Godaan Penghuni Telaga

Godaan Penghuni Telaga
Bayang masa lalu


__ADS_3

Nina sedang mereguk madunya pernikahan bersama Fatih, dia merasa sangat bahagia demikian juga kedua orang tuanya. Mereka sengaja menunda bulan madu menunggu setelah Nina wisuda dan setelah pesta resmi pernikahan mereka.


Fatih mulai bekerja di perusahaan papanya dan mengganti waktu kuliah pada malam hari. Walaupun dia anak tunggal dia tetap punya kewajiban menafkahi istrinya dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Fatih ingin membeli rumah untuk mereka berdua tapi orang tua Nina tidak mengijinkan karena Nina juga anak tunggal, mama Nina tak rela anaknya jauh darinya. Biar adil mereka membagi waktu seminggu tidur di rumah Nina dan seminggu di rumah Fatih.


Nina sekarang mengelola tempat les untuk anak-anak bekerjasama dengan Dinda menggunakan kantor mamanya, dia juga mulai berfikir untuk mempunyai kesibukan dan penghasilan sendiri.


Hidup Nina begitu indah sudah sangat komplit, punya orang tua dan mertua yang sangat menyayanginya, serta suami ganteng dan juga sayang padanya. Nina sudah tidak manja dan cengeng lagi seperti dulu, dia sudah menjadi wanita dewasa yang lebih matang dalam menghadapi setiap masalahnya.


Rekso sudah tidak hadir ke dalam mimpi Nina karna Fatih selalu mengisi ke kosongan di hati Nina, dan Nina juga tidak pernah memanggilnya.


***************


"Sayang kamu ujian skripsinya kapan?" tanya Fatih saat berduaan bersama Nina di kamar.


"Tiga bulan lagi, ini aku masih mentok nyusun skripsinya kayak ngeblank gitu."


"Gimana kalau kita sewa tempat biar kamu tenang berfikir, ya itung-itung soft honeymoon gitu." Fatih ingin mengajak istrinya ketempat yang tenang agar dia bisa fokus mengerjakan skripsinya.


"Honeymoon ada softnya juga ya, nah kalau kayak gitu gak jadi nyusun skripsi yang ada kita bikin anak setiap saat." Nina mencubit perut suaminya dengan pelan.


"Jangan salah sehabis bercinta otak kita encer lo, semua ide bisa keluar karna hati kita bahagia."


"Ah pinter-pinter kamu aja itu mah, bilang aja pingin gituan di tempat private."


"Ya kalau disini ada pembokat, mau yang hot susah."


"Ya udah terserah ajalah, yang penting kasih aku waktu nyusun skripsi ya."


Nina memeluk suaminya, sepertinya saran Fatih ada benarnya juga. Mereka juga butuh waktu private berdua, Fatih yang langsung berkerja setelah menikah dan malam harinya kuliah lumayan menguras waktu dan tenaga.


Fatih menyewa apartemen yang tidak jauh dari kantor dan juga kampus mereka, tiga bulan ini mereka ingin menikmati masa-masa berduaan saja, Nina mau fokus dengan skripsinya, dan mereka bisa bercinta setiap saat tanpa segan karna tidak ada orang lain di apartemen mereka. Benar juga kata Fatih nyusun skripsi lancar berkat sering bercinta. Hati yang bahagia membuat segalanya jadi lancar.


Hari ini Fatih mengajak Nina berbelanja sebagai hadiah untuk kesuksesannya menyelesaikan skripsinya, walaupun sidangnya masih minggu depan. Dia ingin membuat istrinya bahagia dan melepaskan stresnya, mereka nonton, belanja dan makan malam berduaan.


**********


"Trimakasih Sayang kamu selalu membuatku bahagia, doain sidangku nanti lancar ya." kata Nina saat berada di restoran menikmati makan malam.


Fatih memegang tangan Nina dan mencium lembut tangan istrinya.


"Aku yakin istriku yang pintar lulus dengan nilai bagus. Aku selalu bangga padamu Sayang, setelah lulus wisuda terus lanjut bulan madu aku ingin kita punya anak, sudah gak sabar pingin gendong anak."


"Mamah malah nyuruh kita bikin anak yang banyak biar rumah rame, jadi tiap tahun aku produksi gitu ya."


Nina dan Fatih tertawa mereka benar-benar menikmati masa berduaan. Sedari tadi ada seorang wanita yang memperhatikan kemesraan Fatih dan Nina, matanya merah menahan air mata.


Nina dan Fatih sudah menyelesaikan makan malam mereka dan berencana untuk pulang ke apartemen. Saat berjalan keluar dari restoran seorang wanita cantik datang menghampiri dan menyapa mereka.


"Hai Fatih apa kabar?" sapa wanita itu.


"Maya...!" Fatih terkejut karna wanita itu adalah teman wanita di masa lalunya.


