Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Kita sama


__ADS_3

Wijaya Kesuma mendatangi kantor Hendra ayah Nina, kedatangannya kali ini bukan membicarakan masalah bisnis tapi tentang hubungan Nina dan Ronald.


Hendra yang belum tahu dengan tujuan kedatangan Wijaya Kesuma menyambut kedatangan teman bisnisnya itu dengan ramah.


"Duh kalau bos besar sudah turun gunung gini, jadi nggak enak saya," kelakar Hendra, disambut tawa riang oleh Wijaya Kesuma.


"Hend, lo sama gue kan sudah saling kenal cukup lama, bagaimana kalau kita satukan aja hubungan bisnis kita menjadi hubungan keluarga," Wijaya Kesuma mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


"Maksud pak Wijaya?" Hendra masih belum paham apa yang dimaksud oleh Wijaya Kesuma.


"Gini lo Hend, lo tau kan anak gue udah waktunya menikah dan anak lo juga sama, aku ingin menjodohkan anakku Ronald dengan anakmu Nina, bagaimana?" terang Wijaya Kesuma.


Hendra terdiam menarik nafasnya, dia mencoba merangkai kata yang tepat agar Wijaya Kesuma tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Ya kalau aku sih ok ok saja, nah masalahnya anak sekarang mana bisa kita jodoh-jodohin gitu Pak," Hendra mencoba memberi pengertian pada Wijaya Kesuma, pria itu manggut-manggut mengerti ucapan Hendra.


"Ya bagaimana kalau kita combaling aja mereka Hend, kita atur biar mereka sering ketemu gitu, anakku ini gak berani sama wanita Hend, aku jadi geram sama dia," sungut Wijaya Kesuma.


"Ya udah tapi saya gak janji, mungkin saya akan coba bicara sama Nina. Soal hasil akhirnya terserah mereka yang jalanin aja ya Pak," jawab Hendra.


"Nah gitu dong, aku senang mendengarnya Hend. Apalagi kalau Nina sampai mau menikah sama anakku, duh aku nggak sabar nimang cucu he he," Wijaya Kesuma tertawa terkekeh membayangkan mempunyai cucu dari Nina dan Ronald anaknya.


*********


Wijaya Kesuma sudah menyiapkan rencana agar anaknya bisa dekat dengan Nina, orang tua ini benar-benar ingin melihat Ronald cepat menikah.


Dia sempat berfikiran kalau Ronald mempunyai kelainan, hal itu sangat membuatnya stres, akan sangat memalukan kalau sampai itu benar-benar terjadi pada anak kandungnya, mau ditaruh dimana mukanya.


Wijaya Kesuma tidak berani bertanya langsung pada Ronald, dia menyimpan sendiri kecurigaannya di dalam hatinya. Saat melihat Ronald bersama Nina hati Wijaya Kesuma langsung lega apa yang dia khawatirkan selama ini tidak terbukti.


"Ron pergilah ke Singapur," perintah Wijaya Kesuma pada anaknya saat datang berkunjung ke kantor Ronald.


"Ngapain Pah?" tanya Ronald heran.


"Nikmatilah hidupmu, aku sudah mempersiapkan apartemen untukmu disana, anggap aja kamu lagi study banding bisnis disana. Apa kamu tak mau sekalian mendekati Nina?" Wijaya Kesuma tersenyum menggoda anaknya.


"Mmm tinggal di Singapur?" Ronald berfikir sejenak.


"Papa udah bilang sama relasi papa disana, kamu akan belajar di perusahaannya, ya istilahnya kamu magang disana selama enam bulan,"

__ADS_1


"Enam bulan Pah, terus bagaimana usaha Ronald disini?" Ronald tak percaya papanya menyuruh dia berada di Singapur selama enam bulan.


"Kamu ini bos, bisalah kamu atur dari Singapur perusahaanmu ini,"


Ronald akhirnya menuruti perintah papanya, dia pun bersiap-siap berangkat ke Singapura, sebelum berangkat Ronald menghubungi Bastian, orang yang selama ini selalu dekat dengan Ronald.


"Bas, gue mau ke Singapur nih mungkin disana sampai enam bulanan gitu," Ronald menghubungi temannya melalui telpon.


"Enam bulan, ngapain aja lo disana lama gitu?" tanya Bastian heran.


"Papa ngirim gue buat magang di perusahaan temennya, sekalian belajar bisnis katanya," terang Ronald.


"Magang, lo udah jadi bos kog masih magang sih heran gue. Jadi kapan kamu berangkat kesana?" tanya Bastian.


"Lusa aku berangkat," jawab Ronald.


"Ok kalau gitu nanti malam kita jalan ya sebelum kamu pergi," ajak Bastian.


