabat bergantian, mulutnya ternganga saking herannya dia merasa tidak mengerti dengan semua ini, Nina menyadari keterkejutan mamanya dengan cepat Nina mengalihkan pembicaraannya dengan Erick.
"Mah Nina tadi lagi goreng ayam kelupaan, tunggu bentar ya Rick kamu duduk dulu di sini," ucap Nina sambil menarik tangan mamanya masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Pratiwi langsung menginterogasi Nina tentang Erick , dia bingung dan penasaran kenapa ada Erick di kota ini dan mereka terlihat begitu akrab.
"Nina kenapa dia bisa ada di tempat ini?" tanya Pratiwi pada Nina.
"Mah ceritanya panjang, Erick masih tidak mengenaliku Mah," jawab Nina meyakinkan mamanya yang mendadak terlihat cemas.
"Bagaimana kalau dia ingat, dan bagaimana kalau Ronald tahu hal ini," ucap Pratiwi setengah berbisik, takut Ronald mendengar ucapannya.
Ternyata Ronald memang mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu dari balik kamarnya, Ronald penasaran siapa Erick sebenarnya selama ini dia tidak pernah mendengar sedikitpun tentang Erik di masa lalu Nina, Ronald menajamkan telinganya mencoba mencari informasi dari pembicaraan Nina dengan mamanya.
"Mah, Nina sudah tidak ada perasaan apa-apa sama Erick, Nina hanya mencintai Ronald sampai akhir hayat Nina," ucap Nina tegas.
Ronald yang mendengar ucapan Nina merasa terharu dan meneteskan air matanya, dia sangat menyesal selama ini tidak membahagiakan Nina saat dia masih sehat, bahkan dia pernah menghianati Nina tanpa sebab.
Ronald menghapus air matanya dan keluar dari kamar membuat Nina dan mamanya seketika menghentikan percakapannya, Ronald pura-pura tidak mendengar apa yang Nina bicarakan dengan mamanya.
"Mau kemana Sayang?" tanya Nina, saat melihat Ronald keluar dari kamar dengan kursi rodanya.
Ronald memakai kursi roda otomatis agar tidak terlalu merepotkan Nina yang sedang hamil, dia masih bisa menggerakkan bagian kiri tubuhnya, hanya bagian kanan tubuhnya yang tidak berfungsi.
"Aku mau keluar, bosan di kamar dari tadi," ucap Ronald sambil menjalankan kursi rodanya.
"Ada Erick di luar kalian bisa ngobrol berdua, aku bikinin minum dulu ya," ucap Nina.
Ronald mengangguk, Nina mengantar Ronald menemui Erick di teras depan, kemudian dia masuk ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka berdua.
"Hai Ron, apa kabar?" sapa Erick saat melihat Ronald keluar.
"Hai Rick aku senang kamu datang," ucap Ronald dengan senyum bersahabat.
"Oh ya Ron, ku dengar kalian mau cari rumah di sini, kebetulan orang tua salah satu muridku mau pindah jadi rumahnya mau di jual, apa kalian mau melihatnya?" tanya Erick.
"Hmm boleh juga Rick, bawa aku ke sana sekarang, sekalian aku ingin jalan berdua sama kamu," ucap Ronald.
__ADS_1
"Sama Nina juga?" tanya Erick.
"Nggak usah, kita berdua saja," tegas Ronald.
Nina datang dengan membawakan dua cangkir kopi untuk Ronald dan Erick, Ronald membicarakan rencana keluarnya dengan Nina.
"Sayang aku mau jalan-jalan sama Erick boleh nggak?" pamit Ronald pada istrinya.
"Jalan berdua?" Nina mengernyitkan keningnya, dia merasa heran suaminya ingin pergi berdua dengan Erick saja.
"Iya, aku ingin keliling kota sama Erick berdua saja, bolehkan?" tanya Ronald lagi.
"Oh boleh, pergilah Sayang kuharap kalian bersenang-senang, Rick titip Ronald ya," Nina memandang Erick dengan tatapan memohon.
"Siap, akan ku jaga dengan nyawaku tuan Putri," ucap Erick sambil tangannya menghormat pada Nina.
