
Dua hari Nina di rawat di rumah sakit yang sama dengan Ronald yang tengah menjalani perawatan, dia sudah kembali bugar dan dokter juga sudah mengijinkan Nina
pulang.
"Mah Ronald ada di mana Mah, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Nina, sejak datang Nina belum tahu apa-apa soal Ronald.
Pratiwi yang tidak bisa lagi membohongi anaknya terpaksa membawa Nina ke ruangan Ronald yang sedang terbaring koma, namun sebelum pergi Pratiwi mencoba memberi penjelasan pada Nina agar dia tidak kembali shock dan jatuh pingsan.
"Nina, suamimu Ronald mengalami kecelakaan yang sangat parah, dia saat ini masih dalam kondisi koma dan tidak sadarkan diri," ucap Pratiwi hati-hati.
"Apa Mah, jadi Ronald koma?" Nina terduduk kakinya tiba-tiba terasa lemas.
"Nin, kamu lagi hamil jaga kesehatanmu, kamu harus kuat, Ronald pasti tidak mau melihat kamu sakit," ucap Pratiwi dia berusaha menghibur hati anaknya.
"Ronald sangat ingin punya anak Mah, tapi aku malah tidak bisa memberitahunya kabar baik ini," Nina menangis dalam pelukan mamanya.
"Doakan agar suamimu cepat sadar ya," bisik Pratiwi pada anaknya.
Nina menghapus air matanya, dia berusaha untuk menjaga emosinya, dia tak mau kandungannya nanti bermasalah kalau dia sedih, memiliki anak adalah impiannya bersama Ronald, setelah sekian lama mereka menunggu akhirnya apa yamg mereka harapkan terwujud walaupun kenyataan pahit harus dia terima saat ini.
"Nina siap Mah, Nina kuat menghadapi semua ini Mama nggak usah khawatir," Nina berdiri dan mengajak mamanya ke tempat Ronald sedang dirawat.
Pratiwi mengantarakan Nina menemui suaminya yang terbaring dalam keadaan koma, melihat Nina datang mama Ronald terkejut dia tak menyangka Nina akan melihat keadaan Ronald.
"Nin, kamu sudah sehat?" tanya mertuamya yang terlihat sangat mencemaskan keadaan Nina.
"Nina sudah sehat Mah," ucap Nina, sambil melirik kearah Ronald.
Nina mendekati tubuh suaminya yang terbaring dan menggunakan alat bantu pada tubuhnya, Nina menyentuh tangan Ronald yang dingin dia berharap pria itu merasakan kehadirannya.
"Jangan tinggalkan aku, bukankah kamu bilang akan memulai lagi dari awal, lihatlah aku sudah mengandung anakmu, bukankah ini sudah lama kamu nantikan?," bisik Nina di telinga Ronald.
Nina menatap wajah suaminya dengan tatapan pilu, dia sedih tapi tak bisa menangis lagi, dia hanya berharap keajaiban kembali datang untuk suaminya.
"Nina jaga kesehatanmu, kamu gak perlu menunggui Ronald terus, keadaan Ronald seperti ini, nanti ada suster khusus yang menjaganya, kita bisa datang setiap hari menjenguknya, Ronald pasti ingin kamu menjaga anaknya," ucap mertua Nina sambil membelai punggung menantunya.
Nina mengangguk apa yang mertuanya ucapkan ada benarnya, dia memang harus menjaga bayinya, sudah lama Ronald dan Nina mengharapkan kehadirannya.
"Kita pulang dulu yuk kamu harus istirahat, besok kita datang lagi ke sini," bujuk mama Nina.
__ADS_1
Nina mencium pipi suaminya dan berbisik di telinganya, berharap Ronald bisa mendengarkan apa yang dia ucapkan.
"Aku pulang dulu Sayang, berjuanglah untuk anak kita, aku tak sanggup membesarkannya tanpamu, tepatilah janjimu untuk selalu mejagaku, aku membutuhkanmu Sayang," bisik Nina di telinga Ronald.
Tetes bulir bening mengalir di sudut mata Ronald seolah dia mendengar ucapan Nina, Nina menghapus air mata Ronald dengan lembut.
Nina akhirnya pulang bersama mamanya, mertua Nina juga ikut pulang mereka pulang dengan beriringan. Pratiwi mengantar Nina pulang ke rumahnya, setelah menemani Nina sebentar dia pun pergi meninggalkan rumah Nina.
Nina pergi ke kamarnya dan mandi, dua hari di rumah sakit tanpa mandi tubuhnya terasa lengket semua, setelah mandi dia berdandan dan menemui asistennya di ruang dapur.
"Mbak Nina mau makan?" tanya Nunik saat melihat Nina datang ke dapur.
"Masak apa hari ini mbak?" tanya Nina pelan.
"Cuma ikan mbak, tadi belanja di tukang sayur keliling," ucap Nunik.
"Stok udah habis ya? nanti aku pergi belanja sekalian mau ke kantor mertuaku, temani aku makan ya," ajak Nina pada Utami.
