Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Bangunlah Erick


__ADS_3

Papa Nina berangkat ke rumah sakit, Adit dan Ratih sudah datang lebih dulu dan menunggu di rumah sakit setelah papa Nina mengabari mereka tentang Erick.


"Kita tunggu om Hendra aja Dit, biar sama-sama kita lihatnya aku takut," kata Ratih.


"Takut apa, itu kan temen kita Rat!"


"Aku berharap ini bukan Erick Dit. Gue gak bisa bayangin kalau itu benar-benar Erick yang kecelakaan." Ratih mulai menangis.


"Sudah jangan nangis semoga Erick baik-baik saja," bujuk Adit.


"Ratih, kalian sudah lihat didalam?"


Papa Nina yang baru saja datang mendekati Ratih yang masih berada di luar rumah sakit.


"Belum Om, kami nunggu om Hendra datang dulu," jawab Ratih.


"Ya sudah ayo cepat kita masuk."


Papa Nina mengajak Ratih dan Adit masuk, setelah bertanya pada petugas rumah sakit dimana ruangan pasien kecelakaan tanpa identitas mereka diantar oleh petugas rumah sakit ke ruangan perawatan.


Di kamar itu terbaring tak berdaya seorang pria muda menggunakan alat bantu pernafasan di mulutnya. Adit yang mengenali wajah Erick langsung datang mendekat.


"Bro... kamu kenapa bisa seperti ini?"


Tidak ada reaksi sama sekali dari Erick, dia seperti tertidur dan sangat tenang.


"Maaf, apa ini keluarga pasien?"


Seorang dokter datang menemui mereka di ruang perawatan Erick.


"Kami sahabatnya Dok. Ini Erick teman kami," jawab Adit.


"Syukurlah, nanti tolong dibantu datanya ya mas. Jadi pasien mengalami kecelakaan tunggal jatuh dari motor ditemukan oleh warga dan diantar kesini, pasien mengalami penyempitan pembuluh darah ke otak dan sekarang kondisi pasien koma. Kami berharap ada keluarga yang bisa hadir untuk memberi semangat pada pasien setiap hari."


"Apa masih ada harapan untuk Erick Dok?" tanya Ratih.


"Tentu saja masih ada harapan."


"Trimakasih Dok, Adit cepat kamu urus dulu soal ini tagihannya biar nanti Om yang bayar," perintah papa Nina pada Adit.


"Baik Om."


Adit langsung keluar ruangan mengurus administrasi dan memberi keterangan tentang identitas Erick.


"Ini hand phone pasien Pak, siapa tahu nanti dibutuhkan." Dokter menyerahkan hand phone Erick pada papanya Nina.


"Baik kalau begitu saya permisi dulu, nanti akan kita informasikan perkembangan pasien."


Dokter meninggalkan ruangan, tinggalah papa Nina bersama Ratih menemani Erick.

__ADS_1


"Om bagaimana keadaan Nina?" tanya Ratih.


"Dia shock dan pingsan, tolong nanti kamu hibur Nina ya."


"Iya Om kami pasti akan selalu menemani Nina."


Papa Nina mendekati tubuh Erick dan mengamati wajahnya. Pria ini terlihat sangat baik, pantas saja Nina sayang kepadanya.


"Hai Erick bangunlah anak muda jangan membuat anakku bersedih, aku belum berbicara dengan kamu secara langsung." bisik papa Nina pada Erick.


Adit kembali ke ruangan menemui mereka. Dia mendekati sahabatnya yang terbaring tak berdaya.


"Dit ini hand phone Erick coba kamu hubungi keluarganya, aku akan mengabari Nina di rumah. Kalian bagaimana, apa masih disini?"


"Kami disini dulu Om." saut Ratih.


"Ya sudah Dit tolong diurus ya, karna hanya kamu yang tahu tentang Erick. Om pulang dulu."


"Baik Om," jawab Adit.


Papa Nina meninggalkan rumah sakit pulang ke rumahnya, dia mau memberitahu keluarganya soal Erick terutama pada Nina, papa Nina masih bingung bagaimana cara menyampaikan pada Nina supaya anaknya tidak shock seperti tadi.


**********************


Di rumah Nina dia masih mengurung diri di kamarnya, mama Nina sengaja membawa hand phone Nina agar dia tidak menerima berita apapun yang membuat Nina semakin sedih.


