Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Memulai hidup baru


__ADS_3

Pembukaan restoran Nina tiba semua keluarga Nina datang ke restoran Erick, Ronald, Adit dan Dayat duduk semeja mereka tertawa sambil bercerita, meskipun Erick tidak ingat siapa Adit mereka terlihat begitu akrab seperti sahabat lama.


Sementara Nina duduk semeja bersama mamanya, Ratih, Eka dan mbah Darmi, para wanita itu membicarakan tentang Erick tanpa menyebut nama agar Erick tidak curiga kalau mereka sedang membicarakan dia.


"Apa kalian juga baru tahu kalau anak itu ada di sini, seperti Mama?" tanya Pratiwi pada Ratih dan Eka penuh selidik.


Keduanya mengangguk, mbah Darmi bingung mendengarkan pembicaraan ini, dia tidak mengerti siapa pria yang tengah mereka bahas.


"Kami sama kagetnya Tante, saya sempat shock waktu pertama kali ketemu dia, padagal Nina sudah bilang kalau di sini ada dia, tetap saja saya kaget saat bertemua dia," ucap Ratih.


"Kalau Eka dari awal ketemu dia rasanya udah pingin nimpuk kepalanya aja Tante gerem saya lihat dia, lihat aja tuh tampangnya yang tanpa dosa dan perasaan," ucap Eka, dia memang paling Frontal diantara teman Nina.


Nina hanya tersenyum mendengar mama dan kedua sahabatnya menggosipkan Erick tanpa ikut berkomentar. Dia senang melihat Ronald dan Erick akrab, Erick terlihat tulus bersahabat dengan Erick, demikian juga Ronald dia menyukai Erick tanpa ada rasa cemburu sedikitpun.


"Nin kamu jadi pindah di sini?" tanya Ratih.


"Iya Rat, aku dan Ronald akan tinggal di sini," jawab Nina.


"Hmm yang penting kamu bahagia, dimanapun kamu berada aku senang Nin. Oh ya Ka, gimana di sini kamu betah?" tanya Ratih pada Eka.


"Betah dong, di sini semua serba murah, orangnya ramah-ramah cuma kendala bahasa saja sih," jawab Eka.


"Semoga nanti dapat jodoh orang sini ya Ka," goda Nina.


"Gimana kalau jadi mantu putuku Nduk?" saut mbah Darmi, tiba-tiba mbah Darmi ikut angkat suara. (mantu putu : menantu cucu)


"Nah lo?" sambung Nina.


Semua mata kini memandang ke arah Eka, Eka menjadi salah tingkah dilihat oleh semua orang yang duduk bersamanya.


"Sama siapa Mbah?" tanya Eka penasaran.


"Sama si Dayat, cucu lelakiku cuma Dayat," jawab mbah Darmi sambil menunjuk ke arah Dayat.


Semua menunggu jawaban dari Eka, Eka jadi malu dia merasa sedang ditodong jawaban oleh keluarga Nina.


"Dayat!!" mbah Darmi tiba-tiba memanggil Dayat.


Dayat yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh, dia berdiri mendatangi mbah Darmi yang memanggilnya.

__ADS_1


"Ada apa Mbah?" tanya Dayat.


Eka tidak menyangka kalau mbah Darmi tidak sedang bercanda, wajahnya langsung berubah merona, dia pun menunduk malu melihat Dayat yang datang ke meja mereka.


"Kamu mau nggak kalau ku lamarin nduk Eka?" tanya mbah Darmi.


Wajah Dayat seketika semerah tomat, dia tidak menyangka mbah Darmi akan bertanya soal itu.


"Apa sih Mbah," Dayat terlihat sangat malu.


"Mau tidak bocah ayu kayak gitu, mbah tahu kamu itu takut mau ngedeketin wanita, makanya Mbah mau melamar Eka buat kamu," ucap mbah Darmi tegas.


"Mmm, kalau dia mau Dayat mau-mau saja," ucap Dayat sambil menundukkan wajahnya.


"Nah, gimana Ka, kamu mau jadi bagian keluargaku nggak?" Nina menyenggol lengan Eka.


Eka merasa gugup tubuhnya mendadak panas dingin dan jantungnya berdebaran, dia tidak menyangka hari ini kena prank sama keluarga Nina. Eka mengenal Dayat pria baik dan lugu, anaknya sopan dan malu-malu kalau bertatapan mata dengannya.


Dia juga sudah ingin menikah namun belum ada pria yang cocok di hatinya, setiap berpacaran hubungannya selalu berakhir dengan kecewa. Hari ini tanpa disangka ada yang ingin meminangnya, dia mengenal keluarga ini dengan baik tidak ada record buruk yang dia dengar selama ini.


"Aku sih asal orang tuaku setuju saja," ucap Eka menundukkan wajahnya.


