Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Cemburu


__ADS_3

Kepulangan Nina ke rumah orang tuanya terdengar oleh Fatih, dia pun berniat untuk mengunjungi Nina di rumahnya, kadang kala Fatih masih berharap Nina bisa kembali kepadanya seperti dulu lagi, Fatih juga sudah mencoba mencari pengganti Nina namun tetap saja tak ada yang bisa mengisi hatinya seperti Nina.


"Pa Fatih mau ke rumah om Hendra ya," Pamit Fatih pada Tomi papanya.


"Mau ngapain, ketemu Nina? ingat Fatih Nina sudah punya suami jangan kamu ganggu lagi," Tomi mulai mencemaskan kelakuan anaknya, dia takut Fatih membuat hubungan Nina dan suaminya menjadi rusak.


"Iya Pah iya tenang aja, Fatih mau datang sebagai kawan kog, ya kalau Nina mau balikan sih aku nggak nolak he he," ucap Fatih sambil nyengir.


"Jangan rusak hubungan Papa sama om Hendra dengan kekonyolanmu Ya!!" Tomi mulai memberatkan suaranya.


Fatih bersiap untuk mendatangi rumah Nina, karena rumah mereka masih satu komplek Fatih memilih untuk berjalan kaki pergi ke rumah Nina.


Ting ... tong ...


Fatih memencet bel di pagar rumah Nina, beberapa saat menunggu, terdengar langkah kaki mendekati pintu pagar, bibik mengintip sebelum membukakan pintu.


"Eh ada mas Fatih ...," sapa Bibik, kemudian wanita itu membukakan pintu pagar agar Fatih bisa masuk.


Sebenarnya Fatih bisa saja masuk langsung ke rumah Nina karna dia tahu pasword pintu pagar rumah Nina, namun karna dia bukan lagi menantu di rumah itu dia tidak berani lancang masuk sendiri.


"Nina ada Bik?" tanya Fatih pada bibik sambil berjalan memasuki rumah Nina.


"Ada Mas, Mbak Nina lagi nonton tv di ruang keluarga," ucap Bibik sambil mempersilahkan Fatih masuk.


"Mbak Nina, ada mas Fatih," Bibik memberitahu Nina yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Fatih ...," Nina mengernyitkan keningnya, dia sedang tak mau bertemu siapapun saat ini.


"Hai Nin," Fatih sudah berada di pintu menyapa Nina.


Mau tak mau Nina harus menemui Fatih walaupun sebenarnya dia enggan bertemu dengan pria itu, selama menikah dengan Fatih, Rekso belum pernah mendatangi Nina dalam wujud Fatih, jadi Nina masih bisa bertemu dengan Fatih tanpa takut itu jelmaan dari Rekso.


"Ada apa Fat?" sapa Nina dengan nada tidak ramah.


"Apa kabar Nina, aku dengar kamu pulang ke sini sekarang?" tanya Fatih, dia pun duduk di sofa agak jauh dari tempat Nina duduk.


"Hmm iya, aku lagi tidak sehat jadi mama membawa aku pulang ke sini," terang Nina.


Bibi datang dengan membawakan minuman buat Fatih, setelah meletakkan minuman di meja Bibik kembali ke belakang.


"Kamu lagi ada masalah sama suamimu?" tanya Fatih, dia penasaran dengan kepulangan Nina.


"Nggak juga kami lagi baik-baik saja, hanya saja ah ... susah di jelasin," Nina menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Aku bersedia mendengarkan keluhanmu, mungkin kamu butuh teman untuk bicara," ucap Fatih sambil menyeruput minumannya, Fatih paham benar Nina orangnya sangat tertutup dengan masalah pribadinya.


"Fat ... aku minta maaf kalau dulu mungkin aku pernah membuatmu kecewa atau sakit hati, semua itu di luar kuasaku, aku ...," Nina tidak meneruskan ucapannya, dia juga tidak mungkin menceritakan tentang Rekso pada Fatih, dia pasti akan menganggap dirinya sudah gila.

