Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Bersatunya Fatih dan Dian


__ADS_3

Tomi di larikan ke rumah sakit dengan ambulance, setelah sampai di rumah sakit Tomi langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Dian dan mamanya menunggu di luar dengan hati yang cemas, sementara Fatih langsung melakukan proses administrasi di rumah sakit, beberapa saat menunggu Tomi akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan, Dian dan mamanya mengikuti kemanapun Tomi di bawa.


Tomi berbaring lemah, Dian dan mamanya duduk di sofa tanpa saling bicara, keduanya hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Fatih datang ke ruangan perawatan papanya setelah semua urusan administrasi selesai.


Tomi menatap wajah papanya yang sedang tertidur, hatinya cemas dia merasa sangat bersalah, akibat ulahnya papanya sampai harus seperti ini.


"Maaf kan Fatih Mah," ucap Fatih lirih.


"Sudah, kita bahas nanti saja yang penting papamu sehat dulu," mama Dian menyuruh Fatih duduk di samping papanya.


Beberapa saat ruangan hening Tomi mulai tersadar, dan Fatih langsung mendekati papanya.


"Fatih," ucap Tomi lirih.


"Papa istirahat dulu Pa," ucap Fatih dia mencemaskan papanya.


"Mana mama kalian?" tanya Tomi.


Mama Dian mendekati suaminya, dan duduk di sebelah kanannya.


"Ada apa Mas, Mas istirahat dulu jangan mikir macem-macem," mama Dian mencoba menenangkan suaminya.


"Maafkan anakku," ucap Tomi lirih.


"Sudah, aku sudah memaafkan mereka," ucap mama Dian sambil membelai kepala suaminya.


"Fatih, jika memang kalian saling menyukai menikahlah jangan bikin dosa di rumah, dewasalah nak tak selamanya papa akan ada di sisimu," ucap Tomi.


"Pah jangan banyak bicara dulu Papa istirahat ya, nanti pulang dari rumah sakit kita urus semua, Fatih janji tidak akan mengecewakan Papa," Fatih memandang papanya dengan tatapan sedih.


"Ma ..., restuilah anak kita, mungkin dengan begini mereka akan bahagia," ucap Tomi kepada istrinya, wanita itu mengangguk dan tersenyum pada suaminya.


Malam itu semua tidur di rumah sakit menjaga Tomi, pagi hari Fatih berangkat ke kantor sementara Dian membantu mamanya menjaga suaminya.


Kabar sakitnya Tomi terdengar oleh keluarga Hendra, mereka datang menjenguk sahabatnya ke rumah sakit.


"Aku dapat info dari group komplek kamu dilarikan ke rumah sakit Tom," ucap Hendra saat menjenguk Tomi.


"Biasa Hend penyakit uzur, kena angin dikit langsung sakit he he," ucap Tomi sambil terkekeh, dia sudah merasa baikan.


"Jaga kesehatan Bro kita belum punya cucu he he," Hendra menghibur sahabatnya.


"Iya Hend, semoga kita diberi kesehatan dan bisa bermain dengan cucu kita, apa kabar Nina? lama nggak lihat anak itu," tanya Tomi.


"Hmm Nina sibuk dengan restonya sekarang, ya kami juga menunggu tapi se dikasihnya sajalah," ucap Hendra.


Kedua sahabat itu saling bercanda, Tomi merasa senang dengan kedatangan sahabatnya yang sudah seperti saudaranya.


******

__ADS_1


Empat hari dirawat Tomi sudah di ijinkan pulang ke rumahnya, setelah merasa sehat Tomi mulai membahas hubungan Fatih dengan Dian.


Mereka sepakat untuk menikahkan Fatih dan Dian. Kabar pernikahan Fatih dan Dian juga sampai di telinga Nina, Fatih sendiri yang mengabari Nina tentang pernikahannya.


"Nin ..., aku akan menikah dengan Dian," ucap Fatih melalui sambungan telponnya dengan Nina.


"Aku senang mendengarnya, semoga kalian bahagia, jangan sia-siakan Dian, aku percaya kamu pria yang bertanggung jawab," ucap Nina tulus.


"Nin ..., kamu jujur sama aku, apa kamu bahagia bersama Ronald?" Fatih sangat mencemaskan keadaan Nina.


"Aku baik-baik saja Fat, gak usah mencemaskan aku, dalam rumah tangga kadang ada pasang surutnya, aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama seperti waktu bersamamu, karena ke egoanku kita berpisah," ucap Nina lirih.


"Aku harap kalian bisa menemukan jalan dari masalah kalian Nin, aku sedih kalau kamu tidak bahagia," ucap Fatih.


"Thanks, percayalah aku bisa hadapi ini," balas Nina.


Fatih mengakhiri panggilan telponnya dengan Nina, Nina mengirim ucapan selamat pada Dian dengan tulus.


'Dian selamat ya, semoga lancar tidak ada halangan,' Nina mengirim pesan pada Dian.


'Kamu udah tahu Nin?' balas Dian.


'Udah dong, Fatih memberitahuku aku ikut bahagia buat kalian,' balas Nina.


'Aku sebenarnya takut Nina, dia masih memikirkan kamu,' balas Dian.


'Buatlah dia mencintaimu, Fatih dan aku hanya sebatas kakak dan adik percayalah,' balas Nina.