Dayat dan Eka keduanya terlihat malu-malu, Nina memeluk Eka dia sangat bahagia kalau Eka benar-benar menikah dengan sepupunya Dayat.


Dayat kembali ke tempat duduknya dengan wajah bersemu merah, rasa malu campur bahagia bergejolak di dalam hatinya. Sejak pertama bertemu dengan Eka ada bibit-bibit suka tumbuh di dalam hatinya, namun dia sadar diri karena ia hanyalah pemuda desa, sedangkan Eka gadis dari Jakarta tentunya tak mungkin menyukai pria desa yang hidup sederhana.


******


Pulang dari acara pembukaan resto, Ronald mengajak Nina melihat rumah yang dia belikan untuknya dengan diantarkan Erick. Nina yang tidak tahu akan hal ini merasa heran saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah yang tidak dia kenal pemiliknya.


"Rumah siapa ini Rick?" tanya Nina sama Erick.


Erick hanya tersenyum dia membantu Ronald turun dari mobil lalu mendudukkan di kursi rodanya, mereka bertiga masuk ke dalam rumah itu. Erick memegang kunci rumah karna sang pemilik sudah mempercayakan semua pada Erick.


"Apa kamu suka Sayang?" tanya Ronald pada Nina.


Nina menatap suaminya dengan penuh tanya, Ronald dan Erick tersenyum melihat kebingungan di raut wajah Nina.


"Ini rumah kamu Nin, Ronald sudah membelinya untukmu," ucap Erick sambil menunjukkan ruangan di dalam rumah.

__ADS_1


"Rumah kita?" Nina masih tak percaya.


"Iya ini rumah kita," jawab Ronald matanya berbinar bahagia.


"Besar sekali Sayang, kalau buat kita berdua sama anak kita nanti," ucap Nina, dia mulai memeriksa ke penjuru rumah.


"Kita ini kan keluarga besar, nanti bisa buat ngumpul-ngumpul biar seru, emangnya kamu mau punya anak cuma satu saja?" tanya Ronald.


Nina diam tak menjawab dia takut suaminya tersinggung kalau dia membahas keadaannya, kondisi Ronald tidak memungkinkan mereka untuk menambah momongan lagi.


"Minggu depan kalian tanda tangan di notaris ya, oh ya kata pemiliknya kalian sudah boleh pindah ke sini, apa mau di renovasi dulu?" tanya Erick pada Ronald dan Nina.


"Nggak usah ini juga masih bagus kog, paling dicat ulang saja biar cerah, aku mau ganti ranjang kamarku saja," ucap Nina.


"Kita perlu mobil Sayang, mobilmu yang di Jakarta aja dijual buat beli di sini, mobil itu kan punya keluarga Dayat," ucap Ronald.


"Itu punya mamah memang buat keluarga di sini, tapi ya kita emang perlu mobil sendiri juga," sambung Nina.


"Erick, maukah kamu tinggal bersama kami?" tanya Ronald pada Erick.


Erick dan Nina saling pandang, Nina menggeleng pelan dia tidak setuju dengan permintaan suaminya. Erick juga merasa keberatan dengan permintaan Ronald.


"A-aku tinggal di ruko saja," ucap Erick gugup.


"Aku mohon mengertilah Sayang, kondisiku seperti ini kalau ada apa-apa sama kamu tengah malam, aku gak bisa membantumu, Rick ... aku sudah menganggapmu keluargaku sendiri, kamar di sini banyak kamu bisa pakai kamar depan," pinta Ronald.


Nina tiba-tiba merasa tak nyaman, bagaimana mungkin dia akan tinggal serumah dengan Erick, walaupun dia sudah tidak mempunyai rasa apa-apa pada pria itu.


"Kita kan bisa pakai sopir atau pembantu, rumah sebesar ini gak mungkin kita akan bersihkan sendiri," ucap Nina.


"Ya itu pasti tapi aku mau Erick juga tinggal di sini," ucap Ronald tegas dan itu berarti keinginannya tidak bisa ditolak.


Nina memilih mengalah dia juga tidak mungkin menolak permintaan Ronald, sementara Erick dia masih merasa tidak nyaman, kemarin Ronald memintanya untuk menjaga Nina, hari ini dia memintanya untuk tinggal bersama mereka.


Ronald memang sudah merencanakan sesuatu pada Erick dan Nina. Dia ingin mendekatkan Nina dengan Erick lagi, kalau suatu hari dia pergi dia ingin Erick ada di sisi Nina menjaganya.


"Kalau begitu besok aku suruh tukang mulai mengecat rumah ini, dan merapikan halaman serta memperbaiki dapur biar rapi," ucap Erick.


Mereka pun pulang ke rumah mbah Darmi, dan Erick langsung pulang setelah mengantar Nina dan Ronald, perasaannya campur aduk tak karuan membayangkan kalau dia akan tinggal serumah dengan Nina dan Ronald.

__ADS_1


******


__ADS_2