Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Kabar suka di tengah duka


__ADS_3

Nina mengecek ponselnya setelah selesai shalat subuh, pesan yang dia kirimkan pada suaminya tadi malam belum terkirim karna ponsel Ronald menang tidak aktif, Nina mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi tetap saja tidak bisa tersambung.


Nina menghubungi Nunik asistennya menanyakan keadaan suaminya, setelah mengecek rumah Nunik tidak mendapati mobil majikannya, dia pun melapor pada Nina kalau mobil Ronald tidak ada di rumah, mendengar kabar itu Nina semakin cemas.


"Assalamualaikum Rick," sapa Nina melalui panggilan telpon.


"Waalaikumsalam, ada apa Nin?" jawab Erick, dia kaget mendapat telpon dari Nina di pagi buta.


"Pagi ini aku akan balik ke Jakarta, aku kepikiran sama Ronald, dia nggak bisa dihubungi dari tadi malam," ucap Nina dengan suara parau.


"Kuantarin ke bandara ya," sambung Erick dia ikutan cemas.


"Baiklah, aku titip kamu bantuin Dayat sama Eka ya buat ngurus resto, aku nggak bisa fokus mikirin Ronald, aku percaya kalian sanggup mengurus resto," ucap Nina.


"Kamu nggak usah khawatirkan yang di sini, yang penting kamu jaga suamimu dulu," balas Erick sambil menelan ludahnya.


Kedatangan Nina ke Semarang membuatnya merasa bahagia, tapi saat Nina bilang mau kembali ke Jakarta hatinya terasa sangat hampa, bertepuk sebelah tangan itu ternyata sangat menyakitkan, tapi apa daya cuma melihat senyum Nina saja sudah cukup membuatnya bahagia.


Pagi itu Nina sudah bersiap-siap dia berpamitan pada mbah Darmi dan Dayat kalau dia akan kembali ke Jakarta karna Robald tidak bisa dihubungi. Erick sudah menunggu untuk mengantarnya ke bandara.


Nina duduk di depan karna hanya diantar sendirian oleh Erick, sesekali dia melirik Nina yang hanya terdiam tanpa berbicara dengannya, dalam hati Erick dia menyesali ingatannya yang belum kembali tentang Nina saat bersamanya dulu.


"Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?" tanya Erick memecah keheningan.


Nina terkejut dan menoleh kepada Erick, "Nggak apa-apa Rick," jawab Nina pelan.


"Nina apa aku ...," Erick tidak jadi menanyakan tentang masa lalunya, saat ini pasti Nina tidak mau mengingat akan hal itu.


"Apa?" Nina memandang Erick.


Jantung Erick berdetak tidak karuan dipandang Nina seperti itu, dia menelan ludah dan lidahnya berubah menjadi kelu, dia mencoba untuk fokus memperhatikan jalan dan mencoba untuk tidak memandang Nina.


"Nggak tadi aku mau nanya soal resto aja kog, tapi baiknya kamu fokus sama Ronald dulu deh, nanti aku diskusi sama Eka aja," ucap Erick berbohong.


"Iya aku lagi gak fokus soal resto, biar Eka yang urus nanti kalau dia juga mentok aku kirim Adit buat ngurus semua ini, dia yang lebih pengalaman soal ini," jawab Nina.


Nina langsung turun dari mobil saat tiba di bandara dia bergegas untuk check in, bahkan dia sampai lupa berpamitan pada Erick karna saking kalutnya, selama menunggu keberangkatan dia terus menghubungi nomor ponsel Ronald, dia berharap Ronald sudah mengaktifkan ponselnya.


'Please buka ponselmu Sayang, jangan buat aku gila seperti ini, aku tak sanggup kehilanganmu,' Nina menjerit di dalam hati, tak terasa air matanya mengalir di sudut matanya.


Sebelum masuk ke dalam pesawat Nina mengirim pesan pada mertuanya Wijaya Kesuma, dia mengabarkan kalau Ronald tidak bisa dihubungi dan tidak ada di rumah. Nina juga mengabari mamanya tentang Ronald, tak lupa Nina minta Adit untuk menjemputnya di bandara, dia benar-benar tidak bisa berfikir jernih karna pikirannya sangat kalut.


*********


Pak Tomo supir keluarga Nina tengah bersantai meminum kopi sambil menonton berita di tv, tak sengaja dia menonton berita kecelakaan dan ia mengenali mobil milik Ronald, setelah melihat plat nomor mobil yang sedang mengalami kecelakaan dia sangat yakin kalau itu adalah mobil milik Ronald suami Nina.


