
Fatih semakin penasaran dengan Nina, gadis itu begitu banyak yang menyayanginya, sahabatnya terlihat begitu solid dan kompak. Nina juga bukan gadis biasa terlihat dari rumah orang tuanya, setidaknya keluarga Fatih dan Nina sama-sama pebisnis, tapi gadis ini sangat berbeda dia begitu low profile tidak terlihat sama sekali gaya anak gedongan yang penuh gengsi, bahkan temannya juga dari kalangan biasa.
Fatih akan mendekati teman-teman Nina, agar hubungannya dengan Nina lancar, dia juga butuh info tentang Erick, siapakah Erick bagaimana hubungannya dengan Nina. Kenapa dia langsung sedih setiap nama Erick disebut.
"Fatih bagaimana kuliahmu?" tanya papa Fatih.
"Baik Pah."
"Papa harap kamu tidak main-main lagi kali ini. Ingat Fatih kamu harapan papa satu-satunya, kalau kamu tidak serius belajar bagaimana nanti kamu bisa melanjutkan perusahaan papa,"
"Iya Pah, Fatih mau berubah dari sekarang."
Bukan tanpa alasan papanya Fatih seperti itu, dia sudah tiga kali pindah kuliah karena kelakuan nakalnya, berpesta dan bermain wanita sudah menjadi kebiasaannya, kali ini papanya berharap anaknya benar-benar sudah berubah.
"Apa kamu masih suka main perempuan dan obat-obatan, sekali lagi kamu kenak kasus papa akan biarkan kamu membusuk di penjara. Kamu juga akan ku coret dari daftar keluarga ini!" kali ini papa Fatih benar-benar serius dengan ancamannya.
"Nggak lagi Pah, Fatih sudah gak berteman lagi sama mereka. Fatih janji tidak akan mengecewakan papa dan mama."
Sebelumnya Fatih memang pernah tersandung masalah narkoba, dan papanya masih membantunya dengan syarat dia mau berubah. Fatih berubah nakal sejak ibunya meninggal akibat kanker rahim yang diderita ibunya, sejak itu Fatih mencari pelarian dengan berpesta dan mencoba memakai narkoba. Ancaman hampir masuk penjara membuatnya jera dan mulai berubah.
*************
Bertemu dengan Nina juga semakin membuat Fatih ingin merubah dirinya, dia ingin menjadi pria baik-baik dan mencari pacar yang akan di jadikan pendamping hidupnya, kali ini papanya pasti akan setuju kalau dia dekat dengan Nina, selain tingkat sosial yang sama, Nina juga gadis baik-baik.
Berangkat dan pulang kuliah bersama Nina membuat Fatih bersemangat menjalani kuliahnya yang sekarang, walaupun Nina kelak akan lulus lebih dulu dari pada dia tapi itu tak penting buatnya, dia bisa saja langsung menikah saat Nina sudah lulus kuliah.
"Nin, teman-temanmu udah gak curiga sama aku lagi kan sekarang?" tanya Fatih saat berangkat ke kampus bersama dengan Nina.
"Mereka itu sebenarnya baik, kamu kalau udah kenal sama mereka pasti kamu akan cocok sama mereka."
"Aku tahu mereka begitu karna sayang sama kamu Nin. Mmm kalau soal Erick?"
Nina terdiam dia tidak mau menjawab soal itu, Fatih juga tidak berani memaksa Nina bercerita tentang Erick, mungkin nanti saat dia sudah siap Nina pasti akan bercerita padanya. Demikian juga Fatih belum berani membuka masa lalunya pada Nina.
Fatih mengajak Nina berbicara hal lain, agar dia tidak murung lagi. Nina kembali ceria dan tertawa lepas saat Fatih bercerita tentang hal yang lucu. Semakin tertawa Nina semakin terlihat cantik di mata Fatih.
Dulu jaman masih bandel Fatih biasanya akan langsung meniduri setiap wanita yang bersamanya, tapi kali ini berbeda wanita ini tidak seperti yang lainnya yang begitu mudah dan pasrah membuka bajunya di hadapan pria.
"Sampai ketemu saat pulang ya Nin," ucap Fatih sebelum turun dari mobil saat tiba di kampus.
"Istirahat nanti bergabunglah bersama kami di kantin," ajak Nina.
__ADS_1
"Aku, nanti dikeroyok sama ketiga temenmu," Fatih ragu.
"Ada Adit kog pacarnya Ratih, nanti kamu bisa temenan juga sama dia. Kulihat temanmu belum begitu banyak di kampus,"
"Oh baiklah, ya maklum gue anak baru belum banyak yang kenal."
Fatih dan Nina berpisah masuk ke kelasnya masing-masing. Ratih yang melihat Nina datang bersama Fatih juga sudah tak terlalu mempersoalkan, dia senang Nina sudah membuka hatinya semenjak kejadian yang menimpa Erick, walaupun Ratih juga belum tahu cerita tentang Erick sejak dibawa pulang oleh keluarganya.
