
Nina tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar di mana Ronald sedang di rawat, mama Ronald menunggui Ronald seorang diri, Nina masuk dan langsung memeluk mertuanya, kedua wanita itu menangis sedih, Erick yang ikut masuk hanya diam memandangi wajah Ronald yang penuh dengan luka.
Kedua wanita itu tersadar kalau ada orang lain di sana, Nina mengenalkan Erick pada mertuanya, setelah beristirahat sebentar Erick berpamitan dia akan ke rumah orang tuanya lebih dulu sebelum dia kembali ke Semarang.
"Nin, aku pulang dulu ya, kamu gak usah mikirin soal resto biar aku sama Dayat yang lanjutin nanti kami tinggal bikin laporan saja sama kamu," ucap Erick sebelum pergi.
"Trimakasih Rick, kamu hati-hati di jalan ya, kamu naik apa?" tanya Nina.
"Aku naik bis saja, aku mau pulang ke rumahku dulu, sudah lama aku nggak pulang jadi ini sekalian aku mampir," ucap Erick.
Nina mengantarkan Erick, saat berjalan di lorong rumah sakit mereka berpapasan dengan pasien kecelakaan yang didorong diatas ranjang, suara derit ranjang yang membawa pasien kecelakaan tiba-tiba membuat kepala Erick terasa sakit, Erick berhenti dan memijat kepalanya, sekelebat ingatan melintas di pikirannya, bayangan dia sedang didorong di atas ranjang karna kecelakaan, bayangan itu sangat samar Erick tak tahu apakah itu dirinya ataukah orang lain.
"Kamu kenapa Rick?" Nina menyentuh lengan Erick.
"Oh gak apa-apa Nin, aku cuma pusing," ucap Erick tersadar saat Nina menyentuhnya.
"Kita makan dulu yuk, kamu pasti lapar nanti baru kamu melanjutkan perjalanan," Nina mengajak Erick ke kantin rumah sakit untuk makan.
Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang sama saat dulu Erick di rawat, di rumah sakit ini juga dulu Nina menangisi tubuh Erick yang sedang koma, kini mereka berdua kembali ke sini dalam situasi yang berbeda.
Nina mencoba menyembunyikan rasanya, sedang Erick dia merasa tidak asing berada di tempat itu walaupun dia dulu dalam kondisi tidak sadar, tapi Erick merasa seperti pernah berada di tempat ini.
Nina memberitahu mertuanya kalau dia sedang makan di kantin, Erick hanya diam selama makan, dia sedang berusaha mengingat tapi tidak tahu tentang apa, semakin dia berusaha semakin kepalanya terasa berat.
"Kamu tidak apa-apa kan Rick?" Nina menatap wajah Erick.
"Aku baik-baik saja Nin, kamu gak usah mikirin aku, fokus sama Ronald saja nanti kabarin perkembangannya ya," ucap Erick, dia tersenyum agar Nina tidak mengkhawatirkannya lagi.
Erick langsung pergi setelah selesai makan, sedangkan Nina kembali ke ruangan Ronald sambil membawakan makan untuk mertuanya yang sedang menunggui Ronald.
"Mah makan dulu Mah, mama pasti lapar," Nina membuka nasi yang sengaja dia beli untuk mertuanya.
"Trimakasih Nin, Ronald tadi malam di operasi ada penyempitan pembuluh darah di otaknya, sekarang kita hanya menunggu pemulihan, ada beberapa tulangnya yang retak, saat dia sadar nanti harus segera dilakukan terapi," terang mertua Nina.
"Maafkan Nina tidak ada saat Ronald seperti ini Mah," ucap Nina penuh sesal.
"Justru kami bersyukur kamu tidak pulang bersama Ronald, setidaknya kamu selamat Nin," ucap mertua Nina sambil mencoba untuk makan.
********
Di dalam bis menuju kampung halamannya, Erick mencoba mengingat secuil ingatan yang tadi tiba-tiba muncul saat dia berada di rumah sakit, susah payah dia berusaha mengingatnya namun tetap saja semua terasa gelap.
Lima jam di dalam bis akhirnya Erick tiba di kampung halamannya, hari sudah magribh Erick memilih shalat di terminal dan mengabari adiknya agar menjemputnya di mushala terminal.
Beberapa saat menunggu, adik Ronald tiba di mushala, dia langsung memeluk kakaknya saat mereka berdua bertemu.
"Kakak dari mana?" tanya Ehsan heran.
"Aku dari Jakarta San," jawab Erick.
__ADS_1
"Jakarta, ngapain?" Ehsan semakin heran.
"Ceritanya panjang nanti aku ceritain saat kita di rumah, bagaimana kabarmu?" tanya Erick.
"Istriku baru melahirkan dua hari lalu Kak, kamu punya keponakan cantik, aku baru mau ngabarin Kakak eh tiba-tiba Kakak nelpon minta jemput," ucap Ehsan sambil berjalan menuju motornya.
Ehsan sudah menikah dengan gadis pujaannya, sedangkan Erick dia masih betah dengan kesendiriannya.
Ehsan membonceng Erick pulang ke rumah, dia sangat senang dengan kepulangan Erick saudara satu-satunya. Orang tua Erick menyambut kedatangan Erick dengan rasa haru, selama ini Erick hanya mengirim uang dan menelpon tapi dia tidak pernah pulang.
Ibu Erick senang melihat wajah Erick yang terlihat lebih ceria dari saat dulu dia meninggalkan rumahnya, mereka bercengkrama sambil bercerita, Erick tidak menyinggung tentang kepergiannya mengantar Nina pada keluarganya.
******
Siang itu Erick bercengkrama berdua bersama Ehsan di teras depan rumahnya, Ehsan penasaran ingin tahu kenapa Erick tiba-tiba pergi ke Jakarta.
