
Teman-teman Nina heboh melihat Nina memakai cincin tunangan di jarinya. Mereka bahagia dan juga terharu, akhirnya Nina menemukan tambatan hatinya.
"Duh jadi kapan rencana kamu menikah dengan Fatih Nin?" tanya Ratih.
"Nunggu aku wisuda, kamu sendiri kapan sama Adit?"
"Sama nunggu habis wisuda kami juga berencana mau menikah," Ratih memeluk Nina.
"Mmm sory Nin, bukan maksudku mengungkit soal Erick. Apa dia?" Eka tak berani melanjutkan pertanyaannya.
"Hmmm Erick sama sekali tidak mengingatku," jawab Nina sambil menghela nafas panjang.
"APAA!!!" mereka bertiga tak percaya.
"Erick sudah sadar Nin?" tanya Dian.
"Sudah kata adiknya, aku menghubunginya dan dia tidak mau bicara denganku. Kata adiknya dia tidak ingat semua tentang kita, aku masih berharap bisa membuatnya ingat, tapi dia benar-benar tak mau berbicara denganku. Aku lelah dan putus asa." Nina meneteskan air mata.
"Sudah-sudah jangan di ungkit lagi," Eka mencoba menenangkan Nina.
"Aku..., mungkin kalian pikir aku jahat, tapi aku lelah menunggu seandainya dia mau berusaha mengingatku meski entah kapan dia akan ingat denganku, tapi dia sama sekali tak mau berbicara denganku."
Teman-teman Nina ikut sedih dan terharu mendengar cerita Nina tentang Erick. Mereka berharap kali ini Nina akan bahagia bersama Fatih dan melupakan luka hatinya bersama Erick.
*************
Pulang dari kampus sepanjang jalan Nina murung, Fatih yang tidak tahu masalah Nina dia menjadi bingung, tidak biasanya Nina seperti ini.
"Kamu kenapa Sayang? cerita dong." tanya Fatih, sambil memegang tangan Nina.
"Aku teringat sama Erick, maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman."
Nina menundukkan wajahnya, Fatih terdiam dia merasa hati Nina masih bimbang untuk menerimanya menggantikan Erick.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Fatih.
"Aku juga tidak tahu?" Nina meneteskan air matanya.
"Dimana sih rumahnya? bagaimana kalau kita datang kesana," tiba-tiba Fatih mempunyai ide yang gila.
"Ngapain?" Nina bingung.
"Ya ketemu sama Dia, kamu ngobrol sama dia biar kamu gak ragu-ragu seperti ini."
Nina menatap wajah Fatih, dia bingung dengan laki-laki di sampingnya itu. Kenapa bisa punya pikiran seperti itu.
"Apa kamu tidak marah kalau aku ketemu sama Erick. Kamu tidak cemburu?"
"Ya aku cemburu, tapi dari pada kita menikah tapi hatimu masih sama Erick. Apa itu gak lebih menyakitkan. Yuk kita ke rumah Erick sekarang!"
"Aku tidak tahu alamatnya."
"Apa tidak ada yang bisa di tanya dimana alamat Erick?"
Nina terdiam dia teringat dengan Ehsan adik Erick, Nina kemudian menelpon Ehsan dan meminta alamatnya karna dia mau datang. Dengan berat hati Ehsan mengirim alamat rumahnya pada Nina, dia berfikir mungkin kalau bertemu dengan Nina Erick akan ingat masa lalunya.
"Kamu tidak apa-apa kita pergi ke rumahnya Erick?" tanya Nina pada Fatih dia juga tidak ingin menyakiti hati tunangannya itu.
__ADS_1
"Demi kamu apapun ku lakukan Nina, walau ini juga sakit buatku."
Setelah mengetahui alamat Erick, Fatih dan Nina langsung menuju ke kota kelahiran Erick. Jarak yang mereka tempuh sekitar empat jam baru sampai di rumah Erick. Nina juga mengabari mamanya kalau dia ada perlu ke luar kota dengan Fatih tanpa memberitahukan soal pergi ke rumah Erick.