"Ganteng juga anak itu," ucap Ratih saat Nina sudah di sampingnya.
"Siapa?" tanya Nina.
"Fatih."
"Kenapa, kamu naksir?" tanya Nina lagi.
"Ya enggaklah Adit mau di kemanain," jawab Ratih ketus.
"Ya kirain kamu naksir Fatih, kalau cuma naksir aja kan gak dilarang, berarti kamu normal masih bisa lihat cowok ganteng selain Adit ha ha,"
"Mulai ngledek, Adit biar gak seganteng Fatih tapi dia limited edition, susah nyari model kayak die cuma atu di Indonesia yee...!"
"Tapi jujur sih emang Fatih lumayan ganteng kog, wajahnya itu ada bandel-bandelnya gitu Nin,"
"Apaan sih ganteng kog ada bandel-bandelnya, kamu ini kalau muji orang suka aneh deh."
"Iya Nin, wajah Fatih itu gimana ya bilangnya susah deh dijelasin dengan kata-kata." ucap Ratih sambil menerawang.
"Haduh... udah gak usah dipikirin kalau susah dijelasin, ntar nambah pusing lagi."
Ratih tertawa melihat mimik wajah Nina yang terlihat bingung saat dia membicarakan deskripsinya tentang Fatih.
*************
Fatih sudah menunggu di kantin saat jam istirahat, Nina langsung menyapa dan bergabung bersamanya, diikuti oleh teman-teman Nina yang lain, mereka sudah terlihat lebih bersahabat di banding malam minggu kemarin. Adit yang datang belakangan juga bergabung dan berkenalan dengan Fatih.
Kini Fatih sudah tidak canggung lagi menghadapi Ratih, Eka dan Dian. Rencananya Fatih akan bertanya tentang Erick pada Adit, tapi menunggu waktu yang tepat dan menunggu mereka sudah semakin akrab.
"Nin... trimakasih sudah menjadi temanku ya," ucap Fatih saat pulang kuliah.
"Ah kayak gitupun ngucapin trimakasih, berteman kan boleh sama siapapun, lagian berteman sama kamu ada untungnya juga kog," balas Nina.
__ADS_1
"Apa?" tanya Fatih.
"Gratis pulang pergi ke kampus he he," Nina terkekeh kali ini dia memandang wajah Fatih yang sedang menyetir di sampingnya.
"Dasar kamu ya," balas Fatih
Dia hampir menyubit Nina karna gemas namun mata mereka saling beradu, ada debar hangat di hati Fatih saat mata mereka saling bertatapan.
Sementara Nina di dalam hatinya juga mulai mengakui apa yang Ratih ucapkan, cowok ini lumayan ganteng seperti yang Ratih bilang.
"Kenapa lihat gue seperti itu?" Fatih jadi tersipu.
"Ya gue pingin lihat aja, gak boleh?"
"Nanti kamu jatuh cinta ha ha," Fatih tertawa.
Nina memukul lengan Fatih membuat Fatih menangkis tangan Nina dan menggenggamnya, tentu saja Nina jadi malu saat tangan Fatih menggenggam tangannya dengan erat.
"Tangan ini gak boleh buat mukul," ucap Fatih sambil menggenggam tangan Nina.
"Kenapa emang?"
"Ya bagusnya di giniin."
Tiba-tiba Fatih mencium punggung tangan Nina, membuat Nina tersentak dan dadanya terasa hangat. Nina membuang muka menyembunyikan perasaan malunya. Fatih melepaskan tangan Nina dia mengira Nina marah dan tidak suka perbuatannya.
"Maaf aku udah lancang,"
Nina tetap diam sampai mereka tiba di rumah Nina, Fatih merasa sangat bersalah Nina turun tanpa berkata dan meninggalkan Fatih begitu saja. Fatih memaki dirinya sendiri yang sudah bertingkah sangat bodoh, pasti Nina menganggapnya laki-laki cabul sekarang.
Fatih memacu mobilnya ke rumahnya, sesampainya di rumah dia mencoba menghubungi Nina berkali-kali tapi tak juga diangkat.
"Bodoh... bodoh... kamu bodoh sekali Fatih!" umpat Fatih pada dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga Fatih harus bicara dengan Nina, dia tak mau gadis itu membencinya dan tak mau lagi berteman dengannya.
"Nin aku minta maaf atas sikapku tadi, aku tak bermaksud seperti itu. Tolong jangan marah padaku lagi ya."
Fatih mengirim pesan WA pada Nina, Nina membacanya tapi tak membalas pesannya. Nina sepertinya benar-benar marah kepadanya hingga tak mau membalas pesan darinya, Fatih melempar hand phonenya ke ranjang dia mendengus kesal pada dirinya sendiri.
************
__ADS_1