Ronald dan Nina tertawa bersama melihat tingkah Erick yang lucu, Erick juga tertawa melihat Nina dan Ronald yang menertawakannya.
"Bentar aku ambilkan kunci mobil ya Rick," ucap Nina, dia bergegas mengambil kunci mobil di dalam rumah lalu kembali dan menyerahkan pada Erick.
Setelah meminum kopinya mereka berangkat, Erick membantu Ronald masuk ke dalam mobil, dan membawa Ronald ke rumah yang sudah dia ceritakan pada Ronald.
Sepanjang jalan Ronald banyak bertanya tentang Erick, dari mana dia berasal sejak kapan dia di Semarang, Ronald ingin tahu apakah Erick pernah mempunyai hubungan khusus dengan Nina.
Namun sebatas yang Erick ingat dia hanya menceritakan bagaimana dia bisa berada di Semarang dan bagaimana bisa dekat dengan keluarga Nina. Pembicaraan mereka berhenti saat mereka tiba di rumah yang Erick ceritakan.
Erick dan Ronald turun dari mobil dan menemui pemilik rumah, Erick membantu Ronald duduk di kursi rodanya, setelah itu Ronald mengoperasikan sendiri kursi rodanya.
"Jadi Bapak mau lepas berapa?" tanya Ronald pada sang pemilik rumah.
"Ini sebenarnya pasaran 1 M Pak, Bapak bisa lihat luas tanahnya, tapi biar jadi saya lepas 800 juta Pak, sudah lama saya mau menjual rumah ini tapi ya uang segitu mungkin orang berat mau beli, ini karna untuk orang tua kami yang sedang sakit Pak," terang pria sang pemilik rumah, terlihat raut sedih di wajah pria itu.
"Baiklah saya beli 1M karna Bapak sangat butuh uang untuk orang tua Bapak," ucap Ronald dengan santai.
"Hah ..., Bapak mau beli 1M!!" pria itu terbelalak dan melongo mendengar ucapan Ronald, Ronald mengangguk meyakinkan.
"Ya Allah gusti, mimpi apa saya semalam, ya Allah berilah Bapak ini rejeki melimpah dan umur yang panjang, Pak trimakasih Pak," Pria itu menangis tersedu, bahagia dan juga haru tumpah ruah menjadi satu.
Erick yang menyaksikan pemandangan itu ikut terharu, Nina tidak salah memilih suami, Ronald orang yang baik dia bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Ronald. Diam-diam Erick merasa minder bersanding dengan Ronald.
"Rick tolong bantu urus ya, aku ingin rumah ini atas nama Nina, ini hadiah terakhir dariku buatnya, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menemaninya dengan kondisiku seperti ini," ucap Ronald lirih.
"Ngomong apa kamu Ronald, kamu harus tetap semangat dong, kamu kan mau punya jagoan," ucap Erick, hatinya bergetar saat Ronald tiba-tiba bicara seperti itu.
"Saya DP dulu 100 juta ya Pak, sisanya saya lunasi setelah tanda tangan di notaris, nanti sahabat saya ini yang akan mengurus semuanya," ucap Ronald pada pemilik rumah.
"Trimakasih pak Ronald, saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak pada keluarga kami, saya doakan pak Ronald kembali sehat ya Pak," ucap sang pemilik rumah.
Ronald hanya membalas dengan senyuman, Erick dan Ronald berpamitan dan pergi dari rumah itu. Mereka kembali berjalan-jalan berkeliling kota, Erick mengajak Ronald ke pantai sambil menunggu datangnya sore.
__ADS_1
Ronald kembali mengorek masa lalu Erick, dia masih penasaran dengan apa yang dia dengar saat Nina membicarakan tentang Erick dengan mamanya tadi.
"Rick kamu pernah di Jakarta?" tanya Ronald saat mereka sudah berada di pantai.
"Mmm pernah, tapi aku tidak ingat masa itu," Erick mendesah dia mencoba merangkai puzel ingatan di otaknya namun tetap tak bisa terangkai.
"Kenapa?" Ronald penasaran.
