
Ronald tiba-tiba menggerakkan jari tangannya, Nina yang berada di sana langsung mendekati suaminya agar saat Ronald sadar dia berada di sisinya.
"Sayang ...," bisik Nina pelan sambil membelai tangan Ronald dan mencium kening suaminya.
Perlahan Ronald mengerjapkan matanya, dia melihat wajah Nina yang sedang tersenyum memandanginya, tubuhnya masih tak bisa digerakan terasa sangat kaku dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Kamu ..., aku di mana Sayang?" tanya Ronald dia melihat ke sekeliling ruangan.
"Kamu di rumah sakit Sayang, jangan banyak gerak dulu istirahatlah, aku panggilkan suster dulu ya," Nina memencet tombol di tepi ranjang untuk memanggil petugas yang berjaga.
"Ada apa Bu?" Seorang suster datang memasuki ruangan.
"Suami saya sudah sadar Sus," Nina memberitahu pada suster keadaan suaminya.
"Baik kita periksa dulu ya, apa kabar pak Ronald?" sapa suster itu ramah.
Suster memeriksa keadaan Ronald, dia sudah bisa diajak berbicara hanya saja badannya masih terasa sakit dan kaku semua. Ronald merasa tenang melihat Nina sudah berada di sampingnya menemaninya.
"Nanti kita tunggu kunjungan dokter ya pak Ronald, dokter yang akan menjelaskan semua pada Bapak, sejauh ini semua baik semoga Bapak cepat pulih," ucap suster sebelum meninggalkan ruangan.
Nina mendekati Ronald dan memeluk tubuh pria yang dicintainya itu, saat ini dia tidak berani bertanya apa-apa, dia hanya ingin memeluk Ronald agar pria itu merasa tenang.
"Bagaimana orang bisa menemukanku?" tanya Ronald pelan.
"Kata polisi ada driver ojol yang nemuin kamu tergeletak di pinggir jalan, apa yang sebenarnya terjadi Sayang?" Nina menatap wajah suaminya.
"Aku tidak ingat, yang kutahu saat mau naik ke taksi, ada yang membekapku mataku di tutup dan aku diikat, mereka memukuliku tanpa aku tahu apa kesalahanku," Ronald berbohong pada Nina dia tak mau Nina tahu masalah yang sebenarnya.
"Ya Allah kog bisa seperti itu, apa kamu punya musuh?" Nina semakin khawatir saat mendengar cerita dari suaminya.
"Aku merasa tidak punya musuh, tapi nggak tahu juga kalau ada yang membenciku," Ronald meremas tangan Nina.
"Semoga polisi bisa mengungkap kasus ini, dan orang yang membuatmu seperti ini mendapatkan hukuman yang setimpal," Nina menatap iba pada suaminya.
Sore hari dokter yang merawat Ronald datang untuk memeriksa perkembangan kesehatan Ronald, Nina dengan setia menunggui suaminya di sisinya.
"Bagaimana perkembangan suami saya Dok?" tanya Nina pada dokter.
"Semakin baik hanya tinggal pemulihan, untuk tulang nanti kita lakukan pemeriksaan ulang ya bu, apa bisa sambil rawat jalan, kalau bisa nanti Bapak bisa ikut teraphi pemulihan seminggu sekali," jawab sang dokter.
********
Seminggu berada di rumah sakit akhirnya Ronald diijinkan pulang, dan harus mengikuti teraphi seminggu sekali, Ronald masih harus menggunakan kursi roda karna belum bisa berjalan sendiri.
Nina merawat sendiri suaminya di rumah dengan sabar, seminggu sekali dia mengantar suaminya untuk teraphi ke rumah sakit, perlahan Ronald bisa berjalan walau harus menggunakan alat bantu berdiri.
Sebulan berlalu dari musibah itu Ronald sudah bisa berjalan sendiri, namun sikapnya berubah menjadi pendiam, dia sangat berubah semenjak menjalani perawatan.
