Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Saling terbuka


__ADS_3

"Aku senang kamu tidak bersedih lagi dan terlihat bahagia sekarang Nina?" Rekso menyapa Nina.


"Hmm Err... kamu tumben datang?"


"Kamu tidak merindukanku, untuk apa aku datang. Sepertinya kamu punya teman baru yang lebih menarik sekarang."


"Hmm kamu masih memata-mataiku?"


"Aku tahu semua dan siapa saja yang mendekatimu."


"Kamu cemburu ya?" Nina memandang Rekso.


"Nggak dia bukan ancaman buatku, kamu sama dia tidak akan bertahan lama."


"Apa maksudmu seperti itu?" Nina tidak mengerti maksud ucapan Rekso.


"Bersenang-senanglah sekarang bersamanya, itu tak akan lama," Rekso menatap Nina dengan tatapan yang aneh.


Nina mulai curiga pada Rekso, dia tiba-tiba takut Rekso akan berbuat macam-macam pada Fatih. Tapi Rekso hanyalah sosok pria dalam mimpinya apa mungkin dia bisa mencelekai orang yang dekat dengannya di dunia nyata.


"Aku tidak akan mencelakainya Nina, kamu tidak usah takut denganku."


"Hah..." Nina baru ingat kalau apapun yang dia pikirkan akan terbaca oleh Rekso.


"Kamu tidak usah khawatir dengan Fatihmu, dia tidak akan celaka. Tapi kamulah yang akan meninggalkannya suatu hari nanti." Rekso kembali membuat Nina tidak mengerti akan ucapannya.


"Kenapa kamu ini selalu penuh dengan misteri sih Err...?"


"Apa kamu tak rindu padaku, kesinilah jangan menjauh dariku."


Rekso menarik tangan Nina dan membuat Nina duduk di pangkuannya. Nina diam saja, toh Rekso sudah seperti kekasih walaupun cuma di alam tidurnya.


"Begini lebih baik, aku bisa mencium wanginya rambutmu yang sudah lama kurindukan." Rekso mencium rabut Nina yang tergerai mengenai wajahnya.


"Akan bagaimanakah kisah kita ini Er..."


"Aku akan selalu disisimu selama kamu masih mengiginkanku Nina."


Nina menggenggam tangan Rekso, begitu damai yang dia rasakan. Mereka berdua memandangi awan di langit yang seolah bergerak menari-nari menunjukkan aksinya pada dua pasangan beda dunia itu.


Nina membalikkan tubuhnya menatap wajah Rekso, sudah lama dia tak memandang wajah itu. Rekso menatap mata Nina membuatnya terhipnotis dan kemudian keduanya saling melepaskan kerinduan.


Sekedip mata saja Rekso sudah menelanjanginya, Nina pasrah menikmati setiap sentuhan ditubuhnya, matanya memandang langit yang seolah menyaksikan pergumulan mereka. Dia sesekali menggigit bibirnya menahan segala luapan rasa, bayangan Rekso perlahan memudar dan menghilang begitu saja.


tut.. tut... tut...


Hand phone Nina berdering membuatnya terbangun dari mimpinya, Nina merasakan panas di tubuhnya, perlahan dia mengatur nafasnya yang masih tersengal, diraihnya hand phone yang berdering di nakas, nama Fatih tertera di layar hand phonenya.


"Hmmm..." jawab Nina dengan malas, sambil menghela nafas kecewa.


"Bangun udah pagi, bentar lagi ku jemput ya," ucap Fatih di ujung sana.

__ADS_1


"Hmmm..."


"Bangun jangan ham hem aja."


"Iyaaa bawel."


Nina bangun dan mematikan panggilan telpon dari Fatih. Dia bergegas ke kamar mandi memandangi tubuhnya sendiri dikaca, merasakan mimpinya yang seolah nyata. Diapun mandi dan bersiap untuk ke kampus.