Pak Tomo menghubungi ponsel milik Nina namun ponselnya tidak bisa dihubungi, akhirnya pak Tomo menghubungi Pratiwi mamanya Nina.


"Bu mobil mas Ronald kecelakaan, barusan saya lihat beritanya di tv," ucap pak Tomo melalui sambungan telpon.


"Hah yang bener Pak, Ronald gak bisa dihubungi dari tadi malam, Nina juga masih di Semarang mau pulang kesini, pak Tomo tolong cari tahu Pak," Pratiwi mulai gusar, kakinya langsung terasa lemas mendengar kabar ini.

__ADS_1


Pak Tomo bergegas keluar mencari informasi tentang kecelakaan yang dia lihat di tv, dia mendatangi kantor polisi terdekat dengan lokasi kecelakaan, dan mencari tahu di mana korban di rawat.


Pak Tomo langsung mendatangi rumah sakit sesuai arahan polisi dan memastikan kalau itu benar-benar Ronald menantu majikannya.


"Bapak siapanya?" tanya suster yang tengah bertugas.


"Saya sopir keluarganya Sus, saya mau memastikan apa benar itu adalah tuan saya," jawab pak Tomo.


"Bapak keluarga korban yang laki-laki apa yang perempuan Pak, ada dua orang korbannya?" tanya suster memastikan.


"Yang saya kenal mobil itu milik tuan saya namanya Ronald, dan kalau perempuannya saya nggak kenal," jawab pak Tomo.


"Baik, karna pasien sedang kritis jadi Bapak tidak bisa masuk, saya cuma kasih foto korban untuk memastikan ya," ucap suster sambil menunjukkan foto pada pak Tomo.


Pak Tomo melihat foto yang ditunjukkan oleh suster dan langsung mengiyakan, benar kalau itu foto majikannya, setelah benar itu adalah Ronald, pak Tomo mengabari majikannya kalau Ronald benar-benar mengalami kecelakaan.


Keluarga itu kembali mendapat kejutan dari Ronald, Pratiwi segera mengabari besannya dan dia langsung meluncur ke rumah sakit bersama suaminya, tak lupa Pratiwi mengabari Adit agar membawa Nina langsung ke rumah sakit setibanya di Jakarta.


Di rumah sakit Wijaya Kesuma sudah menunggu di depan ruang operasi, Ronald mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Hendra dan Pratiwi datang dan langsung menemui besannya.


Pratiwi langsung berpelukan dengan istri Wijaya Kesuma, wanita tua itu menangis sedih melihat keadaan putranya, Pratiwi juga tak bisa berkata-kata dia pun cemas memikirkan bagaimana Nina akan menghadapi kabar ini.


******


Nina menghubungi Adit saat turun dari pesawat, Adit sudah menunggunya di pintu kedatangan, dia bersikap biasa saat bertemu dengan Nina, tanpa banyak bicara Adit langsung membawa Nina ke rumah sakit, Nina yang tengah pusing setelah naik pesawat tidak begitu memperhatikan jalan dan tidak menyadari kemana Adit membawanya.


"Nin yuk turun," ucap Adit saat sudah memarkirkan mobilnya.


"Kog kita ke sini Dit?" tanya Nina sambil turun dari mobil.


"Ronald dirawat di sini, yuk ku antarin," ucap Adit, Adit menggandeng Nina yang terlihat sangat pucat.


"Maksudmu, Ronald kenapa?" Nina langsung berubah panik.


"Tenang, ayo kita masuk dulu," Adit mengajak Nina ke ruang di mana Ronald sedang dirawat.


Nina melangkahkan kakinya dengan lemas, hatinya bingung dan jantungnya berdebar-debar, peristiwa apa lagi yang menimpanya kali ini bathinnya, Hendra papa Nina menyambut kedatangan anaknya, melihat wajah Nina yang pucat Hendra langsung memeluk anaknya.


"Kamu sakit Sayang?" belum selesai Hendra bicara tubuh Nina sudah terhuyung, dia jatuh pingsan di pelukan papanya.


Adit segera meminta bantuan melihat Nina yang tiba-tiba pingsan, beberapa tenaga medis berlarian menolong dan membawa Nina ke ruang perawatan, Hendra panik dan memberitahu istrinya tentang keadaan Nina, Pratiwipun berlari ke ruangan di mana Nina sedang di rawat.


"Nina kenapa Pah?" Pratiwi menangis melihat tangan Nina sudah terpasang selang infus.