"Kirain kamu udah lupa sama aku, kamu sih menghilang begitu saja." ucap Maya sambil memperhatikan Nina.


"Ini istriku." Fatih memperkenalkan Nina.


Nina mengulurkan tangannya menyalami Maya, kedua wanita itu saling bersalaman. Nina tersenyum ramah pada Maya, demikian juga sebaliknya.


"Nina."

__ADS_1


"Maya, kamu cantik pantas saja Fatih melupakan teman lamanya."


"Ok sudah malam kami mau pulang dulu ya, senang bertemu sama kamu." Fatih mencoba mengakhiri perbincangan mereka.


"Mmm Fatih kamu bekerja dimana sekarang, kalau ada waktu aku mau sharing bisnis denganmu. Boleh kan Nina?" Maya memandang Nina seolah minta persetujuan.


"Why not," Nina melirik suaminya, Fatih pura-pura tidak mengerti.


"Minta kartu namamu, aku gak ada nomor contackmu lagi."


Nina menyeggol bahu suaminya yang tidak bereaksi dengan ucapan Maya, Nina kemudian membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu nama milik Fatih lalu memberikan pada Maya.


"Thanks... Nina, sampai ketemu lain waktu. Selamat bersenang-senang."


Maya berlalu meninggalkan Fatih dan Nina, Fatih dan Nina langsung pulang ke apartemennya. Nina tidak mengungkit dan menanyakan soal Maya, demikian juga Fatih dia juga tidak mau membahas soal Maya dengan Nina.


Maya adalah bagian dari masa lalu Fatih, dulu mereka sering have fun bareng, pesta narkoba dan bercinta atas dasar suka sama suka. Maya adalah anak pengusaha yang broken home karna orang tuanya bercerai. Mereka bertemu di tempat pesta dan berlanjut ke hotel, sejak Fatih terkena razia narkoba mereka tidak pernah bertemu lagi.


***************


Panggilan masuk dari nomor tak dikenal di ponsel Fatih, Fatihpun mengangkat ponselnya.


"Hai Fatih, ini aku Maya." suara lembut Maya menyapa di ujung sana.


"Hai May, ada apa?" tanya Fatih to the point tanpa basa-basi, entah mengapa sejak bertemu Maya hatinya merasa tidak nyaman.


"Ada waktu buat kita bertemu Fatih, aku mau membicarakan sesuatu yang penting."


"Apa itu, tidak bisakah kita bicara di telfon saja?"


"Kamu sudah berubah ya Fatih, tidak seperti dulu lagi." ucap Maya.


"Ngomong-ngomong soal tanggung jawab, ada yang harus kamu selesaikan denganku Fatih."


"Maksud kamu?" Fatih bingung dengan arah pembicaraan Maya.


"Makanya kita harus ketemu, untuk membicarakan soal ini."


"Mmm nanti coba kulihat jadwalku dulu."


"Aku menunggumu Fatih. Telponlah jika kamu sudah ada waktu."


Maya mematikan panggilan telponnya. Fatih termenung mencerna perkataan Maya. Dia merasa Maya akan membawa masalah dalam rumah tangganya, sebisa mungkin Fatih akan menghindari Maya. Fatih takut Maya akan mengajaknya kembali seperti dulu lagi. Dia sudah bahagia dengan Nina, hidupnya sudah sangat sempurna saat ini.


Nina menghadapi ujian sidang skripsi hari ini, dia terlihat sangat tegang sebelum berangkat ke kampus. Fatih sengaja mengantar istrinya agar Nina merasa tenang saat menghadapi dosen penguji. Setelah menunggu beberapa saat Nina akhirnya keluar juga, wajahnya merah padam Fatih menyambutnya di luar ruang sidang.


"Bagaimana Sayang lancar?" tanya Fatih.


"Duh dosennya sadis, semoga saja lulus aku udah mau pingsan di dalam."


"Udah gak usah dipikirin kan tinggal nunggu pengumuman, besok kita liburan ke Singapur yuk, aku ada kerja sekalian kita jalan-jalan biar stresmu hilang." Fatih sudah menyiapkan liburan buat Nina.


"Wah trimakasih Sayang."


Nina menggandeng suaminya mengajaknya pergi dari kampus, Fatih membawa Nina ke kantornya karna dia harus bekerja.


"Aku kerja dulu, kamu kalau mau jalan di mall sebelah pergilah nanti ku jemput kalau udah selesai pekerjaanku."


Kantor Fatih memang bersebelahan dengan mall, karena bosan menunggu Nina akhirnya memilih untuk cuci mata di mall. Setelah berpamitan Nina berjalan kaki menuju mall yang tak jauh dari kantor suaminya.


Dia berjalan melihat-lihat beberapa barang dan sesekali membeli produk yang dia suka. Saat ditoko baju anak Nina tak sengaja bertemu dengan Maya, saat itu Maya sedang bersama baby sitter dan seorang anak kecil yang lucu sedang tertidur di stroler bayi.

