
Ronald terus meronta kedua tangannya terikat, dia diapit oleh dua pria berbadan tegap dan berwajah sangar, dia bingung kenapa dia sampai diculik seperti ini.
"Siapa kalian, apa salahku?!" tanya Ronald.
"Kamu diam saja jangan berulah, nanti juga kamu akan tahu apa salahmu!!" ancam salah satu pria sangar yang duduk di depannya.
Mobil yang membawa Ronald memasuki kawasan perumahan yang sepi karena masih dalam tahap pembangunan, mobil berhenti di salah satu rumah yang sudah selesai dibangun, Ronald dibawa masuk ke dalam rumah itu dengan paksa.
Dia kembali diikat di kursi, salah satu pria berbadan tegap menghubungi seseorang dan memberitahu kalau Ronald sudah berhasil mereka lumpuhkan, Ronald berteriak agar ada orang luar yang mendengarnya, tapi malah kena hajar hingga pingsan tak sadarkan diri.
*******
Ronald terbangun saat tubuhnya terasa basah, seseorang sengaja menyiramnya dengan air agar dia tersadar dari pingsannya, perlahan Ronald membuka kedua matanya, tubuhnya terasa remuk dan wajahnya juga terasa sangat nyeri, seorang wanita duduk di kursi berhadapan dengannya dengan senyuman sinis.
Rebeca tertawa melihat Ronald yang tak berdaya, tangan dan kakinya terikat serta mulutnya ditutup lakban agar tidak bisa berteriak.
"Halo Ronald, apa kabar masih ingat denganku?" Rebeca tersenyum, dia berdiri dan menjambak rambut Ronald mendekatkan wajahnya ke wajah Ronald yang sudah babak belur.
"Kamu kira bisa kabur seenaknya setelah meniduriku dasar laki-laki breng*ek, rasakan pembalasanku aku mau kamu hidup dalam penderitaan Ronald!!" Rebeca menarik rambut Ronald dengan kasar.
Ronald meringis menahan sakit, dia tidak bisa bersuara karena mulutnya tertutup rapat dengan lakban. Dia ingin meminta maaf tapi suaranya tidak keluar, hanya dengusan yang terdengar dari mulutnya yang tertutup rapat.
"Aku ingin kalian buat dia babak belur, dan satu lagi buat dia tidak bisa lagi meniduri wanita seumur hidupnya, tapi ingat jangan kalian bunuh orang ini, aku ingin dia hidup menderita, setelah itu buang tubuhnya di jalan!!" Rebeca tertawa menyeringai di depan Ronald.
Ronald terus meronta, dia memohon ampun pada Rebeca tapi dia hanya bisa menggerakkan kepalanya tanpa bisa berkata. Rebeca berlalu meninggalkan Ronald bersama tukang pukulnya, setelah Rebeca pergi Ronald menjadi bulan-bulanan anak buah Rebeca.
Darah segar mengalir di wajah dan tubuh Ronald akibat hantaman dan pukulan brutal dari anak buah Rebeca, yang lebih parah lagi salah satu anak buah Rebeca menghajar alat vital Ronald, Ronald kembali pingsan karna tidak tahan dengan siksaan yang bertubi, setelah puas menghajar tubuh Ronald mereka membawa tubuh Ronald yang penuh luka lalu membuang di pinggir jalan yang sepi.
********
Nina mencoba menghubungi Ronald sejak naik pesawat ponsel Ronald tidak bisa dihubungi, hari sudah semakin sore harusnya Ronald sudah sampai di Jakarta, Nina juga menelpon ke rumahnya menghubungi asistennya menanyakan apakah suaminya sudah pulang, namun Ronald juga belum pulang ke rumahnya.
Nina mencoba menghubungi mertuanya, karena tidak tahu lagi harus menghubungi siapa, Nina berharap mendapatkan jawaban di mana suaminya sekarang berada.
"Ada apa Nina?" tanya Wijaya Kesuma saat menerima telpon dari menantunya.
"Pah, apa Ronald sudah tiba di Jakarta?" tanya Nina pada mertuanya.
"Lo apa dia pulang ke sini?" Wijaya Kesuma juga heran karna dia tidak tahu tentang kepulangan Ronald ke Jakarta.
