
Pagi itu Nina bangun dengan wajah ceria dia bersenandung di dapur saat membantu mbah Darmi, mbah Darmi tersenyum dan mersa senang melihat Nina sudah kembali seperti dulu.
"Mimpi apa kamu semalam Nduk?" tanya mbah Darmi.
"Mbah hari ini suamiku akan datang ke sini siang ini," ucap Nina sambil memeluk mbah Darmi.
"Oalah, kamu bener-bener udah menikah to ternyata, walah la kita masak apa ini buat menyambut suamimu, siapa namanya?" tanya mbah Darmi.
"Ronald Mbah, ah nggak usah repot-repot Mbah, suamiku yang penting aku yang masakin dia udah seneng," ucap Nina bibirnya tersungging senyum bahagia.
"Ada apa ini?" Dayat yang baru selesai mandi heran melihat suasana ceria pada wajah kedua wanita yang sangat dia hormati.
"Suaminya Mbakmu mau datang," ucap mbah Darmi.
"Jadi ...?" tanya Dayat heran.
"Jadi nanti siang kita ke bandara buat jemput dia, sana pakai bajumu cepat," Nina mencubit dada Dayat yang hanya mengenakan handuk.
"Ok siap Bos, pakai Erick?" Dayat kembali bertanya pada Nina.
"Hmm serah lu dah," ucap Nina sambil melanjutkan memotong cabe dan sayuran.
Dayat pergi ke kamarnya untuk memakai baju, dia mengabari Erick melalui pesan singkat kalau siang ini mau menjemput saudara ke bandara, Erick dengan senang hati memenuhi permintaan Dayat, dia senang karna akan bertemu dengan Nina lagi.
*******
Sesuai janji Erick datang ke rumah mbah Darmi, dia memanasi mobil lebih dulu Nina keluar menggunakan gamis yang dia beli bersama Dayat dan Erick. Erick melirik pada Nina dan wanita itu hanya memandang sekilas.
"Jilbabnya gak dipakai Nin?" tanya Erick.
"Hmm jilbab, apa aku cocok pakai itu?" Nina balik bertanya.
"Coba dulu," balas Erick.
"Tapi ...," Nina berfikir, nanti Ronald suka apa tidak dengan penampilan barunya.
"Pakailah, kapan mau dipakai kan sayang udah dibeli nggak dipakai," ucap Erick.
"Ok, tapi nanti kalau jelek aku copot ya," ucap Nina.
Nina masuk ke kamarnya dan memakai jilbab, dia berkaca sebentar memandangi wajahnya, dan keluar meminta pendapat mbah Darmi dan juga Dayat.
"Mbah cocok nggak Nina pakai ini?" tanya Nina.
"Kamu cantik," Erick tak sadar mengucapkan kata itu pada Nina.
Dayat memandang wajah Erick yang terpesona, Nina menjadi salah tingkah, mbah Darmi tersenyum melihat cucunya yang terlihat sangat anggun dan dewasa mengenakan gamis dan jilbab.
__ADS_1
"Cantik Nduk, kamu terlihat anggun dan luwes," ucap mbah Darmi.
"Yuk berangkat," ucap Dayat sambil melihat jam di tangannya.
Nina berpamitan pada mbah Darmi sebelum berangkat ke bandara, Erick membawa mobil dengan kecepatan sedang, karna kali ini waktunya masih cukup lama jadi mereka bisa bersantai.
Setibanya di bandara Erick memarkir mobilnya, dia ikut turun bersama Nina dan Dayat menyambut saudara Dayat yang akan datang, Erick masih tidak tahu kalau mereka sedang menjemput suaminya Nina.
Pesawat yang ditumpangi Ronald sudah mendarat, satu persatu penumpang mulai keluar dan bertemu dengan penjemputnya, Ronald berjalan sambil celingukan mencari-cari sosok Nina yang katanya menjemputnya.
Nina yang mengenakan baju gamis dan jilbab panjang membuat Ronald tidak mengenalinya, saat melihat Ronald Nina langsung berjalan menghampirinya, sementara Ronald sibuk dengan ponselnya hendak memghubungi Nina.
Ponsel Nina berdering saat dia sudah di depan Ronald, Ronald yang masih tak menyadari kalau itu adalah Nina istrinya dia masih mencoba menghubungi Nina.
"Hei ...," sapa Nina.
Ronald membuka kaca mata hitamnya dia mengamati wanita berjilbab panjang di depannya, senyum itu adalah senyum yang sudah lama dia rindukan.
"Nina, kamu ...," Ronald langsung memeluk istrinya, berkali-kali dia menciumi kepala Nina, Nina memeluk erat suaminya melepaskan rasa rindu yang bagai bertahun tidak bertemu.
Ada hati yang tiba-tiba terasa nyeri saat menyaksikan pemandangan kemesraan Nina bersama pria lain, hati milik Erick entah dari mana datangnya rasa itu, padahal Nina bukanlah siapa-siapanya.
"Itu suaminya mbak Nina," Dayat menyenggol lengan Erick, membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
"Hem ..., oh sudah menikah," suara Erick terdengar parau.
"Dayat, Erick ini suamiku Ronald," Nina memperkenalkan suaminya pada kedua pria di depannya.
"Wah ganteng banget mas Ronald, pantesan bikin mbak Nina sampai nggak doyan makan mikirin mas Ronald," Dayat menyalami Ronald sambil menggoda Nina.