Jam lima sore mobil Fatih mulai memasuki kota Erick, Nina sudah mengatur janji agar Ehsan menjemputnya dan menunjukkan jalan buat mereka. Ehsan sudah menunggu kedatangan Nina di pom bensin.
"Kak Nina, apa kabar?" Ehsan menyalami Nina saat bertemu di pom bensin.
"Baik Ehsan, bagaimana kabarmu?" tanya Nina.
"Baik Kak, yuk ke rumah. Kak Erick jam segini ke masjid Kak, kita tunggu saja di rumah sepulang dari masjid."
"Apa dia tahu aku akan datang?" tanya Nina.
Ehsan menggeleng kemudian Ehsan menaiki motornya Nina dan Fatih mengikuti di belakangnya. Sesampainya di rumah Erick jantung Nina serasa mau copot, sementara Fatih sudah mempersiapkan dirinya kalau akan kehilangan Nina. Dua orang itu bertarung dengan pikirannya masing-masing.
"Pergilah aku akan menunggumu di mobil."
Fatih menyuruh Nina menemui Erick. Dia tak sanggup melihat pertemuan sepasang kekasih yang juga calon istrinya, dia lebih memilih menunggu Nina di mobil.
Nina ragu-ragu melangkahkan kakinya ke rumah Erick. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Masuk Kak, tunggu lah Kak Erick di dalam," Ehsan menyuruh Nina masuk ke rumahnya.
"Ada siapa Ehsan, Ninaa...!!" ibu Erick terkejut Nina datang ke rumahnya.
"Ibuuu!!" Nina memeluk ibu Erick dan menangis tersedu. Ibu Erick juga ikut menangis sedih melihat Nina seperti ini.
"Assalamualaikum!" suara Erick masuk ke dalam rumah.
"Erick...!! kamu sudah sehat?" tanya Nina, Erick memandangnya bingung.
"Ini aku Rick Nina..." Nina menangis dan berhambur memeluk Erick.
Erick berusaha melepaskan pelukan Nina, dia merasa risih di peluk oleh wanita yang tidak di kenalnya.
"Maaf Mbak jangan begini," Erick menepis Nina.
Nina tak percaya Erick benar-benar tidak mengingatnya.
"Erick ini aku Ninaaaa!!!"
Nina jatuh terduduk, dia tidak tahan melihat sikap Erick yang benar-benar mengacuhkannya, Nina menangis meraung-raung. Melihat itu Erick berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ibu Erick mencoba membangunkan Nina.
"Erickk... Erickkkk...!!!" Nina berteriak kesetanan.
Fatih yang mendengar teriakan Nina berlari memasuki rumah Erick, dan mendapati Nina menangis di lantai seperti anak kecil.
"Nina... Nina... sadar Nina kontrol emosimu!"
Fatih memeluk Nina yang lunglai tak berdaya. Ehsan membantu Fatih mengangkat tubuh Nina ke sofa, Nina menangis pedih hatinya sakit se sakit-sakitnya. Ibu Erick ikutan menangis melihat kondisi Nina seperti ini.
"Maafkan Erick Nak, maafkan anak ibu," ibu Erick menggenggam tangan Nina.
"Nina kita pulang yuk." Fatih mengajak Nina pulang. Nina tak menjawab dia tak bisa menguasai dirinya.
"Bu kami permisi pulang ya, saya akan bawa Nina pulang saja." Fatih berpamitan pada keluarga Erick.
__ADS_1
Ehsan membantu Fatih membawa Nina masuk ke dalam mobil, Nina benar-benar seperti orang ling lung, dia hanya menangis dan menangis. Fatih dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan rumah Erick. Dia sangat menyesal membawa Nina kesini.
Nina masih terisak dan tak sadar sudah sampai dimana. Fatih yang merasa lelah menyetir memutuskan untuk mencari hotel buat mereka menginap malam ini.
"Sayang kita istirahat disini ya, aku capek bawa mobilnya."
Nina hanya diam tak bereaksi, Fatih masuk ke dalam hotel memesan kamar buat mereka tidur malam ini. Setelah mendapat kamar dia kembali ke mobil menuntun Nina masuk ke dalam kamar hotel dan membaringkan tubuh Nina di ranjang. Nina meringkuk tak berdaya bagaikan mayat hidup.