"Kakak ngapain ke Jakarta?" tanya Ehsan.
"Aku ngantar saudaranya temenku yang di Semarang, suaminya dapat musibah," ucap Erick.
"Oh, kupikir kakak ingat masa lalu," balas Ehsan.
"Masa lalu?" Erick menatap wajah Ehsan penasaran.
"Iya dulu Kakak kan pernah di Jakarta sebelum kecelakaan, Kakak masih belum mengingatnya ya?" tanya Ehsan.
"Kakak sampai sekarang belum menemukan wanita yang cocok?" tanya Ehsan pelan.
"Entahlah hatiku masih beku, tiba aku suka eh udah ada yang memiliki," Erick menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Hah ..., beneran Kakak jatuh cinta, sama siapa?" Ehsan penasaran.
"Ya perempuan yang aku anterin kemarin, kupikir dia single gak tahunya sudah punya suami," wajah Erick terlihat kecewa.
"Ya itu namanya belum jodoh Kak, kan masih banyak wanita lain di dunia ini, masa Kakak mau merebut istri orang," Ehsan menatap wajah kakaknya yang terlihat muram.
"Apa dia cantik, sampai Kakakku yang berhati es ini jatuh hati?" Ehsan tiba-tiba penasaran.
"Dia sangat cantik, setiap aku menatap matanya dia seperti mengisi sesuatu yang hilang dari hatiku," Erick membayangkan wajah Nina yang tersenyum padanya.
"Siapa nama wanita itu Kak?" Ehsan mengambil teh dan meminumnya.
"Nina ..., EHSAN!!!" Erick terkejut, tiba-tiba Ehsan menyembur wajahnya dengan teh dari mulutnya.
"Kamu ini gak sopan sama Kakak, basah semua ini!!" Erick menggerutu sambil membersihkan wajahnya yang basah karna semburan Ehsan.
Ehsan masih bengong seperti baru melihat hantu di siang bolong, dia tak percaya Erick menyebut nama Nina, apakah itu Nina yang sama atau hanya namanya saja yang mirip.
"Ni--na ...," Ehsan terbata menyebut nama Nina.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih?" Erick heran melihat sikap adeknya yang seperti orang shock mendengar nama Nina.
Ehsan berlari ke dalam rumah dan mengambil buku lalu kembali menemui Erick, dia membuka buku dan mengambil foto lama yang tersimpan di sana.
"Nina ini?" Ehsan menunjukkan foto itu pada Erick.
Erick mengamati foto pemberian Ehsan, ada gambar Nina sedang bersama dirinya dan itu foto lama, wajah Nina masih terlihat sangat muda.
"Ini ..., ini apa, Nina dan aku ...?" Erick merasa kepalanya berputar.
"Apa Nina yang ini yang Kakak antar?" tanya Ehsan meyakinkan.
Erick mengangguk dia masih bingung dengan semua ini, kenapa ada foto lamanya bersama Nina siapakah Nina sebenarnya.
"Siapa dia sebenarnya San?" tanya Erick.
"Dulu Nina pacarmu Kak, dia pernah datang ke sini waktu Kakak sudah sadar dari koma tapi Kakak tidak mau menemuinya, Kakak tidak mau tahu tentang masa lalu Kakak," Ehsan mulai bercerita bagaimana dulu Nina sangat mencintainya apa lagi saat Erick sedang koma.
"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya San," Erick mengacak-acak rambutnya.
"Sabar Kak, mungkin memang belum waktunya Kakak ingat semua masa lalu Kakak, tapi kenapa kalian bisa bertemu lagi, jangan-jangan kalian memang berjodoh," Ehsan menatap wajah kakaknya yang sendu.
"Pantas saja waktu pertama bertemu dia tidak suka denganku, apa aku dulu terlalu menyakitinya?" Erick bertanya pada dirinya sendiri.
"Mungkin dia juga harus menjaga hatinya Kak," sambung Ehsan.
"San salahkah kalau aku mencintainya sekarang?" tanya Erick pada Ehsan.
"Cintamu mungkin tidak salah Kak, hanya saja dia sudah menjadi milik orang, Kakak harus merelakannya," balas Ehsan.
Erick terdiam, dia memandangi foto di tangannya, wajah yang terlihat bahagia saat dia bersama dengan Nina waktu itu, sayangnya kenangan itu tak tersimpan di memori ingatannya.
"Ini aku bawa ya," Erick menyimpan Fotonya.
"Apa Kakak mau bilang soal ini?" tanya Ehsan.
"Nggak San, aku tidak mau merusak rumah tangganya, biarlah aku mencintainya dalam diam," Erick mendesah pelan.
"Ya ampun Kak, aku pusing mikirin kisah cintamu, semoga suatu hari nanti kalian bisa bersatu lagi, kak Nina wanita baik mungkin nasibnya saja yang kurang baik," desah Ehsan.
"Andai aku diberi kesempatan menjaganya, aku akan membahagiakannya sampai akhir hayatku San," ucap Erick pelan.
"Yang penting Kakak jangan merusak pagar ayu, ingat dosa Kak," Ehsan mengingatkan kakaknya
"Aku tahu, dan Kakakmu bukan pria seperti itu," Erick masuk ke dalam kamarnya dan menyimpan foto itu ke dalam tas ranselnya.
Erick menginap dua malam di rumah orang tuanya, setelah itu dia kembali ke Semarang, dia sudah berjanji akan mengurus restoran milik Nina bersama Dayat. Walaupun dia tidak bisa mengingat masa lalunya namun Erick merasa telah menemukan setitik cahaya di ingatannya. Dia yakin suatu hari nanti semuanya akan kembali terang benderang.
*****--
__ADS_1