
Nina di dalam kamarnya sedang berfikir mencoba mencari cara agar dia tidak bertemu dengan Erick lagi, semakin bertemu dengan Erick hatinya semakin pilu.
'Ini tidak boleh terus-terusan, aku harus menghindari Erick, kepalaku sakit kalau harus bertemu dengan dia,' Nina duduk di depan jendela memandang keluar dari kisi-kisi kaca jendela kamarnya.
Di luar hari semakin gelap, angin meniup pepohonan di samping rumah mbah Darmi, mereka seolah menari mengiringi kesenduan di hati Nina, cahaya temaram dari lampu neon di pinggir jalan menciptakan aura tersendiri.
Nina merain ponsel miliknya dan melakukan panggilan video call dengan Ratih, pasti sahabatnya itu sudah bertanya-tanya tentang ke alpaannya dua hari ini.
"Hai Nin ...," jerit Ratih saat melihat wajah Nina di layar ponselnya.
"Hai ...," balas Nina sambil tersenyum menyembunyikan rasa kalut di hatinya.
"Kamu di mana sekarang, Ronald nyari-nyari kamu, kalian sedang ribut ya?" Ratih langsung memberondong Nina dengan pertanyaan.
"Hmm ..., ya begitulah Ratih, hidup gue sudah kayak sinetron tv ikan terbang," Nina tersenyum kecut.
"Cerita dong Nin, kita ini sahabatmu jangan kamu pendam sendiri masalahmu, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri," ucap Ratih sambil menatap wajah Nina yang terlihat pilu.
"Kau tahu bagaimana aku kan, bagaimana rencana pernikahanmu?" tanya Nina pada Ratih, lagi-lagi dia tidak mau membahas masalahnya dia lebih senang mendengarkan cerita dari Ratih.
"Kapan kamu pulang? aku ingin kamu datang saat acara pentingku," Ratih memohon.
"Aku akan datang kamu gak usah cemas, aku juga harus menghadapi Ronald juga kan, lagian masalahku dengan dia juga harus di selesaikan, saat ini aku cuma ingin menenangkan diri, dan supaya Ronald intropeksi dirinya sendiri," ucap Nina meyakinakan Ratih.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," ucap Ratih.
Nina mengakhiri sambungan video call dengan Ratih, kali ini dia akan menghubungi mamanya agar mamanya juga merasa tenang, Nina tidak mau keluarganya selalu khawatir dengan keadaannya.
"Sayang ..., apa kabarmu di sana?" tanya Pratiwi saat mendengar suara Nina.
Kali ini Nina tak mau melakukan video call karna dia tidak mau mamanya melihat wajahnya yang sedang galau dan bimbang.
"Nina baik Mah, apa Ronald datang ke rumah Ma?" Nina bertanya pada mamanya tentang Ronald.
"Hmm ..., yah dia datang ke rumah pagi itu, karna mama juga gak ada jadi dia ke kantor mama," ucap Pratiwi.
"Nina nanti pulang saat Ratih menikah Ma, bagaimanapun juga kami harus menyelesaikan masalah ini," balas Nina.
"Mama juga sudah bilang sama Ronald, kamu butuh waktu untuk berfikir, ya semoga saja suamimu mau memperbaiki dirinya. Kamu sudah kemana saja?" tanya Pratiwi pada Nina.
"Nggak ada Mah, Nina gak selera mau jalan-jalan, apa lagi ...," Nina menghentikan ucapannya, dia tak mau mamanya tahu kalau ada Erick di sini, pasti mamanya akan semakin sedih.
"Ada apa Sayang?" tanya mama Nina menunggu ucapan Nina yang terhenti.
"Nggak apa-apa Ma, rasanya kurang etis kalau Nina bersenang-senang apalagi Nina sedang bermasalah dengan suami," ucap Nina.
"Oh begitu, Mama yakin kamu bisa menghadapi ini Sayang," kata Pratiwi.
"Papa mana Mah, apa mertuaku sudah tahu semua ini?" tanya Nina.
"Papamu belum pulang, kalau soal mertuamu mama kurang tahu, kami gak pernah bahas soal ini, lagian juga gak pernah ketemu sama mereka," ucap Pratiwi.
"Ya sudah Mah, nanti Nina kabarin lagi ya, salam sama Papa ya Mah," ucap Nina sebelum mengakhiri sambungan telpon dengan mamanya.
*******
Di tempat lain Ronald merasa sangat kesepian di rumah sendirian, dia memutuskan untuk pergi ke klub untuk menghilangkan rasa penatnya, mungkin dengan sedikit minum dapat melupakan sedikit masalahnya.