"Iya Pah, dari tadi siang tapi sampai jam segini ponselnya tidak aktif," Nina semakin cemas.
"Hah ..., kemana anak itu, kamu nggak ikut pulang?" tanya Wijaya Kesuma.
"Ronald menyuruhku tinggal Pa, karna aku harus mengawasi pembangunan restoku," ucap Nina
__ADS_1
"Duh, ada apa ini nggak biasanya Ronald begini, ya sudah biar papa cari dulu, nanti papa kabarin kamu ya," Wijaya Kesuma menenangkan hati Nina.
Nina masih cemas dia mondar-mandir di teras, Erick yang sedang berada di sana memperhatikan Nina yang sedang kebingungan.
"Ada apa Nin, kamu terlihat sangat cemas, apa ada masalah dengan Ronald?" tanya Erick.
"Ronald belum ada kabar Rick, pikiranku tiba-tiba jadi nggak enak," ucap Nina.
"Kamu shalat sana, minta petunjuk sama Allah," ucap Erick.
"Trimakasih Rick, aku masuk dulu," Nina mengikuti saran Erick dia menenangkan diri dengan shalat dan memohon petunjuk pada Rabnya.
********
Tubuh Ronald tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi terikat, seorang pengendara ojek online yang melintas menemukan tubuhnya yang pingsan di tepi jalan, setelah memeriksa nadi dan ternyata masih hidup sang pengemudi ojek mencari kantor polisi terdekat untuk melaporkan temuannya.
Polisi yang mendapat laporan segera merespon dan menuju ke TKP, tubuh Ronald segera di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Dompet dan ponsel Ronald masih berada di kantong celananya, namun ponsel Ronald dalam kondisi mati karena kehabisan batrey, polisi sudah menemukan identitas Ronald dari KTP yang ada di dompet miliknya.
Ponsel Ronald berhasil dihidupkan setelah di isi dayanya. Nina mencoba menghubungi kembali ponsel suaminya, dia lega saat nada sambung terdengar di ponselnya.
"Sayang, kamu di mana, kenapa ponselmu gak bisa dihubungi dari tadi?" Nina langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan saat ponsel Ronald di angkat.
"Maaf ini dengan siapa?" seseorang yang tidak Nina kenal menjawab ponsel Ronald.
"Begini Bu, suami anda berada di rumah sakit saat ini dalam kondisi kritis," polisi itu menjelaskan pada Nina apa yang menimpa suaminya.
Nina terjatuh, dia pingsan mendengar kabar buruk yang menimpa suaminya, suara Nina terjatuh terdengar oleh Dayat dan Erick mereka berlari ke kamar Nina dan mendapati Nina tergeletak di lantai kamarnya.
"Mbak ada apa Mbak?" Dayat mengguncang tubuh Nina yang sedang pingsan.
Erick membantu Dayat mengangkat tubuh Nina ke atas ranjang, Erick mengambil ponsel Nina yang masih tersambung, dia mendengarkan dan menanyakan pada orang yang ternyata adalah seorang polisi yang sedang berbicara dengan Nina.
"Yat coba kamu hubungi orang tua Nina, kabarin keluarga di Jakarta kalau Ronald sekarang berada di rumah sakit," Erick menyuruh Dayat menghubungi keluarganya.
Keluarga di Jakarta seketika gempar saat mendengar musibah yang menimpa Ronald. Orang tua Ronald dan juga keluarga Nina segera mendatangi rumah sakit tempat Ronald dirawat.
Di rumah sakit polisi masih menjaga di pintu kamar perawatan Ronald, setelah keluarga datang mereka diminta untuk memberikan keterangan dan polisi melakukan penyelidikan atas apa yang telah menimpa Ronald.
*******
Di tempat lain Nina yang sadar dari pingsannya dia langsung menangis tersedu, mendengar penjelasan Dayat, Erick juga masih setia menungguinya dia tak tega meninggalkan Nina yang sedang terpukul.
"Aku harus pulang Yat, aku harus melihat keadaan suamiku," Nina tersedu.