"Aku habis kecelakaan dan aku tidak ingat apa-apa Ron, sama sekali aku tidak ingat masa laluku," ucap Erick penuh sesal.
Sedikit demi sedikit Ronald mencoba mencocokkan puzle kisah Erick dan Nina, bisa jadi dulu Erick dan Nina pernah saling mengenal dan ada sesuatu di antara mereka, Ronald memutar otaknya mencoba merangkai dan mencari kebenaran.
"Apa kamu dan Nina ...?" Ronald menghentikan ucapannya, dia memandang Erick.
Wajah Erick berubah dia curiga Ronald juga tahu masa lalunya tentang dia dan Nina, apakah Ronald akan membencinya Erick merasa serba salah, dia pun menggeleng karna sesungguhnya dia bingung dengan masa lalunya.
"Andai aku bisa mengingatnya, apa kamu akan marah jika aku tunjukkan sesuatu padamu?" tanya Erick, matanya menatap mata Ronald.
"Apa itu, untuk apa aku marah padamu, aku hanya pria lemah kamu dorong aku masuk ke jurangpun aku tidak akan bisa melawanmu," ucap Ronald.
Erick mengeluarkan dompet dari saku celananya, dia mengeluarkan foto dari dalam dompetnya lalu menyerahkan pada Ronald, Ronald mengamati dua orang yang berada di dalam foto itu, nampak Erick dan Nina tersenyum sangat bahagia.
"Apa?" Ronald bertanya-tanya pada Erick.
Erick mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, dia mulai bercerita bagaimana dia mengetahui tentang foto itu, dan dia juga baru tahu siapa Nina di masa lalunya, namun sayangnya dia tidak mengingat sedikitpun tentang Nina.
Ronald menatap lautan lepas yang membentang di depannya, ternyata benar dugaannya kalau Erick adalah bagian dari masa lalunya Nina, keduanya kini terdiam larut dalam fikiran mereka masing-masing.
Erick larut dalam pikirannya yang seperti benang kusut susah untuk diuraikan dan menemukan ujungnya, sedangkan Ronald juga bergelut dengan perasaannya yang juga tak kalah ruwet memikirkan keadaannya sendiri.
"Bolehkah aku minta sesuatu padamu Rick?" tiba-tiba Ronald memecah keheningan di antara mereka.
"Apa itu Ron, apa kamu ingin aku menjauhi Nina?" tanya Erick, dia merasa Ronald pasti saat ini sedang membencinya.
Ronald tersenyum dan memegang tangan Erick, dia menatap tajam mata pria di depannya, Erick tiba-tiba merasa bergetar hatinya.
"Maukah kamu menjaga Nina untukku," ucap Ronald memohon.
"Apa maksudmu?" Erick tak percaya mendengar ucapan Ronald.
"Aku tidak bisa membuatnya bahagia Rick, lihatlah kondisiku sekarang, aku ingin kamu membahagiakan Nina untukku, aku yakin kamu sangat mencintai Nina seperti cintaku padanya," Ronald terisak, hatinya benar-benar rapuh, ketegarannya selama ini karena dia tak mau melihat Nina bersedih.
Erick hatinya merasa terenyuh, dia tidak menyangka Ronald akan seperti ini, dua pria yang tengah mencintai wanita yang sama, keduanya sama-sama menahan sesak di dalam dada.
"Nina mencintaimu Ron, aku bahagia melihat kalian berdua bahagia, tidak ada niat sedikitpun untuk merebut Nina darimu," ucap Erick lirih.
"Berjanjilah padaku Erick, aku ingin kamu berjanji padaku. Aku tidak mau Nina bersedih saat aku pergi nanti, aku ingin kamu menjaga dan menyayanginya juga anak kandungku," ucap Ronald memohon.
Erick terdiam beban yang Ronald berikan padanya teramat berat, entah dia harus bahagia atau harus sedih dengan semua ini, bagaimana mungkin Nina akan menerimanya kembali, sedangkan dia tahu Nina sangat mencintai Ronald.
__ADS_1
Erick mengantarkan Ronald kembali pulang ke rumah mbah Darmi, sepanjang jalan keduanya hanya saling diam tanpa bicara sepatah katapun.
***********