Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Wujud asli Rekso


__ADS_3

Nina tidur di dalam pelukan Ronald, malam ini tidurnya terlihat sangat gelisah, dia sedang bermimpi berada di tengah hutan dan tersesat, dia bingung tidak menemukan jalan keluar dari hutan itu, setiap dia berjalan dia akan kembali ke tempat yang sama dan terus berulang seperti itu, tidak ada siapa-siapa di sana hanya dia seorang diri di tengah hutan belantara yang tak berujung.


Sesosok mahluk tinggi besar berambut ikal panjang, mulutnya menyeringai dan taringnya keluar disela-sela bibirnya matanya merah menyala mahluk itu perlahan mendekati Nina, Nina ketakutan dan mencoba untuk berlari namun kakinya serasa terpatri di bumi yang dia pijak dan tak bisa bergerak ke mana-mana.


"Nina ..., ayo kita pulang," mahluk mengerikan itu menyapa Nina dengan suara yang lembut namun terdengar sangat menyeramkan.


"Tidaakkk ..., pergi ... kamu ini mahluk apa?" Nina merinding ketakutan, namun tetap tak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.


"Nina, kamu kenapa?" mahluk itu memegang tangan Nina sambil menyeringai tampangnya semakin menyeramkan.


Nina meronta dan menghempaskan tangan mahluk itu, mahluk itu merasa heran dengan sikap Nina yang tidak seperti biasanya kepadanya.


"Nina ..., ini aku Err ..., Rekso kekasihmu," ucap mahluk itu pada Nina sambil memeluk tubuh Nina yang tak berdaya.


Nina membelalakkan matanya, dia tidak percaya dengan mahluk bertampang mengerikan yang mengaku dirinya sebagai Rekso.


"Kamu ... bukan Err, pergiii ... pergiii, pergi dari sinii, jangan ganggu aku ...!!!" Nina menutup matanya dan menjerit sekencang-kencangnya, mahluk itu semakin mendekapnya membuat Nina tak bisa bernafas.


"Arrgghh ...!!!" Nina meronta sekuat tenaga.


"Sayang ..., Sayang ... bangun Sayang ...," Ronald mengguncang tubuh istrinya yang menjerit dalam tidurnya.


Nina bangun dan melihat Ronald sedang bersamanya, Nina memeluk Ronald di sangat ketakutan, nafasnya terengah keringatnya bercucuran padahal kamar mereka dingin ber AC, mimpi tadi benar-benar sangat mengerikan.


"Kamu mimpi apa?" tanya Ronald sambil memeluk istrinya, wajahnya terlihat pucat.


"Aku mimpi seram, ketemu mahluk yang sangat menakutkan," Nina merapatkan wajahnya ke dada Ronald.


"Sudah, itu hanya mimpi Sayang, yuk kita tidur lagi," Ronald mendekap Nina badannya masih gemetar karna ketakutan.


Mereka pun kembali terlelap dalam tidurnya, Nina tidak melepaskan pelukannya pada Ronald sampai pagi tiba.


******


"Sudah pagi Sayang," Ronald membangunkan istrinya yang masih tertidur dengan ciuman mesranya.


Nina mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sakit dan sangat berat, tubuh Nina juga terasa panas saat di sentuh oleh Ronald.


"Kamu sakit? badanmu panas Sayang," Ronald memegang kening istrinya dengan punggung tangannya.


"Aku pusing," rintih Nina, dia kembali memeluk tubuh suaminya.


"Kamu istrirahat saja ya, bentar aku suruh mbak Nunik buatin sup," Ronald, pergi ke dapur menemui ART-nya.


"Mbak ada stok ayam kampung?" tanya Ronald pada Nunik.

__ADS_1


"Ada Tuan, mau dibuatin apa ya?" tanya Nunik pada majikannya.


"Bisa bikin sup ayam, istriku lagi demam buatin sup ayam banyakin jahenya ya," perintah Ronald pada Nunik.


"Iya Tuan, nanti saya anter ke kamar mbak Nina,"


Ronald kembali ke kamarnya menemui istrinya, dan berbaring disampingnya. Nina terlihat sangat lemah, baru kali ini dia melihat Nina sakit seperti ini.


"Kita ke dokter ya," bisik Ronald di telinga Nina.


"Hmm, nggak usah aku istirahat saja nanti juga baikan," ucap Nina lirih, dia menarik tangan Ronald agar memeluk tubuhnya.


"Aku ada meeting pagi, nanti habis meeting aku langsung pulang ya, kamu gak apa-apakan ku tinggal sebentar?" pamit Ronald pada Nina.


"Gak apa Sayang, pergilah jangan cemaskan aku," Nina mengusap lembut pipi Ronald.


"Nanti supnya di makan ya Sayang, aku tadi nyuruh mbak Nunik buatin kamu sup ayam," Ronald, bersiap-siap akan berangkat ke kantor.


Sebelum pergi Ronald mengecup kening Nina dan merapikan selimutnya, dia berpesan pada asistennya agar menunggui Nina makan di kamar.


"Pastikan istriku memakan supnya ya Mbak," pesan Ronald sebelum pergi.