'Love you more and more...,' Nina tersenyum lega.


*******


Hari pernikahan Fatih dan Dian tiba, hanya perayaan sederhana mengundang sahabat dekat dan keluarga, mama Dian terharu melihat anaknya sudah menjadi seorang istri.


Markus papanya Dian hadir sebagai wali, demikian juga Dino juga datang menghadiri pernikahan kakanya. Haru dan bahagia bercampur menjadi satu.


Nina hadir seorang diri tanpa Ronald di pernikahan Fatih, Ronald memang tidak mau menghadiri acara Fatih, dia juga masih kesal dan cemburu dengan pria itu, namun tetap mengijinkan Nina datang ke acara walau seorang diri.


Dian berseri-seri melihat semua sahabatnya datang ke pernikahannya, Nina bahkan menghadiahi mereka tiket bulan madu ke pulau Bali.


Para tamu sudah pulang tinggal Markus bersama Dino yang masih tinggal. Markus juga terlihat akrab dengan Tomi, mereka bahkan tertawa bersama sambil bercerita. Dino merasa senang kini keluarganya sudah kembali akur meskipun mereka sudah berpisah dan sama-sama menikah.


*******


Dian berbaring di kamarnya sementara Fatih juga tidur di kamarnya sendiri, Fatih pikir Dian akan tidur bersamanya di kamarnya sedangkan Dian juga berfikiran sama.


Malam semakin larut dan Dian tak kunjung datang ke kamar Fatih, akhirnya Fatih mencari Dian, namun di lantai bawah Dian tidak ada, Fatih mencari ke kamarnya dan ternyata Dian sudah tertidur di kamarnya.


Tak mau mengganggu akhirnya Fatih kembali ke kamarnya dan tidur tanpa Dian, dia juga bingung mau memulai dari mana.


Pagi hari Dian sudah bangun lebih dulu, dan membantu mamanya di dapur menyiapkan sarapan, selesai membantu mamanya dia bergegas ke kamarnya dan bersiap untuk berangkat ke kantor.

__ADS_1


Dian mendatangi kamar Fatih dan masuk ke dalam kamarnya, pria yang kini menjadi suaminya itu tengah tertidur dengan nyenyaknya, Dian memberanikan dirinya untuk membangunkan Fatih.


"Fat ..., bangun udah siang, kamu nggak ngantor hari ini?" ucap Dian sambil menepuk pipi Fatih.


"Hmm jam berapa?" Fatih menggeliat dan mengerjapkan matanya, melihat Dian sudah berpakaian rapi akan ke kantor.


"Dian, kita ini menikah kemarin di mana-mana pengantin itu bulan madu dulu bukan ke kantor, lagian itu kantor juga punya papah kamu gak masuk sebulan juga gak ada yang mecat kamu," Fatih menggelengkan kepalanya.


"Mmm gitu ya," Dian bengong.


"Sini tidur lagi," Fatih menggeser tubuhnya agar Dian tidur di ranjang bersamanya.


"Ogah kamu belum mandi," ucap Dian sambil berdiri dan akan meninggalkan kamar Fatih.


Namun tangan Fatih lebih cepat dia menarik tangan Dian hingga kembali duduk di ranjang Fatih.


"Tidur ku bilang!!" Fatih melotot.


"Kamu kasar sekali sama aku, dasar breng*ek kamu Fatih," Dian mulai kesal.


"Masak suami di breng*ek-breng*ekin," Fatih juga kesal punya istri keras kepala suka melawan.


Dian sebenarnya malu mau tidur di samping Fatih, rasanya masih aneh dan tidak percaya kalau mereka sudah menikah.


"Tidurlah bersamaku, mana ada suami istri tidurnya berpisah kamar gitu," ucap Fatih protes karna Dian tidur di kamarnya sendiri.


"Ya harusnya kamu yang datang ke kamarku, masak aku yang datangin kamu duluan," ucap Dian tak mau kalah.


"Ya kan enak di kamarku luas, kamar kamu sempit," ucap Fatih.


"Fatih apa kita bisa melalui semua ini?" suara Dian berubah parau.


"Apa kamu ragu denganku?" Fatih balik bertanya.


"Entahlah, aku takut Fat, orang tuaku bercerai, kamu sama Nina, ah entahlah ...," Dian terdiam menundukkan wajahnya.


"Tidak ada orang yang ingin gagal berkali-kali demikian juga aku," ucap Fatih.


Fatih bagun dan memeluk Dian yang duduk di ranjangnya, aroma parfum di tubuh Dian membangkitkan kejantanan pria itu. Beberapa saat ke duanya tenggelam dalam hangatnya cumbuan.


"Fat jangan sekarang," bisik Dian.


"Nanggung ah ...," Fatih tak mau berhenti.


"Gue lagi datang bulan," bisik Dian di telinga Fatih.


"What!!! ya elah," seketika nafsu Fatih hilang dia langsung menghentikan cumbuannya.


"Sorry...," Dian merapikan bajunya, dia meninggalkan Fatih dengan wajah anehnya karna rasa kecewa.


Dian tertawa puas sambil menuju ke lantai bawah menemui mamanya yang sedang bercengkrama dengan Tomi di ruang keluarga.

__ADS_1


******


__ADS_2