"Ok kita ketemu di tempat biasa ya," balas Ronald.


*******


Malam harinya Bastian sudah menunggu Ronald di tempat biasa, mereka biasanya minum-minum di sebuah klub malam untuk menghabiskan malam.


Bastian bekerja pada salah satu bank swasta di kota ini. Selain humoris dia juga sangat menyenangkan untuk diajak bicara, membuat Ronald betah berteman dengannya.


"Hai," Bastian melambaikan tangannya pada Ronald yang baru saja datang.


"Hai, kamu udah dari tadi?" tanya Ronald.


"Baru juga duduk, belum terasa panas kursinya," Bastian melambaikan tangannya pada waiters.


Dia memesan minuman untuk Ronald, setelah minuman datang mereka melakukan tos dan langsung meminumnya. Rasa panas mulai menjalar di tenggorokan dan ke dalam perut mereka.


"Hari ini aku yang traktir ya," ucap Bastian sambil tertawa riang.


"Tapi aku nggak mau mabok ya, nanti gak bisa pulang," ucap Bastian.


"Tenang aja aku yang akan mengantarmu pulang kalau kamu sampai mabok," Bastian kembali tertawa.

__ADS_1


Mereka menikmati alunan musik sambil bercerita menghabiskan malam, Ronald terlihat sudah mulai mabok.


"Ayo aku antar kamu pulang, biar saja mobilku kutinggal disini nanti ku jemput lagi," ucap Bastian.


Dia memegang tubuh Ronald agar tak jatuh, membantunya masuk ke dalam mobil dan mengantarkannya pulang ke apartemennya.


"Thanks ya Bas," ucap Ronald setelah sampai di apartemennya.


Bastian ikut masuk ke dalam apartemen lalu meletakkan kunci mobil di meja, Ronald langsung menghempaskan tubuhnya di sofa kepalanya terasa sangat pusing.


Bastian duduk di sampingnya memandangi Ronald yang sudah setengah sadar. Dia mulai meraba dada Ronald dan mendekatkan wajahnya, Ronald yang merasakan tubuhnya ada yang menggerayangi mencoba membuka matanya.


"Bas, ngapain kamu!" Ronald terkejut dan langsung mendorong tubuh Bastian.


Bastian juga terkejut saat Ronald tiba-tiba marah kepadanya, dia tak menyangka Ronald akan menolaknya.


"Ron, bukankah kita..." Bastian tak melanjutkan ucapannya.


"Apa maksud kamu?" bentak Ronald, seketika rasa maboknya langsung hilang.


"Ron, akui saja kalau kita punya rasa yang sama. Kamu dan aku tidak pernah tertarik dengan wanita, karna kita memang tidak normal," ucap Bastian sambil memandang tajam pada Ronald.


"Keluar dari sini, jangan pernah kamu dekati aku lagi!!" Ronald mendorong Bastian agar keluar dari apartemennya, dia merasa jijik berdekatan dengan Bastian.


"Ok, aku akan pergi tapi ingatlah saat kau menyadari semua ini kembalilah padaku, aku akan selalu menunggumu Sayang," Bastian melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Ronald.


Ronald mentup pintu apartemen dan segera menguncinya, dia jatuh terduduk di depan pintunya. Dia benar-benar shock dengan apa yang baru saja dia alami. Bastian yang selama ini dekat dengannya ternyata seorang gay, dan menyangka dirinya juga gay.


Ronald masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya di bawah pancuran air shower, dia tak habis pikir bagaimana orang bisa menilai dirinya seorang gay. Apa jangan-jangan papanya juga berfikiran yang sama dengan Bastian, hingga papanya begitu memaksa dirinya untuk segera menikah.


Dia mencoba menyelami isi hatinya sendiri, apa benar dia punya kelainan separah itu, apa benar dirinya seorang gay. Ronald menutup wajahnya dengan tangannya, bayangan mengerikan itu membuatnya merasa ketakutan dan jijik dengan dirinya sendiri.


"Aku harus menikah, aku tak mau orang menilaiku seorang gay. Aku harus buktikan kalau aku adalah laki-laki normal," Ronald mengepalkan tangannya, memandangi wajahnya sendiri di kaca.


Dia semakin mantap untuk berangkat ke Singapura, demi menjauhi Bastian untuk sementara. Dia tak mau hidupnya semakin terperosok terlalu jauh.


*********


Hai reader tersayang, yang suka baca novel versi chat aku udah upload novel baru ya,

__ADS_1


"Pemuja Setan" ikuti terus ceritanya horor tapi santai, karna author juga gak suka yang terlalu seram, karna nulisnya malam-malam takut datang beneran.


Trimakasih buat yang selalu setia stay disini. Jangan lupa jaga kesehatan😘


__ADS_2