Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Perjodohan


__ADS_3

Pagi itu Ronald bangun lebih dulu dari Nina, dia menyelimuti tubuh Nina dan pergi ke kamar mandi untuk mandi, setelah mandi dia membuat telur setengah matang dan roti panggang lalu menatanya di meja makan.


Nina terbangun mendengar suara Ronald bersenandung di dapur, dia sama sekali tak menyadari kalau tadi malam Ronald tidur di sampingnya, diapun berlalu ke kamar mandi untuk mandi, setelah mandi Nina menemui Ronald yang masih berada di dapur.


"Tumben bangun pagi?" sapa Nina, sambil mencomot roti panggang yang ada di meja.


"Kalau hari kerja aku biasa bangun pagi, kan kerja di tempat orang bisa ditegur bos kalau sampai datang terlambat. Mau kopi apa susu?" tanya Ronald pada Nina.


"Kamu mau bikin apa?" Nina balik bertanya.


"Aku mau bikin kopi," Ronald menunjukkan kopi pada Nina.


"Ya udah sama aja kalau gitu," ucap Nina sambil duduk.


"Bagaimana tidurmu, sepertinya sangat nyenyak tadi malam?" Ronald menyodorkan kopi buatannya untuk Nina.


"Iya aku benar-benar tidur nyenyak tadi malam, mungkin saking capeknya kita jalan-jalan seharian," Nina menyeruput kopi miliknya.


"Tinggalah di sini biar uang sewa apartemenmu bisa di pakai untuk keperluan yang lain," Ronald masih mengharap Nina mau tinggal bersamanya.


"Apa kata orang nanti, biarpun di sini tidak ada yang mengenal kita, tapi lama-lama juga pasti ketahuan sama keluarga kita di Jakarta," balas Nina.


"Ya udah kita percepat saja pernikahan kita, kita bisa menikah di sini, atau pulang sebentar ke Jakarta," Ronald menatap serius pada Nina.


"Aku harus bicara dengan mamaku dulu, bagaimana pun restu orang tua tetap nomor satu, aku tak mau menikah tanpa restu mereka," balas Nina.


"Bagaimana kalau aku minta papaku untuk datang melamarmu?" tanya Ronald bersemangat.


Nina terdiam dia mengunyah roti panggangnya dengan berjuta pertanyaan dan keraguan yang berputar di kepalanya, Ronald masih menunggu jawaban dari bibir mungil Nina.


"Apa kita bisa melalui ini Ron?" Nina masih ragu.


"Maksudmu?" Ronald tidak mengerti arah pembicaraan Nina.


"Aku takut gagal lagi, seperti yang dulu," Nina menatap mata Ronald mencari jawaban di sana.


"Jika kita tidak mencobanya apa kita tahu kita akan gagal atau tidak, apa kamu berharap hubungan kita akan gagal? kalau aku tentunya ingin hubungan ini sampai akhir hayatku, seperti pernikahan mama dan papaku, mereka selalu bisa melampaui semua masalah bersama," Ronald mencoba meyakinkan Nina.


"Jika mama papaku setuju, aku akan menerima pinanganmu, tapi beri aku waktu untuk bisa mencintaimu," ucap Nina lirih.

__ADS_1


"Hah ..., benarkah Nina, aku tidak percaya akan secepat ini," Ronald mendekati Nina dan menggenggam tangannya.


"Apa lagi yang kucari dalam hidup ini, aku cuma butuh pendamping yang menyayangiku dengan tulus, mungkin kamulah orang yang di kirim Tuhan untukku," Nina mengusap pipi Ronald.


Ronald mencium tangan Nina, tak terasa air matanya menetes karna merasa bahagia. Ronald bangkit dan memeluk Nina, Nina adalah wanita pertama yang mengisi hatinya, dia sangat berharap di hati Nina juga cuma ada dia.


"Aku berangkat dulu ya, kamu kalau masih mau di sini silahkan di sini, aku bawa kunci satu lagi," Ronald mencium kepala Nina dan bersiap berangkat ke kantor.


Sepanjang perjalanan senyum menghiasi bibirnya, dunia ini terlihat begitu indah dan menyenangkan buatnya, Ronald menyapa semua orang yang dia jumpai di kantornya.


"Hi, Ronald you look very happy today!" sapa teman kantor Ronald, saat melihat wajah Ronald ceria.


"Yes Dude, you know I will get married soon," Ronald menceritakan kalau dia akan segera menikah dengan gadis pujaannya.


"Really, congratulation i am happy to you," Pria itu menepuk pundak Ronald, dia ikut bahagia mendengar kabar ini.


********


Istirahat siang Ronald menghubungi papanya di Jakarta, dia ingin mengabarkan kabar bahagia ini pada papanya.


"Apa kabar Ron?" sapa papanya di sebrang sana.


"Maksudmu apa?" Wijaya Kesuma masih belum paham ucapan Ronald.


"Lamarin Nina Pa, kami mau segera menikah tapi Nina mau mendengar persetujuan dari orang tuanya," Ronald sudah tidak sabar ingin menikahi Nina.