__ADS_1


"Aku sudah melupakan semua itu kog Nin, ya anggap aja semua itu tidak pernah terjadi, mengingatnya hanya akan membuat kita sakit hati," ucap Fatih lirih.


Fatih senang melihat Nina mau berbicara dengannya lagi, setidaknya Nina sudah tidak membenci dirinya seperti dulu.


"Mmm ... kamu gak balik lagi ke Australi?" tanya Nina.


"Nggak, papa memintaku membantu mengelola perusahaannya di sini, yah kupikir ada benarnya juga, anak Papa cuma satu aku saja, sekarang Dian juga bekerja di kantor papa," terang Fatih.


"Baguslah kalau kalian bisa akur, lagian kalian dulu juga teman waktu kuliah," ucap Nina.


"Hmm aku sih gak masalah kog papaku Nikah lagi, emang dari dulu kusuruh papa nyari pengganti mama, eh gak tahunya dapat mamanya Dian ha ha, dunia ini memang sempit ya," Fatih tertawa.


"Nin ...!!" tiba-tiba Ronald sudah berada di pintu, matanya nanar memandang Nina sedang berduaan dengan Fatih pria itu terlihat sangat cemburu.


Nina hampir saja berlari ke kamarnya melihat Ronald berada di rumahnya, Ronald mendekati Nina dan menarik kalung di leher Nina hingga putus dan membuangnya ke lantai.


"Argghh ..., jangan ...!!" Nina tidak menyangka Ronald akan menarik kalung yang melingkar di lehernya.


"Ronald, kamu kasar sekali sama perempuan, jangan sakiti Nina!!" Fatih tidak rela melihat Ronald bersikap kasar pada Nina.


"Kamu diam, pergi dari sini sebelum kuhajar muncungmu itu!!" Ronald melotot pada Fatih.


"Ron ..., hentikan jangan ribut," Nina memungut kalung pemberian Nabila yang sudah putus karna di tarik oleh Ronald.


"Buang kalung si*lan itu Nina, itu yang bikin kamu berubah seperti ini. Aku sudah tahu semuanya Nina ayo kita pulang!!" Ronald menatap Nina yang terlihat kebingungan.


"Ini ..., kalung ini," Nina memandangi kalung pemberian Nabila yang putus.


"Ayo kita pulang, kita bisa cari solusi buatmu aku tak mau kamu jauh dariku Sayang," Ronald berlutut di depan Nia, dia memohon agar istrinya mau pergi bersamanya.


"Kamu jangan maksa gitu dong Ron, biarkan Nina ...,"


"BERISIK !!! kamu jangan nyari-nyari kesempatan ya!!" Ronald melotot ke arah Fatih yang belum selesai berbicara.


"Aku takut ...," ucap Nina lirih.


"Takut apa, kita hadapi bersama Sayang, kita cari orang yang bisa menyembuhkan kamu," Ronald mandang wajah Nina yang terlihat bimbang.


"Kalung ini membuatku tahu mana kamu mana yang dia, sekarang kamu sudah merusaknya bagaimana aku bisa membedakan mana yang asli dan yang palsu," Nina tertunduk lesu.


"Pulanglah Sayang, aku tak bisa hidup tanpamu," Ronald memohon pada Nina.


"Sebenarnya kamu sakit apa Nin?" Fatih penasaran dengan sakit yang di derita oleh Nina.


Ronald mulai emosi dan tak tahan melihat Fatih terus-terusan ada di ruangan itu mengganggunya yang sedang bersama Nina, dia mengepalkan tangannya dan bersiap akan menghajar Fatih.


Ronald berdiri akan mendatangi Fatih, Nina yang melihat gerak-gerik suaminya dengan cepat berdiri dan menahan tangan Ronald, Ronald mengurungkan niatnya, melihat Nina sudah merespon dirinya, dia lebih memilih untuk memeluk istrinya, sudah dua minggu dia tak bertemu dengan Nina.