"Ah masak sih dia sampai nggak doyan makan?" Ronald melirik pada istrinya.
"Beneran Mas, ngumpet aja dia di kamar, padahal dulu Mbak ...," Dayat seketika berhenti, karna tangan Nina sudah mencubit bibirnya.
Ronald tertawa melihat tingkah Nina pada sepupunya, dia merasa senang rupanya istrinya masih sangat mencintainya.
"Saya Erick, temennya Dayat," Erick mengulurkan tangannya pada Ronald.
"Ronald," Ronald menyambut dengan senyuman ramah.
Erick merasa tidak suka pada Ronald namun dia mencoba menyembunyikan perasaannya, bagaimanapun dia tidak berhak untuk cemburu pada pria yang sudah sah memiliki Nina.
Mereka langsung pulang Nina duduk di belakang bersama suaminya, sedangkan Dayat duduk di depan menemani Erick, sepanjang jalan Ronald menggenggam tangan Nina sesekali dia mencium tangan istrinya.
Erick kadang mencuri pandang lewat kaca spion, terlihat wajah Nina yang sudah berubah tidak seperti hari-hari sebelumnya, sepertinya Nina sangat bahagia bersama pasangannya.
"Aku suka lihat kamu pakai kayak gini," kata Ronald sambil membelai kepala Nina.
__ADS_1
"Jadi aku boleh pakai kayak gini tiap hari?" tanya Nina, sambil menatap mata suaminya.
"Boleh dong Sayang," Ronald langsung mengecup bibir Nina.
"Rick ... Rick ..., awaaaass ...!!!" Teriak Dayat yang menyadari mobil mereka mau menabrak mobil yang sedang parkir di depannya.
Erick yang sedang melirik adegan di belakang melalui kaca spion tersentak dan dengan cepat mengendalikan mobilnya, hampir saja mereka mengalami kecelakaan.
Ronald memeluk Nina yang ketakutan membayangkan mobil mereka mau tabrakan, Erick merasa tidak enak hati dan meminta maaf pada Ronald dan juga Nina.
"Duh sory ya tiba-tiba gue ngeblank," Erick menepikan mobil mereka dan berhenti.
"Gue gantiin ya Rick, kayaknya kamu capek," Ronald menawarkan diri buat menggantikan posisi Erick.
"Iya, gak apa-apa kan Ron, Nin kamu gak apa-apa kan, sory ya Nin," ucap Erick.
"Santai aja Bro," Ronald turun dari mobil dan pindah ke depan.
Erick berpindah ke samping kiri dan menyuruh Dayat duduk bersama dengan Nina, Dayat yang masih shock hanya menurut saat Erick menyuruhnya pindah.
"Sekali lagi maaf aku udah hampir bikin kalian celaka," Erick merasa samgat menyesal atas kecerobohannya.
"Its okay, yang penting kita selamat, kamu tunjukin jalannya saja ya," ucap Ronald.
Ronald kembali menghidupkan mobil dan membawanya dengan pelan, karena dia belum terbiasa membawa mobil di daerah ini, Erick sekarang menjadi penunjuk jalan buat Ronald.
Akhirnya mereka sampai di rumah mbah Darmi, orang tua Dayat dan adik-adiknya juga menyambut kedatangan suami Nina, mereka penasaran dan ingin mengenal Ronald lebih dekat.
Mendapat sambutan hangat dari keluarga Nina, Ronald merasa sangat senang meskipun kadang dia kurang mengerti saat keluarga Nina berbicara dengan bahasa jawa.
Nina menunjukkan kamarnya agar Ronald beristirahat di kamarnya, Ronald menarik tangan istrinya saat dia mau pergi ke luar.
"Di sini dulu temani suamimu," bisik Ronald sambil memeluk tubuh Nina.
"Di luar masih banyak orang, gak enak kalau ditinggal tidur, tunggu mereka pergi dulu ya," Nina mengecup mesra suaminya dan dia meninggalkan Ronald di kamar untuk beristirahat.
Nina kembali bercengkrama bersama keluarganya, sedangkan Erick dan Dayat berbincang di luar, orang tua Dayat pulang ke rumahnya dan mbah Darmi beranjak untuk istirahat, Nina menemui Dayat dan Erick di luar.
"Erick trimakasih udah bantuin jemput suamiku, besok kalau suamiku pingin jalan-jalan kamu bisa antarin kan?" Nina menatap Erick sambil berdiri di pintu.
"Oh aman itu, nanti suruh Dayat telpon aku ya, atau aku boleh minta nomor kamu biar ku miss call," ucap Erick sambil menyembunyikan rasanya.
"Nanti aku minta sama Dayat nomor kamu, ok aku masuk dulu ya Rick, Yat," ucap Nina sambil berlalu.
Nina memasuki kamarnya Ronald sudah menunggunya dengan hanya memakai celana dalam saja, Nina tertawa melihat kelakuan suaminya yang sudah setengah bugil. Melihat istrinya datang dia tak mau membuang waktu lagi dia langsung mengajak Nina bercinta saat itu juga, kali ini Nina menerima ajakan Ronald dengan penuh suka cita.
Rasa rindu yang tertahan mengembalikan kehangatan mereka di atas ranjang, Ronald bahagia karna Nina kembali seperti dulu lagi. Dia yakin semua akan kembali seperti semula, rumah tangga mereka akan kembali hangat dan akan baik-baik saja.
__ADS_1
*******