"Kamu kenapa Erick, apa yang sudah terjadi denganmu," Nina bicara sendiri.


Papa Nina sudah datang dan menemui istrinya.


"Gimana Pah, beneran itu Erick?" tanya mama Nina.


"Iya Mah, memang benar itu Erick, kata dokter dia mengalami kecelakaan tunggal dan saat ini dia koma."


"Ya Tuhan, bagaimana Nina kalau dengar kabar ini nanti Pah?"


"Ya Mama coba tenangkan dulu anaknya, sebelum kita bilang yang sebenarnya."


"Duh, kasihan banget anak itu baru juga Mama lihat dia bahagia sudah ada kabar begini. Terus bagaimana keluarga Erick Pah, apa sudah tau?"


"Papa suruh Adit yang urus, dia yang tahu soal Erick, untuk biaya perawatan kita yang tanggung. Papa mandi dulu udah gerah, Mama coba bicarakan sama Nina soal ini."


Mama Nina kekamar anaknya untuk melihat keadaan Nina.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


"Mah, udah ada kabar dari Erick?"


"Erick di rumah sakit, kamu tenang saja ada Adit dan Ratih menemaninya disana."

__ADS_1


"Nina mau kesana Mah, antarin Nina sekarang!"


"Kamu sudah siap, Mama gak mau kalau kondisimu lemah bawa kamu ke rumah sakit, nanti bukan cuma Erick yang dirawat tapi kamu juga ikutan dirawat."


"Nina kuat Mah, Nina harus ketemu Erick. Please!"


Nina memohon pada mamanya, membuat mamanya merasa iba pada anaknya.


"Ya sudah kamu ganti baju dulu, mama juga siap-siap nanti kita pergi sama-sama ke rumah sakit."


Nina bergegas merapikan dirinya mengganti pakaian dan mengambil tas slempangnya, dan bersiap menunggu mamanya di bawah.


"Pa aku bawa Nina ke rumah sakit ya," pamit mama Nina pada suaminya.


"Yakin Nina gak apa-apa nanti Mah?"


"Ya dia gak bisa dicegah juga, nanti di jalan Mama akan mencoba tenangkan hatinya."


"Ya udah Mah, mama atur ajalah. Papa istirahat dulu ya."


Mama Nina menemui anaknya yang sudah menunggu di bawah, dia membawa bekal makanan buat Nina yang memang belum makan dari tadi.


"Yuk kita jalan, ini dimakan ya Mama gak mau kamu pingsan lagi disana, jadi tolong kamu jaga kesehatan kamu juga Nina."


Nina mengangguk dan mencoba memakan sandwich yang dibawakan oleh mamanya, meskipun susah untuk ditelan tapi benar juga apa yang mamanya katakan dia butuh tenaga dan tidak boleh tumbang.


Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat panjang dan lama, Nina tidak berbicara sedikitpun dia berharap Erick baik-baik saja di sana. Nina tidak mau berfikiran buruk tentang keadaan Erick.


"Nin..."


Ratih langsung memegang tangan Nina saat melihat Nina masuk ke ruangan Erick yang sedang di rawat, dia ingin sahabatnya tegar menghadapi ini.


"Erick kenapa Ratih?"


Nina mendekati tubuh Erick yang terbaring seperti orang tidur. Nina duduk di samping tubuh kekasihnya itu matanya sendu menatap Erick.


"Bangun Rick aku udah disini, bangunlah bukalah matamu. Kamu gak mau bicara lagi denganku?"


Nina menggenggam tangan Erick, air matanya kembali menetes dia terisak menahan tangisnya. Mama Nina membelai punggung anaknya memberi kekuatan pada anaknya.


"Apa dia akan seperti ini terus Dit?" tanya Nina.


"Kita doakan Erick cepat pulih ya Nin, aku sudah mengabari keluarga Erick mereka sudah dalam perjalanan kesini," ucap Adit.


"Erick bangunlah aku belum bilang sama kamu kalau aku sayang sama kamu kan. Kamu tidak ingin mendengar itu dari bibirku."


Nina menggenggam erat tangan Erick berharap Erick bisa merasakan kehadirannya saat ini. Ruangan itu terasa begitu hening tidak ada yang berbicara, semua hanyut dengan pikirannya masing-masing.


****************

__ADS_1


__ADS_2