__ADS_1
"Baiklah besok Mbak pulang ke Jakarta, tapi apa Mbak bisa pulang sendiri?" tanya Dayat.
"Biar kuantar, kamu urus saja yang di sini setelah Nina bertemu keluarganya aku langsung pulang ke sini," saut Erick menawarkan diri.
"Nah gitu aja Mbak gimana?" tanya Dayat.
Nina mengangguk setuju saat itu dia benar-bebar sedang kalut dan tidak bisa berfikir jernih, dia hanya ingin cepat bertemu dengan Ronald suaminya.
Dayat memesan tiket untuk penerbangan besok, Nina akan ke Jakarta diantar oleh Erick, mbah Darmi sangat sedih melihat cucunya yang baru beberapa hari terlihat bahagia sekarang sudah kembali bersedih.
"Sabar Nduk, istighfar yo," mbah Darmi membelai kepala Nina.
"Iya Nin, kamu harus sabar minta pertolongan sama Allah, kamu pasti bisa melalui ini semua," ucap Erick, dia menatap iba pada wanita yang selalu membuat hatinya berdebar saat mereka saling bertatapan mata.
"Ok udah beres, pesawat pagi ya Rick," Dayat memberitahu Erick jadwal keberangkatan pesawatnya.
"Ok aku pulang dulu ya, besok pagi aku ke sini lagi, Nina kamu yang kuat ya," Erick berpamitan pulang karna hari juga sudah larut malam.
Nina tidur ditemani mbah Darmi, orang tua itu tak tega membiarkan cucunya sendirian dalam kondisi bersedih seperti itu. Nina mencoba untuk tidur meskipun pikirannya jauh melayang-layang.
**********
Pagi hari Erick datang lebih awal, Nina juga sudah bersiap-siap dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Ronald, dia sangat cemas memikirkan keadaan suaminya.
"Yuk kita berangkat, mana jilbabmu?" tanya Erick.
Nina hanya terdiam, Erick masuk ke kamar Nina dan mengambil jilbab yang ada dikursi, lalu memakaikan pada Nina, Nina hanya menurut dan mengikuti Erick.
Mereka berangkat ke bandara diantarkan oleh ayah Dayat, sedangkan Dayat harus bekerja dia tidak ikut mengantar mereka, Erick juga sudah berpesan pada karyawannya kalau dia akan pergi ke Jakarta selama tiga hari, Erick berencana akan mengunjungi keluarganya setelah mengantarkan Nina.
Di perjalanan Nina hanya diam tak berbicara, untung saja ada Erick yang mengantarnya, dia sudah seperti mayat hidup, pikirannya kosong dan hatinya terluka.
Di dalam pesawat Nina juga masih terdiam, entah kenapa ada rasa pilu di hati Erick melihat wanita itu bersedih seperti ini. Erick memberanikan diri menyentuh tangan Nina dan menggenggamnya dengan erat.
Nina menoleh memandang Erick saat sadar Erick sedang menggenggam tangannya, kedua mata mereka saling beradu, air mata Nina kembali mengalir dia menahan suara isakannya.
Erick mengusap air mata Nina dan tanpa sadar dia memeluk Nina, Nina tersentak tapi tak kuasa menolak pelukan itu, ada rasa aneh menjalar di dalam hatinya, rasa yang dulu sudah dia kubur dalam-dalam bersama hilangnya ingatan Erick.
"Aku akan selalu ada di sisimu Nina," bisik Erick.
Nina mencoba menguasai dirinya dia melepaskan pelukan Erick dan memandang awan dari balik kaca jendela pesawat, Erick menyadari kesalahannya dia mengutuki dirinya sendiri di dalam hati yang begitu kurang ajar telah memeluk istri orang.
"Maaf ya Nin," ucap Erick lirih.
Nina hanya mengangguk tanpa memandang wajah Erick lagi, keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing, Nina tak mau di saat kondisi seperti ini mengingat masa lalunya bersama Erick, kini dia hanya milik Ronald bahkan sampai akhir hayatnya.
__ADS_1
Pesawat merekapun tiba di Jakarta, Nina dan Erick melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Ronald dirawat, Ronald sudah di pindahkan ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap pilihan keluarga Ronald.
********