__ADS_1


Melihat pasangan di depannya berpelukan hati Fatih terasa nyeri, dia pun memilih pergi meninggalkan rumah Nina, rasa itu masih ada dan rasanya sungguh tidak nyaman di dalam dada, Fatih cemburu melihat Ronald memeluk Nina di depannya.


Fatih pulang ke rumahnya dengan sejuta sesak di dada, sesampainya di rumah dia bahkan tak menegur keluarganya yang sedang berada di ruang keluarga, Tomi menatap wajah anaknya yang terlihat kecewa, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fatih seperti itu.


Ronald memeluk Nina hatinya terasa damai saat bisa memeluk kembali istri yang sangat dia cintai, dia sangat resah kalau Nina berada di rumah ini, apalagi melihat musuh besarnya berani mengunjungi Nina saat dia tidak ada.


Ronald berencana membawa Nina kembali ke rumahnya apapun yang terjadi, dia juga tak mau orang tuanya tahu kalau mereka sedang mempunyai masalah.


"Pulang yuk Sayang," bujuk Ronald pada istrinya.


"Kamu sudah tahu soal itu?" Nina menatap suaminya dia merasa sangat malu.


"Kita pulang Sayang, kita pikirkan cara supaya dia meninggalkan kamu ya," Ronald membelai rambut istrinya penuh kasih sayang.


Nina mengangguk setuju, ada benarnya juga apa yang Ronald ucapkan bagaimanapun Ronald masih suaminya, dia harus menurut apa yang suaminya inginkan.


"Baiklah, aku ambil obatku dulu," Nina ke kamarnya untuk mengambil obat dari kamarnya, dia harus mengonsumsi obat dari dokter agar emosinya tetap stabil, jika tidak minum obat dia tidak bisa setenang sekarang.


Nina berpamitan pada bibik dan ikut suaminya pulang ke rumahnya, Ronald juga menghubungi mama mertuanya sebelum membawa Nina pulang ke rumahnya.


"Ma Nina Ronald bawa pulang hari ini, kami mau berobat ke alternatif saja," pamit Ronald pada Pawitri mamanya Nina.


"Tapi Ron, dia belum pulih benar," Pawitri masih mencemaskan anaknya.


"Ronald sudah tahu apa yang membuat dia sakit Mah, kami akan pergi berobat secepatnya," ucap Ronald meyakinkan mertuanya.


"Obat dari dokter jangan sampai telat ya, Nina kalau tidak minum itu tidak bisa tidur dan masih suka histeris," Pawitri mengingatkan menantunya.


"Iya Mah,"


Ronald membawa Nina pulang ke rumahnya, sepanjang jalan Nina terdiam memandangi jalanan, Ronald merasa senang istrinya sudah pulang ke rumahnya lagi, sesekali dia melirik Nina yang bersandar lesu memandangi jalanan.


"Yuk turun Sayang," ajak Ronald setibanya di rumah mereka.


Nina memasuki rumahnya di iringi oleh Ronald di belakangnya, dia langsung memasuki kamarnya kamar yang sudah dia rindukan, Nina tertegun memandangi ranjangnya.


"Kenapa Sayang, apa kamu melihatnya?" Ronald memegang pundak istrinya, Nina hanya menggeleng.


"Lihat aku," Ronald memutar tubuh istrinya menghadapnya, memandangi wajah ayu yang sangat dia rindukan.


"Maafkan aku," Nina memeluk suaminya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Sayang,"


Ronald mencium lembut bibir istrinya, dia ingin segera melepaskan kerinduannya, namun Nina sama sekali tidak bereaksi atau membalas cumbuan panasnya.


Tak ada suara desahan seperti biasanya saat mereka sedang bercinta, Ronald berbaring disisi Nina setelah menuntaskan hasratnya, rasanya dia seperti baru bercinta dengan guling, Ronald mencoba bersabar menghadapi Nina, dia mengerti kondisi tekanan bathin Nina membuat wanita itu berubah dingin kepadanya.

__ADS_1


******


__ADS_2