Masih terngiang ucapan Rekso dalam mimpinya tentang Fatih, tapi Nina tak menghiraukan ucapan Rekso yang dia ingat cuma cara Rekso mencumbunya membuatnya merinding geli sendiri.


"Ma Nina berangkat ya," setelah sarapan Nina berpamitan pada orang tuanya.


"Sama Fatih lagi?" tanya mamanya.


"Kog gak dikenalin sama Papa sih," papa Nina angkat bicara.


"Malem minggu dia kesini kog, papa lagi gak ada di rumah waktu itu. Bye Pah Mah...!"


Nina segera berlari ke depan mendengar bunyi klakson dari mobil Fatih. Fatih menyambutnya dengan senyuman manisnya, melihat Nina tidak marah lagi padanya dia tak berani mengungkit hal yang kemarin.


"Nanti pulang kuliah kita nonton ya, atau kamu mau jalan kemana?" ajak Fatih pada Nina.


"Boleh juga, tapi aku mau suasana yang sepi dan tenang lagi malas dengan keramaian." ucap Nina.


"Oke siap tuan Putri."


Fatih memacu mobilnya lebih cepat, hatinya merasa bahagia karena Nina sudah membuka kembali hatinya. Setibanya di kampus mereka berpisah dan masuk ke kelasnya masing-masing, Fatih sudah tak sabar mau membawa Nina jalan berduaan.


*************


"Disini kita bisa santai ngobrol menikmati pemandangan yang hijau, atau kita jalan-jalan menikmati hutan mangrove dengan boat."


"Kamu gak ngajak aku tidur disini kan?" Nina memeriksa ruangan, tempat yang sangat nyaman memang tapi kalau sama pasangannya mungkin ini lebih cocok Nina membathin.


Nina duduk di sofa sambil memandang keluar jendela, deretan mangrove yang menghijau, sesekali ada burung kecil hinggap di dahannya kemudian terbang lagi.


"Fatih ceritakan tentang dirimu, kita sudah lama berteman tapi aku belum tahu siapa kamu."


"Baiklah, tapi aku mau pesan makan dulu biar kita sambil makan."


Fatih menelpon resepsionist dan memesan makan serta minuman buat mereka berdua.


"Aku orang biasa, hanya saja mempunyai ayah seorang pengusaha, aku anak tunggal dan ibuku baru meninggalkanku sekitar dua tahun lalu karena sakit kanker. Hidupku terpuruk saat mamaku pergi, karna aku sangat dekat dengan mamaku. Aku sering gonta-ganti wanita bahkan sempat mencoba narkoba dan hampir juga masuk penjara, di DO kampus dua kali, dan ini adalah kampus ke tigaku. Kali ini aku berusaha berubah untuk papaku dan juga masa depanku, aku mulai menjauhi teman-teman yang hanya akan menjerumuskanku, dan aku beruntung mengenal kamu."


Nina terbelalak mendengar cerita Fatih, dia memandang lekat pada pria di hadapannya. Sesaat kemudian pesanan mereka datang, Nina dan Fatih memilih untuk menikmati makanan mereka sebelum melanjutkan perbincangan.


"Apa kamu masih memakai itu?" tanya Nina ragu-ragu.


Fatih menggeleng, Nina merasa lega dia takut Fatih masih memakai narkoba sampai sekarang. Dia sangat takut dengan hal yang berhubungan dengan narkoba.


"Jadi mantanmu banyak?" tanya Nina lagi.

__ADS_1


"Mantan? aku tidak pernah berhubungan yang spesial dulu. Kebanyakan kami suka sama suka, dia ngajak aku jalan ya sudah kita jalan."


"Jadi kamu dulu tidak pacaran gitu biarpun udah jalan bareng,"


"Ya enggak kayak kita gini temenan biasa, tapi kalau dulu biarpun teman kami biasa ML."