__ADS_1


"Hai... kamu Maya kan?" tegur Nina.


"Eh kamu istrinya Fatih, mmmm Nina ya. Sendirian aja, mana Fatihnya?" tanya Maya melihat Nina sedang sendirian.


"Fatih masih di kantor, aku bosan jadi kutinggal aja jalan-jalan. Ini anak kamu?" Nina mendekati anak kecil yang sedang terlelap di stroler bayi.


"Iya." jawab Maya.


"Wah lucunya. Jadi pingin cepet punya anak. Umur berapa May?


"Sebelas bulan, kamu udah berapa lama menikah sama Fatih?" Maya memandangi Nina yang sedang terkagum-kagum melihat anaknya.


"Mmm belum ada setahun sekitar enam bulan lebih, rencananya habis wisuda aku baru mau program punya baby."


"Makan bareng yuk biar enak ngobrolnya," Maya mengajak Nina makan bersamanya.


"Boleh juga."


Nina dan Maya mencari restoran untuk makan siang bersama. Merekapun bertukar nomor hand phone biar bisa saling menyapa. Maya lumayan menyenangkan dan enak di ajak bicara. Sebentar saja mereka sudah terlihat sangat akrab.


Maya menanyakan bagaimana Nina bertemu dengan Fatih, Nina menceritakan awal bertemu dengan Fatih dan ternyata orang tua mereka saling kenal jadinya mereka menikah. Maya tersenyum mendengar cerita Nina, sungguh kisah yang sangat indah.


"Mmm kalau kamu gimana awal ketemu sama suamimu May?" Nina balik bertanya.


"Bagaimana ya, aku malu mau cerita kisahku Nin." Maya terlihat ragu-ragu.


"Ngapain malu kan pastinya seru, buktinya kalian sudah punya buah hati yang ganteng dan menggemaskan."


"Anakku belum bertemu papanya sampai sekarang," Maya tidak melanjutkan ceritanya, dia memandang wajah Nina yang terlihat kebingungan.


"Maksudnya?" Nina penasaran.


"Aku tidak seberuntung kamu Nin, dulu aku suka pergi berpesta masa mudaku ku habiskan dengan berpesta, hingga aku mengenal papanya Fatan ya kamu tahulah kalau udah mabuk ujung-ujungnya bobok bareng, terus suatu hari papanya Fatan tersandung kasus dan kami tidak bertemu lagi, aku hamil Fatan tanpa sepengetahuan dia." Maya menghela nafas mengenang masa kelamnya.


Nina bengong, dia tak percaya Maya mengalami nasib seperti ini, padahal dia begitu terlihat sempurna, cantik punya duit tapi ternyata uang memang gak menjamin hidup kita sempurna.


"Apa kamu tidak berusaha mencarinya May?"


"Tentu saja aku mencarinya, tapi tidak pernah kutemukan. Nomornya yang lama tidak bisa dihubungi, aku tidak tahu dimana rumahnya."


"Ya ampun May, terus kamu berjuang sendirian selama hamil dan melahirkan?"


Maya tersenyum getir, matanya memerah dan hampir meneteskan air mata namun dia berusaha tegar.


"Aku bertemu dia lagi, tapi dia sudah menikah dan bahagia. Aku cuma ingin anakku punya status, kalau soal uang aku tidak fikirkan, aku cuma memikirkan bagaimana saat nanti Fatan bertanya siapa ayahnya aku harus jawab apa."


Maya menunduk bulir bening jatuh di sudut matanya. Nina langsung memberinya tisu untuk menghapus air matanya.


"Sory May, kamu harus mengingat hal sepahit ini. Saranku temuilah dia ajak bicara baik-baik, setidaknya biar laki-laki itu tau dia punya anak denganmu."


"Trimakasih Nin, aku senang bisa berbagi denganmu. Aku tidak punya teman atau sahabat, sungguh lega rasanya mengenalmu, kita akan menjadi teman kan Nin?"


"Tentu saja May, hubungi saja nomorku kalau kamu butuh teman bicara. Oh ya kapan-kapan kita jalan bareng lagi ya. Besok Fatih mengajakku ke Singapur, pulang dari Singapur kita jalan bareng Ok."


"Ke Singapur? wah aku boleh ikut nggak sekalian mau jalan-jalan, kalian flight jam berapa biar aku pesan tiket sekarang."


"Ouh boleh juga, tapi aku belum tahu sih soalnya Fatih yang urus, nanti kutanya sama dia, kita WA an saja ya."


Nina dan Maya akhirnya berpisah, Nina kembali ke kantor Fatih sekalian membawakan makan buat Fatih. Di kantor Fatih Nina bercerita tentang pertemuannya dengan Maya, namun Fatih tak begitu menanggapi karena dia sibuk dengan pekerjaannya yang harus selesai sebelum mereka pergi ke Singapura.


*********

__ADS_1


__ADS_2