Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Surat dari Ronald


__ADS_3

Mama dan mertua Nina akan kembali ke Jakarta, sebelum pergi mereka mengajak Nina membicarakan hal penting mengenai hidup Nina.


"Nina, mama ingin kamu dan Erick segera menikah, nggak baik serumah tanpa hubungan yang resmi, nanti malah jadi fitnah," ucap Pratiwi dengan wajah serius.


"Mama ngomong apa sih," Nina merasa tak enak hati karna ada mertuanya bersama mereka.


"Iya, lagian Erick juga baik, dia sayang sama anakmu," sambung mertua Nina tanpa beban.


"Mah kog Mama ngomong begitu, ini ah ...," Nina tak dapat berbicara, bagaimana bisa mertuanya malah mengamini permintaan mamanya.


Nina diam dan merenung, rasa pada Erick sudah lama dia pendam di dasar hatinya, apa lagi dia kini janda ditinggal mati, sangat sulit rasanya untuk membuka hati pada pria lain, sekalipun itu Erick orang yang pernah mengisi hatinya.


Bayangan Ronald masih menari-nari di matanya, cintanya pada Ronald bahkan belum memudar, dia masih sangat merindukannya, bagaimana mungkin dia bisa menerima pria lain di hatinya.


"Sebelum mama pulang, Mama mau menyerahkan ini, bacalah saat kami sudah pergi," mertua Nina menyerahkan sepucuk surat dari dalam tasnya.


"Ini surat apa Mah?" tanya Nina.


"Itu surat dari Ronald, sebelum dia meninggal dia menulis itu, dia ingin kamu memenuhi permintaannya yang terakhir kali," ucap mertua Nina, matanya mulai berkaca-kaca namun dengan cepat wanita tua itu menghapusnya, dia tak ingin bersedih hati di depan Nina.


Nina mengambil surat itu dan menyimpannya di laci meja rias di kamarnya, mereka kembali berbincang membicarakan tentang Ronald kecil, suasana yang tadinya tegang kini kembali mencair.


Mama dan mertua Nina berangkat ke bandara diantar oleh Erick, sebelum turun dari mobil Pratiwi dan mertua Nina berpesan pada Erick, agar selalu bersabar dan menjaga Nina.


"Bersabarlah menghadapi Nina Erick, hatinya masih rapuh," ucap Pratiwi.


"Titip cucuku ya Rick," sambung mertua Nina.


"Baik Tante," ucap Erick.


Setelah dari bandara Erick pulang ke rumah dia berniat mengambil laptop untuk di bawa ke tempat bimbelnya, setelah dari kamar dia menuju dapur dan melewati kamar Nina, sayup-sayup dia mendengar isak tangis dari kamar Nina.


"Nin ..., kamu kenapa, sakit?" tanya Erick di depan pintu kamar Nina.


"Pergiii!!!" Nina mengusir Erick sambil berteriak.


"Nin ..., aku nggak mau pergi sebelum kamu bilang kamu kenapa," Erick masih menunggu di depan pintu.


"Aku bilang pergi!! jangan ganggu aku!!" Nina berteriak sekali lagi.


Erick melangkahkan kakinya ke dapur, Nunik sedang berada di dapur bersama anak Nina, Erick berpesan agar Nunik mengawasi Nina selama dia tidak ada di rumah.


"Kalau ada apa-apa telpon aku ya Mbak, saya harus ke tempat kursus," pesan Erick pada Nunik.


"Iya Mas," balas Nunik.


"Papa kerja dulu ya Sayang, jadi anak pintar ya," Erick mengecup kening Ronald Junior sebelum pergi.


Erick berangkat dengan menggunakan motornya, walaupun dia bebas menggunakan mobil milik Nina, namun dia hanya menggunakan jika pergi bersama dengan Nina, dan kalau memang untuk urusan penting, dia lebih nyaman menggunakan motor miliknya untuk berangkat bekerja.


Nina di kamarnya sedang menangisi surat dari Ronald, dia sedih dan benar-benar merasa rapuh, dia tak menyangka kalau Ronald selama ini sengaja mendekatkan dia bersama Erick.


*******


*Teruntuk istriku tersayang


Nina


Terimakasih sudah menjadi bagian hidupku, mengisi kekosongan hatiku, kaulah wanita pertama di dalam hidupku, bersamamu aku menjadi pria sejati.


Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu, bahkan aku pernah berpaling saat kamu rapuh dan butuh dukunganku, maafkan aku pernah meninggalkanmu sendirian.