"Hah.." Nina langsung beringsut dari tempat duduknya, tiba-tiba dia takut berduaan dengan Fatih.


"Kamu gak usah takut, itu dulu lagian aku juga gak suka maksa kog. Dulu memang aku begitu habis makai narkoba ya seperti itu, terbawa sama pengaruh obat."


Nina merinding mendengar cerita Fatih, dia tak menyangka masa lalu Fatih seperti itu.


"Sekarang aku ingin berubah Nina, aku ingin menjadi pria baik-baik dan menikahi wanita yang kucintai."


Nina terdiam dia merenung Fatih sudah jujur padanya tentang siapa dia dan juga masa lalunya. Sekarang mungkin saatnya dia menceritakan tentang Erick agar Fatih tidak terus-terusan menyinggung nama itu.


"Aku juga anak tunggal, kalau pacar aku tidak seperti kamu, dulu aku hanyalah gadis si kutu buku yang menyukai nonton drama korea, aku tidak suka pacaran karna orang tuaku tidak mengijinkan aku pacaran waktu SMA. Setelah kuliah aku bertemu dengan Erick, awalnya aku membencinya lama-lama aku menyukainya, boleh di bilang kami pacaran. Tapi tiba-tiba Erick mengalami kecelakaan dan koma, sebulan dia dirawat disini lalu dibawa pulang oleh keluarganya. Kami berpisah begitu saja dan itu sempat membuatku terpuruk."


Nina menghela nafasnya, dia kembali terkenang pada Erick. Menyadari wajah Nina berubah murung Fatih duduk di sampingnya, dia memberanikan diri memegang tangan Nina.


"Kamu jangan sedih lagi Nina, aku ingin membuatmu bahagia dan melupakan tentang Erick. Maukah kamu memberiku sedikit ruang di hatimu?"


Nina menatap wajah Fatih, sebenarnya pria ini sudah mencuri hatinya. Fatih sudah mengisi kekosongan di hatinya, tapi cerita Fatih tadi membuatnya ragu-ragu, dia takut dengan bayang-bayang narkoba yang Fatih ceritakan padanya.


"Apa narkoba itu bikin ketagihan?" tanya Nina.


"Nggak juga yang bikin seperti itu lingkunganmu, saat temanmu masih memakai dan bergaul denganmu dia akan terus menawarimu barang itu, maka kamu akan susah lepas. Trimakasih sudah menjadi temanku Nina kamu sudah merubah hidupku."


Nina tersenyum lega, dia membalas ngenggaman tangan Fatih ada rasa hangat mengalir di hatinya. Apakah dia mulai suka dengan pria ini, yang jelas Fatih sudah berusaha jujur kepadanya.


"Hari sebentar lagi gelap, yuk kita pulang." Nina mengajak Fatih pulang.


"Ayok, trimakasih atas waktumu buatku Nina."


Fatih mengantar Nina pulang, sepanjang jalan dia menggenggam tangan Nina. Sesekali Nina melirik pada Fatih dan tersenyum saat Fatih juga sedang mencuri pandang padanya.


Sesampainya di rumah Nina, Nina memandang Fatih sebelum keluar dari mobilnya.


"Fatih sepertinya kamu harus bertemu papaku jika kamu mau serius denganku,"


Fatih memandang Nina tak percaya, apa maksud Nina dia menerima cintanya.


"Apa kamu sudah siap menjadi istriku?"


"Ish... ya kenalan dulu dong sama papaku, kamu ini nikah aja yang dipikirin." Nina mencubit gemas pipi Fatih.


"Ya aku maunya kita menikah secepatnya, untuk apa pacaran lama-lama."


"Aku masih perlu memantapkan hatiku Fatih."


"Aku akan menunggumu Sayang."

__ADS_1


Nina tersenyum dan turun dari mobil Fatih, setelah Nina hilang di balik gerbang Fatihpun pulang ke rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga.


*************


__ADS_2