Tak berani menolak akhirnya Nunik menemani Nina makan walaupun perutnya masih kenyang, sambil makan Nina mengirim pesan pada pak Tomo, dia minta di antar ke kantor milik mertuanya untuk membahas tentang kantor milik Ronald.
*********
"Nina, ada apa kamu datang ke kantor Papa?" Wijaya Kesuma yang baru saja keluar dari ruang rapat menyambut menantunya dengan wajah sumringah.
"Ada yang mau Nina bicarakan sama Papa," balas Nina seraya mendekati mertuanya dan menyalami serta mencium tangan mertuanya dengan rasa hormat.
Wijaya Kesuma mengajak Nina ke ruang kantornya, walaupun anak mantu Wijaya Kesuma menganggap Nina seperti anak kandungnya sendiri.
"Ada apa, kan bisa lewat telpon bicaranya?" Wijaya Kesuma menatap menantunya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ini soal kantor Ronald Pa, Nina mau mencoba menghandle, tapi Nina butuh bantuan Papa karna itu bukan bidangnya Nina," sambung Nina.
"Oh soal itu, yah Papa juga agak bingung kemarin gimana kantor Ronald selanjutnya, kamu nggak apa-apa kalau ngurus pekerjaan Ronald?" Wijaya Kesuma menatap lekat wajah menantunya.
"Dari pada Nina di rumah diem Pa, yang ada Nina semakin stres mikirin Ronald, perawatan Ronald juga butuh biaya Pa walaupun papa menanggungnya," Nina mencoba memberi mertuanya pengertian.
"Hmm ... baiklah, sebentar aku akan suruh orang kepercayaanku membantumu di kantor Ronald, nanti kamu belajar sama dia selebihnya kalau ada apa-apa kamu konsultasi dulu sama Papa," ucap Wijaya Kesuma.
Wijaya Kesuma menelpon seseorang agar datang ke ruangannya, tak berapa lama seorang pria yang seusia dengan Ronald memasuki ruangannya, pria itu tersenyum pada Nina dan juga Wijaya Kesuma.
__ADS_1
"Frans, ini menantuku istrinya Ronald, saat ini anakku sedang sakit dan kantornya otomatis tidak ada yang mengurus, mulai besok kamu bantu ibu Nina mengelola usaha Ronald, ajarin apa yang perlu ibu tahu," perintah Wijaya Kesuma pada pria yang bernama Frans.
"Baik Pak, jadi mulai besok saya pindah kekantor Ronald," tanya Frans.
"Ya hanya kamu orang yang kupercaya, sedangkan di kantor Ronald aku tidak tahu siapa di sana yang bisa menghandle pekerjaan ini," tambah Wijaya Kesuma.
"Mungkin hari ini kita bisa langsung perkenalan ke kantor Ronald Pa, kita rapat di sana sebentar membahas ini," ajak Nina.
"Hmm ok kalau begitu, ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Wijaya Kesuma.
Nina berangkat ke kantor Ronald bersama pak Tomo supirnya, sedangkan Wijaya Kesuma dia pergi bersama Frans, setibanya di kantor Ronald mereka mengadakan rapat untuk membahas peralihan kepemimpinan sementara, Nina akan memimpin kantor Ronald selama Ronald belum sehat.
Setelah selesai rapat Nina memasuki ruangan kantor Ronald, dia duduk di kursi dan memandang ke sekeliling, ingatannya kembali pada saat Ronald masih sehat.
Dia sering datang mengunjungi Ronald sambil membawakan makan siang masakannya sendiri untuk suaminya, kini semua itu tinggal kenangan entah kapan hal manis itu akan terulang kembali.
"Bu ...," sapa Frans memasuki ruangan Nina.
Lamunan Nina seketika buyar saat sosok pria berbadan tegap itu datang menghadapnya, Nina sedikit canggung saat bicara berdua dengan pria yang akan menjadi patnernya dalam menjalankan bisnis milik Ronald.
"Iya Frans," jawan Nina.
"Besok saya di ruangan mana ya?" tanya Frans pada Nina.
"Oh iya, duh sorry aku sampai tidak berfikiran ke sana, kamu merokok?" tanya Nina pada Frans.
"Tidak," jawab Frans heran dengan pertanyaan Nina.
"Ok. Ruangan ini cukup besar, dan aku juga tidak full seharian berada di sini, nanti aku akan pesankan satu meja lagi buat kamu," ucap Nina datar.
Frans memeriksa ruangan Ronald yang lumayan besar, dia mengangguk tanda setuju dengan ucapan Nina.
"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke kantor pak Wijaya Kesuma menyelesaikan pekerjaan saya dulu, sampai ketemu besok Bu," pamit Frans pada Nina.
"Ok, sampai ketemu besok," balas Nina.
Nina memerintahkan asisten Ronald untuk memesan meja kursi yang akan di gunakan Frans bekerja mulai besok di kantor ini. Dia menunggu sampai meja buat Frans terpasang di ruangannya, setelah itu dia bergegas pulang, sebelum pulang Nina menyempatkan belanja kebutuhan dapur dan juga membeli susu untuk nutrisi kehamilan, dia ingin anak yang di kandungnya tumbuh sehat.
**********
__ADS_1