Sementara itu restoran Nina di Semarang sudah selesai pembangunannya, Nina mengutus Eka untuk mengatur penerimaan karyawan dan training karyawan yang akan bekerja di restonya, karena Nina harus fokus mengurus suaminya.
__ADS_1
"Sayang kita ke Semarang yuk sekalian liburan, biar nggak suntuk di rumah," ajak Nina pada Ronald.
"Bagaimana perkembangan resto yang di sana?" tanya Ronald.
"Tinggal training karyawan, pertengahan bulan ini rencana openingnya," ucap Nina.
"Pergilah ke sana, aku sudah bisa ditinggal kog, rencana aku juga mulai ngantor lagi, sudah terlalu lama aku diam di rumah rasanya bosan," ucap Ronald datar.
"Jangan di paksakan Sayang, kamu kan belum sembuh benar," ucap Nina sambil memeluk tubuh suaminya yang sedang berbaring disampingnya.
******
Ronald merasa ada yang lain pada dirinya, tapi dia tidak mau bercerita pada Nina, rencananya dia akan pergi ke dokter sendirian tanpa Nina, dia akan menanyakan tentang kondisi tubuhnya pada dokter saat Nina pergi ke Semarang.
Ronald memaksa Nina berangkat ke Semarang untuk melihat resto yang sebentar lagi akan opening, akhirnya Nina menuruti perintah Ronald dia berangkat ke Semarang.
Saat Nina berangkat Ronald langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter yang merawatnya, setelah mendaftar dan menunggu antrian akhirnya nama Ronald di panggil.
"Bapak Ronald!!" panggil asisten dokter.
"Saya," jawab Ronald sambil mengangkat tangannya.
Ronald memasuki ruang dokter untuk konsultasi akan masalah kesehatannya dengan dokter Suryanto.
"Apa kabar pak Ronald?" sapa dokter Suryanto ramah.
"Ada keluhan?" tanya dokter Suryanto.
"Dok sejak saya sakit hingga hari ini saya merasa ada yang lain dengan saya, biasanya kalau pagi atau saat bersentuhan dengan istri, saya akan mengalami ereksi, tapi ini sama sekali tidak ada reaksi dok," wajah Ronald terlihat murung.
Dokter memeriksa file milik Ronald dan membaca hasil scan saat dia terkena musibah. Beberapa saat dokter Suryanto terdiam.
"Pak Ronald, dulu Bapak mengalami cedera di bagian pen*s, bagian saraf, atau pembuluh darah di bagian punggung juga mengalami cedera, hal itu dapat menyebabkan disfungsi ereksi seperti yang sedang Bapak alami sekarang," ucap dokter pelan.
"Jadi saya benar-benar tidak bisa sembuh Dok?" Ronald terlihat sangat terpukul.
"Kita coba dulu dengan pemberian obat ya Pak, saran saya Bapak juga konsultasi pada psikolog, karna stres atau depresi bisa membuat hal ini terjadi," sambung dokter Suryanto.
Dokter meresepkan obat untuk Ronald, dengan perasaan rapuh dia pulang ke rumahnya, dia merasa benar-benar menjadi pria yang tidak berguna.
Ronald teringat pada Rebeca, wanita itu benar-benar telah menghancurkan hidupnya, dia pasti sedang menertawakannya saat ini, hati Ronald benar-benar terasa sakit dan panas.
'Aku akan membalasmu Rebeca, tunggu saja aku tidak akan diam dengan semua ini, kita harus sama-sama hancur,' gerutu Ronald dalam hati.
Ronald merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Rebeca kepadanya, dia menghubungi Bastian untuk mencari tahu tentang Rebeca.
"Ronald kamu selamat?" Bastian terkejut saat Ronald tiba-tiba menghubunginya, setelah kejadian itu.
"Aku masih hidup, hanya saja hidupku sudah hancur Bas," Ronald mendengus kesal.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu sekarang Ronald?" tanya Bastian.
"Apa kamu masih sering bertemu dengan Rebeca?" tanya Ronald pada Bastian.
"Masih, kadang kita ketemu di klub," ucap Bastian.
"Kalau dia sedang ada di klub, kamu kabarin aku ya," pinta Ronald.