Seseorang menepuk pundak Ronald dari belakang, Ronald menoleh dan melihat siapa yang menepuk pundaknya. Pria yang sangat tidak ingin dia jumpai saat ini.
"Hai ..., kenapa nggak ngajak aku kalau mau minum, mana enak minum sendirian," sapa Bastian sambil duduk di depan Ronald.
"Ngajak kamu, yang ada Lu bikin gue mabok dan Lu perkosa gue," jawab Ronald sambil membuang mukanya.
__ADS_1
"Ronald ... Ronald dulu karna aku pikir kita sama, gak semua gay gitu kita hanya nyari pasangan yang sama, kalau gak mau kita gak paksain kog," ucap Bastian sambil memanggil waiters untuk memesan minum.
"Sejak kapan kamu kayak gitu, memangnya keluargamu gak curiga?" tanya Ronald, dia penasaran bagaimana Bastian bisa seperti ini.
"Aku punya pacar, jadi keluargaku tidak curiga," ucap Bastian sambil meneguk minumannya.
"Cewek?" tanya Ronald.
"Ya iyalah cewek, sayangnya aku lebih tertarik dengan pria, ya cewekku itu cuma kamuflase saja," ucap Bastian sambil menuang minuman ke dalam gelas Ronald yang mulai kosong.
"Kasihan banget yang jadi cewekmu," ucap Ronald sambil menatap heran pada Bastian.
"Nggak juga aku bisa memuaskan wanita juga, hanya saja rasanya beda kalau dengan pria," ucap Bastian lagi.
"Jadi kamu bisa dua-duanya?" Ronald melongo tak percaya.
"Yup," Bastian kembali meneguk minuman di gelasnya.
"Kenapa kamu gak berobat, kenapa harus kamu ikuti sisi gelap itu Bas, cobalah berubah hindari sisi gelapmu," Ronald tiba-tiba kasihan pada Bastian.
"Hmm aku sedang mencobanya, jujur aku tersiksa dengan rasa ini," mata Bastian menerawang jauh.
Keduanya kembali akrab, Ronald tak lagi jijik berbicara dengan Bastian, temannya itu hanya butuh dukungan agar sembuh dan kembali ke kodratnya sebagai laki-laki sejati.
Sebenarnya Bastian teman yang menyenangkan kalau saja dia tidak mengincar Ronald sebagai target pelampiasan nafsu menyimpangnya, walau kini mereka sudah kembali akrab Ronald tetap berhati-hati saat bersama dengan Bastian.
"Kamu sendiri, ngapain ada di sini, istrimu nggak marah kalau kamu pulang bau minuman?" Bastian ganti bertanya, dia heran melihat Ronald pergi ke klub.
"Hmm kami lagi pisah ranjang," ucap Ronald.
"Hah serius, sepertinya kalian sangat romantis, aku iri melihat istrimu yang sangat perhatian kepadamu," ucap Bastian.
"Ada sesuatu yang membuat kami berubah, ah entahlah aku stres menghadapi masalahku," Ronald mereguk kembali minumannya.
Ponsel Bastian berdering dia meninggalkan Ronald untuk menerima panggilan telponnya di luar ruangan. Beberapa saat diapun kembali lagi.
"Cewek gue mau ke sini," ucap Bastian saat kembali ke tempat duduknya.
"Hmm cewek Lu suka klubing juga?" tanya Ronald heran.
"Ya gue kenalnya pas lagi klubing," ucap Bastian.
Beberapa saat berlalu datang dua wanita ke meja tempat Ronald dan Bastian duduk, salah satunya mencium Bastian dengan mesra, ternyata itu pacar Bastian yang datang bersama temannya.
"Ron ini cewek gue, Keysa," Bastian mengenalkan pacarnya pada Ronald.
"Keysa," wanita itu mengulurkan tangannya.
"Ronald," Ronald menyambut uluran tangan dari Keysa.
"Rebeca," teman Keysa mengulurkan tangannya pada Ronald.
"Ronald," Ronald membalas perkenalan dari Rebeca.
Kedua wanita itu lumayan cantik, namun pakaiannya yang terlalu seksi membuat Ronald malah tidak tertarik sama sekali, dia tidak suka wanita yang terlalu mengumbar bagian tubuhnya.
Mereka menikmati malam sambil minum dan bercerita, malam semakin larut Ronald ingin mengakhiri malamnya dan pulang ke rumahnya.
"Aku pulang dulu," ucap Ronald sambil berdiri.