__ADS_1


Tuhan telah menghukumku atas dosaku padamu, tapi kamu tetap bersamaku saat aku lumpuh dan tak berdaya, trimakasih kamu sudah memberiku malaikat kecil dari rahimmu.


Sayang... jika aku pergi dan tak lagi di sisimu, menikahlah dengan Erick, aku tahu siapa dia dan bagaimana masa lalu kalian, berbahagialah Sayang kamu berhak untuk bahagia, aku juga sudah memintanya untuk menjagamu.


Saat kamu membaca surat ini entah di manapun aku berada, aku bahagia pernah menjadi bagian dalam hidupmu, jagalah buah cinta kita seperti kamu menyayangiku.


Dari orang yang mencintaimu


💕💕💕


Ronald Kesuma*


********


Nina tergugu menangisi surat Ronald, sedih, pilu menjadi satu, kenapa semua harus seperti ini, kenapa dia harus mengalami kisah ini, Nina menangis sampai tertidur karna kelelahan.


Nunik pelan-pelan membuka pintu kamar Nina dan melihat keadaan majikannya, hatinya lega saat melihat Nina tertidur, dia membawa Ronald Junior ke kamarnya agar tidak mengganggu mamanya yang sedang beristirahat.


"Bagaimana keadaan Nina Mbak?" tanya Erick melalui sambungan telpon.


"Sudah tidur Mas," ucap Nunik.


"Ya sudah, biarkan dia istirahat jagain Ronald dulu ya," pesan Erick sebelum memutuskan sambungan telponnya.


Nina terbangun saat payudaranya terasa berdenyut, dia ingat kalau belum menyusui anaknya sejak tadi, setelah mencuci wajahnya Nina bergegas mencari Nunik, ternyata dia sedang bermain bersama anaknya di samping rumah.


"Mbak udah sore, sini aku mau kasih ASI dulu," pinta Nina.


Nunik bergegas membawa anak Nina dan menyerahkan pada Nina, Nina membawa anaknya ke kamar dan memberikan ASInya, ia menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan papanya, rasa rindunya pada Ronald terobati saat menatap wajah polos milik anaknya.


"Maafkan Mama, Mama terlalu larut dalam kesedihan Mama hingga mengabaikanmu," bisik Nina sambil membelai lembut kepala anaknya.


********


Dia mempercepat laju motornya karna sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Saat motor melaju dengan kecepatan sedang tiba-tiba mobil di depan Erick berhenti mendadak, Erick berusaha mengerem dan menghindar namun jarak yang terlalu dekat membuatnya tak bisa mengendalikan laju motornya.


Brakk!!!


Semua menjadi gelap dan hening, teriakan dari orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu tak lagi didengarnya, sopir mobil yang mengerem mendadak turun dari mobilnya memeriksa keadaan, dia ketakutan saat melihat Erick tak sadarkan diri.


Beberapa orang memaki sang pengendara mobil karna kelalaiannya mengakibatkan orang lain celaka, setelah berembuk dengan warga pria itu bersedia membawa Erick ke rumah sakit dengan dibantu beberapa warga yang ada di sana.


Tubuh Erick langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan langsung masuk ke IGD, warga yang ikut mengantar Erick menahan sopir mobil agar dia tidak lari dari tanggung jawab.


"Erick, kamu ngapain di sini?" sapa Ronald pada Erick.


"Ron, Ronald kamu sudah sembuh," Erick heran melihat Ronald berdiri dan berpakaian serba putih.


"Pulanglah, Nina menunggumu," ucap Ronald lirih.


"Dia membenciku Ron, dia tidak suka aku berada di dekatnya," Erick terlihat lesu saat membicarakan tentang Nina.


"Apa kamu akan menyerah dan kehilangan dia lagi?" tanya Ronald.


"Aku ..., aku ... Ron ... Ronald kamu di mana?" Erick mencari-cari Ronald yang tiba-tiba menghilang.


"HUAAA HA HA HA ...!!!" suara tawa menggelegar memekakkan telinga.


"HALO MANUSIA LEMAH!!!" sapa mahluk itu.


"Kamu mau apa lagi kamu ke sini hah!!" Erick mengingat mahluk itu dulu pernah mengikat dirinya.

__ADS_1


"HA HA HA KAMU MENGINGATKU?" ucap mahluk itu sambil matanya mendelik membuat bola matanya hampir copot dari tempatnya.