"Kamu mau ngapain lagi, jangan berurusan sama dia Ron bahaya," Bastian masih merasa ngeri, teringat kejadian waktu itu.
"Pokoknya kabarin aku!!" suara Ronald terlihat mulai kesal.
"Ok Bro, aku kabarin kamu kalau nanti ketemu sama dia, Bastian merasa takut saat mendengar suara Ronald yang terdengar penuh amarah.
*******
Malam itu Ronald tidak bisa tidur dia merasa sangat gelisah, masih terngiang-ngiang ucapan dokter Suryanto di telinganya, dan masih terngiang juga ucapan Rebeca saat menyuruh anak buahnya untuk menghajarnya waktu itu.
Pesan masuk di ponsel Ronald, ternyata dari Bastian dia mengabari kalau Rebeca sedang berada di klub, Ronald bergegas pergi ke klub dimana Rebeca sedang berpesta, malam ini dia akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
Ronald memesan minum dia sengaja minum di tempat yang tak terlihat oleh Rebeca, Ronald juga tidak memberitahu Bastian kalau dia juga berada di tempat itu.
Ronald sudah menghapus pesan dari Bastian di ponselnya, matanya menatap tajam penuh dendam pada Rebeca yang tidak menyadari kehadirannya.
Malam semakin larut, Rebeca sudah bersiap akan pulang melihat Rebeca melangkah keluar Ronald mengikutinya, Rebeca tidak sadar kalau Ronald sedang mengincarnya dia berjalan dengan santai menuju mobilnya.
Ronald mengikuti mobil Rebeca dengan mobilnya, ketika memasuki jalan tol, Ronald mensejajarkan mobilnya, mobil Rebeca melaju pelan di sebelah kanan, mobil Ronald di sebelah kiri.
Secara tiba-tiba Ronald membanting stir ke kanan dengan cepat membuat mobilnya membentur mobil Rebeca, Rebeca yang terkejut berusaha mengendalikan mobilnya, namun Ronald mengulang membenturkan mobilnya lagi, kali ini benturannya lebih keras dan mobil Rebeca membentur pembatas jalan.
Rebeca Panik dia tidak bisa mengendalikan mobilnya yang oleng, kepalanya terbentur dan tubuhnya terjepit, sedangkan mobil Ronald juga tak bisa dikendalikan lagi, benturan keras membuat mobilnya hancur, berkali-kali kepalanya terbentur, hingga mobilnya berhenti sendiri.
Jalanan sangat sepi saat kecelakaan yang di sengaja itu terjadi, tak lama ada mobil yang melintas dan berhenti kala mengetahui telah terjadi kecelakaan, pengemudi itu menelpon polisi melaporkan kalau terjadi kecelakaan.
Beberapa saat menunggu mobil polisi datang ke lokasi dan memeriksa, Ronald pingsan dengan bersimbah darah, sedangkan Rebeca dia yang mengalami luka lebih parah.
Mobil ambulance membawa tubuh mereka ke rumah sakit, Rebeca kondisinya kritis demikian juga keadaan Ronald yang tak jauh beda.
Di tempat lain Nina yang sedang tidur bermimpi mengejar Ronald yang berlalu tak menghiraukannya, Ronald menggunakan baju serba putih dia berjalan meninggalkan Nina, Nina berusaha mengejar dan memanggil namun pria itu seperti tak mendengarnya.
Nina terbangun dari tidurnya dia langsung mengambil wudhu dan melakukan shalat malam, selesai shalat dia mengirim pesan pada suaminya kalau dia akan kembali ke Jakarta besok.
Malam itu juga dia memesan tiket untuk pulang ke Jakarta, hatinya tiba-tiba merasa tidak enak memikirkan Ronald. Nina mencoba memejamkan matanya agar dia kembali tidur.
********
Note :
Salam kangen dari Author maaf lambat up dalam dua minggu Author harus mengerjakan tugas lain karena sedang ikut lomba dan kelas penulisan, trimakasih sudah sabar menanti 💞💞💞💞
__ADS_1