"Tunggu bentar Mah, biar dokter yang nanti menjelaskan," Hendra memeluk istrinya, sedangkan Adit ikut sedih melihat kemalangan yang selalu menimpa sahabatnya.


"Bapak ibu, keluarga pasien?" tanya dokter yang merawat Nina.


"Iya Dok!!" jawab Hendra dan Pratiwi serentak.


"Ibu Nina harus istirahat kondisinya sangat lemah, sepertinya tadi tidak makan dan mungkin tadi malam juga kurang istirahat, apa lagi bu Nina sedang hamil jadi saya sarankan beliau di rawat dulu ya," terang sang dokter.

__ADS_1


"Hamil, anak saya hamil Dok?" Pratiwi hampir tidak percaya.


"Iya usia kehamilannya sekitar tujuh minggu, masih usia rawan jadi harus benar-benar dijaga ya Bu, nanti saya resepkan vitamin ya," dokter yang menangani Nina pamit dan meninggalkan ruangan.


Pratiwi dan Hendra saling pandang, bahagia bercampur sedih mendengar kabar ini, bahagia karna akan memiliki cucu, tapi sedih melihat keadaan menantunya, Pratiwi masuk ke dalam kamar menemani Nina, sedangkan Hendra menebus obat dan memberitahu keadaan Nina pada besannya.


*******


Nina duduk di tepi pantai seorang diri memandangi debur ombak yang seolah menari-nari, burung pencari ikan sesekali menukik ke laut mendapatkan mangsanya.


"Hai ...," sapa seseorang yang sudah lama tidak Nina jumpai.


"Err ...," jawab Nina datar tanpa semangat.


"Jangan bersedih, aku selalu ada bersamamu meskipun aku tidak bisa menyentuhmu," ucap Rekso sambil duduk di samping Nina.


"Dunia kita berbeda Err kuharap kamu tidak menggangguku lagi," ucap Nina tegas.


"Aku tahu, tapi saat kamu sedih seperti ini aku akan datang menghiburmu," ucap Rekso.


"Aku tidak menginginkan semua ini tinggalkan aku," Nina teringat pesan ustad Solihin saat bertemu dengan Rekso dia harus membaca ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan juga Al-Fathihah.


Nina mengambil nafas dan memejamkan matanya dan mulai membaca ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Fathihah.


"Selamat tinggal Nina," Rekso langsung menghilang dari sisi Nina.


Nina membuka matanya dan melihat dia berada di ruangan serba putih, mamanya duduk di sampingnya ranjangnya dia terlihat sangat sedih.


"Mah ...," Nina memanggil mamanya.


Pratiwi terkejut mendengar suara Nina dan langsung melihat ke arah Nina yang sudah sadar dari pingsannya.


"Hai ..., kamu sudah sadar Sayang," Pratiwi membelai kepala anaknya dengan lembut.


"Nina kenapa Mah?" tanya Nina sambil melihat tangannya yang terpasang selang infus.


"Kamu istirahat dulu, kata dokter kamu sedang hamil dan harus banyak istirahat," Pratiwi pelan-pelan memberitahu kabar tentang kehamilan Nina.


"Nina hamil Mah?" Nina tak percaya, air matanya mengalir dia sangat bahagia mendengar kabar ini.


Pintu kamar terbuka Wijaya Kesuma serta istrinya memasuki ruangan tempat Nina sedang di rawat, keduanya tersenyum melihat Nina yang terbaring lemah.


"Papa, Mamah Ronald mana?" tanya Nina pada kedua mertuanya.


"Ronald di ruangan sebelah, kamu istirahat dulu ya jaga calon cucuku biar dia sehat," ucap Wijaya Kesuma.


Kedua mertua Nina merasa bahagia karna akan mendapatkan seorang cucu dari Nina, walaupun mereka harus menyembunyikan rasa sedihnya tentang keadaan Ronald yang sebenarnya.


Nina belum tahu keadaan Ronald yang sedang koma setelah mendapat tindakan operasi, orang tua Ronald tak mau Nina terpukul dan akan membahayakan kehamilannya, mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan keadaan Ronald sampai Nina benar-benar siap menerima kabar tentang suaminya.


******

__ADS_1


Halo-halo maaf upnya lama, author full tugas hari ini, ditambah anak-anak mulai sekolah daring jadi waktu buat nulis sangat terbatas, trimakasih sudah sabar menanti ya. Peluk hangat dari Author jangan lupa mampir di karyaku "Guna-guna sang mantan" ymsetelah ini End akan fokus di karya yang itu alhamdulillah karya itu hari ini dapat surat cinta lulus kontrak, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa. 💕💕💕💕


__ADS_2