"Benaran, kamu udah berhasil mengambil hati Nina? kalau soal restu, aku kenal baik dengan papanya Nina mereka pasti akan setuju," ucap Wijaya Kesuma, orang tua itu tertawa bahagia, akhirnya Ronald akan segera mengakhiri masa lajangnya.


"Pa kabarin ya, kalau Papa mau datang ke rumah orang tua Nina," ucap Ronald penuh harap.


"Kamu tenang saja Anakku, siang ini juga aku akan temui Hendra. Kamu jaga baik-baik Nina di sana ya, jangan macam-macam!" Wijaya Kesuma tak kalah senang dengan Ronald, dia begitu bersemangat ingin cepat menimang cucu.


Setelah menerima telepon dari Ronald, Wijaya Kesuma membatalkan semua agenda rapat hari itu, dia ingin menemui Hendra di kantornya secara khusus, membahas kelanjutan hubungan anak-anak mereka.


"Untuk rapat hari ini tolong re scedule ya, Saya ada tugas negara yang lebih penting, ini demi kelanjutan trah keluarga Kesuma," ucap Wijaya pada sekretarisnya, sebelum dia pergi ke kantor Hendra.


"Baik Pak," sekretaris Wijaya Kesuma mengangguk dan langsung menghubungi beberapa klien yang akan rapat hari ini.


********

__ADS_1


Mobil Wijaya Kesuma memasuki parkiran di kantor milik Hendra, dengan senyum sumringah dia melangkahkan kakinya penuh semangat menuju ke ruangan Hendra.


"Bapak ada?" tanya Wijaya Kesuma pada sekretaris di kantor Hendra.


"Masih rapat Pak, apa Bapak mau menunggu atau mau meninggalkan pesan?" tanya sekretaris Hendra.


"Aku menunggu saja, sampaikan ini penting dari pak Wijaya Kesuma," ucap Wijaya Kesuma sambil berlalu ke ruang tunggu.


Sekretaris Hendra mengantarkan berkas ke ruang rapat sekaligus menyampaikan pesan Wijaya Kesuma. Beberapa saat menunggu rapatpun selesai, Hendra keluar dari ruang Rapat dan menemui Wijaya Kesuma.


"Duh maaf sudah lama menunggu Pak," sapa Hendra sambil menyalami Wijaya Kesuma.


"Santai aja Hend," jawab Wijaya Kesuma dengan senyum ramahnya.


"Yuk ke ruangan saya Pak," Hendra mengajak Wijaya Kesuma ke ruangan kantornya.


Di dalam kantor Hendra, Wijaya Kesuma langsung memeluk Hendra, tentu saja sikap Wijaya Kesuma membuat Hendra heran.


"Hend, aku bahagia banget hari ini," ucap Wijaya Kesuma.


"Wah Bapak menang tender ya?" Hendra ikut senang.


"Bukan tender, usaha kita berhasil Hend akhirnya Nina mau menerima Ronald, tadi dia baru ngabarin kalau Nina mau asal kalian merestui," Wijaya Kusuma merasa sangat lega.


"Wah ini kabar bagus Pak, nanti saya kabarin mamanya Nina, dia juga pasti sangat senang kalau anaknya segera menikah," Hendra tersenyum bahagia, akhirnya anaknya kembali membuka hatinya.


"Kita harus bikin pesta besar-besaran Hend, Ronald itu anak pertamaku, dan Nina anakmu satu-satunya, aku mau bikin pesta dan mengundang semua relasiku," Wijaya Kesuma sudah membayangkan pesta megah buat pernikahan anaknya.


"Kalau itu kita bicarakan juga sama calon pengantin nanti Pak, anak saya tipe orang yang simple, dari dulu memang gak hobby sama pesta," balas Hendra, dia tau Nina tak mungkin mau membuat pesta besar-besaran, apalagi ini bukan pernikahan pertamanya.


"Oh begitu, wah aku salut sama kamu, anak cuma satu tapi bisa manut begitu ya, anakku sih cuma Ronald yang anteng, kalau adeknya duh jangan di tanya hobbynya clubing," Wijaya Kesuma malah curhat tengang anaknya.


"Mungkin karna pergaulan juga Pak, Nina dari dulu kuper anaknya, kerjaannya di rumah nonton drama korea, teman-temannya juga biasa-biasa saja dari SMA,"


"Itulah kenapa aku maksa Ronald memilih anakmu, karna aku tahu bagaimana kamu, buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya," Wijaya Kesuma kembali terkekeh.


Kedua orang tua itu mulai merancang perjodohan Ronald dan Nina, walaupun hari pernikahan tetap menunggu keputusan dari Nina dan Ronald, para orang tua hanya tinggal memberi dukungan dan mempersiapkan segala sesuatunya.


Semoga ini adalah pernikahan Nina yang terakhir dan Nina berbahagia selamanya, Papa Nina membathin dia teringat akan lika-liku perjalanan cinta anaknya selama ini.

__ADS_1


************


__ADS_2