"Lu yakin bisa bawa mobil, kalau nggak biarin saja mobilmu di sini aku antar kamu pulang," ucap Bastian khawatir.
"Gue bisa," Ronald terhuyung saat melangkah, Rebeca dengan cepat menangkapnya.
__ADS_1
"Duh kamu bisa nabrak orang kalau begini Ron," Rebeca mendudukkan Ronald di kursi.
"Kamu aja bawa mobilnya Ronald Bec," ucap Keyla.
"Hmm tapi kan gue gak tahu rumah dia Beb," ucap Rebeca.
"Serah Lu deh, have fun aja," Keysa mengerling nakal pada Rebeca.
"Seriously," ucap Rebeca.
"Go head girl," Keysa tertawa.
"Bantuin dong," Rebeca meminta Bastian membantu Ronald masuk ke mobilnya.
Bastian membayar minuman dan membantu Ronald masuk ke dalam mobilnya, Rebeca mengambil kunci mobil di saku baju Ronald dan membawa Ronald ke apartemennya.
Bastian dan Keysa pulang dengan mobilnya masing-masing, Rebeca membawa pulang Ronald ke apartemen miliknya.
"Letakkan di sofa saja Pak, trimaksih ya ini buat beli rokok," Sesampainya di apartemen Rebeca minta tolong pada security untuk membawa Ronald ke apartemennya, dan memberi tip buat security saat Ronald sudah berada di ruangan apartemennya.
"Trimakasih Mbak," ucap security sebelum meninggalkan apartemen milik Rebeca.
Ronald berbaring di sofa sedangkan Rebeca ke kamar mandi untuk mandi agar aroma rokok dan minuman keras di tubuhnya hilang.
Selesai mandi dia mengenakan handuk dan mengambil air hangat untuk minum, sembari duduk di sofa memperhatikan Ronald yang sedang teler.
"Hmm ... kamu ganteng juga Ronald," ucap Rebeca.
Rebeca meletakkan gelas dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ronald, mengamati wajah tampan milik Ronald.
"Nina ...," Ronald memanggil nama Nina.
"Siapa Nina?" Rebeca bertanya-tanya.
"Nina, ke sini Sayang," Ronald memeluk tubuh Rebeca.
"No ..., gue Rebeca bukan Nina," Rebeca berusaha melepaskan pelukan tangan Ronald, membuat handuk yang melekat di tubuhnya terlepas.
Aroma wangi sabun di tubuh Rebeca membuat Ronald merasa melayang, dia mengira sedang memeluk Nina istrinya.
"Hmm kamu merindukanku kan Sayang?" Ronald mulai meraba tubuh Rebeca yang tanpa busana.
"Ron gue Beca," ucap Rebeca menepis tangan Ronald yang semakin liar.
"Jangan menolakku lagi Nina, aku merindukanmu," Ronald menindih tubuh Rebeca.
Rebeca masih berusaha melawan, dia memang suka klubing tapi kalau urusan tidur bersama pria ini baru pertama kali dia lakukan.
Ronald terus merangsek memaksakan kehendaknya membuat Rebeca tak bisa lagi menahan hasrat pria yang sudah menindihnya dengan penuh nafsu.
Rebeca meringis menahan perih menerima kebrutalan Ronald pada tubuhnya, pria itu tertidur di atas tubuhnya saat selesai melakukan hajatnya. Rebeca diam tak berkutik, rasa sakit dan remuk di sekujur tubuhnya membuatnya tertidur karna kelelahan.
Ronald terbangun dan mendapati seorang wanita berada di bawah tubuhnya, dia mendapati celananya sudah melorot dan wanita itu tanpa sehelai benang yang melekat di tubuhnya, beberapa tanda cinta terdapat di bagian dada wanita itu.
Ronald segera membetulkan celananya membuat Rebeca terbangun dan segera meraih handuk di lantai untuk menutupi tubuhnya, dia bangkit dari sofa dan berlalu meninggalkan Ronald yang termangu memandangnya.
Ronald mencari kunci mobilnya lalu keluar dari apartemen Rebeca dan pulang ke rumahnya, Rebeca keluar dari kamar mandi sudah tak mendapati Ronald berada di apartemennya.
"Sialan kamu Ronald, tunggu pembalasanku," Rebeca merasa sangat kesal.
Ronald pulang dengan segala rasa, kenapa dia bisa seceroboh ini, bagaimana kalau Nina sampai tahu soal ini, pasti dia akan sangat membencinya, Ronald mendengus kesal dia mengutuki kecerobohannya.
**********
__ADS_1