Fatih sedih melihat calon istrinya seperti ini, orang tua Nina pasti akan marah kepadanya kalau tahu anaknya seperti ini. Fatih tidur di samping Nina dan memeluk Nina hatinya juga hancur melihat kondisi Nina yang sedih.
Nina terlelap karna kelelahan menangis, Fatih masih memperhatikan Nina yang tertidur, bahkan dalam tidurnyapun Nina masih menangis. Fatih semakin tidak tega melihat Nina sehancur ini.
***********
"NGAPAIN KAMU DATANG KE RUMAH DIA HAH...!!" Rekso marah tidak seperti biasanya yang selalu lembut saat bersama Nina.
Nina terus terisak tak bisa berkata-kata, Rekso juga geram melihat Nina yang terpuruk seperti ini.
"Bukannya kamu mau menikah kenapa kamu masih mencari manusia lemah itu?" Rekso bersungut-sungut kesal.
Nina tak menjawab apapun yang Rekso ucapakan, dia tidak tahu harus bagaimana yang dia bisa cuma menangis dan meratapi hidupnya.
"Nikmatilah hidupmu Nina, jangan kau cari lagi manusia lemah itu, dia hanya menyusahkanmu." Rekso kembali menasehatinya, namun Nina tak bergeming.
"Nina... Nina..." Rekso mencoba menyadarkan Nina.
"Nina... Nina... Ninaa!!" suara Rekso berubah menjadi suara Fatih.
Nina membuka matanya dan melihat Fatih yang memandangnya dengan cemas. Melihat Nina bangun Fatih mendudukkan Nina. Dia sudah membawakan makanan untuk Nina dan juga baju ganti yang dia beli saat Nina tertidur.
"Makanlah Sayang nanti kamu sakit."
Fatih mencoba menyuapi Nina namun Nina tak membuka mulutnya sedikitpun.
"Nina tolong sadarlah Nina, jangan membuatku takut seperti ini. Aku sudah membelikanmu baju buat ganti mandilah biar kamu segar. Nin..."
Fatih geram bagaimana agar Nina sadar, Fatih menggendong Nina ke kamar mandi, menghidupkan shower membiarkan air shower mengguyur badan Nina. Fatih memeluk Nina di bawah guyuran shower, mereka berdua basah beserta pakaiannya.
Nina kembali terisak dan memeluk Fatih dengan Erat, dia kembali meraung di dada Fatih. Fatih semakin erat memeluk tubuh Nina.
"Kenapa hidupku seperti ini Fatih, kenapa?!" Nina setengah berteriak.
"Sstttt.. jangan begitu Sayang, ada aku yang menyayangimu tolong beri aku kesempatan."
Nina memandang Fatih, mereka bertatapan di bawah guyuran air shower. Nina mengigil kedinginan karna Fatih tidak menyetel air hangat, cepat-cepat Fatih merubah menjadi air hangat.
Fatih mencium bibir Nina memagutnya dengan sangat lembut, Nina memejamkan matanya semakin lama ciuman Fatih semakin panas. Nina membuka baju Fatih demikian juga sebaliknya. Fatih ragu-ragu melepaskan hasratnya pada Nina, tapi Nina sama sekali tak menolaknya.
Nina merintih rasa perih berbaur dengan rasa geli menjadi satu, hatinya yang tadi perih berubah jadi hangat, seirama dengan desahan Fatih. Malam itu pertama kalinya Nina merasakan bercinta yang sebenarnya dengan lawan jenisnya.
Fatih membopong tubuh Nina yang lemas ke ranjang, dan kembali melanjutkan hasrat mereka, Nina memeluk erat tubuh Fatih dan tak melepaskannya sampai pagi.
"Jangan tinggalkan aku," bisik Nina sambil terlelap dalam tidurnya.
Fatih memeluk tubuh Nina membuat kekasihnya itu merasa nyaman dan tenang melupakan rasa sedihnya.
***************
__ADS_1