"Kamu mahluk busuk yang hanya mencari kelemahan orang, mau apa lagi kamu menemuiku!!" Erick bersiap menyerang.


"HEH MANUSIA, KAMU MAHLUK PALING BEBAL YANG KU TEMUI, KAMU HANCURKAN HIDUPKU, KAMU AMBIL CINTAKU!!" mahluk itu tiba-tiba merunduk dan bersedih, dia merasa kehilangan miliknya yang berharga.


Erick merasa heran melihat mahluk yang tadinya sangat menyeramkan kini tertunduk lesu, dia pun ikut duduk di samping mahluk itu mencoba bertanya padanya.


"Apa kamu juga sepertiku, punya rasa cinta?" tanya Erick.


"Tentu saja, kita sama-sama punya rasa bahkan pada mahluk yang sama, tapi aku kalah dan mundur dia kini tak bisa kudekati lagi," ucap mahluk itu.


Perlahan bentuk mahluk itu memudar, Erick merasakan sakit kepala yang teramat dahsyat, kepalanya terasa seperti di tusuk puluhan paku, telinganya berdengung membuat pusing dan mual.


Perlahan dia membuka matanya, matanya menyipit saat kilau lampu menyilaukan matanya, dia menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk di sekujur tubuhnya.


"Bapak sudah sadar, syukurlah," seorang pria yang tidak Erick kenal berada di ruangan itu bersamanya.


"Saya kenapa?" ucap Erick lirih sambil meringis menahan sakit.


"Bapak kecelakaan, motor Bapak nabrak mobil saya," ucap pria itu gugup.


"Oh ..., maaf kan kelalaian saya," sambung Erick.


"Saya yang salah Pak, kita damai ya Pak, jangan di bawa ke polisi, nanti saya akan tanggung semua biaya berobat Bapak," ucap pria itu.


Erick tersenyum, dia masih merasakan sakit di kepalanya, pria itu berlari mengabari suster kalau pasien sudah sadar, dengan cepat suster memeriksa keadaan Erick.


"Apa bisa dihubungi keluarganya Pak? pasien mengalami pendarahan otak dan harus dioperasi," ucap suster, dia memberikan suntikan penghilang sakit pada Erick.


Erick yang tadinya mengerang berangsur-angsur tenang, pria itu mendekati Erick dan meminta nomor keluarga yang bisa dihubungi, Erick menyebutkan nomor milik Nina hanya itu yang diingat di kepalanya.


Pria itu dengan cepat menghubungi Nina, sedangkan Erick kembali tertidur karena pengaruh obat yang diberikan kepadanya.


"Halo," sapa Nina dari ujung sana.


"Buk maaf Buk, saya Karjo mau mengabari kalau suami ibu kecelakaan," ucap pria itu dengan gugup.


"Karjo ..., suami ..., maksud anda apa ya, jangan main-main ya!!" dengus Nina kesal sambil mematikan sambungan telponnya.


Pria yang bernama Karjo bingung, dia lalu mengambil foto Erick yang sedang tertidur dan mengirimkan pada Nina melalui WA dia juga menuliskan alamat rumah sakit tempat Erick sedang di rawat.


Nina membuka pesan dari orang yang tak dia kenal, jantungnya berdesir melihat foto Erick berbaring lemah penuh luka, seketika dia menangis dia bingung dan takut, peristiwa masa lalu kembali terbayang di pelupuk matanya.


"Tidaaakkk!!!!" Nina berteriak, membuat penghuni rumah berlarian mendatanginya.


"Ada apa Nin?!" tanya Eka bingung melihat Nina sedang menangis pilu.


"Erick Ka, Erick kecelakaan," Nina menunjukkan foto Erick di ponselnya.


"Ya Tuhan apa lagi ini," Eka ikut panik dan menghubungi Dayat memberitahukan tentang kecelakaan yang Erick alami.


Nina pun jatuh dan pingsan, seisi rumah menjadi panik, dia benar-benar lelah setelah seharian mendapatkan kejutan dari surat Ronald hingga kabar Erick kecelakaan rasanya dia ingin tidur dan tak terbangun lagi.


**********


**yuhuuuu ...


apa kabar kalian semua tinggal satu chapter lagi nih menuju tamat, maafkan author yang lambat nge up, karna tugas author sangat banyak, selain menulis di sini author juga sedang mengerjakan proyek di tempat lain.


selamat idul adha ya maaf telat ngucapinnya, semoga sehat selalu**.

__ADS_1


💞💞💞💞💞💞


__ADS_2