Ronald berangkat ke kantor dengan hati gelisah, dia sangat cemas melihat Nina sakit dan dia tak berada di sampingnya, Ronald memacu mobilnya dengan cepat agar cepat sampai di kantor, dan berharap urusannya cepat selesai dan dia bisa cepat pulang menemani istrinya yang sedang sakit.


Tok ..., tok ...


"Taruh di meja Mbak, aku mau mandi dulu. Mbak minta tolong siapin air panas di bathup ya," Nina merasa gerah dan ingin berendam.


"Iya Mbak," Nunik masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air panas di bathup.


Nina masuk ke kamar mandi dan berendam, badannya yang tadi terasa gerah karna demam rasanya lebih nyaman saat berendam dengan air hangat.


Nina menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya, tubuhnya terasa ringan membuat Nina hampir terlelap ketiduran.


Nina merasa seperti ada yang membelainya, perlahan dia buka matanya melihat siap yang menyentuhnya.


"Aaaaaaaa ...!!!" Nina berteriak ketakutan, mahluk yang hadir dalam mimpinya sekarang duduk di tepi bathup dan membelai kepalanya.


"Tidaaaaakkk ..., toloooong ...!!!" Nina berteriak meminta tolong tapi suaranya seolah hanya sampai di kerongkongan saja.


Mahluk itu tersenyum tapi terlihat sangat menyeramkan buat Nina, Nina bergidik ketakutan dan akhirnya pingsan. Melihat Nina pingsan mahluk itu mengangkat tubuh Nina dan meletakkan di ranjang, menyelimuti tubuh Nina yang telanjang.


Rekso menatap Nina dengan pandangan sedih, Nina sangat berubah padahal hari ini dia hadir dengan bentuk raga menyerupai Ronald, namun Nina tetap ketakutan melihatnya.


Rekso mau melepaskan kalung di leher Nina, saat tangannya memegang kalung itu tangannya seperti terbakar.

__ADS_1


"AAARRGGHH ...!!!" Rekso pergi meninggalkan Nina dengan luka bakar di tangannya.


******


Ronald pulang ke rumahnya setelah meetingnya selesai, dia memacu mobilnya dengan kencang, hatinya merasa gelisah mencemaskan istrinya di rumah.


Ronald bergegas masuk ke dalam kamarnya, setelah memarkir mobilnya. Nna masih tertidur di ranjangnya, makanan juga masih utuh tak disentuh.


Ronald membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya, dia heran melihat Nina tidur tanpa pakaian di tubuhnya.


"Sayang ..., Sayang ..., kog gak di makan supnya," Ronald membangunkan istrinya dengan pelan.


Nina menggeliat dan membuka matanya dengan perlahan.


"Aaaaaaa ...!!!" Nina kembali memekik, membuat Ronald terkejut melihat reaksi istrinya yang hendak berlari, dengan cepat Ronald memeluk tubuh Nina.


"Lepaaas ..., lepaskan aku ..., pergiiii ... jangan ganggu aku lagi ... hiks ...!!" Nina menangis ketakutan.


"Sayang ..., sadar ini aku," Ronald menepuk pipi Nina dan mengguncang tubuhnya.


Nina perlahan sadar dan memandang wajah Ronald dengan lekat, lalu dia pun menangis dalam pelukan Ronald, dia menangis tersedu dan Ronald semakin bingung, apa yang sudah menimpa istrinya hingga seperti ini.


"Ada apa Sayang," Ronald mencoba mencari tahu dari Nina apa yang sudah terjadi.


"Dia tadi datang di sini, di kamar mandi, menggangguku," mata Nina melihat sekeliling ruangan, dia takut mahluk itu datang lagi.


"Dia ..., dia siapa?" Ronald tidak mengerti apa yang di maksud oleh Nina.


"Mahluk itu, yang datang dalam mimpiku tadi dia ada di sini," Nina menangis ketakutan.


Ronald memeriksa sekeliling ruangan, namun dia tidak melihat apa-apa. Apa mungkin Nina berhalusinasi karna demamnya tadi lumayan tinggi, Ronald membathin.


Ronald memakaikan Nina baju tidur dan mengambilkan sup yang belum dia sentuh dari tadi, dia menyuapi Nina agar perutnya terisi, Nina hanya makan beberapa suap dan berhenti tak mau lagi.


Ronald mengantar piring bekas makan ke dapur dan menanyai asistennya tadi Nina ngapain saja selama dia tidak di rumah.


"Tadi mbak Nina mau mandi dulu Tuan, jadi saya siapin air hangat terus mbak Nina pergi mandi dulu sebelum makan," terang Nunik pada Ronald.


Ronald kembali ke kamarnya melihat Nina yang berbaring lemas, dia merasa sangat iba pada Nina.


"Jangan pergi aku takut," ucap Nina saat Ronald duduk di sampingnya.


"Aku di sini Sayang, jangan takut lagi, tidurlah," Ronald mengusap lembut kepala Nina.


Dia menunggui sampai Nina benar-benar telah terlelap dalam tidurnya, dan berharap istrinya tidak lagi mengalami mimpi buruk seperti tadi.

__ADS_1


*********


__ADS_2